
Ummah memandangi wajahku yang masih terlihat pucat, "Apakah kamu baik-baik saja sayang?. "
Aku mengangguk pelan, "Iya Ummah. "
Bik Siti berjalan seraya merangkul pinggang ku, "Jika Nak Rani lelah kita duduk dulu atau minum dulu nak. Bagaimana Nak Rani?. "
Aku menoleh ke arah Bik Siti, "Tidak usah Bik. InsyaAllah Rani baik-baik saja. "
Aku, Ummah dan Bik Siti berjalan masuk menyusul Ustad Fariz dan Pak Budi yang sudah masuk terlebih dahulu bersama Kak Roy. Tampak di dalam Ustad Fariz dan Pak Budi duduk berdekatan Kak Roy yang masih duduk di kursi rodanya. Saat aku masuk bersama Ummah dan Bik Siti, semua orang memandang ke arah kami
Termasuk juga Rere dan pria bertubuh besar di sampingnya yang akan di mintai keterangan oleh pihak berwajib.
Ummah menggenggam jemariku dan mengajakku dan Bik Siti untuk duduk tidak terlalu berdekatan dengan yang lainnya.
"Bik Siti duduk disini saja temani Rani dulu ya Bik.Saya akan menghampiri Fariz dan Pak Budi untuk menanyakan kondisi saat ini."
"Iya Bu Putri, silahkan, " jawab Bik Siti dengan mengangguk.
Ummah pun berjalan menghampiri Ustad Fariz dan menanyakan perihal keadaan sekarang, tetapi Ustad Fariz belum dapat berbicara banyak mengenai keadaan sekarang. "Pihak kepolisian masih meminta keterangan dan memeriksa Rere juga pria besar di sampingnya Ummah. Sementara Dek Roy rupanya mengalami gangguan bicara sehingga tidak sepenuhnya dia dapat mengatakan kronologi yang menimpa dirinya secara detail. "
Ummah terkejut, "Tetapi saat di lift kita dengar beberapa kali Roy memanggil Rani kan."
Pak Budi pun langsng menjawab pertanyaan Bu Putri, "Sepertinya itu tindakan refleksi spontan dari Nak Roy Bu. Bahkan sekarang pun anggota tubuhnya baik tangan dan kaki tidak dapat bergerak sepenuhnya. "
Ummah mengkerutkan dahinya, "Tetapi jika tidak salah saya lihat Nak Roy sempat memegang tangan Pak Budi kan. "
"Iya Bu, seperti yang saya katakan itu seperti tindakan spontanitas dari Nak Roy. Saat ini Nak Roy dapat mendengar dan memahami semua yang kita katakan tetapi untuk merespon melalui ucapan dan tindakan masih sulit ia lakukan. Itu baru observasi sementara dari dokter jaga yang bertugas di kepolisian setelah ini akan jauh lebih baik jika Nak Roy nanti segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan dari dokter spesialis yang kompeten sehingga kita semua dapat mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya kepada Nak Roy. "
Ummah melihat tatapan mata Kak Roy yang begitu sendu dan membuatnya iba.
"Sungguh mengapa Rere tega melakukan semua ini, dan menyembunyikan Roy selama ini. Apa yang menjadi motifnya?. "
"Hal itulah yang sedang di selidiki oleh pihak kepolisian Ummah. Oh ya Rani dan Bik Siti tadi kan bersama Ummah, lalu dimana mereka berdua?, " tanya Ustad Fariz sambil melihat ke sekitar.
Ummah melayangkan pandangannya ke arah Ustad Fariz, "Ummah menyuruh mereka duduk agk di luar sana, kasihan Rani jika harus berbaur kemari. Dia baru saja pulang dari rumah sakit dan tiba-tiba ada kejadian seperti ini. Ummah takut terjadi sesuatu kepada Rani jika ia terlalu banyak memikirkan hal semacam ini. "
Dan di saat Ummah sedang menjelaskan tentang diriku kepada Ustad Fariz.
Kak Roy yang semula hanya diam duduk di kursi roda, kini memanggil namaku, "Rani... Rani... Rani.. Dimana.. Rani?. "
Semua orang terkejut termasuk Ummah.
