
Kubuka mataku perlahan dalam samar untuk melihat ke sekitar. Dimana kurasakan sentuhan hangat yang menggenggam jemariku lembut, dan menciumnya berulangkali. Wajah teduh yang menenangkan hatiku, saat memandang dirinya. "Alhamdulillah, Dek Rani sudah bangun, " sapa Mas Fariz lembut dengan mengumbar senyuman hangatnya.
Kedua ujung bibirku tertarik, membuat pita simpul kecil menatap hadirnya. Mas Fariz bangun dari duduknya lalu mengusap kepalaku lembut dan mendaratkan kecupan lembutnya pada keningku.
Tes.. Tes. Tes..
Kurasakan air matanya mengalir membasahi pipiku, dan dengan cepat ia pun menyeka air matanya. Lalu memandangi wajahku dalam dan lekat. Dimana dapat ku rasakan hembusan napasnya yang hangat menyapu wajahku. Dengan perlahan ku angkat jemari tanganku, dan memegang wajahnya yang begitu dekat pada parasku.
Pandangan kami beradu membentuk butiran-butiran air yang menenuhi mata.
Dimana kedua ujung hidung kami bertemu, dan bibir Mas Fariz bergetar penuh keharuan terus memanggil namaku.
"Maafkan Mas, Dek... Karena Mas tidak bisa menjaga dan melindungi dirimu. Hiks.. Hiks.. Hiks..., " suara penyesalan Mas Fariz pecah dalam isak tangisnya memeluk tubuhku.
Ku gerakkan jemari tanganku perlahan mengusap punggungnya, "Jangan menangis Mas, " ucapku lirih.
Mas Fariz menatap diriku lagi dengan mengenggam jemari tanganku erat.
Parasnya tergambar penuh keharuan dan juga rasa bahagia melihat kondisi ku mulai membaik.
Tidak lama kemudian, satu persatu anggota keluarga Imandar masuk ke ruang rawat inap, dimana diriku sudah dipindahkan dari ruang ICU. Wajah-wajah haru penuh kebahagiaan mewarnai setiap paras yang kulihat. Tak banyak kata yang keluar dari bibir semua orang. Hanya ekspresi penuh rasa syukur dengan keharuan linangan air mata, yang menyelimuti pertemuan kami semua. Dan kesedihan semakin menjadi, saat Kak Rafa dengan seragam lengkapnya sudah bersiap untuk melaksanakan tugasnya. Suasana menjadi bertambah haru yang menyayat hati. Tetapi semua berusaha tegar dan kuat, untuk melepaskan Kak Rafa menjalani tugas negaranya sebagai seorang tentara. Tanpa ragu Wirda memeluk erat Kak Rafa, melepasnya pergi jauh dalam waktu yang cukup lama. Dimana semua orang pun juga merasakan kesedihan, seperti yang Wirda rasakan. Tidak lama setelah berpamitan dan menyeka rindu yang akan tertumpuk.Kak Rafa meminta do'a dan mengucapkan salam sebelum keberangkatan dirinya kepada semua orang.
"Ummah, Abi,Enjid,dan Kak Fariz saya titip dan tolong jaga Wirda selama saya bertugas, " pinta Kak Rafa.
"Tentu saja sayang. Tanpa kamu minta kami semua akan menjaganya, sebab Wirda juga Putri keluarga kita, " sahut Ummah sambil memeluk erat Kak Rafa.
"Fii amanillah ma'assalamah.Semoga engkau dalam perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan semoga keselamatan selalu menyertaimu Dek, " ucap Mas Fariz memeluk erat Kak Rafa.
"Aamiin. Jazakallah khairan Kak Fariz.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membalas dirimu dengan kebaikan pula Kak, " ucap Kak Rafa sambil membalas pelukan Mas Fariz.
Semua orang mengantarkan kepergian Kak Rafa di bandara, kecuali Mas Fariz dan Bik Siti yang tetap menemani diriku.
Setelah semua orang sudah pergi mengantarkan Kak Rafa. Mas Fariz mendekat ke arahku dan menceritakan semua peristiwa yang menimpa diriku, termasuk keterkaitan Kak Aisyah dalam penculikan diriku. Aku begitu terkejut dan tidak mampu berkata-kata, setelah mengetahui semuanya. Apalagi saat Mas Fariz mengatakan kepada diriku, jika Kak Reno yang telah menyelamatkan diriku dengan mendonorkan darahnya. Sungguh membuat diriku terdiam.
"Apakah Dek Rani baik-baik saja?, " tanya Mas Fariz sambil mengusap jemari tanganku.
