
Wirda dan Bik Siti membantuku berdiri untuk kembali ke atas ranjang pasien.
"Ya Allah, Nak Rani kenapa sampai bisa terjatuh?, " ucap Bik Siti dengan wajah sangat cemas.
"Ran, apa yang kamu rasakan?, " tanya Wirda juga dengan khawatir sambil membetulkan kerudung ku.
Tetapi aku masih diam dan tidak merespon ucapan Bik Siti atau pun ucapan Wirda.
Hatiku terasa kosong setelah penglihatan ku sekarang. Semuanya terasa hitam dan sepi.
"Nak Rani baik-baik saja kan?, " Sela Pak Budi.
"Ran... Rani... !, " teriak Wirda pelan seraya memecahkan lamunan ku.
"Nak Rani...!, " panggil Bik Siti pula kepadaku.
"Astaghfirullah... Nak Rani kenapa diam saja nak, " sahut Pak Budi.
"Dek Rani... Dek Rani, " ucap ustad Fariz memanggil namaku.
Tetapi semua panggilan dari Wirda , Bik Siti, Pak Budi dan Ustad Fariz tidak membuatku tersadar dari pikiran dan hatiku yang mulai merasa sepi dan kosong seketika. Aku seolah-olah berada sendirian dalam suatu dimensi yang membatasi ku dengan mereka semua. Rasanya hatiku begitu sesak dan sangat nyeri .Tetapi entah kenapa rasa sakit itu tidak membuat air mataku mengalir dan tumpah begitu saja. Apakah mungkin kebenaran yang aku terima sungguh sangat menyakitkan.Hingga kesedihan yang berwujud dari air mataku tidak dapat keluar dan menetes untuk mengekspresikan rasa terkejut dan terpukul akan takdir yang Allah berikan kepadaku.
Apa yang harus aku lakukan dan perbuat sekarang,batinku. Rasanya aku benar-benar merasa sendirian.Lalu kepada siapa lagi aku harus menggantungkan asa dan hidupku. Jika aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ukh, rasanya sungguh sangat berat jika dalam keadaanku sekarang aku harus terus meminta belas kasihan kepada Wirda,Bik Siti ,Pak Budi maupun Ustad Fariz. Lalu harus sampai kapan aku bergantung kepada bantuan mereka semua. Bukankah selama ini diriku telah banyak menyusahkan mereka. Dan dengan keadaanku sekarang aku akan semakin menambahkan kesusahan dan kepayahan mereka. Semua itu adalah pertanyaan yang terus muncul memenuhi pikiranku.
Hatiku terus bergejolak dan berkecamuk dengan pikiran yang aku pertanyakan sendiri. Wirda, Bik Siti ,Pak Budi dan Ustad Fariz berulang kali memanggilku supaya aku segera merespon perkataan mereka.Tetapi aku masih saja tetap diam. Terpaku dan membatu berkelana dalam keputusasaan yang menggerogotiku secara perlahan. Mereka begitu dekat denganku tetapi untuk sesaat aku merasa sangat jauh dari mereka. Dan lagi aku terus larut dalam ketakutan akan buah dari pikiranku sendiri.
Perlahan kurasakan Wirda memegang kedua pipiku sambil berulang kali memanggil namaku . "Rani ...Rani !,"ucap Wirda dengan sedikit berteriak keras. Namun, aku tetap diam dengan tatapan kosongku. Wirda yang melihat keadaanku semakin tidak dapat menahan rasa sedihnya. Hingga ia terus berteriak berkali-kali menyebut namaku ."Rani....Rani...jawab Ran! kamu jangan diam seperti ini. Tolong katakan sesuatu. Jika kamu diam seperti ini ,aku semakin takut dan mengkhawatirkan keadaanmu. Huhuhuhuhu....hiks..hiks...., "ucap Wirda dengan penuh rasa cemas dan menangis tersedu-sedu.