Pak Budi yang semula duduk menghadap punggung Kak Roy, lalu bangkit dari duduknya dan memutar perlahan kursi roda Kak Roy menghadap Ustad Fariz dan Ummah. Kemudian Pak Budi pun kembali duduk.
__ADS_1
"Sepertinya Nak Roy ingin bertemu dengan Nak Rani, Nak Fariz. Selama tadi di dalam mobil ia terus memanggil namanya Nak Rani saja tiada henti, " ucap Pak Budi.
Ustad Fariz memandangi wajahnya Kak Roy. Dan Kak Roy menatap balik Ustad Fariz dengan terus menyebutkan namaku, "Rani... Rani... Dimana Rani.. Rani. "
Suara parau bercampur serak terdengar begitu sangat menyayat hati yang mendengarkannya. Ustad Fariz pun tidak tega mendengar Kak Roy yang secara terus menerus memanggil diriku, hingga ia meminta Ummah untuk segera memanggil diriku untuk datang kemari menemui Kak Roy. Mendengar permintaan dari Ustad Fariz. Ummah seakan berat dan tidak menginginkannya, di dalam hati Ummah ia sengaja memintaku dan Bik Siti duduk di luar supaya tidak bertemu dengan Kak Roy, tetapi sekarang putranya sendiri yang meminta dirinya untuk membawa diriku kemari.
Ughhhh..... Ummah menarik napas panjang dan bingung untuk menolak permintaan dari Ustad Fariz. Dan saat Ummah akan berdiri untuk memanggil diriku. Aku bersama Bik Siti sudah berjalan masuk menemani Tante Desi dan beberapa kerabatnya yang ikut serta dengannya untuk menemui Kak Roy.
Ummah dan semua orang pun terkejut dengan kedatangan Tante Desi yang menangis secara histeris dan terus berteriak memanggil nama Kak Roy.
"Huhuhuhuhu... Roy!, "pekik Tante Desi.
Tante Desi lalu dengan cepat berlari menuju ke tempat Kak Roy, matanya seakan tidak percaya menyaksikan putra semata wayangnya ternyata masih hidup. Hatinya begitu remuk dan hancur karena selama ini telah menganggap Kak Roy sudah tiada.
Sambil duduk sedikit berlutut di lantai Tante Desi lalu memeluk erat Kak Roy dengan derai air matanya. Ugh, semua orang yang melihatnya begitu tersayat dan begitu iba melihat pertemuan antara ibu dan anak itu.
Kedua tangan Tante Desi memegang wajah Kak Roy dan terus menghujaninya dengan limpahan kasih sayang.
" Ya Allah nak kemana kamu selama ini. Huhuhuhuhu.. Mama kira kamu sudah tidak ada di dunia ini lagi Nak... Huhuhuhuhu... Apa yang telah Rere lakukan kepada dirimu Nak? Hingga kamu menjadi seperti ini.. Huhuhuhuhu, "ucap Tante Desi dalam isak tangisnya.
Semua orang pun tidak bergeming menyaksikan pemandangan yang mengharu biru tersebut.
Ummah bangun dari duduk nya lalu menyuruhku dan Bik Siti untuk duduk di sampingnya.
Kami semua yang melihat Tante Desi menangis juga turut meneteskan air mata kesedihan, bagaimana tidak melihat kondisi Kak Roy yang memprihatinkan dengan tubuh begitu sangat kurus dan pucat serta tidak dapat berkomunikasi dengan baik ditambah tangis Tante Desi yang begitu pecah memenuhi ruangan dengan suara kesedihan nya. Ummah dengan perlahan mengusap punggung Tante Desi untuk membuatnya tenang.
Ummah pun mengangguk pelan dan terus mengusap lembut pundak Tante Desi.
" Iya Bu Desi. Bu Desi yang tenang dan bersyukur kepada Allah, karena masih dipertemukan dengan Nak Roy. Sekarang Bu Desi tenangkan diri, kita fokus pada Nak Roy dan segera membawanya ke rumah sakit untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya, "ucap Ummah.
Tante Desi pun mengangguk dan mulai menyeka air matanya. Tetapi saat ia ingin bangun berdiri pandangan Tante Desi bertemu dengan tatapan Rere. Maka dengan seketika Tante Desi pun berjalan cepat menuju ke tempat Rere yang sedang duduk dengan kedua tangan di borgol.
