
Abi, Enjid dan Wirda terus memantau perkembangan dari berita jatuhnya pesawat yang membawa diriku, Mas Fariz dan Bik Siti menuju Mesir. Sementara itu Ummah harus di larikan ke rumah sakit, setelah mendengar kabar yang membuat dirinya semakin terpuruk dalam depresi klinis yang berat. Saat ini kecemasan dan kekhawatiran menyelimuti seluruh perasaan keluarga Imandar.
Pak Budi menemani Abi dan Enjid di crisis center bandara untuk langsung mencari info pesawat yang membawaku ,Mas Fariz dan Bik Siti.Beberapa orang yang datang di ruangan itu bahkan tak kuasa menahan tangis dan hanya terduduk lemas di sekitar crisis center.
"Para korban belum ditemukan,setelah pesawat hilang kontak.Dimana penyebabnya masih diselidiki. Dan kami masih berupaya mendapatkan informasi selanjutnya serta masih menunggu evakuasi," ucap pihak perwakilan bandara memberikan keterangan.
Semua pihak keluarga korban kecelakaan pesawat mendengarkan ucapan pihak perwakilan bandara dengan harap-harap cemas ,sembari menanti keadaan anggota keluarga mereka yang menjadi korban kecelakaan pesawat tersebut.Termasuk juga dengan Abi, Enjid dan Pak Budi. Kesedihan dan isak tangis mewarnai semua orang yang berada di sekitar Abi dan Enjid. Dimana rasa kehilangan dan sedih tidak bisa lagi di bendung, karena kehilangan orang tercinta mereka.
Abi, Enjid dan Pak Budi duduk dengan tidak tenang. Dimana bibir mereka terlihat bergetar dalam lantunan do'a dan dzikir yang membasahi lisan mereka. Sesekali Enjid mengusap air matanya yang hendak jatuh, lalu memandang keramaian orang-orang yang tampak bingung yang duduk lesehan di lantai di hadapannya, dengan pandangan mata yang kosong. Dimana juga terlihat keluarga penumpang dan kru pesawat lainnya yang bergantian keluar masuk ruangan tersebut
dengan berjalan lunglai sambil menutupi wajahnya yang menangis dengan kedua tangan saat keluar.
Abi mendekati Enjid untuk pulang sembari menunggu informasi selanjutnya.
***
Beberapa hari menunggu, akhirnya kepastian akan jatuhnya pesawat yang membawa diriku, Bik Siti dan Mas Fariz telah resmi dirilis. Air mata kesedihan tidak dapat lagi terbendung saat pihak maskapai mengatakan jika kemungkinan seluruh penumpang dan kru pesawat tidak ada yang selamat. Enjid langsung terduduk seketika dan menatap kosong sambil menangis, dadanya sesak berbalut nyeri mendapati kabar duka yang begitu tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Abi yang membuat dirinya kuat dan bersikap tenang, agar dapat berusaha menjadi pondasi keluarganya yang saat ini sedang rapuh. Di bantu Pak Budi, Abi pun segera membawa Enjid untuk kembali ke rumah.
Sementara itu, Wirda ditemani Tante Warti dan Bik Inah terus menemani Ummah yang masih terbaring tidak berdaya di ranjang pasien. Suaranya terus memanggil-manggil lirih namaku dan Mas Fariz.
Wirda dengan penuh kesabaran terus menemani Ummah dan membuatnya tersadar. Namun, depresi berat yang Ummah rasakan sungguh membuat diri Ummah tidak dapat mengendalikan raga dan pikirannya.
"Wir, apakah sudah ada perkembangan terbaru dari jatuhnya pesawat yang membawa Rani dan Fariz?, " tanya Tante Warti cemas.
Wirda menggelengkan kepalanya sambil membetulkan hijab Ummah, lalu mengusap air matanya yang hendak jatuh.
Tante Warti mengusap punggung Wirda dan mengajaknya untuk duduk di sofa tunggu.
Sementara itu, Bik Inah duduk bergantian dengan Wirda menjaga Ummah.
"Kamu harus kuat dan sabar ya nak. Saat ini kamu menjadi satunya kekuatan di keluarga Imandar, " ucap Tante Warti pelan.
Wirda menatap wajah Tante Warti dalam, lalu memeluk tubuh Tante Warti dan membenamkan dirinya masuk ke dalam dekapan Tante Warti.
__ADS_1
Huhuhuhuhu....
Tangis Wirda pecah, ia sudah tidak mampu menahan akan rasa sesak yang menekan tenggorokan dan dadanya.
Sambil menangis terisak, bibir Wirda bergetar haru memanggil namaku berulang kali. Tante Warti yang berusaha untuk menenangkan Wirda pun tidak kuasa pula menahan tangisnya mengikuti kesedihan Wirda yang semakin menjadi.