Aku tersenyum sambil mengangguk pelan, "Lalu dimana keberadaan Kak Reno sekarang, Mas?."
"Dek Reno, sudah kembali ke lapas untuk menjalani masa hukumannya lagi. InsyaAllah jika nanti Dek Rani sudah sembuh, kita menjenguk Dek Reno untuk mengucapkan terima kasih kepadanya, " ucap Mas Fariz kepadaku.
Aku pun mengangguk setuju atas saran yang Mas Fariz katakan.
***
Sejuknya udara pagi yang begitu sejuk, dengan deretan ribuan pohon pinus yang berjajar rapi di perbukitan dan lereng gunung. Sungguh membuat keadaan menjadi asri , di padukan aroma khas pohon pinus yang menyegarkan jiwa dan raga.
Membuat Kak Roy hanyut dalam ketenangan batinnya. Dengan penuh kesabaran Tante Desi dan Om Surya menemani Kak Roy dengan berjalan-jalan melewati jalan setapak, dengan mendorong kursi roda milik Kak Roy. Sejauh mata memandang, Kak Roy selalu tersenyum bahagia. Dimana parasnya kini lebih terlihat berisi dan berseri. Untuk sesaat Kak Roy benar-benar melepaskan beban pikiran dan hatinya. Meskipun belum sepenuhnya bayang-bayang akan perasaannya kepada diriku, tidak mampu pergi mengusik hatinya.
Setelah berjalan cukup lama, Tante Desi dan Om Surya mengajak Kak Roy berhenti pada sebuah resto yang berada di tengah -tengah hutan pinus yang asri.Untuk beristirahat sebentar menikmati view hamparan pohon pinus yang menghijau, sembari menikmati secangkir kopi panas dan mengisi perut yang sudah mulai terasa lapar.
Kak Roy dan Tante Desi memilih tempat duduk yang nyaman di ujung resto pada bagian yang lebih tinggi sehingga dapat memandang ke segala penjuru. Sementara itu, Om Surya berjalan ke sisi lain untuk memesan makanan.
Kak Roy terlihat takjub memandangi keindahan alam di hadapannya,ibarat sebuah permata tersembunyi yang menawarkan kenyamanan pada dirinya.
Perlahan Tante Desi mengusap kepala Kak Roy pelan, "Apakah kamu merasa jauh lebih baik sekarang nak?. "
"Iya mah, " sahut Kak Roy pelan sambil terus memandangi rimbunnya pohon pinus di hadapannya.
Tante Desi tersenyum senang dan lega, "Mama senang mendenganya. Untung mama dan papa mendengarkan saran dari Bude Ayu untuk membawamu kemari, jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota. "
Kak Roy terdiam dan menoleh sebentar ke arah Tante Desi, "Apakah mama memberitahu kepada keluarga Ustad Fariz dan Rani, jika kita sementara waktu tinggal disini?. "
Tante Desi menggeleng, "Tidak nak. Tak ada satu pun orang yang tahu akan keberadaan kita disini. "
"Baguslah kalau begitu mah, " jawab Kak Roy datar.
Tante Desi melirik ke arah Kak Roy dan memastikan jika putranya itu dalam keadaan yang biak -baik saja, "Apakah kamu masih memikirkan Rani, nak?. "
Kak Roy terdiam cukup lama, lalu menoleh ke arah Tante Desi, "Sampai kapanpun Rani akan selalu ada di dalam pikiran dan hati Roy mah. "
DEG...
Tante Desi terkejut mendengar jawaban Kak Roy, "Nak, Rani sudah menikah. Dia sudah memiliki kehidupannya sendiri. Ikhlaskan dan lupakan dia, nak. Rani juga berhak memulai kehidupannya yang baru sama seperti dirimu nak. "
Kak Roy mengangguk, "Iya mah. Roy tahu dan mengerti akan hal itu. Roy ikhlas mah, Rani menikah dengan Ustad Fariz. Tetapi untuk melupakan dan menghapus Rani dari hati dan pikiran Roy, "Kak Roy menggeleng kan kepalanya, " Roy tidak mampu mah, karena sampai kapan pun. Rani selalu memiliki tempat khusus di dalam hati Roy. "
Tante Desi semakin tersentak, "Meskipun kamu tahu jika Rani sudah menjadi istri orang lain, tetapi kamu masih mencintai dirinya nak?. "
"Iya mah. Roy tidak akan merebut Rani dari Ustad Fariz. Roy menerima takdir cinta Roy mah. Tetapi cinta Roy kepada Rani akan terus tumbuh dan berkembang, dan tak akan lekang di makan waktu. Hingga napas Roy berhenti berhembus, " tutur Kak Roy lirih.
