Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Healing sejenak.


__ADS_3

Disaat aku menikmati taddabur alam,Wirda datang menghampiriku dan jemarinya memegang bahuku pelan sambil memanggil diriku."Ran,apa yang kamu lakukan disini?,"tanyanya.Aku pun menoleh ke arahnya. "Aku sedang mentaddaburi alam Wir, menikmati keindahan alam ciptaan Allah sekaligus mensyukuri akan semua kebesaranNya atas semua fenomema ciptaanNya yang ada di langit dan dibumi,"kataku sambil memandang Wirda.


Wirda terdiam mencerna kalimat yang kuucapkan kepadanya. Mataku yang semula memandang ke arah Wirda, kini ku alihkan kembali menyoroti keindahan alam di sekitarku.Begitu pun yang Wirda lakukan, ia juga ikut merefleksikan tindakanku.


" Aku turut senang Dan, dengan kembalinya penglihatanmu. Setelah ini aku dengar dari Ummah, engkau akan keluar dari rumah Imandar dan mengajak Bik Siti dan Pak Budi bersamamu. Benarkah itu ?, "ucap Wirda memandang diriku.


Mataku pun bertemu dengan sorot matanya yang penuh tanya untuk mengkonfirmasi kebenaran akan berita yang ia dengar dari Ummah. Bibirku tersenyum kepadanya, " Iya Wirda benar. "


Ekspresi wajah Wirda datar seketika dan seolah berpikir. "Ran,apa tidak sebaiknya jika dirimu tinggal bersamaku saja atau tetap tinggal di rumah Ummah.Menurutku itu akan jauh lebih baik dari pada engkau tinggal seorang diri. "


Aku menoleh kearah Wirda lalu memandang di sekitar tempatku dan Wirda berdiri, untuk mencari kursi agar kami dapat berbicara dengan santai dan nyaman. Bibirku tersenyum, setelah kudapati di sisi kiri ku yang berjarak kurang lebih 2m terdapat kursi panjang besi yang menghadap ke waduk dan kosong tidak di tempati. Maka segeralah aku mengajak Wirda untuk beranjak kesana dan duduk pada kursi itu. Tanpa banyak kata Wirda pun tidak menolak ajakanku. Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga akhirnya aku dan Wirda sudah duduk pada kursi besi panjang yang kumaksud. Setelah duduk, Wirda memandang ke arahku. Dia seakan menantikan jawaban dari ungkapan hatinya kepadaku.


Dengan perlahan aku memegang jemari tangan Wirda dan melihat sorot matanya yang begitu serius menatap diriku.


"Wirda, banyak alasan yang sudah jauh-jauh aku pertimbangkan dari segi kebaikan diriku dan semua orang disekitarku. "


Bibirku terdiam sesaat menunggu respon Wirda, setelah ia juga tidak bergeming dan hanya mendengarkan perkataanku maka aku pun melanjutkan ucapanku kepadanya.


"Alasan utama kenapa aku harus keluar secepatnya dari kediaman rumah Ustad Fariz karena diriku tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Ustad Fariz, Wir. "


Kali ini Wirda menyela perkataan yang kulontarkan kepadanya.


" Tetapi Ran. Bukankah seluruh keluarga Ustadz Fariz itu menerima kehadiranmu, dan mereka semua juga membuat dirimu seperti layaknya anggota keluarga sendiri. Bahkan terlebih lagi Ummah yang begitu sangat menyayangimu dan menganggap dirimu layaknya seperti putri kandungnya sendiri. Kamu tahu Ran, tadi saat Ummah mengatakan jika dirimu ingin keluar dari rumah Imandar.Aku melihat mata Ummah berkaca-kaca.Dia seakan tidak rela dan berat hati membiarkan dirimu meninggalkan kediaman rumahnya. Aku terenyuh Ran, melihat wajah Ummah sangat begitu sedih. Namun, aku tahu dia berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya itu supaya tidak menjadi beban pikiran semua orang. Apakah dirimu tidak kasihan Ran, melihat Ummah menjadi sedih seperti itu? dan apakah tidak sebaiknya kamu tetap tinggal saja di kediaman rumahnya Ustad Fariz,"ucap Wirda memandangku dengan serius.


