Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menemui Kak Reno.


__ADS_3

Mataku memandang ke samping luar kaca jendela mobil, melihat deretan toko yang kami lalui. Entah, apa yang terjadi kepada diriku hingga aku meminta Pak Budi untuk menepikan mobil yang ia kendarai.


"Pak Budi, tolong berhenti dulu di depan toko pakaian di kiri jalan itu ya Pak, " pintaku kepada Pak Budi.


"Iya Nak Rani, " kata Pak Budi heran.


Bik Siti juga mengamatiku tanpa banyak berkata, aku pun menatap Bik Siti dengan senyuman sekaligus mengajaknya untuk turun bersamaku. Sementara Pak Budi mencari tempat parkir untuk mobil.


Aku menggandeng lengan Bik Siti yang masih memandangiku dengan wajah keheranan.Tetapi aku juga diam tidak mengatakan apapun juga kepada Bik Siti sampai ia sendiri yang bertanya kepadaku. Langkahku dan Bik Siti pun terhenti pada toko pakaian yang ku maksud. Aku memilih beberapa kaos oblong dan celana pendek. Sementara Bik Siti kuminta untuk mengambil sarung dan selimut. Bik Siti masih memandangku dengan wajah heran dan bingungnya, tetapi ia tetap diam dan melakukan yang kuminta.


Setelah selesai, aku pun beranjak ke kasir untuk membayar barang belanjaan.


Kemudian, aku pun mengajak Bik Siti keluar dari toko untuk membeli makanan dan minuman, yang kuminta kepada penjualnya untuk menjadikannya menjadi dua bungkusan plastik. Makanan yang ku pesan dikemas di dalam Thinwall / Food Container transparan. Dan sekali lagi Bik Siti menatapku heran, maka aku pun hanya melemparkan senyumanku kepadanya.


Setelah selesai membeli pakaian, makanan dan minuman. Aku mengajak Bik Siti untuk kembali ke dalam mobil dan benar saja Pak Budi sudah menunggu kedatangan kami.


Setelah aku, Bik Siti dan Pak Budi sudah berada di dalam mobil. Aku pun memberikan makanan dan minuman kepada Pak Budi dan Bik Siti untuk di nikmati sebentar sebelum Pak Budi menjalankan mobil yang kami kendarai.


Aku senang melihat Pak Budi dan Bik Siti yang dengan lahap nya menyantap makanan dan minuman yang kubelikan untuk mereka. Setelah selesai menghabiskan makanannya, Pak Budi dan Bik Siti tersenyum kepadaku dan mengucapkan terima kasih. Pak Budi pun lalu menyalakan mesin mobil, dan mobil yang kami naikki mulai melaju kembali secara perlahan keluar dari tempat parkir.


"Nak Rani, sekarang kita langsung kembali ke rumah Nak Wirda kan?, " tanya Pak Budi kepadaku sambil menoleh sebentar.


"Tidak Pak Budi, setelah ini kita langsung menuju di Lapas tempat Kak Reno ditahan, " kataku.


Bik Siti tersentak dari menyeruput minumannya, begitu pula Pak Budi yang terlihat kaget dan langsung menoleh kepadaku.


"Nak Rani ada apa lagi ingin menemui Nak Reno?, " tanya Bik Siti cemas dan heran.


Pak Budi pun juga ikut menimpali perkataan Bik Siti. "Iya Nak Rani, mengapa Nak Rani masih mau menemui Nak Reno? bukankah sebaiknya Nak Rani tidak usah lagi bertemu dengan Nak Reno, itu juga demi kebaikan Nak Rani sendiri. "


Aku menatap ke arah Bik Siti lalu ke Pak Budi. "Ada sesuatu hal yang harus Rani cari tahu Bik Siti dan Pak Budi, " kataku.


"Apa itu Nak Rani jika Bik Siti boleh tahu?, " tanya Bik Siti serius.


"Rani belum dapat mengatakannya sekarang Bik, tetapi ini penting untuk Rani, " jawabku meyakinkan Bik Siti.


"Apakah Nak Fariz tahu, jika Nak Rani akan menemui Nak Reno?, " tanya Pak Budi menoleh ke arahku lalu memandang ke depan.


Aku menggelengkan kepala, "Tidak Pak Budi tolong jangan katakan apapun dulu kepada Ustad Fariz, sebab Rani tidak ingin mengganggu Ustad Fariz yang sedang fokus mempersiapkan perhelatan pernikahan Kak Rafa dan Wirda, " pintaku.


