Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Dia lagi.


__ADS_3

Selesai menyantap bubur ayam. Aku beranjak dari duduk ku dan berjalan menuju taman, sembari menunggu Bik Inah dan Pak Budi yang masih belum selesai menghabiskan bubur ayam mereka.


Udara pagi masih sangat sejuk dan segar, dengan sesekali angin pagi berhembus semilir pelan, mengugah perasaan yang gelisah menjadi lebih terasa nyaman.


"Akh, kenapa aku harus merasa kesal akan tindakan dan ucapan Kak Reno. Bukankah hubungan kami sudah selesai dan berakhir, dimana aku pun telah memaafkan semua kesalahan nya padaku, tetapi entah mengapa kehadirannya membuat diriku gelisah dan tidak tenang, " batinku di dalam hati sambil memandang dedaunan yang bergoyang di terpa sang bayu.


Tiba-tiba, Kak Reno datang menghampiri diriku.


"Apakah kamu sedang memikirkan diriku, Ran?, " tanyanya penuh percaya diri yang membuat ku cukup tersentak melihatnya.


"Apa? Hah!, " ucapku dengan tersenyum meringgis mendengar ucapannya.


Kak Reno tersenyum dengan sikapnya yang begitu sangat tenang dan santai.


"Jangan terkejut Ran.Aku hanya bercanda saja. "


Kak Reno menoleh ke arahku sebentar, lalu meneruskan perkataannya lagi.


"Tetapi jika memang kamu memikirkan diriku, aku tidak keberatan sama sekali Ran."


Kak Reno tersenyum lagi padaku, tanpa rasa canggung.


Aku memandanginya sebentar, lalu mengalihkan pandangan ku darinya.


"Aku tidak tahu mengapa Allah mempertemukan lagi diriku dan dirimu. Tetapi ku mohon padamu, tolong jaga batasan di antara kita, sebab kita berdua bukan siapa-siapa, hanya orang lain dan tidak mempunyai hubungan apapun. Satu hal lagi, tolong jangan berusaha dekat padaku, dengan menjadi almarhum Mas Fariz. Sebab Mas Fariz dan dirimu sangat jauh berbeda, dia memiliki tempat yang sangat spesial di hatiku dan tidak dengan dirimu, " tutur ku sambil memandang dirinya lalu meneruskan perkataan ku, "Maaf jika aku berkata demikian Kak Reno, semoga kamu paham dan mengerti. "


Kak Reno kembali tersenyum padaku, lalu mengalihkan pandangan nya pada populasi bunga di taman, tidak jauh dari hadapanku dan dirinya.


"Tanpa engkau mengatakan hal tersebut, aku paham akan diriku yang hina dan tidak berarti ini Ran.


" Aku tidak mengatakan demikian padamu Kak Reno. "


"Aku tahu itu Ran. Aku sendiri yang mengatakannya. Sungguh aku tidak bermaksud apa-apa padamu. Aku hanya ingin berusaha membuatmu tersenyum, dan melupakan kenanganmu bersama almarhum Ustad Fariz, yang masih membelenggu dirimu untuk dapat bergerak maju menjalani kehidupan mu. "


"Apa urusanmu berkata demikian dan peduli padaku?, " ucapku memandang Kak Reno.


Kak Reno melihat ke arahku.


"Aku tidak tahu mengapa dirimu tidak suka akan kehadiran ku, dan membuatmu kesal seperti ini. Tetapi marahmu mengartikan sesuatu hal yang tersembunyi dan menjadi misteri. "


"Aku tidak marah dan kesal, " bantah ku.


"Itu menurutmu Ran, tetapi raut wajah dan geksture sikap mu mengatakan demikian, " sahut Kak Reno sambil tersenyum kecil.


"Sejak kapan Kak Reno menjadi seseorang pengamat dan peduli akan orang lain, " ujarku.


Kak Reno terdiam beberapa saat, dengan raut mukanya yang berubah.


"Itu diriku yang dulu Ran, " ucapnya memandang wajahku dengan tatapan dalam.


