
Aku masih memandangi wajah Kak Reno dari kejauhan. Begitu pula dirinya yang menatap diri ku dengan pandangan nya yang tertunduk lesu.
Tidak ada banyak kata yang terlontar dari bibir kami masing-masing. Selain bahasa hati yang terungkap melalui tatapan mata.
Bersamanya telah banyak cerita yang telah terukir baik kesedihan, tawa, penderitaan atau pun perpisahan. Sebuah paket lengkap yang menjadikan hubungan ku dan Kak Reno seperti pelangi dengan ragam warna.
Di saat indra penglihatan ku terus tertuju pada Kak Reno.
Pandangan ku pun teralihkna oleh kedatangan Bude Ayu. Beliau datang dengan wajah sanggarnya, dimana tatapan tajam kedua matanya seakan bersiap untuk menerkam diri ku.
Aku melihat wajahnya yang begitu terlihat semakin bengis menatap ku.
Lalu perlahan jemari tangan nya mencengkram wajah ku dengan kasar.
"Seandainya saja keponakan kesayangan ku itu tidak mencintai mu. Maka akan benar-benar ku lumatkan wajah mu ini. Cih, berani sekali kamu menolak perasaan Roy dan lebih memilih dengan laki-laki penuh dosa itu, " ucap Bude Ayu sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Kak Reno.
Aku tersenyum kecil dan memandang wajah Bude Ayu.
"Bude mengatakan jika Kak Reno adalah laki-laki penuh dosa. Lalu apa sebutan untuk Kak Roy yang melakukan semua hal jahat ini kepada ku dan Kak Reno?, " tanya ku.
"Tutup mulut mu itu Rani!, " bentak Bude Ayu dengan kasar.
"Kenapa?. Apakah Bude Ayu tidak berani jika mengatakan Kak Roy juga seorang laki-laki pendosa?, " ucap ku lagi semakin berani.
Bude Ayu semakin marah dan kesal setelah mendengarkan ucapan ku.
"Diam kamu Rani, jika tidak aku akan memukul wajah mu itu!, " ancam Bude Ayu pada ku.
Aku tersenyum kecil menatap wajah Bude Ayu yang terlihat kesal dan penuh dengan emosi.
"Silahkan Bude Ayu lakukan hal itu. Karena secara tidak langsung Bude Ayu sudah mengiyakan, jika Kak Roy juga termasuk laki-laki pendosa. Bila Bude Ayu memukul diri ku, " ujar ku lagi memancing emosi Bude Ayu.
Bude Ayu semakin tersulut rasa emosinya.
Dan dengan cepat ia mengangkat tangan kanannya, untuk segera memukul ku.
Namun, tiba-tiba datanglah putri Kak Roy yang berlari kencang dan langsung memeluk diri ku.
"Jangan... Jangan sakiti mama Rani. Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu, " teriak putri Kak Roy dengan keras sambil menangis terisak.
Bude Ayu semakin kesal begitu melihat kedatangan Rani. Dengan tangan nya yang kasar ia pun berusaha menarik tubuh Rani. Dan berusaha melepaskan pelukan Rani dari ku secara kasar.
"Rani. Cepat menjauh dari wanita ini. Cepat!," bentak Bude Ayu dengan keras dan kasar.
Rani semakin menangis kencang dan histeris.
"Tidak nenek Ayu. Rani tidak akan membiarkan nenek Ayu menyakiti mama Rani. Rani sayang dengan mama Rani, nenek Ayu. Hiks.. Hiks.. Hiks, " ucap Rani dengan begitu sangat emosional.
Aku semakin tidak tega melihat perlakuan kasar dari Bude Ayu terhadap Rani.
"Hentikan Bude. Jangan kasar dengan Rani, tolong ku mohon. Kasihan Rani, Bude Ayu, " ucap ku memohon.
Namun, Bude Ayu tampak tidak peduli dan semakin kesal mendengarkan ucapan ku.
