
Aku sudah bersiap-siap dengan Wirda yang membantuku merapikan pakaianku.
"Semoga semuanya dimudahkan dan dilancarkan ya nak,"ucap Ummah padaku sembari mengusap lembut pipiku.
"Aamiin iya Ummah,"jawabku.
"Ya sudah kalian segera berangkat dan berhati-hati di jalan ya.Maafkan Ummah yang tidak bisa ikut serta menemani Rani untuk menghadiri sidang hari ini ya nak.Sebab Ummah ada keperluan bersama Abi dan Enjid yang tidak bisa ditinggalkan atau pun digantikan,"ucap Ummah kepadaku.
"Tidak apa-apa Ummah.Lagi pula ada Wirda,Kak Rafa,Ustad Fariz dan Pak Budi yang menemani Rani,"sahutku.
"Iya Rani hati-hati dan jangan takut.InsyaAllah semuanya akan dimudahkan oleh Allah.Oh ya Pak Gondrong juga sudah memberitahu Enjid.Jika semua aset harta kekayaan yang dimiliki oleh almarhum kakek Nak Rani sudah resmi dan sah berpindah tangan ke ahli waris yang sebenarnya yaitu Nak Rani.Dan juga Pak Gondrong sudah menyampaikan informasi ini kepada keluarga Suprapto dan mereka sangat terkejut bahkan tidak menerimanya.Padahal semua kekayaan yang mereka nikmati selama ini bukan milik mereka,"ujar Enjid.
"Iya Enjid memang seluruh keluarga Suprapto itu tidak tahu diri dan masih keras kepala untuk mengambil hak yang bukan milik mereka,"sahut Wirda kesal.
"Oh ya Enjid,apakah keadaan kakek,Bu Sri,Pak Sugeng dan Mbak Riska baik-baik saja setelah mendengar informasi tentang seluruh aset mereka telah berpindah tangan menjadi atas nama Rani,"tanyaku kepada Enjid.
"Ran,kenapa kamu masih peduli dengan keadaan mereka?setelah apa yang mereka lakukan kepadamu dan seluruh keluargamu,"celetuk Wirda.
"Aku hanya memastikan saja Wirda. Meskipun mereka berbuat jahat kepadaku. Apakah aku juga harus membalas perbuatan mereka dengan perbuatan jahat. Lalu apa bedanya diriku dan mereka jika aku melakukan perbuatan yang jahat juga. Aku aku memang mengutuk perbuatan mereka Wirda. Tetapi aku juga tidak ingin jika melihat mereka begitu sengsara. Aku juga tidak tega Wirda,karena itu bukanlah diriku," kataku pelan.
" Ummah, Abi, Enjid, Kak Rafa dan Kak Fariz coba lihatlah Rani. Terkadang Wirda juga berpikir terbuat dari apa hatinya Rani itu .Di saat seluruh keluarga Suprapto tiada henti menyakitinya. Dia bahkan tidak memiliki kebencian sedikitpun pada mereka dan malah mengasihani mereka," ucap Wirda sambil menggelengkan kepalanya.
Mendengar ucapan Wirda.Ummah pun tersenyum sambil memegang bahu Wirda. "Kamu seharusnya beruntung punya sahabat seperti Rani ,Wirda .Dia memiliki hati yang baik dan sucu. Meskipun seluruh keluarga Suprapto telah menyakitinya. Dia tidak menyimpan dendam di dalam hatinya
Rani ikhlas menerima semuanya hanya dengan mengharapkan keridhoan dari Allah. Walaupun Rani menerima semuanya tetapi namanya proses hukum tetap berjalan bukan. Dan itu yang tidak boleh dilupakan.Semua kesalahan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga Suprapto harus dipertanggungjawabkan. Ya sudah kalian segera berangkat dan ingat Ummah titip Rani dan jaga baik-baik dia. Apalagi setelah keluarga mengetahui jika semua aset kekayaan mereka sudah menjadi atas nama Rani mungkin kemarahan mereka akan memuncak dan menjadi -jadi .Dan akan melakukan tindakan yang mungkin tidak kita duga terhadap Rani. Untuk itu kalian berhati-hati ya ,"ucap Ummah dengan lembut.
" Iya Ummah tenang saja kan ada Rafa dan Kak Fariz yang menemani Rani," ucap Kak Rafa.