"Dan kini aku berusaha menempa diriku untuk menjadi orang yang lebih baik. Meskipun aku sadar sulit bagi semua orang untuk menangkap dan menerima perubahan diriku pada sisi positif, tetapi aku tidak keberatan sama sekali jika semua orang masih berpikir buruk tentang diriku, termasuk juga dirimu Ran, " ucap Kak Reno dengan pelan dan wajahnya yang terlihat sendu.


Untuk sesaat aku seolah-olah dapat merasakan kesedihannya, perasaan ku perlahan terketuk membuka rasa simpati dan empati padanya.


"Maafkan aku Kak Reno, jika perkataan ku melukaimu, " kataku dengan perasaan tidak enak padanya.


Kak Reno mengelengkan kepalanya dan melihat ke arahku sebentar, "Tidak Ran, kamu tidak perlu meminta maaf, sebab kamu tidak salah. Wajar jika dirimu berkata demikian, karena perangai ku dulu memang begitu sangat tercela. "


Aku terdiam mendengar perkataannya, dimana ku lihat ia begitu menyesali akan sikapnya terdahulu. Lagi, sensasi perasaan aneh memenuhi hatiku, saat berada di dekatnya. Aku tidak tahu, mengapa terjadi getaran yang menjalar di sekujur tubuhku.


Hingga Kak Reno berkata kembali dan mengejutkan diriku.

__ADS_1


"Mengapa engkau memandangi diriku, apakah engkau rindu padaku, Ran?. "


Aku terdiam melihat ke arahnya, dimana untuk sesaat pandangan mata kami bertemu. Dalam keseriusan parasnya yang menatap diriku, perlahan ia pun melemparkan senyum pada diriku yang terlihat tegang.


"Aku hanya bercanda Ran, jangan di anggap serius, "katanya ringan dan tenang.


Aku kembali menatapnya, " Kamu benar-benar sangat berbeda dari Kak Reno yang pernah ku kenal sebelumnya. Apakah ini kamuflase atau tipuan mu lagi yang sedang engkau rencanakan?. "


Kak Reno tertegun mendengar perkataan dariku. Ia tidak menjawab pertanyaan dariku, dimana aku menunggu dirinya untuk menjawab pertanyaan ku.


Lisanku gatal, saat hatiku mulai tergelitik untuk mengetahui kebisuan yang membungkam dirinya.


"Mengapa dirimu diam Kak Reno? Apakah ada sesuatu hal yang sedang engkau rencanakan, hingga dirimu begitu lama merespon pertanyaan dariku. "


Kak Reno berkata, tetapi kali ini ia tidak melihat ke arahku.


Bagaikan roda berputar perjalanan kehidupan memang sangat sulit untuk ditebak. Terkadang seseorang terlihat begitu beruntung dengan usaha minim yang mereka lakukan, untuk dapat mengubah citra dirinya di mata orang lain. Sebaliknya, ada pula mereka yang selalu berpikir menjadi orang yang tidak berguna karena merasa gagal dalam setiap usahanya, untuk menjadi orang yang baik. Bahkan dalam proses ikhtiar yang ku lakukan untuk berproses menjadi pribadi yang baik, aku bahkan masih di pandang buruk. Terutama dalam penilaian dirimu Ran.


Akh, tetapi sudahlah, aku tidak peduli akan penilaian semua orang terhadap diriku. Karena yang ku butuhkan hanyalah Allah, sebagai tempat bergantung ku, yang lebih mengetahui isi hatiku sesungguhnya. "


DEG...


Hatiku terasa tertusuk sesuatu mendengar perkataan darinya.


Lagi, aku melirik ke arahnya yang sedang memandang lurus ke depan. Parasnya masih terlihat tenang tanpa kesedihan, tidak ada gurat ekspresi kemarahan atau kebencian akan perkataan yang ku ucapkan darinya. Aku meyakinkan diriku sendiri, apakah benar ia adalah sosok Kak Reno yang pernah ku kenal?


Pikiran dan hatiku mengajak pandangan ku bermain, untuk meyakinkan keraguan itu dan terus mengamatinya.


Dan lagi ia berkata dalam emosinya yang stabil dan sangat tenang, dalam pandangan matanya yang teduh.


