
Kali ini mereka membawa ku dengan mata tertutup, dimana pandangan ku terhalang untuk melihat keadaan sekitar.
Tetapi beruntungnya, aku dan Kak Reno masih di tempat kan pada satu mobil yang sama. Sehingga aku dapat terus memantau kondisinya. Aku meminta langsung kepada mereka semua, supaya Kak Reno selalu berada di dekat ku. Sebelum aku memutuskan untuk ikut dengan mereka tanpa perlawanan.
Dapat ku rasakan kepala Kak Reno masih berada di dalam pangkuanku, dengan jemari tangan nya yang masih ku genggam selalu.
Bagi ku sekarang tidak ada hal yang penting, selain memastikan jika keadaan dirinya dalam kondisi yang baik-baik saja.
Apalagi mengingat Kak Reno baru saja keluar dari masa kritisnya, setelah mendapatkan pertolongan medis.
Suara sekumpulan laki-laki yang membawa ku dan Kak Reno terdengar menggema penuh tawa bahagia. Setelah mereka dapat membawa diri ku dan Kak Reno kembali bersama mereka.
Sesekali ku dengar mereka menyebut kata bos pada seseorang di antara mereka.
Namun, ucapan mereka tidak terdengar mendapatkan respon dari seseorang yang mereka panggil bos.
Berada di dalam keadaan yang seperti ini, aku hanya terus dapat berdo'a dan meminta perlindungan juga keselamatan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dari hal-hal buruk yang kemungkinan dapat terjadi pada ku dan Kak Reno.
"Hahaha.... Hahahaha..., " suara tawa sekumpulan laki-laki yang membawa ku dan Kak Reno terdengar sangat keras dan menakutkan untuk ku.
Aku terus mengenggam jemari tangan Kak Reno dengan sesekali mengusap wajahnya. Sembari meletakkan telapak tangan ku di dekat hidungnya. Hal ini aku lakukan untuk memastikan, jika Kak Reno masih bernafas atau tidak.
Dan jika ku rasakan hembusan napasnya pelan, yang mengenai telapak tangan ku. Maka aku sedikit merasa lega dan tenang.
"Apa yang akan kita lakukan pada mereka berdua bos?. Dimana tindakan mereka berdua telah menyusahkan dan merepotkan kita semua. Karena mereka kita harus membakar habis gudang yang menjadi tempat persembunyian kita, " ucap salah seorang laki-laki yang merupakan kumpulan mereka.
Tetapi seseorang yang ia panggil bos, tidak berkata apa pun dengan merespon ucapan nya. Hanya teman dari laki-laki yang bertanya itu, justru memintanya diam dan tidak banyak untuk berkata-kata.
Mendapatkan peringatan dan gertakan dari salah seorang temannya. Akhirnya, membuat laki-laki yang bertanya itu meminta maaf dan akhirnya menjadi diam.
Aku pun hanya diam dan terus mendengarkan percakapan mereka. Berharap aku mendapatkan petunjuk atau informasi dari dialog mereka saat ini.
Tetapi setelah salah seorang dari mereka, meminta semuanya untuk diam. Suasana pun berubah menjadi tenang dan hening. Hanya ada suara dari deru mesin mobil Jeep yang membawa diri ku dengan Kak Reno. Dimana dapat ku rasakan hembusan angin malam yang masuk ke dalam kaca jendela mobil, dan di biarkan terbuka.
Angin segar malam yang dingin berpadu dengan bau asap rokok yang menyengat indra penciuman ku.
Dari luar kaca jendela mobil yang terbuka. Dapat ku dengar juga, bunyi ranting-ranting pohon yang berdecit. Seakan saling bersahutan dengan suara jangkrik yang nyaring pada malam ini.
Kemudian, suasana nya menjadi hening seketika. Dan kali ini hanya terdengar suara angin yang saling berdebat dengan hembusan nya yang terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Tiba-tiba tubuh ku terasa dingin dan merinding. Rasa beku dan mengigil yang datang menyergap tubuh ku dengan seketika. Tetapi aku harus tetap bertahan, dengan terus mengenggam jemari tangan Kan Reno erat dan kuat.
"Apa pun yang terjadi aku harus kuat dan tetap tersadar. Jika tidak mereka pasti akan memisahkan diri ku dengan Kak Reno. Dan entah apa yang akan mereka lakukan kepada Kak Reno kali ini, " pikir ku di dalam hati.
Aku terus bertahan untuk tetap terjaga dan berusaha untuk tetap kuat. Meskipun rasanya raga ku seperti ingin runtuh seketika, dengan kedua mata ku yang ingin sekali terpejam.
Dengan segera aku menggoyangkan kepala ku, agar rasa lelah yang mendera tubuh ku menghilang pergi.
Saat ini aku hanya bisa diam dan pasrah dengan mengharap pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan terus menerus berdo'a untuk memohon kekuatan padaNya.
