
Setibanya di rumah sakit yang kami tuju. Rupanya sudah ada Kak Rafa yang sudah pulang ke Indonesia. Ia datang bersama Ummah dan Wirda. Mereka semua langsung menyamnut kedatangan ku bersama Kak Reno, yang tiba terlebih dahulu.
Beberapa tenaga medis segera membawa Kak Reno ke ruang rawat inap, di ikuti oleh Kak Rafa. Sementara itu, Ummah dan Wirda secara bergantian memeluk diri ku sambil menangis penuh keharuan.
Begitu pula diri ku yang tidak dapat menahan kesedihan akan rasa kebahagiaan, sebab dapat berjumpa lagi dengan Ummah juga Wirda.
Kami bertiga saling melepas kerinduan. Hingga Abi, Enjid dan Pak Budi datang memecah isak tangis kami bertiga.
"Lho, kok malah saling berpelukan dan menangis di sini, " ucap Enjid.
Aku, Ummah dan Wirda langsung menyeka air mata dan tersenyum kecil bersama.
"Tidak apa-apa Enjid. Kami terbawa suasana. Lagi pula, saya sudah tidak dapat menahan kerinduan dan kecemasan. Setelah berpisah dengan Rani, " ucao Ummah sambil terus merangkul tubuh ku.
Enjid tersenyum mengerti akan perasaan Ummah.
"Oh ya Kemana Rafa?. Bukankah ia sudah tiba di Indonesia?, " tanya Enjid sambil memandang ke sekitar.
Wirda segera merespon pertanyaan Enjid.
"Kak Rafa ikut dengan beberapa tenaga medis, untuk menemani Kak Reno, Njid. "
"Oh begitu, ya sudah kalau begiti. Kita sekarang segera menuju ke ruangan dimana Reno di rawat, " ucao Enjid sambil mengajak kami semua untuk segera bergegas.
Kami semua pun segera mengikuti langkah Enjid, untuk menuju lift.
Sesampainya di depan ruangan tempat Kak Reno di rawat. Ada Kak Rafa yang tengah duduk di luar. Abi segera menghampiri Kak Rafa dan memeluknya. Mereka berdua menyalurkan perasaan kerinduan satu sama lain. Setelah tidak lama berjumpa.
"Bagaimana kabar mu nak?. Kamu baik-baik saja kan?, " tanya Abi sambil menepuk pundak Kak Rafa pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Alhamdulillah Abi, keadaan Rafa baik-baik saja. Ini semua berkat do'a Ummah, Abi dan semua anggota keluarga kita. Abi juga baik-baik saja kan?, " Kak Rafa balik bertanya sambil mencium tangan Abi.
Abi tersenyum lebar.
"Alhamdulillah nak, kamu dapat melihat sendiri kan. Jika Abi dalam keadaan yang sehat wal'afiat. "
Kak Rafa mengangguk dan tersenyum.
Aku, Enjid, Wirda, Ummah dan Pak Budi pun menghampiri Kak Rafa.
Dimana Enjid dan Pak Budi pun langsung memeluk Kak Rafa bergantian, dan saling menanyakan kabar masing-masing.
"Bagaimana keadaan Reno?. Dan mengapa kamu di luar nak?, " tanya Enjid pada Kak Rafa.
__ADS_1
"Dokter meminta Rafa menunggu di luar, Njid.Karena Reno sedang di periksa keadaan dan kondisinya oleh dokter. Enjid, tenang saja sebentar lagi. Dokter juga akan keluar jika telah selesai, " jawab Kak Rafa sambil tersenyum pada Enjid.
Enjid pun mengangguk.
Dan kami semua pun menunggu di luar, sampai dokter keluar.
Sementara itu, Kak Rafa menanyakan keadaan diri ku. Dan meminta Abi untuk menceritakan semua kejadian yang telah menimpa diri ku dan Kak Reno.
Kak Rafa pun di buat terkejut, setelah mendengarkan kabar duka akan meninggal nya Kak Roy beserta bude dan juga anak perempuan nya.
Kami semua pun terdiam dalam keheningan.
Hingga tidak lama kemudian, dokter bersama perawat pun keluar dari ruangan tempat Kak Reno di rawat. Aku langsung berdiri dan menghampiri dokter, serta menanyakan keadaan Kak Reno.
Dan aku pun menjadi sangat lega. Setelah dokter mengatakan kepada diri ku. Jika keadaan Kak Reno stabil dan baik.
Semua orang pun terlihat senang dan mengucapkan rasa syukur.
Setelah itu, aku dan semua orang pun langsung masuk ke dalam ruangan tempat Kak Reno di rawat.
Aku langsung menghampiri Kak Reno yang tertidur di atas ranjang pasien.
"Sepertinya obatnya sudah bereaksi, sehingga Reno sudah tertidur. Ya sudah, sayang biarkan Reno beristirahat. Karena, dia membutuhkannya supaya kondisi lekas pulih, " ucap Ummah pada ku.
Kemudian Kak Rafa, Abi, Enjid dan Pak Budi pamit untuk bertakziah. Sekaligus untuk membantu proses pemakaman almarhumah Kak Roy dan juga putrinya.
Aku ingin ikut, tetapi Ummah dan yang lainnya melarang ku. Karena kondisi ku juga masih lemah dan belum sepenuhnya pulih.
Sebelum Kak Rafa, Enjid, Pak Budi dan Abi pergi. Ummah meminta mereka semua untuk makan terlebih dahulu.
