
Langkah kakiku beriringan dengan langkah kaki Mas Fariz yang menyertai di sampingku.Indra penglihatan kami berdua terus mencari-cari ruangan tempat Rere dirawat. Hingga saat diriku dan Mas Fariz fokus membaca plakat tulisan di setiap kamar. Seseorang perempuan menghampiri diriku dengan berteriak memanggil namaku, "Rani..! Rani..!. "
Aku dan Mas Fariz yang berada tidak berjauhan dengan cepat mencari pada sumber suara yang memanggil namaku. Terdengar suara yang engos-engosan dengan wajah pucat tepat berada di hadapan kami berdua.
"Tante Sinta!, "ucapku terkejut.
Tante Sinta lalu memeluk diriku erat dengan suaranya yang terisak. Aku dan Mas Fariz saling menatap satu sama lain, yang merasa penuh tanya akan sikap Tante Sinta.
Aku pun tidak berkata dan membiarkan Tante Sinta menumpahkan kesedihannya, dan beberapa saat kemudian barulah setelah beliau tenang ,dengan perlahan Tante Sinta menyeka air matanya dan memegang bahuku. " Kamu mau kemana Rani?, "tanya Tante Sinta pelan.
" Rani hendak membesuk Rere, tante. Barusan saya dan keluarga dari ruangan Kak Roy di rawat, tetapi Kak Roy masih tertidur akibat efek obat. Lalu Tante Desi bercerita jika Rere pun sedang dirawat disini juga, jadi sekalian saja saya hendak membesuk Rere, tante, "jawabku.
Tante Sinta terdiam dan tersenyum kecil sembari pandangan matanya memandang lekat wajah Mas Fariz dengan penuh rasa penasaran.
" Ini siapa Rani yang bersamamu?, "tanya Tante Sinta sambil menunjuk ke arah Mas Fariz.
Aku tersenyum kecil ke arah Tante Sinta, lalu memegang lengan Mas Fariz, " Oh.. Ini suami Rani tante. "
Tante Sinta terkejut mendengar ucapan dariku.
"Namanya Mas Fariz, " lanjut ucapku.
Mas Fariz lalu menangkupkan kedua tangannya di dada dengan sedikit menunduk untuk memperkenalkan dirinya kepada Tante Sinta.
"Perkenalkan Tante, saya Fariz suaminya Dek Rani, " ucap Mas Fariz sambil tersenyum kecil.
Tante Sinta masih terlihat bingung sembari menganggukkan kepalanya sedikit. Ada pertanyaan yang ingin ia berusaha ajukan kepada diriku, tetapi raut wajahnya masih berpikir untuk mengelola perkataan yang ingin ia rangkai di lisannya.
"Ada apa Tante? Mengapa Tante terlihat gusar?, " tanya ku.
"Banyak hal yang terjadi di keluarga Suprapto ya Ran, dan semua anggota keluarganya memiliki bad and sad ending di dalam kehidupannya. Lalu bagaimana dirimu bisa bercerai dengan Reno dan menikah dengan suami baru mu ini?, " tanya Tante Sinta dengan rasa ingin tahu.
Aku tersenyum kecil kepada Tante Sinta, "Qadarullah tante, panjang ceritanya. Oh ya Tante dimana ruangan tempat Rere di rawat? Jika diperkenankan bolehkah Rani dan Mas Fariz untuk membesuk Rere?. "
"Boleh sekali Ran.Tante malah senang sekali jika kamu memiliki niat untuk menengok Rere setelah apa yang ia lakukan kepadamu selama ini.Maafkan Rere ya Ran,untuk semua sikap dan tutur kayanya yang kasar dan mungkin banyak telah melukai hatimu, " pinta Tante Sinta dengan mata yang berkaca-kaca sambil sedikit tertunduk kesu.
Aku menghela nafas pendek sembari mengusap lengan Tante Sinta, " Sudahlah tante.Tante Sinta tidak perlu mengungkit lagi masa lalu ,sekarang tante fokus saja pada kesembuhan Rere. Insya Allah Rani sudah memaafkan semua akan perbuatan, tutur kata dan sikap Rere yang mungkin selama ini tidak baik. Bukankah setiap orang itu pernah melakukan kesalahan tante, dan wajib bagi kita yang menyadarinya untuk memaafkan kesalahan orang lain, karena di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan dan kekhilafan nya termasuk juga Rere. "
Air mata Tante Sinta menetes mendengarkan ucapan ku, "Kamu memang berhati baik Ran. "
Tante Sinta lalu menyeka air matanya dan kembali menatap diriku. "Ran,nanti jika kamu masuk ke dalam menemui Rere,
tolong ingatkan dia Ran,untuk tidak menggugurkan kandungannya, "ucap tante Sinta kepadaku.