"Allahumma maalikal mulki tu'tiil mulka man tasyaa-u watanzi’ul mulka mimman tasyaa-u watu’izzu man tasyaa-u watudzillu man tasyaa-u biyadikal khairu innaka 'ala kulli syai-in qadiirun.
Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu, " ucap ku berkali-kali dengan memohon teramat sangat pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Tidak lama orang-orang ini membawa diri ku dan Kak Reno pergi bersama mereka.
Tiba-tiba mobil jeep ini berhenti.
Pintu mobil terbuka dan salah seorang dari mereka memintaku untuk segera turun.
"Baik, aku akan turun. Tetapi perlakuan Kak Reno dengan baik dan tetap berada di dekat ku, " ucap ku sedikit meminta.
Laki-laki yang meminta ku turun terdengar kesal dan marah akan ucapan ku.
Namun, kemarahan nya itu mereda saat sosok berjubah hitam itu meminta laki-laki itu diam dan menuruti permintaan ku.
Tetapi ia tidak berkata dan hanya menggunakan bahasa isyarat, pada laki-laki yang meminta ku turun.
__ADS_1
Saat mereka meminta ku berjalan. Kedua mata ku masih tertutup rapat, sehingga aku tidak dapat melihat keadaan di sekitar ku.
Dan setelah aku memasuki sebuah ruangan. Mereka baru membuka tutup mata ku.
Aku pun melihat sekitar pada ruangan ini, yang memang sebuah kamar.
Lalu dengan segera aku mencari keberadaan Kak Reno yang belum dapat ku temukan, dan hal ini sungguh membuat diri ku resah.
"Dimana Kak Reno?, " tanya ku pada laki bertubuh besar yang membawa ku masuk ke ruangan ini.
Dengan matanya yang bulat besar, dan wajah penuh bekas luka. Laki-laki bertubuh besar itu tampak melotot dan seakan-akan ingin menelan diri ku secara utuh.
"Kamu diam saja, dan tunggu di situ!. Jika lisan mu terus berbicara. Aku tidak segan -segan untuk menyakiti laki-laki yang bernama Reno itu, termasuk juga dengan diri mu, " ancamnya pada ku.
Namun, tiba-tiba sosok orang berjubah hitam itu langsung datang secara tiba-tiba.
Dimana ia mendekati laki-laki yang berkata kasar kepada diri ku dan berdeham sangat keras.
Hal ini langsung membuat laki-laki yang berkata kasar pada ku terdiam dan meminta maaf.
"Maafkan saya bos, " ucap nya.
Aku memandangi laki-laki yang berkata kasar itu dan juga sosok berjubah hitam yang ia panggil dengan sebutan bos.
"Oh, ternyata orang yang menggunakan jubah hitam ini adalah dalang dan otak penculikan terhadap diri ku dan Kak Reno, " ucap ku di dalam hati sambil terus memandangi sosok berjubah hitam itu.
Tetapi, pandangan ku teralihkan saat beberapa teman-teman mereka darang.
Dimana mereka mengangkat tubuh Kak Reno secara bersama-sama.
Melihat akan hal itu, aku pun segera menuju ke atas ranjang tempat tidur. Dimana mereka membaringkan Kak Reno di atasnya.
Aku segera mengecek dan memastikan jika keadaan Kak Reno dalam kondisi yang baik-baik saja.
Ku letakkan jemari tangan ku di dekat hidungnya, untuk dapat merasakan hembusan napasnya.
Ku tarik napas pendek penuh kelegaan, karena Kak Reno masih bernapas. Dan itu membuat ku senang.
Dan mengenggam erat jemari tangan Kak Reno, lalu menatap wajahnya lekat.
Dimana setelah itu sekumpulan laki-laki bertubuh besar itu pergi ke luar kamar ini.
Namun, setelah sekumpulan laki-laki bertubuh besar itu sudah keluar dari kamar.
Sosok berjubah hitam itu masih diam memandangi ku dan Kak Reno.
Aku pun melihat ke arahnya yang terpaku menatap diri ku.
Hingga hasrat ku untuk bertutur kepada dirinya pun keluar. Dengan pelan aku berdiri dari duduk ku dan menghampiri nya.
Ku pandangi sorot matanya yang tajam dengan wajahnya yang tertutup dengan topeng.
"Aku tidak tahu alasan anda melakukan semua hal ini kepada ku dan Kak Reno. Tetapi yang perlu anda ketahui ialah bahwa setiap perbuatan jahat dan buruk, yang anda lakukan kepada orang lain. Tentunya akan berbalik menyerang pada diri anda sendiri. Dimana rasa sakitnya akan sangat jauh menyakitkan dan melukai anda sendiri, " kata ku dengan terus memandang nya.
Tetapi sosok berjubah hitam itu pun diam dan hanya memandangi diri ku.
Lalu tidak lama kemudian, ia pun keluar tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.
Dan akhirnya ia pun keluar dari kamar ini, dan menutup pintunya dengan menguncinya dari luar.
