Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Koma.


__ADS_3

Hari berlalu pergi.


Musim pun silih berganti dan tanaman hias di pelataran sudah berbunga lalu mati.Begitu pula,burung-burung yang terbang bermigrasi. Berkembang biak lalu mati di perjalanannya.


Semua berotasi memenuhi siklus kehidupannya.


Namun, diriku masih berada di tempat yang sama. Terbaring tidak berdaya di ruang ICU rumah sakit dan di pasangi ventilator, supaya diriku tetap dapat bernapas dengan baik.


Aku masih terbaring koma selama berhari-hari...


Dan selama berbulan-bulan...


Aku bertahan,berjuang demi kehidupan,yang entah untuk siapa ku perjuangkan.


Semua terlihat meyiksa dengan alat-alat penuh di tubuhku.Dengan ventilator yang membantu ku bernafas dengan baik, bahkan perlu di sumpal ETT (Endp Tracheal Tube) untuk menjaga jalan nafasku supaya tetap lapang.


Wirda masuk perlahan dengan memakai jubah hijau steril. Matanya memandang ke seluruh ruangan ICU dalam keadaan tertutup, dengan suasana tegang. Dari mulut ruangan saat kakinya melangkah,sudah terdengar suara monitor dan terkadang terdengar bunyi alarm,juga berbagai bunyi dari berbagai alat di ruangan yang semakin menambah suasana semakin mencekam.


Wirda menatap diriku dengan tatapan empatinya. Matanya kembali mengeluarkan air mata, tetapi dengan cepat ia tekan dan seka air mata itu, sebelum jatuh menetes membasahi pipinya.


Tubuhnya terus bergidik merinding dengan tangan bergetar, saat pandangan nya melihat tubuhku yang tertempel dengan alat-alat, untuk mensupport kehidupan diriku.


Wirda diam dan hanyut dalam keheningannya,hingga bunyi bip dan lampu berkedip dari monitor jantung. Memecah keheningan Wirda yang menatap diriku.


"Rani!," ucapnya lirih menekan perasaannya.

__ADS_1


Tangannya kembali bergetar saat jemari nya ingin menyentuh tanganku. Ada infus pump yang terpasang di tanganku. Pandangan Wirda kembali melihat ke arah tiang infus yang meneteskan cairan sesuai yang sudah diatur. Terkadang jika terjadi sumbatan atau macet, dia akan membenarkan sendiri, sampai jika ada gelembung dia akan memberikan signal, bahwa ada gelembung dalam selang infus.


Semua sudah menggunakan alat dengan teknologi yang baik dan tinggi.


Ketakutan dan kegelisahan terus merajai hatinya. Tetapi Wirda tetap tenang dan menekan perasaannya, untuk terus kuat dan tegar.


Perawat yang merawat diriku mendekati Wirda, ia melihat kecemasan yang tinggi di ekspresi wajah Wirda. Dengan perilaku caringnya ia menghampiri Wirda, seraya memberikan perawatan holistic.


"Pasien-pasien yang dirawat di ruang ICU merupakan pasien dengan tingkat kekritisan penyakit yang cukup tinggi dan sebagian besar dari mereka memiliki imun yang rendah. Saya tahu anda cemas, depresi, menolak keadaan pasien,bahkan takut kehilangan pasien, " ucap perawat lembut.


Wirda menatap wajah perawat dalam tanpa berkata-kata, dalam pandangan matanya yang penuh keharuan.


Perawat itu kemudian melemparkan senyumannya kepada Wirda.


"Setiap makhluk yang bernyawa pasti pernah diuji rasa sakit dalam tubuhnya.Coba lihatlah Dek Rani,meskipun penyakit telah membuatnya lemah tak berdaya,dan dalam keadaan koma. Dirinya sekalipun tetap melewati masa-masa sulit diuji dengan penyakit dan rasa sakit yang di deritanya. Ini adalah ujiannya, maka anda jangan membuat kehilangan iman kepada Allah, dan senantiasa berprasangka baik terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.Supaya Dek Rani dapat melalui ujiannya,dan anda bantu Dek Rani dengan limpahan do'a,sebagai wujud ikhtiar anda menyayangi pasien.Jika itu semua dirasa kurang cukup, maka jangan terus larut dalam kesedihan.Dan alirkan energi positif juga kebahagian anda pada Dek Rani,saat anda membesuknya. Sebab semua kesembuhan datangnya hanya dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Oleh karenanya sebagai hamba, kita juga harus berdoa kepada Allah untuk memohonkan kesembuhan dan kesehatan serta memiliki keyakinan penuh terhadap kuasaNya.Karena tidak ada yang mampu memberikan kesembuhan dari penyaki-penyakit tersebut selain Allah Ta’ala. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang berasal dari-Nya. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Dia, "sambung perawat.


