
Aku menggenakan gamis syar'i berwarna hitam dominan yang diberikan Ummah padaku. Bahannya halus, adem, dan tampak jatuh saat ku kenakan.Dan yang paling penting tidak menerawang, karena menggunakan furing premium di dalamnya. Dimana ada aksen bordir bunga yang memberi kesan unik dan tidak biasa, saat di kenakan. Sehingga terlihat begitu kontras dengan warna hitam. Aksen bordirnya yang memanjang memberi kesan mewah dan elegan tanpa terlihat berlebihan.Dan menurutku, penampilanku terlihat dewasa juga elegan.
Setelah selesai merapikan diri, aku pun menghampiri Wirda dan Bik Inah yang sudah bersiap menunggu diriku. Mereka memandang diriku dengan tersenyum.
"Masya Allah Tabarakallah, Nak Rani terlihat sangat cantik, " puji Bik Inah.
"Iya MasyaAllah, benar apa kata Bik Inah. Ummah memang pandai memilihkan gamis syar'i yang pantas untuk dirimu kenakan, sehingga terlihat sangat mempesona, " puji Wirda padaku.
"Jazakumullah khairan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membalas Wirda dan Bik Inah dengan kebaikan, " jawabku.
Aku bersama Wirda dan Bik Inah yang mengendong Fariz, langsung menuju ke halaman parkir hotel.
Sesampainya di halaman parkir hotel, semua orang sudah menunggu kami di dalam mobil. Dan setelah aku, Wirda dan Bik Inah masuk. Pak Budi segera menjalankan mobil yang ia kendarai.
Di dalam mobil aku hanya diam sambil memangku Fariz, dan tidak bertanya kepada Ummah atau yang lainnya, kemana kami akan pergi. Begitu pun dengan Ummah dan yang lainnya, juga terlihat tenang dan tidak berbicara apapun.
Pandangan mataku tertuju pada kaca jendela mobil, menikmati pemandangan indah yang terus menghipnotis indra penglihatan. Jalanan yang kami lalui terbilang lurus, dengan beberapa tanjakan. Dimana di sepanjang jalan mata terus dimanjakan oleh pemandangan ribuan batang pohon mangrove yang tumbuh menghijau di bibir pantai. Tidak jauh dari pohon-pohon penahan abrasi itu, mulai tampak perahu nelayan,di pantai berpasir berwarna putih kecoklatan, menyambut kedatangan kami dengan air laut yang begitu sangat jernih.
Setelah menempuh sekitar 50 menit perjalanan dengan menaikki mobil.
Aku memandang ke arah Ummah, "Kita ke Masjid Ummah?, " tanya ku.
Ummah mengangguk pelan dan mendekati ku, lalu Ummah meminta Bik Inah untuk menggendong Fariz. Kemudian, Ummah menggandeng lenganku untuk berjalan beririgan dengan dirinya.
Pandangan ku pun dibuat kagum akan arsitektur bangunan masjid tidak hanya menghadirkan kesucian tempat ibadah, tetapi juga tampak sangat indah. Karena berdekatan dan berdampingan dengan laut.
Pemandangan indah bangunan masjid tampak begitu memukau dilihat dari kejahuan dengan latar belakang perbukitan dan pegunungan yang ada jauh dari masjid.
Aku pun dapat melihat keindahan panorama alam di sekitarnya, dengan suasana nelayan yang sedang beraktivitas dilautan. Pemandangan masjid indah yang sungguh memanjakan mataku. Keindahan pemandangan masjid bisa dilihat dari arah masuk utama masjid yang di perindah dengan taman dengan beberapa pohon dan tanaman yang rindang dan apik.
Aku yang berjalan beriringan dengan Ummah dan yang lainnya,mulai memasuki kawasan masjid dan melewati taman bunga yang dilindungi pepohonan yang rindang. Dimana sebuah tempat wudhu berderet di sisi depan masjid untuk menyambut jama'ah atau pengunjung sebelum memasuki bagian dalam kompleks masjid. Terlihat ramai jama'ah yang datang dan berlalu lalang.
