
Rani kecil menghampiri diriku dan memelukku erat, "Mama!, " ucapnya penuh kebahagiaan.
Kata yang terdengar pilu dan menyayat hatiku, saat menatap wajah polosnya.
Tanpa ada jarak dan rasa canggung, ia pun begitu dekat padaku. Dan diriku tidak merasa kaku atau terganggu akan sikapnya.
Ku usap kepala pelan sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya, dan ternyata ia kelelahan dengan kedua matanya yang sayup-sayup ingin terpejam.
Dalam rasa kantuk yang mendera dirinya, bibir mungilnya masih dapat berseloroh dan terus memanggil diriku, dengan kata mama secara berulang kali, hingga akhirnya ia benar-benar terlelap tidur dalam dekapan diriku.
Kak Roy hanya dapat memandangi kedekatan ku dan putrinya dengan matanya yang berkaca-kaca, penuh keharuan.
"Maafkan Rani, Ran. Jika ia merepotkan dirimu, " ucap Kak Roy lirih.
Aku pun menoleh kepadanya dan tersenyum kecil, "Tidak Kak, Rani tidak merepotkan diriku sama sekali. Aku justru senang dengan kehadirannya, di dalam hidupku. Entah mengapa ia begitu menyentuh perasaan ku, saat pertama kali aku bertemu dan memandang dirinya. Aku merasakan ada ikatan khusus yang membuat diriku terasa begitu dekat dengan putri Kak Roy. "
Kak Roy menitikan air matanya, dan memandang ku lekat.
"Terima kasih Ran, karena dirimu memiliki kasih sayang yang tulus pada Rani. Dia menjadi piatu sejak di lahirkan kedunia ini, dan almarhumah Rere meminta kakak untuk memberikan namamu pada putri kami, " ucap Kak Roy bergetar haru.
Aku pun merasakan duka dan kesedihan Kak Roy, karena diriku juga mengalaminya.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.Aku turut berduka cita atas meninggalnya Rere, kak. Inna Lillahi Maa Akhozha, walahu Maa A'thoo Wakullu Syai’in 'Indahu Bi Ajalain Musamma.Faltashbir Walatahtasib.
Sesungguhnya bagi Allah, apa yang Dia ambil dan bagi-Nya juga apa yang Dia berikan. Segala sesuatu bagi-Nya ada memiliki masa-masa yang telah ditetapkan, hendaklah kamu bersabar dan mohon pahala (dari Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)."
Kak Roy mengangguk, dan berkata, "Kakak pun turut berbelasungkawa atas kepergian Ustad Fariz Ran. "
Aku memandang terkejut ke arah Kak Roy, "Bagaimana Kak Roy bisa tahu , jika Mas Fariz sudah tidak ada?. "
"Bu Putri yang mengatakan nya kepada mama. Dan mama yang memberitahu kakak. Maafkan kakak Ran,karena tidak ada di dekat mu disaat dirimu berada di fase terburuk dalam kehidupan mu. Kakak malh justru menghilang dan menjauh pergi darimu. "
Kak Roy terlihat bersedih penuh penyesalan.
"Sudahlah kak tidak apa-apa, semua sudah terjadi dan InsyaAllah Rani sudah ikhlas atas kepergian Mas Fariz, " ucapku.
"Bagaimana kamu bisa setegar dan sekuat ini Ran? Setelah semua kepedihan yang membuat dirimu terus terluka dan hancur. "
"Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menguatkan diriku Kak. Terlebih lagi semua anggota keluarga Imandar selalu mendorongku untuk kuat dan tegar.
__ADS_1
Sesungguhnya ia adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan kepada-Nya lah kita akan kembali."
Kak Roy terdiam melihatku ,dimana diriku menatap langit yang luas di atas hamparan bunga yang indah dan gemercik air mancur, di tengah kolam.
"Aku Percaya kak, semua cobaan yang Allah berikan pasti mengandung sebuah hikmah kehidupan untuk kita. Sehingga kita boleh bersedih. Namun jangan berlarut-larut, karena kesedihan itu tak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik, dan tidak akan membuat ia yang telah meninggalkan kita kembali lagi.Semua ini adalah rencana baik dari Allah. Dimana diriku harus menerima kepergian Mas Fariz dengan ketabahan dan hati lapang.Meskipun awalnya sangat sulit dan seakan tidak mungkin. Tetapi cintanya mengajarkan diriku, untuk tidak pernah meragukan semua yang telah Allah takdirkan di dalam hidup, " imbuhku dengan suara haru.
Aku menghela lagi napas ku dalam, seraya memejamkan sebentar kedua mataku perlahan, "Semoga Mas Fariz merasakan damai di akhirat-Nya.Mudah-mudahan ia mendapatkan tempat terindah di sisi Allah, yaitu di surga-Nya yang sangat indah.
Karena aku menyadari bahwa kematian ini adalah pengingat bahwa takdir setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami hidup dan mati."
"Aamiin Ya Rabbal'alamin, " sahut Kak Roy.
"Maaf Kak Roy, Rani terbawa suasana, " ucapku sambil menekan ujung mataku agar air mataku tidak jatuh.
Kak Roy tersenyum, "Tidak apa-apa Ran, kakak justru senang jika Rani mau berbagi perasaan Rani kepada kakak. Karena itu tandanya kehadiran kakak berguna bagimu."
Aku pun membalas ucapan Kak Roy dengan senyum.