Huft...


Aku menghela nafas pendek berusaha untuk mengatur perasaan yang kurang nyaman berada di dalam hatiku yang ingin kuungkapkan kepada Wirda.


" Wirda akupun juga sangat menyayangi Ummah seperti alamarhumah bundaku sendiri dan sangat menghormati seluruh anggota keluarga Ustad Fariz.Namun, niatku untuk keluar dari kediaman rumah Ummah adalah juga untuk menjaga martabat dan menghindari fitnah dari semua orang akan keberadaanku di rumah itu ,kamu juga tahu bukan jika keluarga Imandar adalah keluarga yang sangat terpandang dan begitu sangat disegani oleh semua orang,lalu apa nanti pikiran semua orang jika diriku tetap berada di rumah tersebut tanpa ada status hubungan keluarga yang jelas. Apalagi kedua putra keluarga IMandar adalah laki-laki dan diriku adalah seorang perempuan .Apakah semua orang akan diam saja ,tentu tidak Wirda. Mungkin sekarang tidak, namun lambat laun dengan bergulirnya waktu semua orang akan berspekulasi dan membuat rumor-rumor yang negatif kepada keluarga Imandar, khususnya untuk Ustad Fariz yang terjun langsung di dunia dakwah dengan fans-fans ibu-ibu dan kaum hawa yang MasyaAllah banyaknya. Dan hal itulah yang aku takutkan."


Wirda terdiam mendengarkan penjelasanku.


"Lagi pula Wirda, sebentar lagi Kak Rafa akan melamarmu dan meminang dirimu untuk menjadi istrinya . Setelah itu, tentunya Kak Rafa akan membawamu untuk tinggal di keluarga Imandar bersamanya. "


Wajah Wirda tersipu malu mendengarkan ucapanku kali ini,pipinya merona merah tersapu cahaya matahari yang menerpa parasnya yang teduh nan elok rupawan.


Aku pun tersenyum memandang Wirda, yang berusaha menyembunyikan rasa malunya kepada diriku.


"Kamu tidak perlu malu seperti itu kepadaku Wirda. Aku sudah mengetahui semuanya karena Kak Rafa sendiri yang mengatakannya langsung kepadaku ."


Wirda terkejut."Benarkah itu Ran?,"tanyanya dengan ekspresi mata sedikit melotot tidak percaya.


Aku mengangguk, "Iya Wirda,"ucapku.

__ADS_1


Maka bertambah merahlah pipi Wirda dan menundukkan pandangannya dariku setelah ia memberikan senyuman malu-malunya kepadaku.


Sambil mencubit pipi merah Wirda dengan lembut aku pun melanjutkan perkataanku kepada Wirda.


"Setelah nanti kamu dan Kak Rafa resmi menjadi pasangan suami istri dan tinggal di keluarga Imandar. Ummah pasti tidak akan bersedih lagi akan keputusanku untuk keluar dari rumahnya ,karena ada Wirda putri terbaik yang akan datang mengisi kehidupan Ummah bersama keluarganya dengan limpahan berjuta kebahagiaan dan kasih sayang, " tuturku. Dan Wirda tersenyum mendengar perkataanku. "Kenapa pula aku tidak memilih untuk tinggal juga di rumahmu,karena aku ingin menata hidupku dari awal dengan semua kenangan yang baru, tatanan hidup yang baru ,dan juga dengan perasaan suasana yang baru pula. Aku tidak ingin terus-terusan merepotkan dan bergantung kepada orang lain. Menurutku inilah waktu yang tepat bagi diriku memulai dan merintis kehidupanku selanjutnya setelah kemerdekaan yang ku peroleh dari belenggu keluarga Kak Reno. "


Wirda memegang jemariku dan memandang ke arahku dengan serius.