Lalu Wirda memelukku sangat erat sekali. Seakan ia ingin menunjukkan kepadaku bahwa ia ada dan berada di sisiku untuk menguatkanku dalam keadaan terburukku saat ini. Kemudian Wirda menggenggam tanganku sambil menangis dan seraya berkata," Huhuhuhuhu.......hiks..hiks..Ran kamu jangan seperti ini aku sungguh tidak kuat dan tahan melihatmu bersedih seperti ini. Kamu tidak sendirian. Ada aku, Bik Siti, Pak Budi dan Ustaz Faris yang akan selalu mendukung dan membantumu di setiap kamu mendapatkan kesulitan. Hiks...hiks...hiks,"ucap Wirda pelan sambil terus menangis. "Dan satu hal lagi, dimana Rani yang kukenal dulu. Rani yang tangguh dan kuat serta selalu sabar dalam menghadapi setiap musibah yang selalu menimpanya. Ia tidak pernah gentar atau pun takut. Meskipun berulang kali Allah memberikan ujian dan cobaan yang begitu sangat berat kepadanya. Lalu Mengapa Rani yang kukenal sekarang menjadi lemah seperti ini ?Hiks....hiks..,.hiks...Aku mohon bicaralah sesuatu Ran dan jangan diam seperti ini, " ucap Wirda lagi seraya memegang pipiku.
" Iya Nak Rani Bik Siti Mohon,Nak Rani jangan diam saja. Katakanlah sesuatu nak Rani.Bibi juga sangat mengkhawatirkan keadaan Nak Rani. Apakah Nak Rani tidak mau berbicara lagi dengan Bik Siti?,"tanya Bik Siti sambil melihat wajahku dan mengusap kepalaku dengan lembut.
Dalam diam dan lamunanku sebenarnya samar-samar aku mendengar semua perkataan Wirda dan Bik Siti. Tetapi tetap saja hatiku seolah-olah beku dan lidahku terasa enggan untuk mengatakan apapun juga. Kebenaran yang telah aku dengar seketika telah meruntuhkan pondasi kekuatanku dan keyakinan yang aku bangun bahwa aku akan segera pulih dan segera mendapat penglihatanku kembali.Tetapi nyatanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menginginkan takdir yang lain untukku. Jika aku dapat ,aku ingin berteriak sekencang dan sekeras-kerasnya untuk meluapkan akan rasa tertekan ku. Rasanya aku begitu lelah dan letih terus berada pada titik terendah dan bahkan paling tersuram dalam hidupku. Saat ini setidaknya jika aku dapat melihat. Aku dapat berjuang untuk mempertahankan diriku sendiri dalam menghadapi semua cobaan ataupun derita yang harus aku pikul. Tetapi sekarang aku tidak memiliki tumpuan dan tidak memiliki kekuatan. Aku tidak dapat melihat. Aku kehilangan penglihatanku dan Aku telah menjadi buta.
Tesss.... Tess... Tess...
Air mataku menetes perlahan lalu mengalir membasahi kedua pipiku.
"Ran..!, "panggil Wirda padaku sambil mengusap air mataku dan kembali memelukku.
Huhuhuhuhu..... Huhuhuhuhu.... Hiks... Hiks..
Air mata Wirda tumpah. Dan dia menangis sekeras-kerasnya.
Begitu pula dengan Bik Siti yang tidak dapat menahan rasa sedihnya.
"Huhuhuhuhu... Hiks... Oalah Nak Rani, hiks... hiks...., " ucapnya lirih dengan tangisnya.
Pak Budi, ustad Fariz dan Kak Rafa pun tersentuh melihat cerai air mata kami.
Semua terhanyut dalam luapan emosi kesedihan.
"Untuk sementara waktu ,kita biarkan Dek Rani supaya tenang dahulu. Biarkan Dek Rani sendiri untuk menyiapkan keikhlasan hatinya menerima kebenaran yang memang harus ia ketahui cepat ataupun lambat. Dan mungkin sekarang Dek Rani masih dalam keadaan shock dan terkejut mendengar pembicaraan kita tadi. Tetapi Insya Allah saya yakin dengan segera pula Dek Rani akan kembali seperti biasa. Dia adalah gadis yang tangguh kuat dan tidak mudah menyerah dalam sepengetahuan saya mengenal Dek Rani dalam waktu yang singkat ini. Dan untuk itu,mari kita semua memberi ruang untuk Dek Rani agar ia menerima apa yang telah Allah takdirkan untuknya.Meskipun dalam pemahaman kita sebagai manusia yang biasa cobaan yang Dek Rani hadapi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan dan terasa tidak adil .Tetapi kita tidak tahu apa yang Allah telah rancang dan rencanakan untuk kehidupan Dek Rani selanjutnya, "ucap ustad Fariz kepada semua orang yang berada di ruangan tempatku dirawat.