***
Abi terus mencari perkembangan dari pencarian dan evakuasi terhadap korban jatuhnya pesawat. Hingga Abi mendapatkan konfirmasi jika dia korban sudah teridentifikasi secara pasti atas nama Mas Fariz dan Bik Siti. Tubuh Abi bergetar dan terduduk lemas seketika. Dimana Pak Budi yang berada di samping Abi dengan segera memegangi tubuh Abi.
"Ya Allah. Inna inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, " ucap Abi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis.
Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu..
Kali ini Abi sungguh tidak dapat menahan lagi akan kesedihannya. Semua kesedihannya benar-benar ia tumpahkan.
Pak Budi yang berada di samping Abi pun tidak dapat menahan kesedihan nya pula.
Tidak lama kemudian, salah seorang petugas pihak berwenang yang mengurus evakuasi korban mendatangi Abi untuk pemulangan jenazah dari otoritas terkait disana melalui KBRI di Mesir.
Setelah mengetahui kepastian waktu pemulangan jenazah Mas Fariz dan Bik Siti. Abi segera mengajak Pak Budi untuk pulang dan menyiapkan semuanya.
Hati Abi diselimuti kecemasan, akan bagaimana ia mengatakan kabar duka ini kepada seluruh anggota keluarganya. Sambil berjalan semoyongan dan terkadang lunglai hendak terjatuh, air mata Abi terus mengalir tiada henti.
Pikiran dan hatinya terus berkelana dalam dimensi kesedihan yang membuat dirinya terkungkung untuk terus menangis.
Namun, Pak Budi selalu sigap menopang raga Abi yang berusaha untuk tetap kuat dan berdiri, meskipun harus tertatih dan terjatuh.
***
Setelah tiba di kediaman keluarga Imandar.
Pak Budi segera berkoordinasi dengan seluruh para pekerja di rumah tersebut dan membagikan kabar duka yang ia bawa.
Semua orang pegawai di rumah itu pun terkejut dan syok, bahkan ada yang jatuh pingsan karena tidak percaya akan berita yang mereka terima.
__ADS_1
Dengan cepat pula Pak Budi menghubungi Wirda dan memberitahu jika jasad Mas Fariz dan Bik Siti sudah teridentifikasi.
Pak Budi juga menghubungi Kak Rafa untuk memantau proses pemulangan jenazah Mas Fariz dari sana sambil mencari informasi tentang diriku.
Kak Rafa yang mendapatkan kabar duka dari Pak Budi begitu tidak percaya dan kuasa menahan kesedihannya. Tetapi Pak Budi mengingatkan Kak Rafa untuk tetap tegar dan kuat, karena saat ini seluruh anggota keluarga nya benar-benar berada dalam posisi terendah dan terlemah.
Di balik sambungan telepon dengan Pak Budi, Kak Rafa pun berusaha tegar dan menitipkan seluruh anggota keluarga nya sampai ia kembali ke Indonesia membawa jenazah Mas Fariz dan Bik Siti, juga mencari keberadaan ku yang belum di temukan.
"Nak Rafa, jangan berpikiran yang macam-macam. InsyaAllah, saya disini akan selalu menjaga keluarga Nak Rafa sampai Nak Rafa kembali, " ucap Pak Budi dari balik sambungan telepon.
Kak Rafa berterima kasih dan segera mencari penerbangan tercepat menuju Mesir, untuk
segera membawa pulang jenazah Mas Fariz.
Sementara itu, Wirda yang berada di rumah sakit terus menangis tersedu-sedu. Setelah mendapatkan telepon dari Pak Budi, jika Mas Fariz dan Bik Siti sudah teridentifikasi jenazahnya dan dinyatakan telah meninggal dunia.
Tangis Wirda pecah dan mengelegar, dimana Wirda tidak menyadari jika ucapannya itu di dengar oleh Ummah.
Ummah yang mendengar perkataan Wirda jika Mas Fariz sudah tidak ada langsung berteriak histeris dan menangis kencang.
"Fariz! anakku! huhuhu......, " pekik Ummah.
Bik Inah yang berada di samping Ummah pun langsung berusaha untuk menenangkan Ummah, tetapi apa daya kesedihan Ummah yang begitu besar sungguh membuat raga Ummah terus memberontak meluapkan kesedihannya.
Mendengar isak tangis Ummah. Wirda dan Tante Warti lalu memanggil dokter, setelah itu menghampiri Ummah.
Sambil terus menangis Wirda berusaha menenangkan Ummah, "Ummah... Ummah tenang ya Ummah. "
Tetapi Ummah tidak peduli dengan perkataan Wirda dan terus berteriak memanggil Mas Fariz tiada henti. Hingga dokter dan perawat yang datang segera memberikan obat penenang kepada Ummah.
Br ughhhh...
Tubuh Ummah lemas dan tidak sadarkan diri.
Wirda , Tante Warti dan Bik Inah memandangi tubuh Ummah yang terkulai lemas di atas ranjang pasien, dengan air mata yang berlinang.
__ADS_1