Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kabar duka.


__ADS_3

Aku duduk sendiri pada kursi di beranda luar kamar tempat tidurku dan Winda berada.Dalam kesendirian pikiranku terus tertuju akan Kak Reno.Perkataannya terus terngiang dan berulang di dalam pikiranku.Meskipun diriku berusaha untuk tidak peduli.Tetapi entah mengapa semua yang Kak Reno katakan terekam jelas di dalam pikiranku.


Hufh,kuhela nafasku sekedar melepas penat akan beban perasaan yang mengganjal di hatiku.


Semilir sapuan angin yang lembut sedikit membuat perasaanku nyaman.Dalam gelapnya pandanganku kudengar langkah kaki seseorang berjalan mendekat ke arahku."Apa yang kamu pikirkan Ran? kenapa sepulang dari bertemu Kak Reno aku melihat dirimu banyak diam dan termenung Ran?,"ucap Wirda yang rupanya duduk di sampingku.


Aku sedikit kaget mendengar pertanyaan Wirda yang dapat melihat kegelisahan yang kurasakan,"Bagaiamana engkau tahu Wir jika aku memikirkan sesuatu?".


Wirda terdengar tertawa kecil mendengar ucapanku,"Tentu saja aku tahu Ran.Mimik wajahmu menggambarkan kegelisahan hatimu.Lagi pula aku sudah lama mengenalnya Ran,sehingga aku tahu kapan engkau merasa senang,sedih atau sedang memikirkan sesuatu seperti sekarang ini".


Aku pun tidak berusaha menyangkal dari Winda akan rasa gusar yang kurasakan sekarang."Iya Wir,setelah bertemu Kak Reno aku merasa gusar setelah mendengarkan perkataannya.Entah apakah aku terpengaruh akan kata- katanya atau perasaanku merasa iba akan keadaannya sekarang.Tetapi saat aku tadi bicara dengannya.Kak Reno terdengar berbeda tutur katanya.Dia seperti bukan Kak Reno yang arogant,kejam dan penuh kebencian kepadaku.Tetapi sudahlah mungkin hanya perasaanku saja.Aku terlalu takut untuk menerka sikapnya yang nanti tiba- tiba dapat berubah menjadi tipuan kembali".


Dengan perlahan Wirda meletakkan jemari tangannya di atas jemari tanganku seraya menghela nafas, "Ran, aku berharap kamu move on dan tidak terbawa perasaan setelah dirimu mendengar perkataan Kak Reno. Sebab aku tahu hatimu itu lembut dan sangat mudah bersimpatik terhadap kesedihan orang lain, " ucap Wirda sambil menepuk jemari tanganku sambil menarik tanganku untuk bediri mengikutinya.


"Mau kemana Wirda?, " tanyaku.


"Sudah ikut saja, ayo!, " jawab Wirda sambil menarik tanganku perlahan.


Wirda pun lalu menuntunku keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga hingga akhirnya langkah kaki kami terhenti.


Terdengar di telingaku suara gemercik air perlahan dan hembusan udara segar.


Ugh, aku sedikit menarik nafas merasakan aroma wangi bunga melati dan kenanga yang membius indra penciumanku.


Lalu Wirda membantuku duduk di kursi pada taman belakang rumah Ustad Fariz.


"Bagaimana perasaanmu sekarang Ran? Apakah sudah merasa jauh lebih baik dan lebih tenang ?,"tanya Wirda kepadaku sambil duduk di sampingku .


"Iya Wir aku merasa jauh lebih baik dan tidak terlalu terasa penat di hatiku, "jawabku dengan senyum.


"Kalau begitu aku senang mendengarnya Ran. Oh ya ada sesuatu yang Inginku sampaikan kepadamu, " kata Wirda dengan nada suara ragu dan bimbang.


"Iya katakan saja Wir, apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku .Insya Allah aku siap mendengarkannya, "kataku dengan tenang. Wirda terdiam beberapa saat dan seolah berpikir untuk menceritakan kebimbangan yang ada di hatinya kepada diriku, " Ini mengenai Kak Rafa, Ran. Setelah pulang mengantarmu menemui Kak Reno dalam menghadiri sidangnya Kak Reno. Tadi Kak Rafa berbicara lagi kepadaku dia menanyakan tentang perasaanku dan benar-benar ingin melamar diriku untuk menjadi istrinya. Sungguh Ran, aku sangat terkejut dan begitu galau untuk menjawab pertanyaan Kak Rafa yang secara tiba-tiba membuatku begitu syok dan tidak tahu harus berbuat dan berkata apa. Menurutmu bagaimana Ran?".