Aku dan Mas Fariz pun langsung melirik satu sama lain mendengar ucapan yang disampaikan oleh Tante Sinta.
" Mengapa Rere memiliki pikiran seperti itu Tante?, "tanyaku sembari memegang tangan Tante Sinta.
Air mata Tante Sinta mengalir kembali, " Karena Roy ingin menceraikannya dan kecil kemungkinan bagi Roy mau menerima jika janin yang ada di dalam kandungan Rere adalah darah dagingnya. Hal itu semakin membuat kondisi Rere drop, Ran. Hiks... Hiks... Hiks.. "
"Tetapi Kak Roy kan belum mengetahui jika saat ini Rere tengah mengandung buah cintanya dengan Rere kan, tante, " kataku pelan.
"Belum Ran. Tetapi ketakutan itu terus muncul di dalam hati dan pikiran Rere, juga dengan Tante dan suami. Tante takut Roy dan keluarganya meragukan kehamilan Rere serta menolak untuk mengakui jika bayi dalam kandungan Rere adalah anaknya. Hal itu pasti akan sangat melukai Rere dan keluarga kami, Ran. Hiks... Hiks.. Hiks. "
Aku mengusap lembut punggung Tante Sinta untuk membuatnya tenang. Setelah beliau merasa cukup tenang. Barulah Tante Sinta mengajak diriku dan Mas Fariz menemui Rere di ruangan tempatnya di rawat.
__ADS_1
Cekrek...
Pintu kamar terbuka, dan tampak Om Nugroho yaitu suami Tante Sinta yang sedang bersandar di sofa sambil memegangi kepalanya dengan mata terpejam. Om Nugroho tidak menyadari akan kedatangan kami, tampaknya beliau tertidur karena kelelahan. Tante Sinta berusaha untuk membangunkan suaminya, tetapi aku melarangnya. Karena tidak ingin mengganggu tidurnya Om Nugroho yang tampak begitu sangat pulas.
Setelah itu, aku dan Tante Sinta segera menuju ke ranjang pasien tempat Rere terbaring. Sementara Mas Fariz duduk di sofa tunggu pasien.
Sambil berjalan beriringan dengan Tante Sinta. Pandangan mataku tertuju pada Rere yang sedang terbaring dengan wajah pucat nya dan memandang diriku dengan tatapan yang tidak suka akan kehadiran diriku.
"Untuk apa kamu kemari Ran? Kamu senang kan melihat kondisiku seperti ini! , " ucap Rere dengan ketus.
Tante Sinta yang mendengar ucapan Rere, dengan segera mendekati Rere dan mengusap kepala putrinya itu, "Nak, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Rani sudah memiliki niat baik untuk menjenguk dirimu. Rani datang bersama suaminya. "
Rere terperanjat kaget mendengar ucapan Tante Sinta, "Suami?!. "
"Iya sayang, suami Rani sedang duduk di sofa, " sahut Tante Sinta.
Rere memandangi ku lekat dan melihat diriku dari ujung kepala hingga ke seluruh tubuhku, hingga kedua matanya tertuju pada hiasan henna yang terlukis dan masih membekas pada punggung tanganku. Rere terdiam mentap diriku. Begitu pula aku yang juga diam menunggu dirinya untuk berkata, tetapi setelah cukup lama Rere tidak mengatakan apapun, akhirnya aku pun menyapa dirinya.
"Selamat atas berita kehamilanmu. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu menjaga dirimu dan buah cintamu dengan Kak Roy, " ucapku lembut.
Rere menatap mataku, "Dari mana kamu tahu jika aku sedang hamil?. "
"Mama yang memberitahu Rani, sayang, " sahut Tante Sinta.
Rere mengalihkan pandangan matanya ke arah Tante Sinta, "Mengapa mama memberitahu Rani akan kehamilan diriku?. "
Rere terlihat semakin kesal dan marah.
Tante Sinta pun memegang jemari tangan Rere, "Apakah mama salah memberikan kabar bahagia ini kepada sahabat mu sendiri, sayang?. "
Tante Sinta dan diriku terkejut mendengar akan sikap Rere.