Dengan rasa amarah, kesal, kecewa dan kesedihan yang melebur menjadi satu. Tante Desi dengan kilat menghujani Rere dengan sentuhan telapak tangan kanan Tante Desi yang begitu keras mendarat dan menyentuh pipi Rere.
Rere pun sangat terkejut dan terlihat marah.
" Apa yang telah tante lakukan padaku?, "gertak Rere langsung berdiri menatap Tante Desi dengan matanya yang melotot.
Tante Desi pun semakin marah dan sangat kesal mendapati sikap Rere yang tidak ada penyesalan atau ingin meminta maaf kepada dirinya setelah sekian lama menyembunyikan keberadaan Kak Roy dan membuat putranya itu seolah-olah sudah tiada.
Dengan perasaan amarah yang berkobar-kobar membara di dalam hatinya. Tante Desi ingin melayangkan lagi telapak tangannya menyentuh di pipi Rere, namun dengan cepat Ummah berdiri dan menghentikan tindakan Tante Desi.
" Istighfar Bu Desi. Ingat Bu jangan terpancing kemarahan, bagaimana pun juga Rere masih menjadi menantu Bu Desi. Pasti ada alasan mengapa ia melakukan semua hal ini, "ujar Ummah berusaha menenangkan Tante Desi.
__ADS_1
Tante Desi masih terlihat sangat kesal, " Menantu? Saya tidak sudi Bu Putri mempunyai menantu seperti ini, jika tidak karena desakan dan keadaan mana mungkin Roy mau menikahi perempuan kejam ini. Setelah ini, saya akan menyuruh Roy untuk menceraikan perempuan ini dari kehidupan putra saya. "
Rere terlihat semakin sinis dengan wajah tengilnya, "Terserah apa yang Tante ucapkan, tetapi bagaimana pun niat Tante untuk memisahkan diriku dengan Kak Roy tidak akan pernah terwujud sama sekali. "
"Apa maksud perkataanmu itu Rere! Dan apa untungnya kamu melakukan penipuan sebesar ini kepada Tante dan semua orang, " hardik Tante Desi dengan suara kerasnya.
Rere berjalan mendekati Tante Desi dengan wajahnya yang menantang dan tidak menunjukkan ekspresi ketakutan sama sekali ,tatapan matanya begitu liar dan sangat sinis seperti seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan, "Tante tahu kenapa aku melakukan semua hal ini, itu karena aku sangat mencintai kak Roy .Dan aku tidak ingin jika Kak Roy secara terus menerus memikirkan Rani dan hanya Rani saja. Apalagi saat hari itu ia ingin melayangkan gugatan cerai kepadaku dan menyingkirkan diriku dari kehidupannya,setelah ia berhasil menceraikan diriku Kak Roy ingin melamar Rani menjadi istrinya.Mengetahui niatnya itu hatiku begitu sakit dan sangat terluka Tante. Perasaan ku hancur berkeping-keping!," teriak Rere dengan sangat keras.
Rere diam sebentar lalu menunjukkan ekspresi wajahnya yang sedih secara tiba-tiba, kemudian bertutur kembali, "Sehingga,aku tidak memiliki pilihan lain tante. Untuk memanipulasi keadaan dan membuat Kak Roy menjadi lumpuh di bawah kendaliku dan menjauhkan dirinya dari semua orang termasuk juga Rani. Dan aku tidak merasa bersalah melakukan hal itu, karena ini adalah wujud upaya yang aku lakukan sebagai seorang istri untuk mempertahankan rumah tanggaku, mempertahankan cintaku, mempertahankan Kak Roy agar tetap berada di sisiku dan menjadi suamiku. Dan tidak ada yang salah akan semua hal yang aku lakukan Tante ,karena semua akan adil di dalam cinta ,"tutur Rere dengan begitu percaya diri dan tanpa rasa ketakutan sama sekali .
Tante Desi dan Ummah yang mendengar semua penuturannya Rere pun begitu sangat terkejut dan tidak dapat berkata-kata termasuk juga dengan diriku, Ustad Fariz, Bik Siti,Pak Budi dan aparat kepolisian. Diman semua orang hampir tidak habis pikir dengan cara pemikiran yang ada di dalam benak Rere.
