Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Mendatangi rumah keluarga Suprapto.


__ADS_3

"Pak Budi,nanti berhenti sebentar di gedung sekretariat masjid. Tempat yang pernah Pak Budi dan Dek Rani saya ajak waktu itu,"ucap ustad Faris kepada Pak Budi.


"Baiklah nak Fariz,"sahut Pak Budi sambil fokus menyetir.


"Ustad Fariz, apakah perlu nanti saya kirimkan sopir untuk menjemput ustad Fariz dan Pak Budi dari kediaman keluarga Suprapto?,"tanya ukhti Aisyah sambil memegang telepon genggam miliknya.


"Hmm,tidak perlu Ukhti Aisyah.Nanti saya dan Pak Budi naik taksi saja untuk kembali ke rumah sakit,"jawab ustad Fariz sambil memeriksa pesan masuk dari telepon genggamnya.


"Lalu bagaimana jika ustad Fariz ingin kemana-mana dan ada keperluan mendesak?,"tanya Ukhti Aisyah dengan wajah sedikit khawatir.


Ustad Fariz selalu memasukkan telepon genggam ke dalam saku baju kokonya.


"Ukhti Aisyah tidak perlu khawatir. Saya bisa mengontak adik saya Rafa untuk membawa mobil ke rumah sakit. Kebetulan saat ini Rafa sedang membantu usahanya Abi,"jawab ustad Fariz dengan santai.


"Oh berarti Dek Rafa sudah pulang atau sedang libur bertugasnya ustad Fariz?,"tanya ukhti Aisyah kepada ustad Fariz.


"Saat ini Rafa sedang libur bertugas ukhti,"jawab ustad Fariz.


"Oh nak Fariz ternyata mempunyai seorang adik laki-laki ,"tanya Pak Budi sambil menyetir.


"Iya Pak saya mempunyai seorang adik laki-laki,"jawab ustad Fariz.


"Masih sekolah atau sudah bekerja nak Fariz?,"tanya Pak Budi ingin tahu.


"Hmm, sudah bekerja Pak," jawab ustad Fariz.


"Apakah bekerja membantu usaha yang dimiliki oleh nak Fariz atau keluarga Nak Fariz?,"tanya Pak Budi lagi.


"Tidak Pak adik saya bekerja di luar jalur pebisnis atau pengusaha yang dirintis kakek,"jawab ustad Fariz kembali.


"Lalu adik nak Fariz bekerja sebagai apa profesinya?,"tanya Pak Budi ingin tahu.


"Sebagai tentara Pak,"sahut ustad Fariz singkat.


"Oohhhh,hebat ya,"balas Pak Budi.


Dan tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Pak Budi telah tiba di depan gedung sekretariat masjid.


Dengan perlahan Ukhti Aisyah pun turun dari mobil dan pamit kepada ustad Fariz dan Pak Budi.


Lalu setelah ukhti Aisyah turun, Pak Budi melanjutkan menyetir mobil menuju kediaman rumah keluarga Suprapto.


Pak Budi menyetir mobil dengan wajah sedikit tegang.


Ada sedikit rasa cemas dan khawatir yang kembali menyeruak di dalam hati dan pikirannya.


Namun, sekali lagi nasehat yang pernah ustad Fariz katakan kepadanya mulai menggema dan memenuhi isi pikiran dan hatinya.


Ditariknya nafas perlahan dan pendek untuk meredakan dadanya yang sedikit penat dan sesak.


Semua kegundahan ia pasrahkan dan gantungkan kepada kekuasaan Allah Subhanahu Wa ta'ala.


Sepenuhnya ia yakin akan keputusan Allah.


Yang terbaik baginya dan khususnya dia sangat mementingkan keadaanku.


Sesekali ustad Fariz menatap dan melihat ke arah Pak Budi. Ia seakan memahami gejolak rasa cemas yang menyelimuti hati Pak Budi. Maka dari itu ustad Fariz membantu menenangkan hati Pak Budi dengan membaca dzikir supaya terdengar dan diikuti oleh Pak Budi.


"Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir.(Yang artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kekuasaan dan milik-Nya lah segala pujian. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Atasnya kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)."