Wirda memejamkan matanya perlahan dan memanjatkan do'a kepada Sang Maha Pencipta, "Allahumma rabbanasi adzhibil ba’sa wasy fihu. Wa antas Syaafi, laa syifaa-a illa syifaauka, syifaa-an laa yughadiru saqomaa. Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain. "


Wirda berusaha sekuat tenaga menahan air matanya, agar tidak tumpah. Tetapi tetap saja kesedihannya membuat dirinya menitikan air mata.


"Rani, aku tahu kamu pasti dapat mendengarkan perkataan ku. Aku percaya kamu kuat dan mampu untuk melewati semua ini. Berjuang lah Rani, dan segeralah buka kedua matamu. Sebab kami semua sangat merindukan dirimu, hiks.. hiks., " ucap Wirda dengan suaranya yang bergetar.


Perawat mengusap punggung Wirda untuk menguatkan nya, "Li Kulli Dain Dawa'un Fa Idza Ushiiba Dawa'ud Dai Bara'a Bi Idznillaahi Ta'ala. Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.[HR. Muslim]."


Wirda mengangguk tanda mengerti, lalu tidak lama ia pun keluar dari ruang ICU setelah mengucapkan terimakasih kepada perawat yang telah menguatkan dirinya.

__ADS_1


Langkah kaki Wirda berjalan pelan dan terasa berat untuk pergi menjauh meninggalkan diriku.


Beberapa kali ia terus menoleh ke belakang, dan menatap diriku yang masih terbaring tidak berdaya di dalam ruang ICU yang hening.


"Cepatlah sembuh Ran!, "ucapnya lirih sambil menyeka air matanya dan melangkah pergi.


Di luar ruang ICU, Kak Rafa sudah menunggu Wirda. Dengan langkah cepat Kak Rafa berjalan menghampiri Wirda dan memeluknya erat.


" Kamu baik-baik saja Dek?, "bisik Kak Rafa.


Wirda menganggukkan kepalanya tanpa berkata, ia sudah merasa begitu gusar setelah melihat keadaan diriku.


Kak Rafa mengerti apa yang Wirda rasakan, lalu mengajaknya duduk untuk menenangkannya.


" InsyaAllah, semua akan baik-baik saja Dek, kita serahkan semuanya kepada Allah. Percayalah dan yakinlah, bahwa Rani akan segera membuka matanya dan bersama kita lagi, "ucap Kak Rafa sambil mengenggam jemari tangan Wirda erat lalu menciumnya.


Wirda menitikan air mata, " Aamiin, iya Kak. Semoga semua itu segera dapat terwujud, sebab aku benar-benar tidak kuasa melihat keadaan Rani seperti ini. Rasanya semua terasa berat, padahal baru saja ia merasakan kebahagiaan. Tetapi... "


Kak Rafa segera menutup bibir Wirda dengan telapak tangannya dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak Dek, jangan berkata yang menentang akan keputusan Allah.Kita do'akan saja Rani, dan berharap kebaikan juga kebahagiaan dapat menyertainya setelah ini. Bukankah itu harapan kita semua Dek, " ucap Kak Rafa memandang wajah Wirda yang sedih.


Wirda mengangguk kembali.


Kak Rafa mengusap punggung Wirda pelan,lalu memeluknya dan mengecup kening Wirda.

__ADS_1


"Kita harus tegar dan kuat Dek, itu pasti yang diinginkan almarhum Kak Fariz jika ia masih ada, " ujar Kak Rafa yang juga larut dalam keharuan.


__ADS_2