" Ran Bukankah tidak apa-apa kamu tetap tinggal di rumah Ustad Fariz. Apalagi setelah aku menikah dengan Kak Rafa. Bukankah tidak apa-apa, karena nantinya akan ada diriku di rumah itu ,"ucap Wirda dengan menuturkan argumen dirinya. Aku pun menggelengkan kepalaku dan membalas menggenggam tangan Wirda ."Tidak bisa Wir,dan tidak pantas bagi seorang perempuan yang tidak memiliki hubungan apapun tinggal di rumah seorang laki-laki yang masih lajang, beserta alasan yang sudah ke utarakan sebelumnya kepadamu. Aku melakukan ini semua demi kebaikanku dan juga seluruh anggota keluarga Ustad Fariz. Aku akan tetap dengan keputusanku keluar dari rumah itu dan tinggal di rumah sederhana yang nanti akan kutinggali bersama Pak Budi dan Bik Siti sambil merintis usaha dan meneruskan pendidikanku. Lagi pula nanti jika aku keluar dari rumah Ummah dan memilih untuk tinggal di tempat lain. Ummah dan diriku juga akan tetap terus dapat bertemu, sebab kita masih tinggal di tempat yang sama. Ummah akan dapat mengunjungi diriku dan sebaliknya aku pun juga akan dapat berkunjung ke rumah Ummah, sekaligus mengunjungi dirimu dan kurasa tidak ada masalah dengan semua hal itu. Semua hanya masalah waktu dan keterbiasaan saja nantinya.Ya sudah lah Wirda tidak perlu kita terus membahas masalah ini. Lagi pula ini bukan perkara yang besar untuk dipersoalkan.Sekarang kamu fokus saja untuk masa depanmu bersama Kak Rafa ya, "ucapku sambil mencubit pipi Wirda sekali lagi.


Kali ini Wirda menganggukkan kepalanya, ia sepertinya sudah mengerti dan memahami apa yang menjadi keputusanku. Angin lembut menerpa wajah kami yang tersenyum berseri. Kebahagiaan yang terpancar dari paras ayu sahabat terbaikku mewarnai rasa bahagiaku juga. Dalam pandangan mataku menatap senyumnya. Aku selalu berdoa kepada Sang Kuasa semoga kebahagiaan dan keberuntungan hidup selalu menyertai di setiap langkah kehidupannya, batinku di dalam hati.


Di saat aku sedang berbincang-bincang dengan Wirda sesekali kulayangkan pandanganku kearah Ummah, Pak Budi, dan Bik Siti seperti sedang berbicara serius. Sementara kulihat Ustad Fariz sedang berjalan seorang diri mendekat ke arah tempat Ummah duduk bersama Bik Siti dan Pak Budi.


"Ran, aku melihat warna bola matamu sepertinya tidak sama dengan warna bola mata yang dimiliki oleh almarhum Kak Roy, " ujar Wirda sambil menatap tajam mataku.


Aku yang semula melihat ke arah Ummah lalu memalingkan pandangan mataku kepada Wirda. "Benarkah itu Wirda? dari mana kamu tahu itu?, " tanyaku dengan ekspresi wajah penuh tanya dan kedua alis terangkat ke atas.


"Iya Ran, seingatku warna bola mata yang dimiliki oleh almarhum Kak Roy berwarna hitam atau coklat gelap tetapi warna bola matamu berbeda yaitu berwarna hazel dengan memiliki kombinasi atau campuran warna pada irisnya. Seperti terdapat semacam campuran hijau dan oranye atau emas yang hampir mirip seperti warna mata kucing, Ran. "


Wirda menuturkan kepadaku dengan terus mengamati bola mataku. Sebenernya mendengar ucapan Wirda membuat diriku tersentak sedikit tetapi aku berusaha positive thinking, seraya berargumentasi kepada Wirda akan keraguan yang timbul dari penglihatannya.