Selain keindahannya,masjid ini memiliki 4 menara dengan tinggi kurang lebih sekitar 44 meter, kata Abi yang terus bercerita kepada kami semua tentang arsitektur masjid. Warna masjid didominasi oleh warna hijau, putih dan krem,dengan kubahnya yang berwarna keemasan. Dan sungguh sangat indah sekali.
__ADS_1
Kemudian,kami semua berjalan menuju tempat berwudhu, untuk mengambil air wudhu, setelah selesai aku dan yang lainnya masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat tahiyatul masjid. Aku, Wirda dan Bik Inah menuju ke lantai atas, sedangkan Abi, Enjid dan Pak Budi tetap di lantai bawah.
Masjid ini cukup besar, dimana pada bagian masjid di bawah untuk shalat para pria sedangkan untuk wanita disediakan di bagian atas.Interior kubah masjid dilukis cantik didominasi warna hijau.
Lokasi Masjid yang berdampingan dengan laut ini, memiliki pemandangan tersendiri yang syahdu, sehingga membuat jama'ah betah akan keindahan yang ditawarkannya. Apalagi saat sedang salat,terdengar deburan ombak, yang menjadi sensasi kenyamanan tersendiri.Masjid ini sungguh di buat nyaman untuk beribadah. Dari pintu yang menghadap ke arah pantai, kita bisa memandang birunya laut dan merasakan angin sepoi-sepoi. Membuat masjid ini menjadi lebih sangat menarik.
Setelah mengerjakan salat tahiyatul msalat, aku duduk berdekatan dengan Ummah, Wirda dan Bik Inah yang memangku Fariz. Serta jama'ah perempuan lainnya.
Dari tempat ku berada di atas, pandangan mataku pun dapat langsung melihat ke arah Ustad yang akan memberikan ceramah.
Terlihat para jama'ah terlihat memenuhi masjid. Dan di saat pandangan mataku memandang ke arah sekitar ku, di lantai atas masjid, dengan mengagumi arsitektur keindahan di dalam masjid.
Tiba-tiba, indra pendengaran ku di kejutkan akan suara merdu nan indah seseorang dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Aku pun langsung menolehkan kepala ku, untuk memandang ke bawah pada mimbar.
Sekali lagi diriku di buat terkejut dan tersentak, melihat Kak Reno yang berada disitu.
"Siapa yang dapat menduga akan rencana Allah akan takdir seseorang. Termasuk Nak Reno yang benar-benar telah berhijrah memperbaiki dirinya. Dimana hijrahnya bukan hanya sekedar berubah saja, bukan hanya sekedar tampilannya menjadi religius, bukan juga sekedar casingnya saja. Namun, Ummah sungguh melihat hijrah Nak Reno begitu menuntun dirinya untuk selalu berilmu dan beramal di jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, " ucap Ummah memandang ke arah Kak Reno.
Hatiku bergetar tak percaya, menyaksikan perubahan dirinya yang begitu sangat jauh berbeda dari dirinya yang dulu ku kenal.
Tanpa kusadari Ummah sedari tadi mengawasi diriku yang terpana melihat Kak Reno berdiri di mimbar.
Jemari tangan Ummah mengusap kepalaku pelan dan lembut.
"Setiap orang punya kesempatan untuk dapat berubah menjadi baik, sayang. Hal ini juga berlaku pada Reno, " ucap Ummah pelan dan tersenyum padaku.
Aku menatap Ummah yang seakan sedang menunjukkan sesuatu kepada diriku.
Dalam gemuruh suara lantang Kak Reno, Ummah membalas tatapan ku untuk menyimak tausyiah yang di sampaikannya hingga selesai.
Tiga puluh menit telah berlalu, Kak Reno telah selesai menyampaikan tausiyah nya. Aku begitu masih tidak percaya, dengan apa yang telah ku saksikan.
__ADS_1
Waktu terus bergerak maju, dimana para jama'ah perempuan banyak yang telah turun dari lantai atas. Ummah pun menarik tanganku pelan, untuk turun ke bawah menemui Abi, Enjid, dan Pak Budi yang sedang berbicara dengan Kak Reno.
Tiba-tiba, aku menolak ajakan Ummah dengan alasan bahwa diriku tidak ingin bertemu Kak Reno.
Ummah kembali duduk dan memegang pipiku dengan kedua tangan nya, dan berkata serius padaku.