" Iya Ummah percaya dengan kedua putra Ummah,"ucap ummah dengan tersenyum sambil memegang pipi Kak Rafa.
" Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu Ummah,Abi, dan Enjid,"ucap Ustad Fariz.
Setelah kami semua pamit meminta izin kepada Ummah, Abi dan Wujud.Lalu kami semua segera bergegas menuju ke mobil yang sudah ditunggu oleh Pak Budi menuju ke pengadilan menghadiri persidangan atas kasus kekerasan yang Kak Reno lakukan terhadap diriku dan Kak Roy.
Mobil yang dikendarai oleh Pak Budi melaju perlahan meninggalkan kediaman rumah Ustad Fariz.
" Nanti jika memang Dek Rani harus turun baru Dek Rani turun ya. Jika tidak mengharuskan Dek Rani turun dari mobil lebih baik Dek Rani tetap berada di mobil bersama Dek Wirda. Biarkan saya dan Rafa yang masuk ke dalam ruang sidang dan jika memang kehadiran Dek Rani dibutuhkan maka saya akan memanggil Dek Rani," ucap Ustad Fariz kepada diriku.
" Iya Ustad Fariz ," sahutku pelan.
"Mengapa Rani tidak ikut saja masuk ke dalam Kak Fariz?," tanya Wirda kepada Ustad Fariz.
"Kita berjaga-jaga Dek Wirda tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh keluarga Suprapto kepada Dek Rani. Setidaknya kita lebih berhati-hati sambil menunggu keputusan hasil dari sidang nanti," sahut Ustad Fariz.
" Baiklah kalau begitu Kak Farid. Wirda mengerti," jawab Wirda.
Lalu tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Pak Budi sudah tiba di pengadilan .Kak Rafa dan Ustad Fariz segera turun dari mobil dan menuju ruang sidang .Sementara aku ,Wirda dan Pak Budi menunggu di dalam mobil.
" Pak Budi ingin membeli minuman apakah nak Wirda dan nak Rani mau?," tanya Pak Budi bertanya kepadaku dan Wirda .
__ADS_1
"Boleh Pak," sahut Wirda.
" Oh ya nak Wirda mau minuman apa?," tanya Pak Budi .
"Kalau bisa yang dingin saja Pak dan seperti es cuppocino atau ice chocholate blend Pak ,"sahut Wirda.
" Baiklah kalau begitu. Dan Nak Rani mau minuman apa ?,"tanya Pak Budi kepadaku. "Rani air mineral saja Pak,"ucapku.
" Oh ya sudah kalau begitu kalian tunggu di dalam mobil ya .Pak Budi membeli minuman sebentar," ucap Pak Budi kepada kami berdua.
" Iya pak silahkan," sahutku.
Lalu Pak Budi pun keluar dari mobil untuk membeli minuman .Sementara aku dan Wirda berada di dalam mobil.
"Apakah Kak Roy mengirim pesan kepada dirimu Wir?,"tanyaku kepada Wirda.
"Tidak Ran," jawab Wirda.
"Aneh kenapa ya Kak Roy tidak datang ke ke rumahnya Ustad Fariz.Padahal dia sudah berjanji akan datang.Dan tidak memberi kabar akan alasannya tidak datang. Apakah kamu sudah mengirimkan alamat Ustad Fariz ke Kak Roy ,Wir?,"tanyaku kepada Wirda.
" Sudah Ran .Bahkan aku juga sudah share location alamat rumah Ustad Farid secara lengkap kepada Kak Roy,"jawab Winda.
"Iya tetapi mengapa Kak Roy tidak datang ya Wir.Aku merasa gelisah dan tidak tenang Wir," ucapku kepada Wirda.
" Kenapa kamu merasa gusar,Ran?,"tanya Wirda kepadaku.
"Entahlah Wirda .Aku merasakan seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku tentang sesuatu hal yang akan terjadi kepada Kak Roy.Tetapi aku tidak tahu apa itu. Apakah kamu juga merasa Wir,seperti ada hal yang aneh terjadi kepada Kak Roy?,"tanyaku lagi kepada Wirda.