"Tutup mulut mu itu Rani. Jangan sok peduli dengan cucu ku. Jika benar kamu peduli dan menyayangi nya. Maka kamu tentunya tidak akan menikah dengan Reno, " ucap Bude Ayu sambil mendorong tubuh ku ke belakang dengan keras dan langsung menarik tubuh Rani.
Brughhh.
__ADS_1
"Auw, " teriak ku saat kepala ku menghantam dinding dengan keras.
Rani begitu histeris dan semakin berteriak kuat, saat ia melihat noda merah segar mengalir dari pelipis ku.
"Nenek Ayu jahat. Nenek Ayu melukai mamanya Rani. Nenek Ayu jahat!, " pekik Rani sambil terus menangis dan meronta-ronta.
Kak Reno yang melihat ku terluka pun berteriak dengan keras memanggil nama ku.
"Rani!, " pekiknya dengan nada suara penuh kecemasan.
Aku melihat Kak Reno secara samar.
Dimana kepala ku terasa berputar-putar.
Putri Kak Roy semakin tidak terkendali dah dengan kerasnya, ia pun mengigit tangan Bude Ayu dengan kerasnya. Supaya dapat melepaskan diri dari dekapan Bude Ayu yang kasar dan kuat.
"Auw.. Aduh, " teriak Bude Ayu kesakitan dan langsung melepaskan tubuh Rani dari dekapan nya.
Mendengarkan teriakkan Bude Ayu yang keras. Membuat Kak Roy datang ke tempat ku dan Kak Reno di sekap.
"Ada apa Bude?, " tanya Kak Roy mendekati Bude Ayu.
Bude Ayu menunjukkan wajahnya yang penuh kesakitan.
"Lihat putri mu itu. Dia telah berani mengigit tangan Bude sampai berdarah seperti ini. Seharusnya kamu kurung dia Roy, dan tidak membiarkan nya berkeliaran seperti ini. Karena anak mu ini dapat mengagalkan semua rencana kita, " ucap Bude Ayu dengan sangat kesal sambil memegangi tangannya yang terluka.
Kak Roy terdiam dan terpancing emosinya mendengarkan perkataan dari Bude Ayu.
Dengan wajahnya yang memerah menahan amarah. Kak Roy langsung menarik tubuh Rani dengan kasar.
"Ayo ikut papa Rani!, " teriak Kak Roy sambil menarik dengan paksa tangan Rani yang memeluk diri ku.
Aku yang masih merasakan pusing di kepala ku berusaha untuk menghentikan tindakan Kak Roy.
"Cukup Kak Roy. Aku mohon jangan kasar terhadap Rani. Kasihan dia Kak Roy, " pinta ku pada Kak Roy.
Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu.. Huhuhuhuhu.
Suara tangis Rani begitu pecah dan nyaring memenuhi ruangan ini.
Kak Roy semakin marah dan bertambah kesal, hingga tanpa ia sadari.
Kak Roy dengan kasar dan keras membentak Rani. Sesuatu hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini terhadap putri kesayangannya itu.
"Rani diam!. Hentikan tangisan mu itu, " pekik Kak Roy sambil mengangkat tangan kanannya ke atas wajah Rani.
"Kak Roy jangan, " teriak ku dengan keras.
Putri Kak semakin menangis terisak dan ketakutan.
"Papa Roy jahat. Papa Roy jahat. Papa Roy sudah tidak sayang lagi dengan Rani. Huhuhuhu... Huhuhuhuhu, " teriak putri Kak Roy sambil terus meronta-ronta.
Kak Roy semakin tidak dapat mengendalikan emosinya, sehingga tanpa sadar ia telah melukai putrinya hingga jatuh pingsan.
Aku langsung berteriak histeris dan menangis.
"Kak Roy apa yang kamu lakukan kepada Rani!, " teriak ku.