"Apa yang sebenarnya di inginkan oleh sosok berjubah hitam itu pada diri kita dan Kak Reno?, " ucap ku pelan sambil berpikir.
Aku masih terdiam untuk beberapa saat, hingga lamunan ku berakhir.
Aku segera berjalan mendekati Kak Reno yang masih tertidur di atas ranjang tempat tidur.
Aku pun mengusap wajahnya pelan dan berharap semoga keadaan nya baik-baik saja, serta segera pulih.
Ku pandangi seisi kamar ini yang tersusun sangat rapi dan bersih.
__ADS_1
Dan melihat ada jendela di kamar ini.
Aku pun segera bangun dari duduk ku dan berjalan mendekati nya.
Dengan perlahan aku pun membuka hordeng yang menutupi jendela tersebut.
Sreeekkk.
Ku sibakkan hordeng tersebut.
Duarrr.
"Astagfirullah ya Allah, " ucap ku penuh keterkejutan melihat dua orang laki-laki bertubuh besar itu melotot ke arah wajah ku.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah ku yang terkejut.
Dengan cepat aku pun menutup kembali hordeng tersebut.
"Rupanya mereka berjaga-jaga dan selalu mengawasi diri ku dan Kak Reno, " ucap ku pelan.
Aku kembali menghela napas panjang dan dalam, seraya berpikir mencari jalan keluar dari tempat ini.
"Qaddarallaahuu wa maa syaa-a fa’ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menentukan takdirNya dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dapat berbuat apa saja yang Dia kehendaki.Bismillah, bantu dan tolong lah kami ya Allah, " ucap ku pelan sembari memejamkan kedua mata ku dengan penuh pengharapan.
Aku kemudian berjalan mendekati Kak Reno yang sedang terbaring, tentunya dengan banyak hal yang ku pikir kan saat ini.
Cekrek.
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka.
Pandangan mata ku pun tertuju pada pintu yang terbuka itu.
Wanita bertubuh besar yang menutupi wajahnya masuk ke dalam kamar ini.
Aku masih ingat dia adalah wanita yang sama, dimana ia yang mengobati luka ku saat di gudang bekas itu.
Tetapi kali ini ia masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan sebuah tas berukuran sedang di tangan kirinya.
Lalu, ia meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja dan meletakkan tas berukuran sedang di atas ranjang tempat Kak Reno berbaring.
Pandangan nya mengarah kepada diri ku, lalu ia berjalan mendekati ku.
Di tariknya tangan ku dengan cepat, dan ini membuat diri ku terkejut.
"Apa yang ingin kaku lakukan?, " tanya ku panik.
Tetapi dengan cepat ia meletakkan selembar surat yang terlipat pada jemari tangan kanan ku.
" Silahkan kamu makan untuk mengisi tenaga mu, dan tenang saja makanan itu tidak ada racunnya, " ucap wanita itu yang terus memandang wajah ku dengan tajam.
Aku terdiam sambil memandangi sepucuk surat darinya, dengan berbagai pertanyaan yang sekarang semakin menumpuk di dalam benak ku.
Dan wanita itu seakan-akan tahu akan kegundahan ku, hingga ia pun melanjutkan perkataan nya lagi kepada diri ku.
"Di dalam tas itu ada beberapa pakaian ganti seperti gamis dan hijab, serta alat perlengkapan untuk salat juga lengkap dengan Al-Qur'an. Kamu dapat beribadah dengan baik. Dan satu hal lagi jika kamu memerlukan sesuatu, kamu dapat menekan tombol merah pada dinding itu. Maka aku akan datang menghampiri dan menolong mu. Satu hal lagi yang sangat penting, kamu jangan pernah mencoba untuk kabur lagi dari tempat ini. Jika kamu masih ingin melihat pria yang terbaring di atas ranjang tempat tidur itu untuk hidup, " imbuh wanita itu pada ku.
Aku memandangi dirinya lekat.
"Apa yang sebenarnya kalian ingin kan dari ku dan Kak Reno?, " tanya ku para wanita itu.
Wanita itu mengangkat kedua pundak nya ke atas dan mengelengkan kepalanya.
"Aku tidak dapat menjawab pertanyaan mu itu, lebih baik kamu baca saja surat dari bos untuk mu, " ucap wanita itu pada ku lalu pergi berlalu dari hadapan ku.
Cekrek.
Pintu kembali tertutup dan terkunci.
__ADS_1
"Siapa orang ini?. Mengapa ia melakukan semua ini?. Dan anehnya ia masih memikirkan diri ku dan kebutuhan ku, " ucap pelan sambil terus berjalan dan memandangi surat yang di berikan oleh wanita itu yang masih aku genggam.
Aku lalu duduk di kursi dekat ranjang Kak Reno berbaring. Dan terus melihat surat itu dengan berbagai pertanyaan yang hilir mudik memenuhi pikiran ku saat ini.