" Iya Kak Fariz, "sahut Wirda sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu agar Dek Rani sedikit lebih tenang sebaiknya Dek Wirda dan Bik Siti mengajak Dek Rani berjalan-jalan di taman rumah sakit dan saya akan ikut serta, " ucap ustad Fariz.
"Betul Nak Fariz, saya setuju, " ucap Bik Siti yang telah mengusap air matanya.
"Baiklah tetapi sebelum itu ada baiknya kita berkonsultasi dulu kepada dokter untuk melihat keadaan Dek Ranisekarang.Sekaligus meminta izin kepada dokter apakah Dek Rani boleh kita bawa keluar ke taman di rumah sakit ini, "ucap ustad Fariz pada Wirda dan Bik Siti.
" Kalau begitu biar Pak Budi saja yang memanggil dokter dan perawat kemari, "sahut Pak Budi.
"Baiklah Pak Budi silahkan ,"ucap Ustad Fariz kepada Pak Budi.
Lalu tidak lama kemudian Pak Budi keluar untuk memanggil dokter dan perawat memeriksa keadaanku.
Dan tidak lama setelah itu dokter dan perawat datang bersama Pak Budi dan melihat keadaanku yang masih termenung dan diam saja.
" Bagaimana keadaan Nak Rani dok?, "tanya Bik Siti cemas.
"Keadaan pasien Alhamdulillah saat ini baik dan tidak ada masalah yang serius. Kemungkinan pasien masih dalam keadaan syok atau terkejut mendengar sesuatu yang membuatnya merasa tegang sehingga memicu rasa kepanikan yang tinggi di dalam dirinya. Tetapi pelan-pelan pasien bisa kembali seperti semula setelah ia merasa rileks atau hilang dari rasa tertekannya, "jelas dokter kepada semua orang.
"Oh ya Dok ,kalau begitu bolehkah Dek Rani dibawa berjalan-jalan di taman rumah sakit untuk menghirup udara segar supaya membuatnya lebih fresh dan rileks ,"tanya Ustad Fariz kepada dokter.
"Oh tentu boleh sekali.Sebab hal itu sangat baik untuk perkembangan mental ,pikiran dan hati pasien saat ini. Lagi pula pasien sudah dalam keadaan membaik dan Insya Allah besok pasien boleh dibawa pulang. Karena saat ini yang dibutuhkan pasien yaitu dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat untuk memulihkan kepercayaan diri, kekuatan dan keyakinannya untuk menerima keadaannya sekarang .Sambil menunggu kita mendapatkan donor mata untuk pasien. Maka dari itu sangat penting peran dari orang-orang terdekatnya memotivasi pasien. Sehingga meningkatkan semangat hidupnya untuk beraktivitas seperti biasa ,"jelas dokter lagi secara rinci .
"Baiklah dok, terima kasih atas penjelasannya, "ucap Ustad Fariz kepada dokter .
"Iya sama-sama nak Faris .Kalau begitu saya permisi dulu dan nanti akan saya buatkan resep yang harus diminum Dek Rani untuk mengobati saraf-saraf yang ada di kepalanya akibat cedera.Nanti silahkan Nak Fariz menembusnya di apotek saat besok Dek Rani akan pulang, "ucap dokter lagi.
"Baik dok terima kasih, "sahut Ustad Fariz.
Tidak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang tempatku dirawat. Meskipun semua orang masih dalam rona kesedihan, tetapi masih ada kebahagiaan yang terselip yaitu mendengar bahwa keadaanku baik-baik saja dan aku dapat segera pulang meninggalkan Rumah Sakit tempatku dirawat.
Perlahan dengan dibantu oleh Pak Budi, Bik Siti dan Wirda.
" Pak Budi,Dek Wirda dan Bik Siti silahkan mengajak Dek Rani menuju taman di rumah sakit dulu. Sementara itu saya dan adik saya Rafa akan menyelesaikan administrasi pembayaran di rumah sakit dan menebus resep obat yang telah dokter berikan tadi kepada saya. Sehingga besok kita dapat langsung membawa Dek Rani untuk segera pulang, "ucap ustad Fariz kepada Wirda, Bik Siti dan Pak Budi yang mengangguk bersamaan.