Tante Desi menggelengkan kepalanya, " Kamu sungguh kejam Re. Betapa egoisnya dirimu, hanya demi kepentingan dirimu saja kamu memisahkan Tante dengan putra Tante. Bahkan kamu tega menipu kami semua dengan membuat Roy seolah-olah sudah meninggal dunia dan kamu juga tega membuat Roy menjadi lumpuh, kamu kejam Re... Kamu benar-benar sangat kejam. Tante tidak akan membiarkan dirimu berada dekat dengan putra tante lagi. Huhuhuhuhu...... "
Tante Desi pun menangis histeris dan terus mengutuk perbuatan Rere.
Tetapi Rere seakan tidak peduli akan sumpah serapah, makian dan kemarahan yang dilontarkan oleh Tante Desi.
"Aku tidak peduli dengan semua yang tante katakan, sekuat apapun tante berusaha memisahkan diriku dengan Kak Roy itu tidak akan pernah terjadi, " ucap Rere lalu beranjak duduk kembali.
Tante Desi menatap wajah Rere dengan sangat serius dan napasnya yang terengah-engah, "Apa maksud perkataanmu itu Re?."
Rere tersenyum sinis seraya meremehkan ucapan Tante Desi.
Belum sempat Rere menjawabnya Ummah dengan segera mengajak Tante Desi untuk menyingkir dari hadapan Rere.
Tante Desi masih sangat terpukul dan tidak dapat menerima alasan Rere melakukan semua hal ini. Tidak lama Ustad Fariz, Pak Budi , Bik Siti, Ummah dan diriku bergantian memberikan keterangan kepada pihak kepolisian.
Aku masih seakan tidak percaya jika sahabatku yang kukenal baik dan periang dapat melakukan hal sangat jauh seperti ini. Sesekali aku melihat ke arah Kak Roy, melihat keadaannya membuat diriku begitu sangat teriris dan begitu iba melihatnya. Perlahan aku bangkit dari duduk ku dan berjalan perlahan-lahan mendekati Kak Roy, "Apakah Kak Roy baik-baik saja?. "
Aku memandang wajah Kak Roy yang juga melihat diriku dengan parasnya yang pucat dan terlihat sangat kurus seperti mayat hidup. Air matanya mengalir dalam kedua bola matanya yang sudah cekung dan mulai berwarna hitam kecoklatan.
Aku pun yang menatap dirinya sungguh seakan tidak kuasa melihat keadaannya seperti sekarang ini. Malaikat pelindungku yang selalu ada disisiku untuk senantiasa memberikan pertolongannya dalam membantuku, kini menjadi raga dengan seonggok jasad tidak berdaya dalam keterbatasan kemampuannya.
Dalam derai air mata yang Kak Roy tumpahakan ia memanggilku dengan pelan dalam suaranya yang parau dan bergetar serak, "Rani.. Rani... Rani... "
Kak Roy berusaha sekuat tenaganya memanggil diriku, meskipun aku tahu hal itu sangat sulit ia lakukan tetapi ia terus berusaha melakukannya. Aku yang melihat Kak Roy berusaha dengan keras memaksakan dirinya untuk berkomunikasi dengan diriku, dengan cepat aku pun merespon perkataannya.
"Iya Kak Roy. Rani mendengar apa yang Kak Roy katakan. Rani mohon Kak Roy jangan memaksakan diri untuk berbicara yah, " pintaku kepada Kak Roy sambil menyeka air mataku.
Tetapi Kak Roy masih terus menangis dan terus memanggil namaku. Tidak lama setelah itu tubuh Kak Roy terlihat semakin lemas dan membuat semua orang khawatir.
Dengan segera Tante Desi dibantu oleh kerabat dan Ustad Fariz juga Pak Budi dengan cepat membawa Kak Roy ke rumah sakit, supaya mendapatkan pertolongan.
__ADS_1
Sementara Rere dan pria besar yang ikut serta membantu kejahatannya di tahan sementara di ruang tahanan selama proses penyelidikan berlanjut, sedangkan diriku dan Bik Siti diajak Ummah untuk pulang karena melihat kondisiku yang baru saja keluar dari rumah sakit. Ummah tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak berkenan terhadap diriku.
Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Ummah, hatiku masih sangat mengkhawatirkan akan keadaan Kak Roy.