Ustad Fariz membaca dzikir secara berulang-ulang dengan suara merdunya.


Hari ini membantu Pak Budi merasa tenang dan damai.


"MasyaAllah, setiap kali saya mendengar nak Fariz melantunkan ayat suci ,membaca do'a ataupun membaca dzikir. Sungguh suara indah dan merdu yang ustad Fariz miliki begitu membuat indra pendengaran saya khidmat dan terasa sejuk di hati saya,"ucapan Pak Budi memuji ustad Fariz.


"MasyaAllah tabarakallah Pak Budi. Dzikir memang memiliki kekuatan sebagai stabilisator jiwa yang dapat menciptakan ketenangan hati,pak.


Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa ta'ala merupakan sumber ketenangan dan kedamaian (as-Salam) bagi kita semua khususnya manusia yang tidak terlepas dari segudang masalah dan dosa.


Selain itu,dzikir juga merupakan cara agar Allah Subhanahu Wa ta'ala selalu bersama dengan umat yang senantiasa mengamalkannya (ma’iyyatullah).


Pak Budi tahu,orang yang mengembalikan dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala akan mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman di dalam hatinya,"ucap Ustad Fariz menjabarkan pemahamannya kepada Pak Budi dengan santun dan lembut.


"Iya nak Fariz.Bapak merasa semakin bapak dekat dengan Nak Fariz.Pemahaman ilmu agama bapak menjadi bertambah.Dan nak Fariz senantiasa mengingatkan bapak untuk berserah diri dan bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala.MasyaAllah,terima kasih banyak ya nak,"ucap Pak Budi yang merasa sudah lebih baik.


"Iya pak Budi sama-sama.Saya juga masih fakir ilmu dan masih banyak harus belajar,"ucap ustad Fariz merendah.


"Nak Fariz bisa saja,selalu begitu, merendahkan diri,"ucap Pak Budi.


"Saya ini hanyalah manusia biasa yang hina pak.Dan tidak sepantasnya saya merasa bangga atas diri saya.Karena sejatinya ilmu yang saya peroleh semua atas izin dari Allah Subhanahu Wa ta'ala sehingga tidak pantas jika saya menyombongkan atau memamerkannya kepada orang lain,"sahut ustad Fariz.


"Iya nak betul.Tetapi kenapa ya nak Fariz,terkadang rasa gelisah dan tidak tenang itu suka muncul tiba-tiba padahal sebelumnya bapak tidak merasa demikian.Bagaiamana cara mengobatinya nak?,"tanya Pak Budi kepada ustad Fariz.


"Kehidupan itu silih berganti pak,tidak ubahnya seperti roda yang terus berputar ada senang ,ada susah ,ada tenang dan juga ada gelisah.Nah,salah satu cara untuk mengobati hati yang gelisah adalah dengan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala untuk mendapatkan ketenangan hati.


Karena hal ini sangat dianjurkan, bahkan Allah Subhanahu Wa ta'ala akan dirasa semakin dekat dengan kita. Jika kita menjadikan diri kita sendiri sebagai hamba yang tidak pernah bosan dalam berdoa.


Karena sesungguhnya yang mendatangkan senang dan juga sulitnya persoalan hidup adalah Allah subhanallahu Wa ta'ala juga. Maka dari itu,sudah selayaknya seorang hamba jika ada masalah yang membuat hatinya gelisah dan tidak tenang dianjurkan untuk datang kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala.Bukan malah mendengarkan musik atau lagu-lagu yang justru malah membuat hatinya bertambah galau dan sedih.Sebab syaitan memperdaya celah kelemahan iman mereka,"ucap ustad Fariz menjelaskan panjang lebar kepada Pak Budi.


Dan tidak terasa mobil yang dikendarai Pak Budi telah tiba di kediaman keluarga Suprapto.


Pak Budi melihat ke arah ustad Fariz dan bersiap hendak turun. Namun ustad Fariz menghentikan Pak Budi sebentar.


"Pak Budi kita berdoa dulu sebelum turun agar semuanya lancar dan tidak ada masalah,"ustad Fariz aris kepada Pak Budi.