"Di dalam kehidupan manusia tidak lepas dari kesalahan,baik itu kesalahan besar ataupun kesalahan kecil.Sama halnya dengan apa yang pernah Reno lakukan, sayang. Karena,itu adalah sifat manusiawi yang umum ditemui pada diri setiap orang.Sehingga,tugas manusia hanyalah berikhtiar untuk berbuat yang terbaik, menghindari kesalahan semaksimal mungkin di dalam hidupnya.
Tetapi memang, ada kalanya manusia melakukan kesalahan dengan sengaja, seperti apa yang telah Reno dan keluarga nya lakukan padamu, nak.
Tetapi kamu juga harus mengetahui, dimana kesalahan-kesalahan kecil atau besar yang pernah dilakukan oleh Reno terkadang membuatnya menjadi seorang pendosa, yang terpenjara karena kesalahannya. Dan dicemooh karena kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalunya."
Aku memandang wajah Ummah yang masih terus melanjutkan perkataannya.
"Bukankah Reno sudah mendapatkan hukuman dari semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Bahkan hukuman yang ia terima telah melampaui semua ketidakberdayaan seorang manusia. Dimana ia hanya seorang diri melawan balasan atas perilakunya, dengan perginya semua anggota keluarganya, materi, kasih sayang, bahkan kepergianmu dari dirinya. "
Aku menelan air ludah ku mendengar perkataan Ummah.
Ummah pun mengusap kepalaku lembut.
"Kini engkau dapat melihat perubahan yang terjadi pada Reno.Dimana bertaubat adalah jalan satu-satunya yang ia pilih, untuk kembali pada jalan kebenaran. Dan menghindar dari berbagai dosa dan kesalahan di masa lalunya.Semua proses yang ia lalui tentu tidaklah muda sayang, semua itu telah merenggut kebahagiaan dalam hidupnya. Tetapi lihatlah sekarang Reno dapat berdiri dengan tegar, setelah ia mampu melewati badai ujian yang sangat buruk dan ganas, yang menghantam proses hijrah nya. "
"Lalu apa maksud dan tujuan Ummah mengatakan semua ini pada Rani?, " tanya ku.
Ummah mengenggam jemari tanganku, seraya berkata, "Dirimu memang berhak mempunyai penilaian pada Reno. Dan masa lalunya adalah salah satu objek penilaiannya. Namun, terkadang nak jika kita terlalu melibatkan perasaan kebencian terhadap masa lalu seseorang dalam menilai dirinya, hingga penilaiannya sudah tidak objektif lagi.Maka itu adalah kesalahan. Reno dengan masa lalunya yang kelam masih punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.Karena ia punya niat yang bersih, menyesal pada perilakunya dahulu dan meminta ampunan pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan meminta maaf seseorang yang pernah disakitinya,yaitu dirimu.Tapi sayang, terkadang nasi sudah menjadi bubur, dimana norma sosial selalu mendominasi bahwa keburukan seseorang di masa lalunya dipercaya sebagai watak yang tidak akan pernah hilang darinya. "
"Apa yang ingin Ummah coba katakan pada Rani?," tanyaku lagi.
Ummah tersenyum padaku, "Ummah ingin kamu memberikan Reno kesempatan dan membuka hatimu untuk nya serta mengubah penilaian mu terhadap dirinya, sayang. "
Aku melepaskan genggaman tangan Ummah, "Maafkan Rani Ummah. Rani belum bisa sekarang, dan belum mampu untuk melakukannya. "
"Iya sayang Ummah tahu dan paham. Tidak harus sekarang dengan membuka celah di hatimu sangat lebar, tetapi bukalah sedikit demi sedikit, sampai hatimu merasa mampu. Allah dan dirimu lah yang lebih tahu juga paham akan kondisi hatimu. "
__ADS_1
Aku masih diam mendengarkan perkataan Ummah.
Tidak lama kemudian, Ummah mengajakku untuk turun ke bawah, tapi diriku masih tidak bergeming. Hingga berulang kali Ummah berusaha meyakinkan diriku, dan membuat hatiku luluh ,untuk turun bersama nya menemui seseorang yang tidak ingin kutemui lagi.