__ADS_1


" Mengapa kamu bertanya tentang pendapatku Wir.Semua hal ini hanya dapat dijawab oleh dirimu sendiri. Bukankah aku sudah mengatakan jika akan lebih baik kalau dirimu melibatkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam keputusanmu yaitu dengan salat istikharah dan banyak berdoa kepada Allah untuk memohon petunjuk dariNya atas kebimbangan dan keraguan yang kau rasakan sekarang. Dan satu hal lagi tanyakan ke dalam hati kecilmu apakah dirimu yakin dan memiliki perasaan juga terhadap Kak Rafa itu yang penting Wirda," ucapku seraya menggenggam jemari tangan Wirda,"Dan aku yakin Wir. Insya Allah kamu akan dapat memutuskan hal yang terbaik untuk dirimu".


" Iya Ran baiklah," jawab Wirda dengan sedikit lesu.


Mendengar jawaban Wirda yang tidak semangat aku pun berusaha untuk membuatnya kembali ceria, "Tadi sebelumnya dirimu yang membuatku tidak boleh menjadi gusar Wirda. Lalu sekarang kenapa kamu menjadi tidak bersemangat. Dengarkan kataku Wir, pasrahkan dan serahkan semua kepada Allah. Sekarang kamu harus ceria dan semangat lagi ya".


" Iya Ran, tentu saja, "sahut Wirda.


Dan disaat aku dan Wirda saling berbincang sambil sedikit bergurau tiba-tiba terdengar langkah kaki yang berjalan begitu cepat ke arah kami. Aku pun berusaha mencari sumber suara itu dan berhenti berbicara dengan Wirda.


"Nak Wirda dan Nak Rani ,"panggil suara itu yang tidak lain adalah Pak Budi dengan nafasnya yang terengah-engah. Aku yang mendengar suara nafas Pak Budi yang naik turun tidak beraturan segera bertanya kepadanya, " Apa yang sekiranya membuatnya Pak Budi seperti habis dikejar-kejar sesuatu Pak? ".


" Hah.. Hah.. Hah.. Hah..., "masih terdengar suara Pak Budi yang tidak beraturan dan berusaha mengatur ritme napasnya.


Melihat Pak Budi yang seperti orang syok dan sangat tidak seperti biasanya. Membuat Wirda dengan segera menyuruh Pak Budi untuk duduk . Kemudian Wirda mengambil cup air mineral yang ada di meja di dekat tempatku dan Wirda duduk dan memberikannya kepada Pak Budi. Dan langsung saja dengan segera Pak Budi pun langsung menyedot habis air mineral dari cup plastik tersebut. Sementara aku dan Wirda masih menunggu akan keterangan dari sikap aneh yang Pak Budi tunjukkan kepada kami.


" Apa yang sebenarnya terjadi Pak Budi? apakah Pak Budi baik-baik saja?,"tanyaku dengan khawatir dan cemas. Tetapi Pak Budi masih belum bisa berbicara dan mengeluarkan kata-kata kepadaku.


Aku yang mendengar Kak Rafa mencoba untuk menggoda Wirda lagi dengan cepat menimpali perkataan Kak Rafa agar Wirda tidak merasa salah tingkah dan semakin malu atas perkataan Kak Rafa kepada dirinya ,"Aduh Kak Rafa baru datang saja sudah langsung menggoda Wirda. Kasihan kan Wirda menjadi malu lho Kak Rafa".


" Kak Rafa tidak menggoda Dek Wirda, Dek Rani .Kak Rafa mengatakan yang sebenarnya memang semakin hari setiap Kak Rafa melihat Dek Wirda terlihat parasnya semakin terlihat berseri dan semakin terlihat sangat cantik ,Masya Allah, "ucap Kak Rafa sambil tersenyum .