Pak Budi terlihat berpikir dan seakan tidak mendukung pilihanku, begitu pula dengan Bik Siti. Namun sekali lagi aku berusaha meyakinkan mereka berdua akan keputusan ku untuk menemui Kak Reno tidak akan membahayakan keadaan diriku. Maka dengan berat hati Bik Siti dan Pak Budi pun memenuhi permintaanku.


Pak Budi pun lalu memutar mobil yang ia kendarai,menuju Lapas tempat Kak Reno sekarang di tahan.


"Bismillahirrahmanirrahim.Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbina lamunqolibuun.Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, "ucapku pelan dan lirih.


Roda mobil pun melaju.


***


Sesampainya di Lapas tempat Kak Reno di tahan. Bik Siti dan Pak Budi ikut turun dari mobil dan menemaniku. Bik Siti kali ini menggandeng tanganku dan Pak Budi membawa pakaian dan makanan yang akan ku berikan kepada Kak Reno. Dalam langkah kakiku kulihat wajah penuh kecemasan dan khawatir yang tergambar dari raut wajah Bik Siti dan Pak Budi. Hingga berulang kali Bik Siti menanyakan kepadaku apakah aku akan benar-benar menemui Kak Reno lagi. Dan aku pun dengan tegas menjawab iya, maka Bik Siti pun tidak dapat mencegah keinginanku. Setelah menyerahkan barang bawaan kami untuk diperiksa oleh petugas di lapas , sambil menunggu izin supaya aku dapat menemui Kak Reno. Aku, Bik Siti dan Pak Budi pun duduk menunggu petugas mempersilahkan untuk membesuk dan bertemu Kak Reno, setelah memeriksa identitas kami.


" Bik Siti, pokoknya ikut Nak Rani masuk ke dalam ya Nak, "pinta Bik Siti sedikit memaksa.


Pak Budi pun ikut menimpali perkataan Bik Siti juga. " Pak Budi juga ikut menemani Nak Rani, setidaknya untuk berjaga-jaga. Jika sampai maaf kata terjadi sesuatu kepada Nak Rani, saya tidak sanggup menanggung kemarahan dari Bu Putri, Nak Fariz dan keluarga Imandar lainnya."


Pak Budi menatapku dengan penuh kecemasan, lalu aku yang melihat rasa khawatir yang berlebihan dari paras Pak Budi dan Bik Siti memperbolehkan mereka berdua untuk ikut dengan diriku masuk ke dalam dan mendampingiku .


Tidak lama setelah itu pun petugas lapas mempersilahkan aku masuk ke ruang besuk napi untuk bertemu Kak Reno.


Langkah kakiku segera ku percepat agar dapat segera masuk di ruang besuk napi, tetapi rangkulan tangan Bik Siti seakan menahan langkahku dan terasa berat untuk segera bergegas. Aku tahu Bik Siti sangat takut jika Kak Reno berbuat hal-hal yang dapat membahayakan diriku, setelah semua perbuatan kasar Kak Reno yang telah ia lakukan kepadaku dahulu.

__ADS_1


Tidak terasa kami bertiga sudah tiba di ruang besuk napi yang disediakan di lapas. Bik Siti dan Pak Budi begitu sangat menjagaku, dengan tidak meninggalkan diriku sedikit pun. Mereka mengapit diriku seperti anak kecil yang begitu sangat di proteksi oleh kedua orangtuanya.


Pandangan ku tertuju pada langkah kaki yang berjalan masuk ke ruangan tempatku berdiri sekarang. Dan benar saja itu adalah langkah kaki Kak Reno yang diikuti oleh seorang petugas sipir. Dari jarak yang lumayan jauh dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama penglihatanku kembali, aku dapat langsung melihat Kak Reno.


Langkahku terhenti seketika, setelah melihat kondisi Kak Reno yang begitu membuatku tersentak kaget. Pak Budi dan Bik Siti pun memandang ke arahku secara bersamaan, setelah mereka mendapati aku terdiam seketika saat Kak Reno muncul di hadapanku.


"Ada apa Nak Rani? Kenapa diam? Apakah Nak Rani baik-baik saja?, " tanya Bik Siti cemas dengan tetap memegangi lenganku.


Aku masih terdiam dalam lamunanku, dengan melihat keadaan penampilan Kak Reno yang begitu menyita perhatianku.


Ya Allah, benarkah laki-laki yang berdiri di hadapanku itu adalah Kak Reno, ucapku di dalam hati seakan tidak percaya dengan apa yang telah kulihat.


Sekali lagi Bik Siti memanggilku seraya menepuk-nepuk pipiku agar aku tersadar dari lamunanku.