"Wirda,iris mata merupakan otot sehingga dapat berkontraksi untuk mengontrol ukuran pupil, ada kemungkinan warnanya bisa berubah karena pigmen mata terkompresi atau menyebar,seoerti cahaya hingga kondisi konsentrasi terhadap suatu objek dapat mengubah warna mata dan juga bahkan emosi yang aku rasakan hal itu juga dapat mempengaruhi warna bola mata. Dan kemungkinan juga mataku baru beradaptasi dengan kornea mata almarhum Kak Roy, " jelasku.


Aku yang menyimak Wirda bertutur, sedikit mengkerutkan dahi dan merasa heran akan sikap Wirda.Sehingga aku pun hanya diam melihatnya.


"Oh ya Ran, saat aku dan kak Rafa ingin memberitahukan perihal meninggalnya akmarhumah Bu Sri kepada Kak Reno dan keluargnya.Nah,saat di jalan pulang menuju rumah tahanan almarhum Pak Sugeng dan kakeknya Kak Reno.Aku melihat Rere mendorong kursi roda untuk menuju masuk ke mobil,dan seorang laki-laki yang ditutup mukanya dengan masker dan topi teapt duduk di atas kursi roda yang ia dorong."


"Lalu?, " tanyaku kepada Wirda.


"Iya Ran, tidak tahu kenapa aku melihat laki-laki itu tidak asing bagiku,meskipun aku tidak melihat jelas wajahnya tetapi aku merasa sangat mengenalnya. Namun, karena saat itu kami berada di jalan yang berseberangan dan lampu sudah menyala hijau, sehingga aku tidak bisa turun menghampiri Rere dan mengamati laki-laki itu secara seksama. Entah kenapa Ran, hatiku seolah merasa ingin tahu tentang laki-laki yang bersama Rere itu .Bahkan sampai saat ini pun aku masih memikirkan perihal siapa laki-laki itu. Karena aku dan Kak Rafa belum sempat pula mengawasi dan memantau Rere , sebab kesibukan Kak Rafa bersama Enjid dan Abi. "


Aku terus menyimak penuturan dari Rere yang terlihat begitu sangat serius dengan rasa ingin tahu yang benar-benar pada sosok laki-laki bersama Rere. Hingga Wirda memegang bahuku erat dalam tatapan matanya yang penuh kecurigaan dan penuh selidik. "Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rere dari kita Ran, tanpa niatku untuk berburuk sangka kepada Rere."


Aku termangu menatap Wirda yang begitu sangat mencurigai Rere.


Lalu tiba-tiba Bik Siti datang menepuk lembut punggung kami berdua dan membuyarkan lamunanku.


"Aduh, Nak Rani dan Nak Wirda sedang bicara apa sih? Bik Siti panggil dari tadi tidak kedengaran. "


"Oh maaf Bik, " jawabku tersenyum.


" Ya sudah tidak apa-apa. Oh ya Nak Wirda dan Nak Rani dipanggil Bu Putri untuk bergabung ke sana. Pak Sucipto ,Pak Iwan dan Nak Rafa juga sudah datang menunggu kalian berdua untuk segera ke sana.

__ADS_1


Ayo ! ,"ajak Bik Siti sambil memegang tanganku dan Wirda untuk segera beranjak berdiri menuju ke tempat Ummah dan lainnya yang sedang duduk menanti kedatangan kami.


Aku dan Wirda pun berjalan di sisi Bik Siti dalam langkah kaki kami menuju ke tempat Ummah berada. Pandanganku terus melihat wajah kecemasan yang masih tergambar pada ekspresi wajah Wirda dan sesekali aku memanggil Wirda untuk mengisyaratkan kepadanya supaya tidak memikirkan hal itu dulu. Wirda yang mengerti pun mengangguk kepadaku dan segera melupakan kegelisahan dan kecurigaan hatinya terhadap Rere. Tidak lama kami bertiga pun sampai di tempat Ummah dan keluarga Imandar sedang menyantap makanan yang mereka pesan sambil menatap ke arah kedatangan kami bertiga. Kemudian Enjid yang sedang duduk lalu berdiri seketika menghampiriku, ia mengusap kepalaku dengan lembut dan mengucapkan syukur untuk penglihatan yang sudah kembali kepadaku. Enjid lalu menuntunku untuk duduk di sampingnya di dekat Ummah.