__ADS_1
Pandangan Kak Roy terpaku pada tubuh putrinya yang tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.
Tidak lama kemudian, laki-laki bertubuh besar segera masuk ke dalam tempat ku berada saat ini.
Dan dengan napas terengah-engah juga penuh ketakutan. Laki-laki bertubuh besar itu terlihat sangat panik lalu menghampiri Kak Roy.
"Bos kita harus segera pergi dari tempat ini secepatnya, " ucap laki-laki bertubuh besar itu.
Kak Roy seakan tidak peduli dan masih terpaku melihat kondisi putrinya.
"Memangnya ada apa sehingga kita harus pergi dari tempat ini secepatnya?, " tanya Bude Ayu dengan wajah ingin tahu.
Laki-laki bertubuh besar itu tampak menelan air ludah nya dengan keringat yang bercucuran di dahinya, pada hal keadaan sedang tidak panas.
"Lho kenapa kamu terdiam saja, saat saya sedang bertanya, " ucap Bude Ayu kesal.
Laki-laki bertubuh besar itu seakan-akan menjadi keluh dan kaku lidahnya untuk menjawab pertanyaan dari Bude Ayu.
"Kak Roy cepat bawa Rani ke rumah sakit!, " teriak ku memperingatkan Kak Roy untuk segera memberi pertolongan pada putrinya.
Namun, Kak Roy tetap diam terpaku seperti membatu dan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Hingga tiba-tiba laki-laki bertubuh besar lainnya masuk lagi mendekati Kak Roy dan Bude Ayu.
"Bos ayo kita segera pergi dari sini, karena polisi sudah mengepung tempat ini, " ucap laki-laki bertubuh besar yang baru saja masuk dengan wajah penuh ketakutan.
"Apa polisi?. Bagaimana mereka bisa tahu tempat persembunyian kita?, " tanya Bude Ayu dengan penuh kecemasan.
Bude Ayu dan semua orang itu terlihat sangat panik dan ketakutan. Tetapi tidak Kak Roy yang masih membatu.
Aku tersenyum senang sambil menatap ke arah Kak Reno yang juga memandang ke arah ku.
"Itu pasti Abi dan Enjid yang sudah datang, " ucap ku di dalam hati.
Bude Ayu langsung menarik tangan Kak Roy untuk segera meninggalkan tempat ini. Tetapi Kak Roy masih terpaku dalam lamunan nya yang dalam.
"Roy, ayo kita segera tinggalkan tempat ini, " pinta Bude Ayu sambil berucap dengan keras.
Laki-laki bertubuh besar lalu bertanya kepada Bude Ayu.
"Apa yang akan kita lakukan pada kedua orang itu? , " tanyanya sambil menunjukkan jarinya ke arah ku dan Kak Reno.
Bude Ayu menatap ku tajam dan juga Kak Reno, lalu membicarakan sesuatu dengan laki-laki bertubuh besar itu.
Aku pun terus menatap mereka tanpa henti dan berusaha untuk mengetahui apa yang akan mereka rencana kan pada ku dan juga Kak Reno.
Tidak berapa lama kemudian, kedua laki-laki bertubuh besar menarik tubuh Kak Roy dan bergegas mengangkat tubuh putri Kak Roy.
Mata ku terus memandang ke arah mereka.Hingga tiba-tiba laki-laki bertubuh besar itu masuk kembali dan membuat ku terkejut.
Duarr.. Dor.. Dor.
"Kak Reno!, " teriak ku histeris dengan wajah lemas dan panik.
Kedua laki-laki bertubuh besar itu lalu menyalakan api di sekeliling kami dan membuang senjata api dari tangan mereka.
Aku terus berteriak-teriak meminta tolong.
__ADS_1
Hingga kabut asap mengepung pandangan ku dan membuat ku tidak sadarkan diri.
"Kak Reno, " ucap ku lirih dalam keterbatasan ku untuk meraih mendekatinya.