"Nak Rani... Nak Rani.. Nak Rani, " panggil Bik Siti berulang-ulang.


Aku pun kaget dan segera merespon panggilan Bik Siti. "Akh, iy... iy... Iya Bik, " jawabku terbata.


Bik Siti kembali memandang ke arahku dengan penuh keraguan.


"Nak Rani yakin masih ingin bertemu dengan Nak Reno?, " tanya Bik Siti.


Aku pun menganggukan kepala.


"Iya Bik, ayo, " ajakku.


Dari kejauhan Kak Reno yang di dampingi seorang sipir penjara terus melihat ke arahku dengan raut wajah tidak percaya akan kedatangan ku. Matanya terlihat berkaca-kaca dengan genangan air mata yang mengambang pada permukaan kedua matanya. Wajahnya begitu lusuh dengan rambut gondrong yang terlihat berantakan dan rambut-rambut yang memenuhi area dagu serta kedua ujung-ujung pipinya.


Mataku seakan tersihir akan penampilannya, ia begitu sangat berbeda dengan Kak Reno yang pernah kulihat dan ku kenal sebelumnya. Tatapan matanya seakan kosong dan penuh kepiluan, yang menghiasi wajah tirusnya dengan lingkaran mata yang cekung. Tubuhnya kini semakin kurus tidak berisi. Aku benar-benar hampir tidak bisa mengenalinya.


Huh..


Aku menghembuskan napas.


Tidak hanya diriku Pak Budi pun seakan tidak dapat berkata dan wajahnya penuh keterkejutan melihat sosok Kak Reno sekarang, tetapi tidak dengan Bik Siti yang seakan tidak peduli dan berempati terhadap kondisi Kak Reno yang tampak pada pandangan mata.


Ku buyarkan lamunanku dan segera duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Kak Reno.Bik Siti pun juga langsung duduk di samping ku dan begitu sangat menjagaku. Sementara Pak Budi masih berdiri meletakkan barang bawaanku untuk Kak Reno yang diletakkan Pak Budi di atas meja.


Kak Reno menatap ku dan tidak melepaskan pandangan matanya dari wajahku. Bik Siti yang melihat hal itu seakan tidak suka dan mengeluarkan suara berdehamnya untuk menyindir Kak Reno secara langsung. Namun, Kak Reno seakan tidak peduli dan terus melihat ke arahku.


Lalu, Pak Budi pun duduk di sisi ku yang lain sambil berbisik kepadaku untuk segera mengatakan apa yang menjadi maksud dan tujuanku kemari serta tidak perlu berlama-lama. Aku pun mengangguk dan meminta Pak Budi untuk bersabar sejenak.


"Aku senang dapat melihatmu dapat melihat lagi Ran, " ucap Kak Reno.


Aku yang mendengar suara Kak Reno tersentak sambil memandangnya.


"Apakah itu adalah kornea mata Roy?, " tanya Kak Reno sambil terus menatap mataku lekat.


Aku pun mengangguk tapi tidak berkata.


Kak Reno memajukan kursinya dan melihat ke arah mataku dengan sorot mata yang tajam dan sengaja aku membiarkan dirinya melakukan hal itu untuk melihat akan respon dari Kak Reno setelah melihat kedua mataku.


"Itu bukan kornea mata Roy!, " kata Kak Reno keras.


DEG...


Hatiku kembali tersentak mendengar ucapan Kak Reno, seperti yang diucapkan Tante Desi dan Wirda. Kecemasanku pun bertambah memperkuat keyakinanku jika ada sesuatu yang sedang terjadi di luar sepengetahuan ku. Aku masih diam dan bersikap tenang, tetapi Bik Siti tidak dapat menahan lisannya untuk bertanya kepada Kak Reno.


"Mengapa Nak Reno bisa yakin mengatakan jika itu bukan kornea mata almarhum Nak Roy?, " tanya Bik Siti sinis.


Kak Reno tetap memandangi mataku.

__ADS_1


"Karena tidak kudapati sorot tajam tatapan mata Roy yang khas terhadap diriku, dengan warna bola mata yang berbeda. "


Bik Siti membantah ucapan Kak Reno dengan ketus.


"Akh, Nak Reno jangan berkata seperti itu, bilang saja jika Nak Reno tidak suka jika almarhum Nak Roy sampai kepergiannya dari dunia ini masih terus memberikan cintanya kepada Nak Rani, berbeda dengan Nak Reni yang hanya bisa merenggut kebahagiaan Nak Rani saja. "


Kak Reno melihat ke arah Bik Siti kali ini, namun ia tidak membalas ucapan Bik Siti yang menyidir dirinya. Justru wajahnya terlihat sendu dengan penuh rasa penyesalan.