"Mengapa kamu terus berpikir seperti itu nak. Rani sudah menikah dan dia tidak pernah memiliki perasaan terhadap Roy, lalu untuk apa kamu terus menerus membenci Rani yang merupakan sahabatmu sendiri nak! Apakah kamu melupakan semua kenangan kebersamaanmu dengan Rani saat di sekolah menengah pertama? Dimana setiap harinya hanya ada Rani yang selalu memenuhi kehidupan mu dengan kebahagiaan. Lalu mengapa sekarang persahabatan mu itu engkau rusak hanya karena sifat egoismu yang tidak berdasar nak!. "
Rere menatap diriku kesal, "Dulu dia memang sahabat ku mah, tetapi saat kehadirannya telah mencuri cinta dari orang yang paling kucintai sejak saat itu dia telah menjadi musuhku dan bukan sahabatku lagi. "
"Ya Allah nak, mengapa kamu terus berpikir seperti itu, " sahut Tante Sinta dengan matanya yang berkaca-kaca.
Aku diam mendengarkan perkataan Rere kepadaku, hingga Mas Fariz akhirnya berdiri di sampingku untuk mengajak diriku keluar dari ruangan tempat Rere di rawat.
Namun, sebelum diriku keluar. Aku meminta waktu sebentar kepada Mas Fariz untuk berkata kepada Rere, dan Mas Fariz pun mengizinkannya.
"Aku tidak pernah membencimu Re,terlepas akan semua rasa tidak sukamu terhadap diriku. Dan satu hal yang harus kamu tahu yaitu bahwa diriku tidak pernah memiliki perasaan terhadap Kak Roy. Selama ini aku menganggapnya seperti kakak laki-laki bagiku. "
Rere masih tidak memperdulikan perkataan ku, tetapi aku yakin dia mendengarkan semua apa yang ku katakan kepada dirinya.
"Seharusnya sekarang kamu bersyukur dan berbahagia, sebab Allah telah mengkaruniakan mahluk kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimmu. Jagalah keberadaan nya, karena kehadirannya adalah sebagai bukti akan cintamu dan cinta Kak Roy yang telah menyatu tanpa kalian berdua sadari. Jadikan kehadirannya sebagai pengikat akan hubungan mu dan Kak Roy supaya bertambah kuat dalam ikatan cinta kalian. Dia membutuhkan cinta dan kasih sayang dari kalian berdua untuk dapat terus tumbuh hingga dapat terlahir kedunia dan memanggil kalian berdua dengan sebutan mama dan papa. Maka pesan dariku Re, jangan engkau sia-siakan anugerah terbesar yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah sematkan di dalam rahimmu ,Re. Terlepas dari semua kondisimu dan juga kesedihanmu saat ini, karena dia berhak layak untuk hidup dan menatap indahnya wajah kedua orang tuanya nanti. Satu hal lagi Re, aku sudah bahagia dan menjalani kehidupanku sekarang ,dan harapanku semoga kamu juga dapat fokus dalam kehidupan mu. Dengan terus mempertahankan rumah tanggamu bersama Kak Roy, dan tidak terus larut dalam kebencian terhadap diriku. "
Rere masih terdiam dan tidak menatap diriku. Dan sebelum meninggalkan Rere.
Mas Fariz pun mengajakku mendo'kan kesembuhan Rere dan juga janin yang ada di dalam kandungannya. Setelah itu, aku dan Mas Fariz berpamitan kepada Tante Sinta untuk pulang. Tante Sinta pun meminta maaf atas sikap Rere kepada diriku dan Mas Fariz. Tetapi aku pun tidak masalah akan hal itu tutur ku kepada Tante Sinta.
"Terima kasih sudah bersedia membesul Rere. Baiklah kalau begitu Tante antar kalian berdua ya, " kata Tante Sinta.
"Tidak usah tante. Lebih baik tante menemani saja Rere disini. Ya sudah tante kami pulang dulu. Assalamu'alaikum, " ucapku.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam.Hati-hati ya Ran, "sahut Tante Sinta.
Aku menganggukkan kepala ku dan tersenyum.
Mas Fariz memegang bahuku pelan, lalu kaki kami berdua melangkah meninggalkan ruangan tempat Rere di rawat.
Tatapan Rere terus memandang ke arahku dengan matanya yang berkaca-kaca, sampai diriku dan Mas Fariz menghilang dari pandangan matanya.
Pintu kamar ruangan Rere di rawat tertutup.
" Mas sungguh beruntung memiliki Dek Rani sebagai istri Mas, "ucap Mas Fariz setelah keluar.
Aku menoleh menatap Mas Fariz dengan sedikit tertunduk, " Mengapa Mas berkata demikian? Apakah Mas Fariz berusaha untuk menyanjung Rani. "
"Tidak demikian maksud Mas. Tetapi juga bukan kesalahan kan jika suami ingin menyanjung istrinya karena memang layak untuk dipuji, " sahut Mas Fariz.