Maka Wirda yang sejak semula sudah merasa salah tingkah dengan perkataan Kak Rafa menjadi semakin grogi dan terdiam mendengar kata-kata Kak Rafa yang terus menggodanya.Lalu aku yang mengetahui jika Wirda benar-benar merasa tidak nyaman dan malu akan ucapan Kak Rafa. Dengan segera aku mengalihkan pembicaraan, "Oh ya Ustad Fariz tadi Pak Budi kemari dengan sedikit tergopoh-gopoh dengan suara yang terengah-engah.Sebenarnya apa yang terjadi kepada Pak Budi,ustad?karena sejak dari tadi Rani berusaha untuk bertanya kepada Pak Budi.Namun Pak Budi juga belum menjawab pertanyaan Rani ,"tanyaku kepada ustad Fariz.


Mendengar pertanyaanku kepada Ustad Fariz. Kak Rafa segera menghentikan candaannya kepada Wirda .Dan ia juga fokus melihat ke arah Ustad Fariz begitu pula dengan Wirda dan Pak Budi. Sementara aku masih menunggu dengan perasaan penuh tanya akan sikap yang Pak Budi tunjukkan. Terdengar olehku Ustad Fariz membetulkan duduknya dengan menyeret kursi agak sedikit mundur menjauh dariku dan menghadap ke arah semua orang.


" Iya Dek Rani.Mungkin Pak Budi masih merasa syok dan terguncang untuk menyampaikan berita yang kurang baik dan tidak enak didengar kepada Dek Rani ,"ucap Ustad Fariz dengan pelan kepadaku. Aku yang mendengar jawaban dari Ustad Fariz sedikit merasa bingung dan semakin ingin tahu ,"Maksud Ustad Fariz berita apa yang membuat Pak Budi terlihat sangat terguncang dan tidak dapat berkata-kata seperti itu".


Kudengar dengan pelan Ustad Fariz menghela nafasnya beberapa kali untuk berusaha membuatnya tenang dalam menyampaikan berita yang telah ia terima kepada diriku .Sementara Pak Budi masih terdiam tanpa dapat berkata apapun. Hatiku semakin merasa berdebar dan penuh kecemasan untuk mendengar perkataan yang keluar dari bibir Ustad Fariz akan hal penting apa yang ingin dia katakan kepadaku.


" Sebenarnya saya sendiri juga sangat sulit untuk menyampaikan apa yang ingin saya katakan kepadamu Dek Rani.Tetapi bagaimana pun juga Dek Rani harus tahu akan kebenaran hal ini dan juga harus mengetahuinya .Meskipun saya dan semua orang ingin menutupinya tetapi lambat laun Dek Rani juga akan mengetahuinya, "ucap Ustad Fariz berusaha untuk menenangkanku.Mendengar perkataan dari Ustad Fariz hatiku semakin berdebar tidak menentu. Kegelisahan menyeruak dalam diriku. Dengan debar jantungku yang terus berdetak semakin kencang.


" Dek Rani. Kami mendapatkan informasi dan kabar bahwa Dek Roy mengalami kecelakaan yang sangat parah dan hebat".

__ADS_1


DEG.. DEG...


Kerongkongan ku terasa tercekik dan nyeri mendengar ucapan Ustad Fariz .Begitu pula hatiku terasa sakit dengan nafas menjadi tersengal dan sesak.


Dengan ucapan terbata aku berusaha meyakinkan diriku sendiri akan kebenaran yang kudengar dari Ustad Fariz, "A... Aa... Apa yang Ustad Fariz katakan? ".


Wirda dengan segera bergeser mendekatkan duduknya kepadaku dan mengusap bahuku dengan lembut. Dia berusaha juga untuk membuatku tenang. Meskipun aku juga tahu Wirda sama terkejutnya dengan diriku. Ustad Fariz terdiam dan tidak meneruskan kata-katanya sembari menghela nafasnya berulang untuk menyusun kata-katanya kembali kepadaku. Dan aku masih begitu sangat syok dan begitu terguncang akan berita yang ku dengar ini.