"Aku pernah di titik terendah dalam kehidupan ku,hingga merasa hidupku tidak berguna dan sangat hina. Tetapi kesedihan dan penyesalan yang berlarut-larut, membuat diriku sadar. Dimana sikap pasrah dan larut dalam kesedihan itu tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah bahkan mengubah keadaan diriku. Oleh karena itu,aku segera bangkit, meski harus tertatih seorang diri, jatuh dan terluka berulang lagi. Hingga semua orang yang sangat ku cintai dan berarti di dalam kehidupan ku, mulai pergi meninggal kan diriku,termasuk dirimu Ran, " ucap Kak Reno memandang wajahku sekilas.


DEG..


Kak Reno melanjutkan perkataannya, ia seakan mencurahkan semua beban perasaannya dalam ucapannya padaku.


"Aku selalu berusaha untuk berpikir positif, dan hidup dengan selalu mensyukuri segala sesuatu, yang telah menjadi suratan takdir ku. Sebagai manusia memang boleh berencana dengan melakukan segala macam cara untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Tetapi Aku menyadari dan tidak lupa, bahwa memang ada beberapa hal-hal yang tidak bisa diubah oleh manusia, jika itu menyangkut ketetapan dariNya. Sekali lagi,aku hanya bisa menerima segala sesuatu yang telah menjadi takdir ku, Ran. Tanpa pernah meragukan Ketetapan dariNya.Karena ,diriku percaya bahwa tidak ada hari sial atau takdir buruk dalam kehidupan ku. Karena setiap peristiwa yang terjadi di perjalanan hidupku, baik manis maupun pahit pasti memiliki maksud dan tujuan yang baik untuk mengubah diriku menjadi orang yang berguna dan lebih baik.Dan aku memaklumi, jika dirimu masih berpikir demikian pada diriku Ran. Yah, karena hanya dalam kegelapan, aku dapat melihat indahnya bintang-bintang, "


Aku kembali terdiam mendengarkan penuturannya. Hatiku sungguh merasa benar-benar tidak enak kepada Kak Reno, dengan ucapan ku padanya.


Kak Reno menatap diriku sambil tersenyum, "Jangan merasa tidak enak padaku Ran. Hatiku sudah cukup keras dan kuat, untuk menahan rasa sakit dan luka. Sehingga perkataan darimu, tidak berarti apa-apa padaku. Jadi kamu tidak usah mengkhawatirkan diriku. "


Aku tidak bergeming mendengar kata-katanya lagi, dimana hatiku sudah mendapatkan jawaban akan rasa ingin tahu ku. Ku lihat parasnya yang teduh, dan membuatku tiba-tiba tersenyum kecil memandangnya, tanpa ku sadari.


Aku telah melihat kejujuran akan ucapannya padaku, perubahan sikapnya yang sangat besar dalam pembawaannya yang sangat...sangat tenang, seoalah membius ku untuk melihat lebih dalam lagi sisi lain dari dirinya.


Pak Budi dan Bik Inah pun datang bersamaan menghampiri ku dan Kak Reno, lalu mereka berdua mengajak diriku untuk lekas kembali ke rumah.


Waktu terasa cepat bergulir pergi, dan mengakhiri obrolan singkat ku dengannya, yang membuat diriku terasa engan beranjak pergi.


Kak Reno kembali tersenyum padaku, ia seakan-akan dapat mengetahui isi hatiku.


"Aku akan berdo'a kepada Allah, agar dapat mempertemukan kita kembali, di waktu dan tempat yang tepat. Maka, sebelum kita berpisah, aku meminta pada hatimu untuk tetap bahagia dan tak larut dalam kehidupan yang lalu. Karena di masa depan, kita tidak pernah tahu, akan rencana indah Tuhan pada kehidupan mu Ran. "


Aku mengangguk dan melihat ke arahnya. Lalu berjalan bersama-sama dengan Pak Budi dan Bik Inah, meninggalkan dirinya yang masih berdiri melihat kepergian diriku.


Langit menampakkan matahari yang baru saja terbit,dan terdapat pemandangan indah di antara kegelapan yang sudah mulai memudar.


Bik Inah membukakan pintu mobil dan segera meminta ku untuk masuk.


Aku pun menuruti permintaan Bik Inah, tak lama Pak Budi segera melajukan mobil.

__ADS_1


Aku diam dalam pikiran ku, dimana bayang Kak Reno seakan-akan mulai bermain di dalam benakku.