Pak Budi pun menggangguk tanda Ia setuju dengan saran dari ustad Fariz.

__ADS_1


Lalu ustad Fariz pun membaca Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 250.


"Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qoumil kaafiriin.(yang artinya : “Ya Tuhan kami, limpahkanlah atas diri kami, serta teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap orang kafir)."


Lalu ustad Fariz berkata kepada Pak Budi,"


Setelah berdoa dengan penuh keyakinan dan penghambaan yang sangat kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala barulah kita bertebaran mencari solusi untuk ikhtiar kita pak, dengan meminta ridhonya Allah Subhanahu Wa ta'ala.Mari Pak Budi sekarang kita keluar. Bismillah."


Ustad Fariz mengajak Pak Budi untuk masuk ke dalam rumah keluarga Suprapto.


Pak Budi mematikan mesin mobil.


Lalu menutup pintu dengan perlahan.


Bersama ustad Fariz Pak Budi melangkahkan kaki menuju pintu masuk ke rumah keluarga Suprapto.


"Assalamualaikum,"ucap Pak Budi memberi salam sambil menekan bel listrik di dekat pintu masuk masuk rumah.


"Wa'alaikumsalam,"jawab seseorang dari dalam rumah sambil membuka pintu".


Cekrekkkk....


Pintu terbuka.


Tampak Bik Siti keluar dari pintu.


"Pak Budi ke mana saja ?kenapa baru pulang sekarang? Nyonya, tuan Sugeng dan Bapak Suprapto semua mencari Pak Budi,"ucap Bik Siti sambil bertanya kepada Pak Budi.


"Hmmm, ceritanya panjang bik," jawab Pak Budi singkat.


"Lho ini siapa yang bersama Pak Budi?dan nak Rani dimana Pak?,"tanya bik Siti sambil melihat ke sana kemari mencari sosok diriku yang tidak ia temukan.


Pak Budi menoleh ke arah ustad Fariz.


"Nanti akan saya jelaskan Bik. Tetapi sekarang saya ada urusan yang lebih penting,"ucap pak Budi dengan tegas.


Bi Siti terdiam mendengar ucapan Pak Budi dengan wajah yang sangat bingung dan penuh dengan tanya.


"Ya sudah ayo masuk dulu pak.Saya panggilkan tuan dan nyonya,"ucap Bik Siti sambil mengajak Pak Budi dan Ustad Fariz masuk ke dalam rumah.


Maka Pak Budi dan ustad Fariz pun perlahan masuk ke dalam rumah.


Bik Siti mempersilahkan Pak Budi dan Ustad Fariz untuk duduk di ruang tamu.


Tetapi belum sempat Pak Budi dan ustad Fariz duduk.


Kakek telah turun dari tangga dan melihat kedatangan mereka. Lalu kakek berjalan dengan cepat dengan wajah kesal bercampur marah menuju ke arah tempat Pak Budi dan Ustad Fariz berada.


"Kamu dari mana saja Budi? Sudah mau siang baru pulang. Saya kirim pesan tidak dibalas. Bahkan saya telepon berulang kali tidak kamu angkat. Kamu itu sadar tidak, kamu di sini itu bekerja. Statusmu di sini sebagai pegawai sopir dari keluarga ini .Dan saya adalah majikanmu yaitu tuanmu. Tindakanmu ini terlalu melampaui batas seorang bawahan kepada atasannya. Kamu tahu resikonya melakukan ini? Hah?,"ucap kakek yang sangat marah kepada Pak Budi.


"Kenapa kamu diam saja. Mana pertanggungjawaban untuk kinerja kerjamu pada keluarga ini. Dan yah di mana Rani? Bukankah terakhir kali dia bersamamu,"ucap kakek sangat marah sambil melihat keluar mencari diriku.


Namun, Pak Budi tetap diam tanpa banyak berkata apapun. Pak Budi tampak menunggu momen dan waktu yang tepat untuk berbicara perihal pengunduran dirinya sebagai sopir pribadi dari keluarga Suprapto.