" Iya Wir aku juga merasa demikian.Tetapi entah aku tidak tahu apa itu.Aku begitu sangat tidak tenang Wir,sebelum aku mendengar suara Kak Roy langsung di hadapanku dan memastikan keadaannya baik-baik saja ,"ucapku cemas.
" Lalu apakah Tante Desi ataupun Rere menghubungimu lagi Wir?,"tanyaku kepada Wirda.
" Tidak Ran.mereka tidak menghubungiku lagi," ucap Wirda .
"Ya sudah kalau begitu Wir,coba kamu kirim pesan lagi atau mencoba menghubungi nomornya Kak Roy,Wir.Siapa tahu Kak Roy membalas atau mengangkat telepon darimu," pintaku kepada Wirda.
"Iya Ran sebentar ,aku coba ya ,"ucap Wirda sambil mengambil telepon genggam dari dalam tasnya dan mulai menelpon Kak Roy.
" Tidak diangkat Ran, di luar jangkauan. Mungkin Kak Roy sedang sibuk .Kalau begitu aku kirim pesan saja ya Ran,"kata Wirda.
"Iya Wir tidak apa-apa ,"jawabku sambil menunggu Wirda mengetik pesan untuk Kak Roy.
"Sudah Ran,kita tinggal tunggu saja Kak Roy membalas pesan dariku ya. Dan aku harap kamu jangan terlalu mencemaskan keadaan Kak Roy.Aku yakin Kak Roy dapat menjaga dirinya dengan baik kok Ran,"ucap Wirda berusaha menenangkan diriku.
"Iya Wir,aku berharap juga demikian.Semoga Kak Roy baik- baik saja," ucapku lirih.
Dan tidak lama setelah itu Pak Budi pun masuk ke dalam mobil membawa minuman yang sudah dibelikannya untukku dan Wirda. "Ini nak Rani dan Nak Wirda," ucap Pak Budi sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi minuman kepada Wirda. Lalu Wirda pun mengambil bungkusan plastik yang diberikan oleh Pak Budi .
"Terima kasih banyak ya pak Budi," ucap Wirda sambil tersenyum dan memberikan botol berisi air mineral kepadaku.
__ADS_1
" Ini Ran minumnya.Aku buka kan sekalian ya," ucap Wirda.
"Terima kasih pak Budi dan Wirda," ucapku juga.
" Sama-sama nak Wirda dan nak Rani,"sahut Pak Budi.
" Bismillahirrahmanirrahim ,"ucapkan pelan lalu mulai meneguk air dari botol air mineral.
Lalu tidak lama setelah itu Kak Rafa dan Ustad Fariz pun masuk ke dalam mobil .
"Pak Budi bisa ikut dengan saya untuk menjadi saksi atas kasusnya kekerasan yang dilakukan oleh Dek Reno kepada Dek Rani dan Dek Roy," tanya Ustad Fariz kepada Pak Budi.
"Oh baik Nak Fariz.Saya siap," sahut Pak Budi.
" Sementara saya dan Pak Budi masuk ke dalam ruang sidang.Saya minta Dek Rafa tetap di mobil menemani Dek Rani dan Dek Wirda," ucap Ustad Fariz kepada Kak Rafa.
"Baik Kak Fariz,"sahut Kak Rafa.
Lalu Ustad Fariz bersama Pak Budi pun segera turun dari mobil dan menuju ke tempat sidang.
Di dalam ruang sidang Pak Budi dan Ustad Fariz pun memberikan keterangan sebagai saksi dari peristiwa yang terjadi kepada diriku dan Kak Roy.
Tampak terlihat seluruh anggota keluarga Suprapto hadir di dalam ruang sidang di temani pengacara mereka Pak Gukul.
Sementara Ustad Fariz dan Pak Budi ditemani pengacara keluarga Enjid yaitu Pak Hadi.
Tampak seluruh keluarga Suprapto memandang sinis dan penuh tatapan benci ke arah Ustad Fariz dan Pak Budi. Sementara Kak Reno yang duduk di kursi pesakitan hanya terdiam dengan wajahnya yang lesu dan tidak banyak menunjukkan ekspresi yang begitu berarti.
Setelah hakim mendengarkan kesaksian dari para saksi dan juga bukti-bukti yang lengkap baik dari rekaman CCTV ,hasil visum yang sangat memberatkan Kak Reno.