Bik Inah tersenyum sambil menepuk tanganku pelan, "Bibi senang melihat Nak Rani, terlihat lebih berani untuk mendatangi tempat-tempat yang penuh memori kenangan bersama almarhum Nak Fariz. "


Aku tersenyum kecil pada Bik Inah.


"Bik Inah dan Pak Budi yang membuat Rani menjadi berani, dengan membawa Rani mengunjungi tempat yang biasa Rani datangi bersama almarhum Mas Fariz, " ucap ku.


Bik Inah tersenyum memandang diriku, lalu melirik ke arah Pak Budi.


Yah, tanpa sepengetahuan ku Pak Budi dan Bik Inah telah membuat janji kepada Kak Reno, untuk bertemu di tempat yang akan diriku datangi bersama Bik Inah dan Pak Budi.


Mereka sengaja meminta bantuan Kak Reno, agar aku tidak terus larut dalam kenangan dan rasa takutku akan semua memori kebersamaan ku, dengan Mas Fariz.


Pak Budi menyadari hanya Kak Reno yang dapat membuat diriku, untuk kembali bangkit dan terus menjalani kehidupan ku, setelah kepergian Mas Fariz.


Pak Budi dan Bik Inah, sungguh pintar memainkan peranannya di hadapan diriku.


"Apa yang Nak Rani lihat dari Nak Reno sekarang?, " tanya Pak Budi memecahkan kebisuan diriku.


Aku melihat ke arah Pak Budi, "Ia telah banyak berubah Pak. Tidak sama dengan Kak Reno yang pernah ku kenal sebelumnya. Banyak perubahan dari dirinya, yang membuat ku terkejut dan tidak dapat berkata-kata, akan sikapnya yang sangat tenang, dan jauh dari sikap tempramental seperti dulu. "


"Hahahaha, " suara Pak Budi tertawa.


"Tentu saja Nak Rani, peristiwa dalam kehidupannya yang membuat Nak Reno, membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik seperti saat ini. Tidak mungkin selamanya, orang yang buruk akan tetap buruk kan Nak Rani," imbuh Pak Budi.


"Iya Pak benar, " sahut ku.


Pak Budi tersenyum melihatku, begitu pula dengan Bik Inah.


Sementara itu, aku memandang ke luar kaca jendela mobil dan melihat keramaian yang mulai tampak di sepanjang jalan yang kami lalui.


Mobil terus melakukan dengan kecepatannya, tetapi hatiku dan pikiran ku seakan-akan tidak mampu untuk bergerak pergi dari tempat pertemuan ku dengan Kak Reno.


Aku gelisah dengan perasaan aneh yang menjalar pada hatiku saat ini.


Ucapan Kak Reno terus terngiang-ngiang di dalam benakku bahkan, saat raganya tidak ada di hadapan diriku.


Aku terus beristighfar dalam lisanku, untuk mengendalikan pikiran dan hatiku yang terus tertuju padanya.


Tiba-tiba Bik Inah memberikan ku surat, yang rupanya dari Kak Reno di titipkan pada Bik Inah.


Tanpa berlama lagi, segera ku buka sepucuk surat dari Kak Reno dan langsung ku baca.


Rani,


Jangan pernah bersedih bahkan ketika kamu merasa sedih. Sebab, dirimu tidak akan pernah tahu. Siapa orang yang akan jatuh cinta dengan senyuman mu itu.


Apakah kamu tahu siapa orang itu?


Orang itu adalah aku,


Reno.


Ku titipkan cinta ini hanya pada Sang Maha Pencipta,dan berharap Allah menjaga hatiku dan hatimu jauh dari rasa kecewa dan kesedihan, hingga waktu itu tiba.Aku tidak pernah berhenti meminta padaNya,untuk mempersatukan diriku dan dirimu dalam restu dan RidhoNya.


Sebab, nama mu akan selalu bersemayam dalam hati dan lisanku, saat diriku senantiasa bersimpuh kepadaNya.


Tetaplah bahagia dan tersenyum, Ran.


Reno yang selalu mencintai mu.

__ADS_1


Aku terdiam memegangi surat darinya.


Dimana perasaan ku semakin berkecamuk dalam sensasi rasa aneh, yang terus menjalar di hatiku.


__ADS_2