"Kamu itu tuli atau budeg !diajak bicara hanya diam seperti patung yang tidak bisa bicara alias bisu!,"teriak kakek dengan sangat kasar.


Karena kerasnya teriakan kakek. Maka terdengar oleh seluruh anggota keluarga yang lain.


"Ada apa ini pah kok ribut-ribut dan teriak-teriak?,"tanya Pak Sugeng kepada kakek sambil melihat ke arah Pak Budi."Lho kamu Pak Budi! kenapa baru pulang sekarang? ke mana saja kamu?,"sambung Pak Sugeng sambil bertanya dengan wajah yang kesal menatap Pak Budi.


"Ya ini yang bikin papa harus teriak-teriak. Papa itu bertanya kepada Budi ke mana dianya. Kok baru pulang sekarang. Eh, dia malah diam seperti patung. APA TIDAK KESAL DAN JENGKEL PAPA MELIHATNYA!,"ucap kakek dengan sangat kasar dan nada yang sangat tinggi.


Kakek dan Pak Sugeng lalu menatap ke arah Pak Budi secara bersamaan. Wajah mereka merah karena menahan amarah.


Lalu tidak lama kemudian Bu Sri, mbak Riska dan diikuti oleh kak Reno turun mendengar ribut-ribut yang berada di bawah.


"Ada apa sih pah?kek?teriak-teriak saja. Mengganggu tidurnya Riska saja,"ucap mbak Riska yang memandang ke arah kakek dan Pak Sugeng.


"Iya ada apa sih pah?,"sahut Bu Sri sambil mengucek kedua matanya karena masih mengantuk.


"Ini loh si Budi yang membuat papa dan suamimu berteriak-teriak kesal,"ucap kakek kepada Bu Sri sambil menunjuk ke arah Pak Budi.


Bu Sri dan Mbak Riska melihat ke arah Pak Budi dengan tatapan wajah yang kesal dan juga penuh dengan tanya.


"Kamu ke mana saja Budi? Jam segini baru nongol ke sini?,"ucap Bu Sri juga dengan marah.


"Oh iya pak Budi, mana anak kampung itu? kok tidak kelihatan dan tidak bersama Pak Budi!,"ucap Mbak Riska kasar sembari melihat kesana kemari mencari diriku.


Kak Reno yang berjalan lambat sedari tadi.Kini berada di samping Bu Sri.


Sesekali wajahnya terlihat berpikir dan mengkeritkan dahinya saat melihat ke arah ustad Fariz.Ia merasa seakan tidak asing dengan ustad Fariz.


"Sepertinya aku pernah bertemu dengan orang itu,"ucap Kak Reno di dalam hatinya.


"Tetapi dimana yah?,"sambung ucapan Kak Reno di dalam hati seraya berpikir untuk mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan ustad Fariz.


Di sisi lain ustad Fariz diam sambil melihat ke arah Kak Reno.Lalu melihat wajah-wajah seluruh keluarga Suprapto. Tidak lama kemudian ustad Fariz menoleh ke arah Pak Budi dan yang juga melihat ke arahnya.


Ustad Fariz sedikit menundukkan kepala, ia seolah memberi tanda kepada Pak Budi bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan pengunduran dirinya di hadapan seluruh keluarga Suprapto.


Dan tampaknya Pak Budi pun mengerti akan maksud dari tanda yang diberikan oleh ustad Fariz kepadanya.


Maka dengan cepat dan tanpa memperlama waktu Pak Budi langsung menyampaikan niatnya.


"Begini Pak Suprapto, pak Sugeng dan Bu Sri. Niat Saya kemari adalah saya ingin pamit dan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai sopir pribadi keluarga ini. Berikut ini kunci mobil ya saya bawa saya kembalikan,"ucap pak Budi sambil meletakkan kunci mobil di atas round nesting table dengan pelan.


"Tunggu dulu kenapa kamu tiba-tiba ingin berhenti menjadi sopir keluarga ini?,"tanya kakek dengan ketus dan penuh curiga kepada Pak Budi."Jangan-jangan ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan dan kamu rencanakan untuk keluarga ini ,Budi!,"sahut kakek kembali dengan nada penuh curiga dan menuduh kepada Pak Budi.