" Saya akan mengatakan kabar yang mungkin akan membuat Dek Rani dan semua orang sangat merasa terkejut dan bersedih. Tetapi saya mohon untuk Dek Rani ikhlas dan menerima ketetapan yang sudah Allah Subhanahu Wa Ta'ala gariskan, "kata Ustad Fariz dengan tenang dan lembut.


DEG... DEG... DeG...


Irama detak jantungku pun semakin berdetak cepat sekali dengan perasaan yang semakin tidak menentu dan begitu sangat gelisah. Aku pun memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi . Sehingga Pak Budi tidak langsung mengatakannya kepadaku .


"Tolong Ustad Fariz katakan saja apa yang sebenarnya yang terjadi .Rami semakin merasa tidak enak dan begitu gelisah, "pintaku dengan sungguh-sungguh kepada Ustad Fariz.


"Baiklah jika Dek Rani memang benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan saya mohon Dek Rani tetap tenang dan menerimanya dengan ikhlas ya ,"tutur Ustad Fariz kepadaku. Aku pun mengangguk dengan perlahan, "Iya Ustad.Insya Allah ,jawabku dengan nada suara masih ragu dan bimbang.


"Innaa lillahi waa innaa ilaihi raajiuun, Allahumma Ajirnii fii mushibati khairan waa akhlifnii khairan minha. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali, ya Allah berikanlah pahala atas musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik. Dek Rani, Dek Reno telah meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan hebat yang merenggut nyawanya, " ucap Ustad Fariz.


Kerongkongan ke terasa tercekik, bibirku bergetar dan tanpa aku sadari air mataku sudah menetes membasahi wajahku. Tubuhku menggigil seketika .Aku menjadi begitu kosong dan tidak mampu lagi untuk berpikir atau mengucapkan sesuatu. Wirda yang berada di sampingku juga mengusap ahuku dengan pelan sambil menangis, "Innaa lillahi waa innaa ilaihi raajiuun, " ucap Wirda pelan.


Aku pun terdiam membatu tanpa dapat mengatakan apa pun. Semuanya seperti mimpi yang datang menghancurkan kenyataan. Ustad Fariz yang melihat kebisuanku dan derai air mataku berusaha untuk membuatku ikhlas dan tidak larut dalam kesedihan, "Dek Rani dan kita semua wajib sekali untuk ridha dengan qadha dan menerima ketetapan Allah. Tidak mengapa jika Dek Rani menangis dan bersedih hal itu manusiawi karena kita hanyalah manusia biasa yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dengan perasaan.


Al-‘ainu tadmaghu wal qalbu yahzanu, walaa naqulu illa maa yardha rabbuna. Mata boleh jadi menangis dan hati bersedih, (akan tetapi) kami tidaklah berkata-kata kecuali apa yang diridhai Rabb kami, " tutur Ustad Fariz kepadaku.


Dalam derai air mataku. Aku berusaha untuk menguatkan hatiku dan mengingat serta mencamkan kata-kata yang Ustad Friz katakan kepadaku serta tidak meragukan akan ketetapan yang Allah takdirkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa. Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya, " ucapku pelan dengan bibir bergetar.


Huh.. aku mencoba menghembuskan nafas. Untuk meringankan dadaku yang terasa sangat sesak dan sakit.Di mana air mataku terus mengalir mengingat kepergian Kak Roy yang begitu mendadaknya secara tiba-tiba.Rasanya aku ingin berteriak untuk meluapkan kesedihan yang begitu sangat menyesakkan di hatiku. Rasanya semua begitu sangat sakit. Aku tidak tahu harus melakukan apa.


Ya Allah! jeritku di dalam hati seraya menutup kedua mataku dengan menggigit sedikit bibirku dan terus mengalirkan air mata yang tiada henti berderai .


Aku begitu merasa hancur dan begitu terpukul atas kepergian Kak Roy dan Wirda yang berada di sampingku juga tidak berhenti menangis seraya mengelus bahuku berulang untuk membuatku kuat dan tegar. Dengan menahan perasaan yang begitu sedih dan berkecamuk aku berkata lirih kepada Ustad Fariz, "Ustad ayo kita bertakziah ke rumah Kak Roy sekarang.Aku ingin ke sana dan menghadiri pemakaman Kak Roy, Hiks...Hiks...Hiks...,"ucapku dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


__ADS_2