Aku terdiam sambil tersenyum kecil.
"Bolehkah Mas meminta Dek Rani memberikan jemari tangan Dek Rani?. "
Aku mengkerut kan dahi seraya berpikir, "Untuk apa Mas?, " ucapku sambil memberikan jemari tanganku kepada Mas Fariz.
Dan dengan cepat penuh kelembutan. Mas Fariz menyambut uluran tanganku dan mengenggam nya erat.
Maka berdesirlah debar jantung ku.
"Jemari tangan ini akan Mas jaga dengan sebaik-baiknya agar tetap terjaga dan senantiasa berada di sisi Mas. Terima kasih Dek, karena telah memilih Mas menjadi imammu, diantara banyaknya laki-laki yang mencintaimu dan menginginkan dirimu menjadi istri mereka. Tetapi Mas termasuk yang paling beruntung sebab Dek Rani memilih Mas, " tutur Mas Fariz sambil tersenyum.
Aku tersipu malu sembari tersenyum kecil padanya. Langkah kaki kami berdua beriringan bersama melangkah kembali menuju ruangan dimana Kak Roy di rawat. Sembari jemari tangan Mas Roy mengenggam jemari tanganku dengan lembut.
Belum juga diriku dan Mas Fariz tiba di ruangan Kak Roy di rawat.
Entah kebetulan atau tidak langkah kaki kami berdua terhenti seketika dengan kursi roda yang membawa Kak Aisyah diikuti oleh kedua orang tuanya. Ada kecanggungan dan ketegangan yang terjadi di antara kami. Dimana dapat kulihat tatapan Kak Aisyah yang begitu tajam dan sangat tidak suka melihat kebersamaan diriku dan Mas Fariz.
Mas Fariz menundukkan kepalanya seraya menghormati kedua orang tua Kak Aisyah sambil memberikan salam. Tetapi ibunda Kak Aisyah hanya diam dan hanya ayah Kak Aisyah yang menjawab salam dari Mas Fariz.
Kak Aisyah yang duduk di kursi roda tampak dengan tangan dan kakinya di ikat di kedua sisinya dengan pandangan kosong tetapi penuh kebencian terhadap diriku dan Mas Fariz. Sementara dua orang perawat yang mendorong kursi rodanya terus berusaha memegangi Kak Aisyah.
"Apakah keadaan Ukhti Aisyah sudah membaik bapak dan ibu?, " tanya Mas Fariz dengan sopan.
Tetapi ibunda Kak Aisyah langsung membalasnya dengan sangat ketus dan kasar, "Baik darimana. Apakah kedua mata Nak Fariz tidak dapat melihat langsung bagaimana keadaan putri kami saat ini. "
"Bund, jangan berbicara seperti itu, " ucap ayahanda Kak Aisyah.
Ibunda Kak Aisyah terlihat marah dan kesal mendengar suaminya bicara seperti itu, "Biarkan saja ayah. Biarkan Nak Fariz tahu, jika ini semua juga kesalahan nya hingga putri kita satu-satunya harus di rawat di rumah sakit jiwa, " ucap ibunda Kak Aisyah dengan bibir nya yang bergetar.
Aku dan Mas Fariz terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh ibunda Kak Aisyah.
Tidak lama setelah itu terdengar suara teriakan Kak Aisyah berulang kali memanggil-manggil nama Mas Fariz tanpa henti sambil meronta -ronta ingin melepaskan dirinya dari belenggu ikatannya di kursi roda.
Dengan perlahan-lahan ibunda Kak Aisyah mendekati Mas Fariz seraya berkata, "Apakah sekarang Nak Fariz sudah puas dan tidak merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada putri saya! Kamu memang jahat Nak Fariz!," ucap ibunda Kak Aisyah kencang.
Dan tiba-tiba Ummah sudah tiba di sebelah diriku tanpa dapat menahan amarah nya, setelah mendengarkan ucapan ibunda Kak Aisyah, "Tolong jaga perkataan ibu itu. Jangan menyalahkan putra saya, karena disini putra saya tidak bersalah. Putri ibu menjadi seperti itu karena kebodohannya sendiri dan juga mungkin sebuah hukuman yang Allah berikan kepadanya karena sudah menyakiti putri saya. "
Ibunda Kak Aisyah terdiam.
__ADS_1
Ummah lalu langsung menarik tanganku dan Mas Fariz meninggalkan ibunda, ayah dan Kak Aisyah. Sementara itu, ibunda Kak Aisyah hanya memandangi kepergian kami dari hadapannya dengan perasaan terluka dan kesal.