__ADS_1


"Iya Pak Budi di mana Rani ?kenapa Rani tidak bersamamu? kau sembunyikan di mana dia?,"sahut Kak Reno menyela pembicaraan.


Mendengar ucapan Kak Reno wajah Pak Budi terlihat kesal dan sedikit tersulut marah. Ia kembali teringat Bagaimana perlakuan Kak Reno kepada diriku pada malam itu.


"Seharusnya nak Reno bertanggung jawab atas kondisi yang dialami nak Rani sekarang," jawab Pak Budi dengan ketus.


"Apa maksud perkataanmu Pak Budi?,"ucap Kak Reno dengan marah dan sambil menunjuk ke arah wajah Pak Budi dengan telunjuk tangan kirinya.


Semua anggota keluarga Suprapto terlihat bingung dan bertanya-tanya di dalam hati mereka masing-masing tentang apa yang sebenarnya terjadi denganku dan Kak Reno.


"Nak Reno memang orang yang jahat dan kejam hingga memperlakukan Nak Rani seperti itu.Bapak benar-benar mengutuk perbuatan nak Reno!,"ucap Pak Budi dengan nada sedikit berteriak dan marah kepada Kak Reno .


Mendengar ucapan kasar dari Pak Budi. Dengan sifat arogan dan pemarahnya. Dan secara refleks ia segera melayangkan tinju kepalan dari tangan kirinya ke arah wajah Pak Budi.


Namun, dengan sigap ustad Fariz menahan tangan Kak Reno, sehingga Kak Reno tidak dapat dan bahkan belum sempat mengenai wajah Pak Budi.


"Sikap angkuh ,pemarah ,arogan dan kejam mu ini cepat atau lambat akan menghancurkan dan membakar dirimu sendiri. Seharusnya segeralah engkau bertobat meminta ampun kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala sebelum semuanya terlambat dan menjadi sia-sia seperti debu,"ucap ustad Fariz menasehati Kak Reno.


Kak Reno yang mendengar ucapan ustad Fariz, kembali teringat akan pertemuannya pada malam itu dan ustad Fariz.


"Oh,Jadi kamu rupanya! Untuk apa kamu kemari mau membuat masalah lagi denganku! Dan yah di mana kamu sembunyikan Rani?,"tanya Kak Reno dengan sangat marah.


"Kamu mengenal orang ini nak?," tanya Bu Sri kepada Kak Reno.


Kak Reno menggangguk,"Iya mah.Orang ini yang membuat Reno menjadi terluka seperti ini,"ucap Kak Reno berbohong menuduh ustad Fariz.


Mendengar ucapan Kak Reno Bu Sri langsung percaya. Wajahnya sangat marah dan kesal melihat ustad Fariz lalu dengan mulutnya yang kejam dan jahat ia mulai menghina Ustad Fariz.


"Oh,dasar kamu ya berani-beraninya kamu menyakiti dan melukai anak saya. Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Orang rendahan dan tidak berkelas seperti kamu sudah berani mengusik putra kesayangan saya. Dan saya tidak segan akan melaporkan tindakanmu ini ke pihak berwajib,"ucap Bu Sri menggertak Ustad Fariz.


Mendengar ucapan Bu Sri Ustad Fariz tersenyum kecil.


"Silakan ibu. Ibu boleh melaporkan saya ke pihak berwajib. Dan saya tidak masalah dengan itu. Bahkan jika ibu melaporkan saya ke pihak berwajib, bukan saya yang akan ditangkap melainkan putra kesayangan ibu ini,"ucap ustad Fariz dengan tenang.


"Hei,apa maksud perkataanmu? dan jaga mulutmu itu!,"teriak Bu Sri dengan sangat marah dan sambil menunjuk-nunjuk wajah ustad Fariz.


"Saya tidak perlu menjawab ibu tanyakan sendiri saja kejadian yang sebenarnya kepada putra kesayangan ibu,"ucap ustad Fariz."Mari Pak Budi kita keluar dari rumah ini,"ajak ustad Fariz kepada Pak Budi.