Setelah itu, aku dan Kak Roy banyak bercerita banyak hal dari peristiwa yang kami alami, selama kami berdua berada saling menjauh tidak mengetahui kabar masing-masing.Kebersamaan dengan Kak Roy,membuat kepenatan di hatiku terasa berkurang.Dimana bertemu dengannya kembali, melahirkan memori kenangan lalu di benakku dan dirinya. Kenangan dari beragam perasaan sedih, senang, kecewa, galau, dan perasaan lainnya terangkum dalam fenomena pagi ini, yang mana tanpa kami berdua sadari. Telah banyak rangkaian peristiwa yang telah terjadi, di dalam kehidupan ku dan Kak Roy.
Tidak lama kemudian, aku pun mengajak Kak Roy untuk kembali berkumpul dengan yang lainnya. Karena mereka semua pasti sedang menunggu dan mencari keberadaan kami.
"Biar Rani Kak Roy yang gendong Ran. Tampaknya Rani sudah pulas tertidur, " ucap Kak Roy.
Aku mengangguk setuju, tetapi belum sempat Kak Roy mengangkat tubuh mungil Rani dari gendongan ku. Rani malah menangis, dan tidak ingin beralih dari diriku. Hingga akhirnya, aku meminta Kak Roy untuk membiarkan putrinya tetap berada dalam dekapan ku. Supaya Rani tidak menangis, dan benar saja. Beberapa saat kemudian, Rani tertidur kembali dengan pulas, sambil mengigau memanggil diriku dengan sebutan mama.
Kak Roy memandangi diriku, begitu pula aku yang melihat ke arahnya.
"Apakah kamu tidak terganggu dengan panggilan itu Ran?, " tanya Kak Roy sungkan.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak Kak. "
"Apakah kamu yakin dengan hal itu?, " tanya Kak Roy lagi ragu.
"InsyaAllah, iya Kak. Aku pernah merasakan berada di posisi putrimu Kak. Jika saat itu aku menjadi yatim, tetapi Rani menjadi piatu. Saat itu, aku juga merindukan figure seorang ayah yang tidak dapat kutemukan. Begitu pula dengan Rani, sehingga aku mengerti apa yang ia rasakan. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya kak. Maka berikan dia waktu, dengan berjalan nya waktu. Seiring dirinya tumbuh, Rani pun akan memahami segalanya. Sekarang biarkan dia bahagia, dan menjalani kehidupan nya untuk tumbuh dan berkembang menjadi sosok gadis kecil yang periang. Dimana kasih sayang akan selalu tercurah padanya, begitu pula rasa kasihku pada Rani, " ucapku sambil mencium lembut pipi Rani yang tertidur pulas.
Kak Roy terharu dan mengucapkan terima kasih kepada diriku. Dan aku pun membalas nya dengan senyum kecil. Aku melangkah dengan kedua kakiku yang sudah kuat dan kokoh untuk berjalan.
Keberadaan Rani secara tiba-tiba membuatku semakin tegar, dan mengingatkan akan masa kecilku yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
Cahaya matahari mulai bersinar hangat, menyinari alam semesta.
Ketika melihat dan merasakan sinarnya, seakan-akan membuat diriku lebih bersemangat untuk mengawali hari ini. Selain hangat,cahayanya juga indah saat menerpa aliran air di sungai buatan,yang terlihat berkilau bak berlian,dan menambah keelokan hamparan taman bunga beraneka rupa, yang bergoyang ditiup sang bayu. Cahaya matahari ini juga seolah-olah memberikan motivasi untuk diriku, agar lebih menjalani kehidupanku yang sekarang dengan bahagia dan berpikiran positif.
Aku dan Kak Roy tiba di tengah-tengah, perbincangan hangat seluruh anggota keluarga Imandar dan Tante Desi, juga Om Surya yang telah hadir ikut serta.
Semuanya memandang ke arahku yang menggendong Rani, ditemani Kak Roy yang berjalan di sampingku.
Mereka semua tersenyum bahagia, khususnya Ummah dan Tante Desi yang saling berbisik, lalu menatapku lekat dengan senyuman yang merekah.
Tante Desi lalu menghampiri ku dan menuntunku untuk duduk di dekatnya dan Ummah.
"Rani pasti menyusahkan dirimu ya Ran?, " tanya Tante Desi sambil mengusap kepalaku.
"Tidak Tante, " jawabku.
"Alhamdulillah, jika cucu Tante tidak merepotkan dirimu, nak. "
Aku tersenyum, begitu pula Tante Desi.
Dan dari kejauhan kulihat Kak Roy terus menatap ke arahku, sambil termenung. Dan entah apa yang sedang ia pikirkan.
Ummah mengusap kepala Rani pelan.
"MasyaAllah Tabarakallah, cantik sekali dan imut, mirip seperti putri Ummah, " ucap Ummah yang kini mengusap kepalaku.
"MasyaAllah, Ummah bisa saja menggoda Rani, " sahut ku.
"Ummah tidak menggoda sayang, putri Ummah memang benar-benar cantik. Iya kan Bu Desi?."
"Benar sekali Bu Putri, " balas Tante Desi girang.
Aku tersenyum kecil, sambil memandang wajah polos Rani yang tertidur sangat lelap dalam dekapan ku.
"Semoga Allah, senantiasa memberikan dirimu keberuntungan, kebahagiaan, kebaikan, perlindungan dan kesehatan padamu nak, "pintaku dalam hati kepada Sang Maha Pencipta sembari mengusap pipi Rani dengan lembut.
Semua orang pun kembali berbincang-bincang, dan menikmati makanan dan minuman yang telah Ummah siapkan. Tidak ada kecanggungan atau rasa sungkan. Semua seperti telah menyatu seperti keluarga sendiri yang begitu dekat.
Hingga waktu pula yang memisahkan kebersamaan semua orang, untuk beranjak pergi kembali ke kediaman masing-masing.
__ADS_1