Dimana Ummah sudah menyiapkan bekal makanan dan minuman hangat, yang sudah Ummah bawa.
Dan kami semua pun makan bersama.
Perasaan kebersamaan penuh keharuan, setelah semua yang telah terjadi.
Barulah setelah itu Enjid, Abi dan Pak Budi membersihkan tubuh mereka dengan mandi. Di kamar mandi pada ruangan tempat Kak Reno di rawat. Dimana Ummah dan Wirda juga sudah menyiapkan semua pakaian ganti, termasuk juga pakaian ganti untuk ku.
Setelah itu, mereka semua pun pergi dan Wirda ikut serta karena satu arah dengan jalan menuju ke rumah kediaman keluarga Imandar. Wirda tidak dapat berlama-lama meninggalkan Fariz, yang akan mencari keberadaan dirinya.
Selepas semua orang telah pergi, aku dan Ummah banyak mengobrol dan menceritakan banyak hal.
Di mulai dari semua kejadian awal penculikan, hingga aku dan Kak Reno dapat terbebas. Ummah tidak henti-hentinya meneteskan air mata nya, setiap kali mendengarkan cerita akan peristiwa yang aku alami.
__ADS_1
"Sungguh sayang, Ummah begitu sangat mencemaskan diri mu dan Reno. Dan Ummah memang sudah menduganya. Jika Roy berada di balik peristiwa ini, " kata Ummah yang masih terlihat kesal.
Aku memeluk Ummah dengan menyandarkan kepala ku di pundaknya, sembari tangan ku merangkuk lengannya.
"Bagaimana Ummah dapat mengetahui jika Kak Roy berada di balik peristiwa ini?, " tanya ku.
Ummah mengusap kepala ku dengan lembut.
"Ini lah naluri seorang ibu sayang. Sesuatu hal yang tidak akan dapat di pahami oleh siapa pun. Baik juga dengan akal dan logika. Karena firasat seorang ibu, terhubung akan RabbNya. Bukan kah sejak dari awal, Ummah sudah melarang diri mu dan Reno untuk tidak menemui Roy , serta kembali ke sini. Namun, kalian berdua tetap keras kepala dan tidak mau mematuhi permintaan Ummah, " gerutu Ummah sambil menepuk pipi ku.
"Iya Ummah, tolong maafkan Rani dan Kak Reno ya Ummah. InsyaAllah,setelah ini kami berdua akan terus mematuhi dan mendengarkan perkataan Ummah. Rani sayang Ummah," ucap ku sambil mencium pipi Ummah.
Ummah pun tersenyum dan mencium kening ku dengan penuh kasih sayang.
"Ummah juga sangat menyayangi mu, nak. Ummah sangat berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setelah ini diri mu dan Reno akan dapat hidup dengan bahagia. Dan tidak ada lagi ujian seperti ini, yang menghancurkan kebersamaan dan kebahagiaan kalian."
"Aamiin ya rabbal'alamiin, " sahut ku.
" Tetapi, Ummah yakin semua peristiwa ini memiliki hikmah dan sebab yang besar bagi kalian berdua. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Lebih mengetahui akan apa yang terbaik bagi kalian berdua, "ucap Ummah lagi.
" Iya Ummah, "jawab ku sambil tersenyum.
Yah, aku menyadari akan peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan pada ku dan Kak Reno. Dimana hikmah di balik peristiwa ini, membuat diri ku sadar dan mengetahui akan perasaan ku yang sesungguhnya pada Kak Reno.
Yang mana aku menjadi tahu, jika Kak Reno sangat berarti bagi ku. Dan aku mencintai dirinya.
Aku tersenyum dalam pikiran ku sendiri, dengan mata terpejam merasakan kasih sayang Ummah yang hangat setenang pelukan almarhumah bunda ku.
Dan tanpa terasa aku telah terlelap tidur di dalam pangkuan Ummah, yang terus membelai dan mengusap kepala ku.
Ummah memang bukan ibu kandung ku, yang melahirkan kan diri ku.
Namun, beliau selalu percaya bahwa keluarga adalah orang yang saling mengasihi dan peduli sama lainnya. sekali pun diri ku tidak terikat darah dan genetik pada dirinya. Ummah selalu menyayangi ku dan mengharap kan kebahagiaan juga kebaikan dalam kehidupan ku.
Memang satu hal yang tidak bisa tergantikan dari seorang ibu kandung, adalah ikatan emosional yang sangat kuat. Saat melahirkan, ibu akan merasakan perasaan cinta kasih luar biasa pada anaknya.Dimana perasaan itu akan terhubung dan tersalurkan pada anaknya.
Tetapi, meskipun Ummah dan diri ku tidak melalui fase tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sendiri lah yang menciptakan perasaan emosiaonal istimewa yang mengikat perasaan ku dan juga Ummah.
Sebuah perasaan penuh ketulusan yang natural, dan aku sangat bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena telah menghadirkan Ummah di dalam kehidupan ku.
Ummah tetaplah menjadi seorang ibu bagi ku. Dengan semua kekuatan, kesabaran dan keistimewaan seorang ibu yang ia milki.
Dimana terkadang aku merasakan, jika Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengirimkan almarhumah bunda ku kembali, di dalam wujud dan sosok Ummah.
__ADS_1
Ummah terus memandangi diri ku yang tertidur lelap di pangkuan nya. Lisannya terus berucap lirih, untuk memohon kebaikan dan juga kebahagiaan ku kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.