Matanya berkaca-kaca penuh keharuan, dan ini pertama kalinya aku dapat melihat wajah Enjid setelah diriku dapat melihat.


"Alhamdulillahi rabbil 'alamin khamdan katsira yuwafi ni'amahu wa yukafiu mazidahu. Segala puji Allah Tuhan semesta alam, pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. MasyaAllah Enjid sungguh senang sekali mendengar dari Putri jika penglihatan Rani sudah kembali seperti sedia kala, " tutur Enjid dengan air mata keharuannya.


Aku pun hanya melihat ke arah Enjid dengan senyuman dan rasa tidak enak hati melihat nya menangis seperti itu.


"Jika almarhum kakek mu masih ada,almarhum pasti senang dan bangga sekali memiliki cucu sepertimu nak, " ucap Enjid lagi sambil mengusap kepalaku.


Enjid menyeka air matanya dan Abi serta Kak Rafa juga terus membanjiri diriku dengan doa dan ucapan syukur.


Hari ini juga pertama kalinya mataku dapat langsung melihat paras Abi dan juga Kak Rafa, yang begitu memiliki perawakan tubuh besar dan tinggi sekali. Dan membuatku hampir terperangah kaget.


Aku pun melihat semua orang larut dalam kebahagiaan merayakan kembalinya penglihatanku yang sempat tidak dapat berfungsi dan membuatku begitu sangat terpuruk. Tetapi keberadaan keluarga Ustad Fariz beserta Pak Budi, Bik Siti dan Wirda terus menopang kekuatanku untuk bertahan. Hingga sekarang, Alhamdulillah Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengizinkan dan memberikan kesembuhan serta mengembalikan penglihatanku lagi untuk dapat menyaksikan ekspresi wajah-wajah kebahagiaan yang menyelimuti orang-orang terbaik yang berada di sekelilingku.


Dari sudut lain terlihat Kak Rafa yang menatap Wirda dengan senyumannya yang merekah, dan Wirda dengan malu-malu juga membalas senyuman yang Kak Rafa berikan kepadanya . Wirda dan Kak Rafa seolah memiliki dimensi dunia mereka berdua sendiri di antara keberadaan kami di sekitar mereka. Ummah dan Enjid juga tidak henti-hentinya mengusap kepalaku dan melimpahkan kasih sayangnya kepada diriku dengan perhatian mereka.


Sesekali hatiku ingin tahu apa yang dilakukan oleh Ustad Fariz yang duduk berada di seberang tempatku duduk. Ustad Fariz pun sesekali melihat ke arahku ,dan seperti biasanya ia langsung menundukkan pandangannya ketika sudut mata kami bertemu. Lagi-lagi ia terlihat seperti menghindar dari diriku. Kemungkinan Ustad Fariz merasa tidak nyaman ketika Pak Budi atau Bik Siti akan menggodanya kembali dengan memanfaatkan diriku menjadi bahan candaan mereka. Jika mereka mengetahui Ustad Fariz menatap ke arahku. Tetapi aku memaklumi apa yang Bik Siti dan Pak Budi lakukan,tindakan itu hanyalah untuk sekedar memecah kesunyian dan mencairkan suasana agar tampak menjadi lebih berwarna.


Saat mataku berkeliling memandangi ekspresi wajah-wajah semua orang di sekitar ku. Abi lalu berkata menghentikan pandanganku.