"Hush! Kamu jangan bilang seperti itu nak. Mana tidak suka mendengarnya. "
Tante Desi mengenggam tangan Kak Roy, "Cinta macam apa yang kamu miliki untuk Rani nak, hingga raganya telah dimiliki oleh orang lain kamu masih mencintainya. "
__ADS_1
Tante Desi terlihat bingung dan heran menatap Kak Roy.
"Roy, juga tidak tahu mah. Tetapi di dalam hati Roy pun merasa ikhlas dengan pernikahan Rani. Sebab Roy tahu Ustad Fariz adalah laki-laki yang sholih yang dapat memberikan kebahagiaan dunia akhirat yang tidak dapat Roy berikan kepada Rani. "
Tante Desi semakin bingung dan terlihat tidak mengerti akan jalan pikiran Kak Roy.
"Mama jangan mencemaskan Roy mah. Roy baik-baik saja, " ucap Kak Roy sambil membalas balik genggaman tangan Tante Desi.
Tidak lama kemudian, Om Surya pun datang dengan membawa makanan dan minuman yang sudah di pesan.
Mereka bertiga menikmati secangkir kopi hangat dalam selimut pagi yang menawan kesejukkan. Kak Roy sambil memegang cangkir kopi di tangannya, menatap langit yang mulai merona kuning tersenyum kepada dirinya.
"Ran,semoga kamu baik-baik saja. Aku merindukanmu, selalu, " ucap Kak Roy di dalam hati sambil menyeruput secangkir kopi di tangannya.
***
Rere berjalan keluar dari sel tahanannya menuju taman untuk bergabung dengan narapidana yang lain. Semalaman, ia tidak bisa tidur untuk beradaptasi di tempat barunya. Dalam langkah kakinya yang terasa kosong. Pandangan matanya tertuju pada Kak Aisyah yang duduk terpaku seorang diri sambil membawa selembar foto di tangannya.
"Bukankah itu perempuan yang berada di samping sel ku, " batin Rere di dalam hatinya sambil terus menatap wajah Kak Aisyah yang tertunduk lesu dengan hijabnya yang berantakan.
Rere melihat ke sekitar untuk menyapa narapidana lainnya, tetapi semuanya seperti tidak peduli akan keramahtamahan sikap Rere, sehingga membuat nyalinya ciut untuk berbaur dengan yang lainnya. Dalam langkah kakinya yang terasa kosong, ia pun berjalan ke arah Kak Aisyah dan duduk pada kursi kayu panjang di sampingnya.
"Maaf kak, saya permisi duduk disini, " ucap Rere pelan kepada Kak Aisyah yang masih tertunduk.
Kak Aisyah tidak menjawab dan hanya terus memandangi lembaran foto di tangannya tanpa henti. Mulanya Rere seakan tidak peduli dengan apa yang di lakukan oleh Kak Aisyah, tetapi saat pandangan mata Rere melihat foto diriku bersama Mas Fariz. Rere menjadi terkejut.
"Rani!, " ucap Rere.
Kak Aisyah yang mendengar namaku disebut langsung menoleh ke arah Rere dengan mata melotot dan sorot mata yang tajam, "Apa yang kamu katakan tadi!, " teriak Kak Aisyah kasar.
Rere merinding ketakutan dan mulai menggeser tubuhnya menjauh, "Ti... Ti. . dak... Saya tidak... Mengata... Kan apa-apa. Sa.. Sa.. Saya hanya bilang, itu fo.. to.. Rani."
Suara Rere ketakutan dan terbata.
Kak Aisyah semakin menatap Rere tajam dan mendekati Rere. Tubuh Rere gemetar dan berusaha untuk berdiri menjauh pergi, tetapi badannya terasa kaku seketika tak mampu untuk di gerakkan.
"Kamu kenal Rani! Hah!, " teriak Kak Aisyah kasar sambil menunjuk-nunjuk foto diriku dengan jari telunjuknya.
Rere mengangguk pelan dengan rasa takut.
Kak Aisyah semakin mendekati Rere, dan *******-***** jemari tangannya sendiri dengan geram dan kesal. Rere seakan pasrah dan bersiap berteriak minta tolong, jika sewaktu-waktu Kak Aisyah ingin berbuat kasar kepada dirinya. Wajah Rere semakin tegang dan panik. Tetapi tiba-tiba, Kak Aisyah menangis kencang lalu terduduk kembali di samping Rere.
Huft,
Maka berdesirlah aliran darah Rere, yang mana seketika membuat tubuhnya terasa lemas kembali.