Entah kenapa melihat Kak Reno seperti itu aku menjadi bersimpati dan tidak tega. Bik Siti seolah mengerti kegundahan hatiku, maka dengan cepat Bik Siti pun berbisik kepadaku. "Nak Rani jangan tertipu lagi dengan aktingnya. Ayo nak cepat kita pergi dari sini. Bibi tidak suka jika Nak Reno terus memandangi Nak Rani. "


Karena desakan dari Bik Siti dan Pak Budi aku pun segera bertanya kepada Kak Reno.


"Apakah Rere pernah mengunjungi Kak Reno?, " tanyaku.


Kak Reno mengangkat kepalanya, ia begitu terlihat sangat bahagia mendengar suaraku yang bertanya dan menyebut namanya.


Senyum kecil menghias wajah Kak Reno yang kusam dan tidak terawat.


Bik Siti kembali kesal melihat Kak Reno yang hanya tersenyum-senyum memandang diriku dan tidak segera menjawab pertanyaan dariku.


"Kalau ditanya tolong segera dijawab Nak Reno. Nak Rani membutuhkan jawaban dari Nak Reno, bukan senyuman dari Nak Reno yang mencoba menebar pesonanya kepada Nak Rani, " tutur Bik Siti sangat ketus.


"Bik, " panggilku pelan.


Aku memandang ke arah Bik Siti untuk tidak berkata demikan kepada Kak Reno, tetapi Bik Siti tetap tidak peduli. Bik Siti benar-benar tidak respect terhadap Kak Reno, di matanya Kak Reno itu buruk dan akan selamanya buruk.


Kak Reno yang mendapati Bik Siti menyindir nya, tidak membuat dirinya marah dan membalas. Hal ini membuat ku juga kaget akan sikap tempramen Kak Reno yang mulai menghilang perlahan.


"Iya Dek Rani, beberapa hari yang lalu Rere kemari menemui Kak Reno kemari. Dia menawarkan kerjasama supaya Kak Reno membantu dirinya, dengan imbalan ia akan membantu mengeluarkan Kak Reno dengan secepatnya dari penjara, " jelas Kak Reno kepadaku.


"Lalu apakah Kak Reno menerima tawaran dari Rere?, " tanyaku lagi menelisik.


Belum sempat Kak Reno menjawab Bik Siti langsung menimpali perkataan Kak Reno dengan sangat ketus. "Yah tentu saja Nak Reno menerima tawarannya Nak Rere, karena pastinya Nak Reno ingin dapat segera keluar dari penjara dan membuat masalah lagi kepada kehidupan semua orang khususnya Nak Rani, sebab di dalam hatinya Nak Reno itu hanya ada kebencian dan balas dendam saja, iya kan Nak Reno?,"


"Bik, jangan berkata seperti itu, " ucapku kepada Bik Siti.


"Lha memang benar itu kenyataannya Nak Rani, makanya Bibi minta Nak Rani jangan percaya terhadap kata-katanya lagi, sudah cukup selama ini Nak Rani dibuat menderita dan terluka karena sikap dan perbuatan dari Nak Reno. Untuk itu Nak Rani ayo bibi mohon kita segera pulang dan meninggalkan tempat ini. Bibi minta ini adalah yang terakhir kalinya Nak Rani kemari, jika sampai Nak Fariz dan Bu Putri tahu Nak Rani kemari, maka pasti sudah tentu Bibi dan Pak Budi akan di marahi, sebab membiarkan Nak Rani bertemu dan masuk ke sarang monster berdarah dingin. "


Aku pun melihat ke arah Kak Reno yang sama sekali tidak bergeming atas ucapan yang dilontarkan oleh Bik Siti. Kak Reno terlihat tetap diam dan tenang dengan raut wajahnya yang terlihat sangat sendu. Entah kenapa aku menjadi sangat kasihan melihat keadaan Kak Reno seperti itu, seakan-akan semua perbuatan dan sikapnya yang begitu kasar dan menyakitiku dahulu. Seakan menghilang lenyap melihat kondisi dirinya yang sangat mengenaskan dalam sudut pandangan mataku saat ini.


Aku berusaha untuk menenangkan Bik Siti supaya dapat menjaga lisan dan tutur katanya, tetapi ucapanku tidak dapat mengetuk hati dan pikiran Bik Siti yang sudah teramat sangat membenci Kak Renio. Maka aku pun sudah tidak dapat lagi untuk berlama-lama di sini dengan maksud mengorek informasi tentang Rere kepada Kak Reno, karena melihat Bik Siti yang sudah tidak dapat mengendalikan tutur katanya.