"Ran, sepulang ini Pak Gondrong dan Pak Hadi akan bertemu dengan Rani untuk membahas semua aset waris milik Rani. Sekaligus kita akan mencari rumah yang akan Rani tinggali setelah Rani tidak tinggal lagi di kediaman rumah kami, nanti Rani bisa pilih mana yang menurut Rani cocok sesuai keinginan Rani. Tetapi jika boleh Abi meminta dapatkah Rani tinggal untuk waktu sedikit lama lagi sampai Rafa menikah dengan Wirda.Setidaknya supaya Ummah tidak merasa sangat bersedih setelah kepergian Rani, dan jika Rafa sudah menikah dengan Wirda. Wirda akan tinggal bersama kami sehingga hati Ummah sedikit dapat terobai akan kepergian Rani meninggalkan kediaman rumah kami. Bagaimana nak ?Apakah kamu mau?,"tanya Abi sambil memandang diriku.


Aku terdiam beberapa saat sambil berpikir.


Sebenarnya di dalam hatiku, aku ingin segera keluar dari rumah kediaman keluarga Imandar.Tetapi dengan melihat ekspresi wajah Ummah,Abi dan Enjid. Akhirnya aku menggurungkan niatku itu dan mencoba memberikan sedikit kelonggaran hatiku untuk tetap tinggal sementara waktu di rumah Ustad Fariz.Setidaknya aku melakukan hal kecil ini untuk membahagiakan Ummah yang sudah aku anggap layaknya seperti bundaku sendiri. Dengan senyuman kecil aku menatap Ummah seraya berkata, "Iya Abi. Rani akan tinggal sampai Wirda datang ke rumah keluarga Abi menjadi menantu keluarga Imandar sekaligus menjadi istrinya Kak Rafa,barulah setelah itu Rani akan keluar mengajak Bik Siti dan Pak Budi pindah ke rumah pilihan Rni untuk menjalani kehidupan baru Rani selanjutnya ,"ucapku dengan pelan dan lirih.


Ummah tersenyum senang sekali begitu juga dengan Abi, Enjid, Kak Rafa dan yang lainnya. Dan seperti biasanya Ummah memeluk tubuhku dengan erat dan mendaratkan ciuman di keningku. "Alhamdulillah ya Allah, terima kasih ya sayang. Ummah sungguh sangat senang sekali mendengarnya, "ucap Ummah sambil memegang pipiku dengan kedua tangannya.


Setelah itu kami semua pun menikmati makanan dan minuman yang telah tersedia di atas meja, sambil sesekali mendengarkan gurauan dan candaan yang dilontarkan oleh Bik Siti, Kak Rafa dan juga Pak Budi.


Sesekali aku melirik kearah Ustad Fariz yang hanya terdiam dan tersenyum kecil tanpa banyak berkata. Ustad Fariz akan selalu menundukkan kepalanya dan pandangannya saat mata kami kembali bertemu. Di sudut hatiku aku merasakan ada sesuatu yang sedikit berbeda dari tatapan dan sikap Ustad Fariz kepadaku, tetapi aku berusaha untuk membuang perasaan itu jauh-jauh. Dengan pikiran mungkin Ustad Fariz tidak nyaman jika orang-orang membuat dirinya menjadi bahan bercandaan dengan diriku. Dimana yang aku tahu Ustad Fariz adalah orang yang sangat serius dan berbeda sekali dengan Kak Rafa yang lebih suka bercanda meskipun tubuhnya terlihat begitu sangat kokoh dan kekar.


Cahaya matahari mulai beranjak naik secara bertahap ,sinarnya menerangi keberadaan kami semua yang sedang berkumpul.


Sang Bayu lebih sering menggoda dengan membelai pelan hembusan kesejukannya.


Semua terasa berbeda dari sudut pandanganku yang sekarang terlihat lebih berwarna dengan ketiadaannya kegelapan yang selama ini mengiringiku.


Allahumma inni asaluka nafsan bika muthmainnah, tu’minu biliqoika wa tardho bi qodhoika wataqna’u bi ’athoika.

__ADS_1


Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang percaya dengan pertemuan dengan-Mu dan menerima apa yang menjadi anugerah-Mu dan rela terhadap ketentuan-Mu, ucapku lirih di dalam hati sambil memandangi wajah-wajah penuh kebahagiaan orang-orang terbaik disekitarku saat ini.


__ADS_2