"Duduklah, jangan pergi! Aku tidak akan menyakiti dirimu, " ucap Kak Aisyah.
Rere masih takut dan tidak percaya akan kata-kata yang di ucapkan oleh Kak Aisyah. "Perempuan ini sepertinya sakit jiwa. Aku harus segera pergi menjauh darinya, sebelum dia melukaiku, " gumam Rere di dalam hati.
Tetapi Rere tidak memiliki kesempatan untuk menjauh pergi dari Kak Aisyah.
Huhuhu.... Huhuhuhuhu.. Huhuhuhu...
Suara tangis Kak Aisyah pecah dan terdengar keras.
Rere pun hanya diam dan memandang dengan raut wajah penuh ketakutan.
"Rani itu telah mengambil dan mencuri orang yang paling kucintai. Dia jahat! Rani jahat! Meskipun aku sudah memintanya menjauh dari Ustad Fariz, huhuhu.... Tetapi dia justru menikah dengan Ustad Fariz, " ucap Kak Aisyah.
Rere mendengarkan apa yang Kak Aisyah katakan, "Ternyata perempuan ini mencintai suami Rani sekarang. "
Rere pun melirik ke arah lembaran foto yang di pegang oleh Kak Aisyah, "Ternyata benar pria yang ada di dalam foto itu persis dengan pria yang datang bersama Rani saat membesuk diriku di rumah sakit, " batin Rere di dalam hati.
Hahahaha.... Hahaha.. Hahahhaha..
Kak Aisyah tiba-tiba tertawa bahagia dan langsung membuat Rere semakin menjadi takut kembali.
Kak Aisyah menatap wajah Rere dengan tawa menyeringai yang mengerikan, "Tapi aku senang karena saat ini Rani akan berpulang menghadap Tuhan. "
Rere terkejut mendengar perkataan Kak Aisyah, "Apa? Berpulang?. "
Kak Aisyah mengangguk sambil tertawa, "Iya, karena aku hampir saja berhasil untuk merenggut nyawanya dengan membayar orang suruhan untuk menculiknya. Tetapi ada seseorang yang menolongnya..., " ucap Kak Aisyah dengan raut wajahnya yang sedih.
"Rani diculik! , " ucap Rere pelan seakan tidak percaya.
Hahaha... Hahahaha.. Hahahaha..
Suara Kak Aisyah tertawa keras lagi.
Jantung Rere berdebar keras karena terkejut.
"Tapi aku senang saat ini Rani kritis di rumah sakit, dan sebentar lagi dia akan pergi menjauh dari cintaku. Dan aku dapat mengambil Ustad Fariz kembali, " ucap Kak Aisyah senang.
__ADS_1
Rere terdiam tidak menyangka jika Kak Aisyah berbuat seperti itu kepadaku. Sambil melihat Kak Aisyah yang sedang tidak fokus, dengan cepat Rere bangun dari duduknya dan bergegas menjauh dari Kak Aisyah. Setelah Rere menjauh dari Kak Aisyah, ia pun menoleh lagi ke arah Kak Aisyah yang berteriak histeris tidak
terkontrol.Dimana tampak dua sipir perempuan sedang membawanya masuk secara paksa.
Huft,
"Untung aku bisa menjauh dari perempuan itu, " ucap Rere pelan sambil memegang dadanya yang terengah-engah.
Sambil berjalan pelan, Rere mencari tempat duduk. Dia tampak kelelahan dan merasa lemas. Maka duduklah Rere pada kaki-kaki anak tangga masjid di lapas tersebut.
Pikirannya kembali teringat akan ucapan Kak Aisyah.
"Bagaiamana keadaan Rani sekarang? Mengapa begitu banyak orang yang ingin mencelakainya, " ucap Rere pelan sambil berpikir.
Lalu ia pun menggeleng kan kepalanya, "Akh, kenapa aku mengkhawatirkan Rani? Apa peduliku padanya? Lagipula aku juga tidak ingin tahu apapun yang terjadi kepada nya, " gumam Rere.
Brughhh....
DEG....
"Eh, ya Allah..!, " Rere terkejut.
Seseorang melemparkan sapu ke arahnya.
"Hei! Kamu!, " pekik seorang perempuan dewasa sambil menunjuk ke arah Rere.
Rere menoleh ke kiri dan ke kanan, mengira jika bukan dirinya yang di panggil.
"Hei kamu!, " pekik perempuan itu lagi yang berjalan mendekati Rere.
"Saya!, " ucap Rere sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iya! Kamu!, " ucap perempuan di hadapan Rere dengan kasar.