Bu Sri,Pak Sugeng ,kakek dan mbak Riska memandang ke arah Kak Reno.


Wajah mereka penuh dengan pertanyaan sambil menatap wajah Kak Reno yang berpura-pura tidak melihat keluarganya.


"Reno,apa yang sebenarnya terjadi nak?,"tanya Bu Sri dengan rasa ingin tahu sambil memegang wajah Kak Reno.


Namun,Kak Reno hanya diam saja.


"Pak Budi tunggu!,"teriak bik Siti memanggil Pak Budi.


Pak Budi pun menoleh ke arah bi Siti," Ya bik ada apa?,"tanya Pak Budi.


"Sekarang nak Rani ada di mana Pak? Saya sangat khawatir kepada nak Rani. Entah Saya merasakan seperti sesuatu yang buruk telah terjadi kepada nak Rani,"ucap Bik Siti dengan rasa cemas kepada Pak Budi.


"Hmmm, nak Rani saat ini sedang dirawat di rumah sakit, Bik,"jawab Pak Budi dengan wajah sedih.


"Ya Allah,"ucap Bik Siti terkejut sambil meletakkan kedua tangannya di mulut."Saya ikut pak Budi ya melihat kondisi nak Rani sekarang,"ucap Bik Siti lagi kepada Pak Budi.


Seluruh keluarga Suprapto mendengar percakapan antara Bik Siti dan Pak Budi dengan wajah yang terkejut dan perasaan yang sedikit cemas terutama Kak Reno.


"Bik Siti kamu tidak boleh ikut dengan Pak Budi,"perintah Bu Sri kepada Bu Siti.


"Maaf Bu tetapi saya ingin tetap melihat keadaan nak Rani,"sahut bi Siti secara memelas kepada Bu Sri.


"Kalau Bik Siti masih tetap memaksa untuk melihat anak kampung itu dan melangkah keluar dari pintu itu,"ucap Bu Sri sambil menunjuk ke arah pintu pada Bik Siti lalu melanjutkan ucapannya kembali."Maka saya tidak segan-segan memecat Bik Siti bekerja dari rumah ini.Paham!,"gertak Bu Sri kembali.


"Kalau begitu tidak apa-apa Bu.Saya sekalian berhenti bekerja dari rumah ini seperti Pak Budi.Permisi Bu!,"ucap Bik Siti dengan lantang dan tegas.


Bu Sri terkejut mendengar ucapan Bik Siti.


Begitupun seluruh keluarga Suprapto lainnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini?,"tanya Bu Sri pelan dengan wajah sambil melongo.


Pak Budi,Bik Siti dan Ustad Fariz secara bersama-sama melangkahkan kaki keluar dari rumah keluarga Suprapto.


Sementara itu, Pak Sugeng dengan wajah menahan kesal dan amarah segera mendekati Kak Reno. Lalu Pak Sugeng menarik kerah baju Kak Reno.


"Apa yang kamu lakukan kepada Rani? dan apa yang sebenarnya terjadi? katakan! cepat katakan! Jangan hanya diam saja kamu!,"teriak Pak Sugeng dengan keras dan emosional.


Tetapi kak Reno hanya diam menerima perlakuan dari Pak Sugeng. Ia masih memikirkan perkataan Pak Budi.


Tentang diriku yang sedang dirawat sekarang.


Berkali-kali Pak Sugeng berteriak tetapi Kak Reno tetap diam membisu.


Tubuh dan raganya memang berada di kediaman Suprapto.


Tetapi entah pikirannya melayang terbang jauh meninggalkan tubuhnya yang terus-menerus mendapat perlakuan kasar dari Pak Sugeng..


"Sudahlah Pak! hentikan! sudah Pak! hentikan! tolong pah, kasihan Reno," teriak Bu Sri histeris sambil melepaskan tangan suaminya dari tubuh Kak Reno.


"Akkhhhhh......kau bela saja terus anak kesayangan mu itu!,"teriak Pak Sugeng dengan keras dan sangat marah.


BRUkkkkk....


Duarrrrr.......


Pak Sugeng melemparkan vas bunga dari keramik kelantai.

__ADS_1


__ADS_2