Maka dalam sidang ini pula hakim langsung memutuskan vonis hukuman kepada Kak Reno yaitu kurungan penjara maksimal sepuluh tahun dengan denda sebesar empat puluh dua juta rupiah atas dua kasus yang menderanya yaitu kekerasan yang dilakukan terhadap diriku dan Kak Roy serta kasus tabrak lari yang Kak Reno lakukan karena kelalaiannya dalam mengemudikan mobil sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa pejalan kaki.
Mendengar putusan dari hakim sontak langsung membuat Bu Sri menjadi tidak sadarkan diri. Dia begitu lunglai dan lemah. Seluruh keluarga Suprapto lainnya yang melihat keadaan Bu Sri tidak sadarkan diri segera membantu Bu Sri agar mendapatkan pertolongan. Sementara Kak Reno yang melihat Bu Sri jatuh pingsan hanya diam tidak dapat berkata-kata dengan wajahnya yang terlihat cemas dan penuh rasa penyesalan serta ketakutan.
Dan saat pihak kepolisian ingin membawa Kak Reno meninggalkan ruang sidang yang sudah berakhir menuju mobil tahanan.Dengan cepat Kak Reno berbicara kepada bapak kepolisian yang mengawalnya untuk berbicara sebentar kepada Ustad Fariz dan Pak Budi yang tidak jauh dari sisi Kak Reno berdiri .Dan setelah Kak Reno mendapatkan izin dari bapak kepolisian yang juga mendampinginya.Kak Reno pun berjalan menghampiri Pak Budi dan Ustad Fariz.
Pak Budi dan Ustad Fariz yang hendak meninggalkan ruang sidang bersama pengacaranya Pak Hadi menjadi terkejut akan kedatangan Kak Reno yang berjalan ke arah mereka sambil menatap dengan wajah yang terlihat sayu, lesu dan tidak bersemangat .
"Pak Budi !,"panggil Kak Reno dengan suaranya yang lirih dan pelan memanggil Pak Budi .
Pak Budi pun menoleh ke arah Kak Reno dengan wajah bingung dan penuh tanya.
" Ada apa Nak Reno?," sahut Pak Budi pelan. Kak Reno pun tidak menatap wajah Pak Budi. Dia sedikit tertunduk dengan raut wajahnya yang begitu berantakan dan tidak terurus. Bibirnya pun terlihat bergetar dan matanya berkaca-kaca. Pak Budi yang melihat ke arah Kak Reno pun terlihat tidak percaya jika Kak Reno dapat berkata lembut kepada dirinya seperti itu dengan penampilan yang sangat berantakan. "Katakan saja apa yang ingin nak Reno katakan .Pak Budi siap mendengarkannya," ucap Pak Budi lagi kepada Kak Reno dengan lembut.
Mendengar sinyal positif dari ucapan Pak Budi.Kak Reno pun sedikit mengangkat kepalanya dan menatap wajah Pak Budi dengan masih sedikit tertunduk.
"Pak Budi, sebelum saya dibawa ke sel tahanan .Dapatkah saya untuk bertemu dan berbicara sebentar saja dengan Rani ?,"tanya Kak Reno kepada Pak Budi. Pak Budi pun langsung menoleh ke arah Ustad Fariz mendengar pertanyaan dari Kak Reno.
" Bagaimana Nak Fariz?,"tanya Pak Budi kepada Ustad Fariz.
__ADS_1
" saya mohon dan Minta tolong Pak Budi. Karena inilah kesempatan terakhir saya dapat bertemu dengan Rani dan berbicara sebentar dengannya. Saya berjanji saya tidak akan melakukan hal yang akan menyakiti Rani ataupun melukainya .Saya hanya ingin meminta maaf kepadanya itu saja yang ingin saya katakan kepadanya Pak Budi," pinta Kak Reno dengan wajahnya yang terlihat sungguh-sungguh berharap untuk dapat menemui diriku.
Ustad Fariz pun melihat dengan seksama ke arah wajah Kak Reno seraya berpikir. Apakah akan mempertemukan diriku dengan Kak Reno atau tidak. Sementara Kak Reno dengan wajah yang penuh pengharapan memandang ke arah Ustad Fariz dengan tatapan matanya yang tulus dengan raut wajahnya yang sangat sedih dan pandangan matanya yang begitu sayu.