"Ada apa?, " tanya Rere pelan dengan sedikit rasa takut.
"Sapu dan bersihkan seluruh halaman masjid. Semua orang sedang sibuk bekerja bakti, kamu jangan enak-enak hanya duduk di situ!, " ucap perempuan di hadapan Rere.
Rere mengangguk pelan penuh rasa takut, sembari menggapai sapu lidi yang berada jauh darinya.
Hati Rere gemetar memandang wajah perempuan bertubuh besar di hadapannya dengan wajah sangar dan melotot kepada dirinya.
"Kamu baru ya disini!, " ucap perempuan itu menatap Rere.
Rere mengangguk pelan sambil memegangi sapu lidi panjang dan tinggi dengan kedua tangannya.
"Oh pantas saja, aku seperti belum pernah melihatmu disini. Ya sudah cepat bersihkan halaman masjid. Setelah selesai baru kita semua akan mendapatkan makanan, " ujar perempuan itu menyuruh Rere dengan suaranya yang menggelegar.
Rere mengangguk ketakutan dan segera melaksanakan apa yang di perintahkan oleh perempuan di hadapannya yang terus memandangi Rere.
"Tempat ini sungguh mengerikan untukku. Aku ingin bebas dan keluar dari tempat ini, hiks.. hiks... hiks, " gumam Rere pelan sambil menyapu perlahan dan menyeka air matanya yang mengalir.
***
Kak Reno tengah merapikan dan mengemasi barang-barang miliknya yang tidak terlalu banyak. Lalu ia dikejutkan oleh kedatangan pak sipir yang mengunjungi dirinya di dalam sel tahanannya.
"Sudah bersiap-siap nak Reno? , "tanya Pak sipir sambil tersenyum.
" Eh bapak, iya pak hanya mengemasi beberapa helai pakaian saja, "sahut Kak Reno sambil menutup tas kecil miliknya.
Kak Reno lalu mengambil sebuah kertas yang ia buat membentuk amplop, kemudian menyerahkannya kepada pak sipir.
" Apa ini Nak Reno?, "tanya pak sipir sambil melihat-lihat amplop kertas itu dengan membolak-balikan nya.
" Itu saya menitipkan surat untuk Rani ,pak. Seandainya nanti ia datang kemari bersama Ustad Fariz dan saya sudah tidak ada lagi disini. Bapak bisa memberikan surat itu kepadanya dan jangan katakan kepada Rani, Ustad Fariz atau siapapun. Jika setelah keluar dari sini saya akan pergi ke pondok pesantren, "pinta Kak Reno.
Pak sipir mengkerut kan dahinya, " Mengapa tidak boleh memberitahu orang lain nak?. "
Kak Reno tersenyum, "Sebab saya ingin menepi dan menjauh dari kehidupan saya terdahulu. "
"Termasuk juga dengan Nak Rani?, " tanya Pak sipir ingin tahu.
Kak Reno mengangguk, "Iya pak. Saya ingin fokus belajar ilmu agama dan khusyuk menimba ilmu karena saya masih sangat fakir dalam hal pemahaman tentang agama Islam. Saya ingin benar-benar bisa memanfaatkan sisa kehidupan yang telah Allah berikan dengan hal yang baik dan berfaedah pak. Saya takut jika sewaktu-waktu Allah memanggil saya pulang ke sisi-Nya, dan saya masih dalam keadaan berdosa dan jauh dari ajaran kebenaran Allah. Maka sia-sialah kehidupan saya. "
Pak sipir menatap haru Kak Reno, "Alhamdulillah, bapak senang sekali mendengar nya, sebab Nak Reno memiliki pemikiran seperti itu. "
"Iya pak, saya belajar mengambil hikmah dari setiap rentetan peristiwa yang menimpa seluruh anggota keluarga saya. Dimana kedua orang tua dan Mbak saya, lebih dulu berpulang ke sisiNya, sebelum bertobat dan melakukan amal yang baik. Dan saya tidak ingin seperti itu pak, " ucap Kak Reno lagi.
Pak sipir mengangguk dan menepuk pundak Kak Reno, "Iya bapak mengerti.Semoga keinginan mu dihijabah oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan memasukkan dirimu dalam golongan orang -orang yang lurus dan berikan. "
"Aamiin ya robbal'alamiin, " sahut Kak Reno sambil tersenyum.
Pak sipir lalu memasukkan amplop berisi surat dari Kak Reno ke dalam saku celananya, lalu keluar dari sel Kak Reno dan melanjutkan tugasnya kembali.
__ADS_1
Sementara itu, Kak Reno bersiap-siap menuju musholla untuk melaksanakan ibadah.