Sesekali pandangan mataku bertemu dengan tatapan mata Kak Reno yang terlihat begitu sangat penuh dengan kegetiran, bibirnya seakan terkunci dalam raut wajahnya yang begitu pucat dan juga terlihat sangat dipenuhi dengan kesedihan. Dia seperti memendam perasaan yang tidak dapat ia ungkapkan kepadaku, dari sorot matanya pula dapat ku lihat dengan jelas ada binar-binar kebahagiaan yang memenuhi kepiluan dirinya,saat melihatku berada di hadapannya. Aku pun tidak dapat mengelak ,jika hatiku merasa sangat kasihan melihat kondisi dirinya sekarang, tetapi sekali lagi aku berpikir mungkin ini adalah waktu yang tepat bagi Kak Reno untuk bermuhasabah terhadap dirinya sendiri akan sifatnya, karakternya ucapannya,dan perangrainya selama ini yang telah banyak melukai dan menyakiti orang lain .Semoga dengan keberadaannya di sini ,ia dapat menginsyafi semua kesalahan dan kekhilafannya serta dapat menjadikannya sebagai seorang manusia yang lebih baik dan memiliki karakter lebih mulia dari Kak Reno sebelumnya, yang pernah ku kenal dulu.


Dan sebelum aku pergi, senyuman kecilku terlukis indah di wajahku yang kuberikan kepadanya dan Kak Reno sedikit tersentak kaget melihat hal itu.


"Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberimu kesabaran dan kemudahan dalam menghadapi semua ujian dari-Nya, Hasbunallah wa Ni'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir. Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami, " ucapku pelan lalu berdiri dari hadapan Kak Reno.


Air mata Kak Reno mengalir, menatap kepergian diriku. Ingin rasa hatinya meminta diriku untuk mengunjungi dirinya. Namun, tidak ada keberanian lagi di dalam hatinya untuk meminta itu kepadaku. Hatinya bahagia dapat melihat diriku, tetapi ada rasa kehilangan yang menyelimuti kalbunya saat melihatku juga.


Pak sipir menepuk pundak Kak Reno untuk menguatkan nya.


Dalam isak tangis Kak Reno pecah ia terus berkata, "Aku telah membiarkan permata indah pemberian Sang Pencipta pergi dari kehidupanku, pak. Hiks... Hiks.. Hiks... Dan kini aku hanya dapat menyesali akan kepergiannya setelah kesia-siaan yang telah kulakukan kepadanya selama ini. "


Dalam kesedihan Kak Reno.


Pak Sipir pun berkata untuk menyemangati nya, " Maka perbaikilah dirimu untuk menjadi manusia yang baik dan dipenuhi dengan kebajikan agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala merahmati dan meridhoi keinginanmu, untuk dapat mengambil kembali dan juga mendapatkan permata indah yang telah Allah ambil darimu. "


Kak Reno tersentak memandang wajah Pak sipir. "Apakah hal itu masih bisa terjadi Pak?,"tanya Kak Reno sambil menangis terisak.


Pak Sipir tersenyum memandangi wajah Kak Reno.

__ADS_1


" Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini saudara Reno jika Allah berkehendak, karena Allah lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Dan kepada-Nya kita menggantungkan atas semua harapan dan do'a-do'a kita,karena Allah tempat bergantung, setiap manusia pasti mengalami titik jenuh, mengalami keadaan terpuruk dalam hidupnya, mengalami beban berat yang membuat dirinya pasrah, suasana galau selalu menghantui setiap manusia. Oleh karena itu, jangan menyerah dan berputus asa, sebab Allah akan selalu bersama dengan hamba-hambanya yang mau berikhtiar dan bertawakal kepada-Nya. "


Kak Reno yang mendengar ucapan Pak sipir, lalu seperti mendapatkan semangat baru di dalam hati dan pikirannya, dengan cepat ia menyeka air matanya dan seraya memenjamkan kedua matanya untuk menghilangkan kesedihan dari dalam hatinya. Tidak lama kemudian, ia pun berjalan dengan Pak sipir untuk kembali menuju ke sel tahanan tempatnya berada sekarang,dengan harapan dan keyakinan baru Kak Reno berusaha untuk memantapkan hatinya agar menjadi manusia yang terbaik yang dapat memenuhi keinginannya untuk dapat bersanding kembali secara pantas dan layak dengan diriku.


__ADS_2