"Nanti setelah semua administrasi dan pengambilan obat telah selesai. Saya dan adik saya Rafa akan segera menyusul Pak Budi ,Dek Wirda dan Bik Siti di taman rumah sakit, "ucap Ustaz Fariz lagi.
Dan tidak lama setelah itu Ustad Fariz bersama adiknya Rafa pergi ke tempat pembayaran administrasi biaya rumah sakit sedangkan Pak Budi ,Wirda dan Bik Siti membawaku menuju taman yang berada di rumah sakit.
Kami turun dan berjalan dengan arah yang berbeda.
Sesampainya aku , Wirda Bik Siti dan Pak Budi di taman rumah sakit. Dalam diam aku dapat merasakan dengan lembut belaian angin yang semilir.Kurasakan semilir angin yang bertiup menyapaku dengan menebarkan wangi harumnya bau bunga yang mengusik hening ku.
Alam seolah menggoda ku untuk terbangun dari rasa kesedihanku dan bermain menikmati suasana teduh ini.
"Nak Wirda dan Bik Siti. Pak Budi ke sana sebentar ya, " ucap Pak Budi sambil menunjuk pada kantin di rumah sakit. "Bapak ingin membeli minuman hangat. Apakah Nak Wirda atau Bik Siti ingin menitip sesuatu?,"tanya Pak Budi kepada Wirda dan Bik Siti.
"Tidak Pak , "jawab Wirda.
" Bik Siti?, "tanya Pak Budi.
" Saya tidak Pak, sudah kenyang tadi makan yang di belikan Nak Fariz, "jawab Bik Siti.
" Ya sudah jika begitu, saya ke sana dulu, "ucap Pak Budi.
Wirda dan Bik Siti pun mengangguk bersamaan.
__ADS_1
Sementara Pak Budi pergi menuju kantin.
Wirda dan Bu Siti tetap menemaniku.
Mereka berdua duduk pada kursi panjang yang ada di taman. Sedangkan aku duduk di kursi roda di hadapan mereka.
" Ran, apakah sekarang kamu merasa lebih baik?, "tanya Wirda sambil memegang lembut pundakku.
Lalu aku pun mengangguk pelan dan Wirda tersenyum senang melihatku merespon pertanyaannya.
" Rani!, "teriak seseorang memanggil namaku.
Terdengar oleh indra pendengaran ku langkah kakinya seraya berlari cepat menuju ke arahku.
" Kak Roy, "ucap Wirda terkejut.
" Apa yang kakak lakukan disini? Dan apakah kakak sudah baik?, "tanya Wirda lagi.
Namun, Kak Roy tetap diam dan terus menatap ke arahku.
BRuggggg...
Kak Roy jatuh terduduk di hadapanku sambil menatap wajahku.
Wirda dan Bik Siti sedikit bingung dan cemas melihat tingkah Kak Roy seperti itu.
" Nak Roy ada apa?, "tanya Bik Siti.
Tetapi ia tetap diam dan terus memandangi wajahku.
" Kak Roy kenapa?, "tanya Wirda cemas.
Kak Roy tidak menggubris pertanyaan dari Wirda.Ia terus diam dan tidak berhenti menatapku hingga air matanya pun mengalir membasahi pipinya.
" Ran!, "ucap Kak Roy dalam sambil terus menangis.
Tetapi aku juga tetap diam.
" Nak Roy kenapa menangis?, "tanya Bik Siti.
Kak Roy menundukkan kepalanya dan semakin menangis terisak-isak.
Huhuhuhuhu.... Hiks.... Hiks... Hiks..
Wirda dan Bik Siti pun bingung dengan sikap aneh Kak Roy.
Wuzzz....
Angin bertiup sedikit kencang.
Perlahan Kak Roy mengangkat kepalanya dan menatapku lagi.
" Ran... Maafkan kakak yang tidak bisa melindungimu, sehingga kini engkau kehilangan penglihatanmu.Hiks.... Hiks... Hiks...., "ucap Kak Roy menangis tersedu-sedu dengan penuh penyesalan.
Wirda dan Bik Siti terkejut mendengar Kak Roy berkata seperti itu.
__ADS_1
Dari mana Kak Roy tahu jika Rani kehilangan penglihatannya, ucap Wirda dalam hati sambil memandang wajah Kak Roy.
Sementara itu dari kejauhan Rere memandang ke arah kami dengan tatapan sinis.