
Ummah, Abi , Enjid dan Bik Inah menyusul ku turun ke bawah dari rooftop tempat kami berada sebelumnya. Sementara itu, Wirda sambil memangku putranya melihat ke arah Kak Reno.
"Aku tidak mengerti Kak Reno. Mengapa kamu mempermainkan Rani? Apa rencanamu? Aku berharap kehadiran mu tidak akan membawa luka dan kesedihan lagi di dalam kehidupannya, " ucap Wirda pada Kak Reno.
Kak Reno tersenyum memandang Wirda.
"Tentu tidak Wirda. Bagaimana aku bisa melakukan kesalahan lagi. Allah telah mengambil dan memisahkan Rani dariku. Dan kini takdir mempertemukan kami kembali. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini, agar ia dapat kembali lagi di dalam kehidupanku. "
Wirda menatap ke arah Kak Reno serius, "Aku memegang perkataan mu Kak Reno, dan kali ini aku percaya padamu. Maka, jika niatmu memang demikian. Berusahalah untuk membuat Rani dapat menerima kehadiran mu dan bisa mencintaimu, sebab hatinya yang patah sulit untuk dapat menerima cinta yang baru di dalam kehidupannya. Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Begitu pula yang kuyakini akan kisah cintamu dan Rani. Dimana perjalanan kisah kalian,penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar di kehidupan kalian masing-masing. Dan aku berharap, kisah cinta kalian dapat menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan Rani.
Untuk itu aku percaya padamu Kak Reno, jaga saudariku baik-baik dan kembalikan kebahagiaan nya lagi, yang belum pernah engkau torehkan rasa bahagia itu, di dalam kisah kalian sebelumnya. Dan sekarang adalah waktu yang tepat bagimu, mengembalikan kebahagiaan Rani, " tutur Wirda.
Kak Reno tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Wirda.
"Aku mengerti apa yang engkau katakan Wirda dan terima kasih telah mendukung diriku. InsyaAllah aku akan berikhtiar mendapatkan Rani ku kembali, setelah kesalahan besar yang telah kulakukan padanya dulu. Dimana ia harus pergi dari kehidupan ku. Aku masih ingat dan tidak lupa, bagaimana rasanya kehilangan Rani yang sangat ku cintai. Hingga kini, aku mengerti dan akan membawa nya kembali padaku, sebagai istriku. "
"Aamiin ya robbal'alaminn, " sahut Pak Budi dan Wirda bersama-sama.
Tidak lama kemudian, Wirda pamit dan berlalu pergi dari hadapan Kak Reno dan Pak Budi.
Sementara itu, Pak Budi dan Kak Reno masih berbincang-bincang dengan santai.
"Apakah yang kamu lakukan ini, tidak akan membuat Nak Rani menjauh darimu Nak Reno?, " tanya Pak Budi memandang Kak Reno serius.
Kak Reno tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan,"InsyaAllah tidak pak. Aku sangat mengenal Rani dengan baik. Semakin ia di kejar dan di paksa, maka ia akan pergi menjauh. Aku akan membuat dirinya semakin dekat padaku, dengan cara ku sendiri. Karena aku yakin, di hatinya ada tempat khusus bagi diriku, "ucap Kak Reno penuh percaya diri.
" Benarkah itu?, "tanya Pak Budi ragu.
__ADS_1
" Benar Pak, tempat ku di hati Rani berada dalam perasaan benci. Tetapi tidak ada yang pernah menduga, termasuk Rani sendiri. Bahwa perbedaan benci dan cinta itu sangatlah tipis, tanpa ada sekat yang dapat membuat kedua rasa itu menjadi terbalik. Dan perlahan aku akan menghablurkan kebencian itu, hingga hilang lalu mengubahnya menjadi perasaan cinta. Bismillah, semoga kali ini Allah membantu ikhtiar ku, "jawab Kak Reno serius.
Pak Budi pun juga menceritakan tentang Kak Roy yang juga telah kembali dalam kehidupan ku. Termasuk putri Kak Roy yang sangat dekat padaku. Mendengar apa yang di sampaikan oleh Pak Budi. Kak Reno tetap santai atau merasa tersaingi seperti dulu.
Ia tampak tenang dan tersenyum tipis, hingga membuat Pak Budi heran akan sikapnya itu.
" Bagaimana Nak Reno bisa setenang ini? Apakah Nak Reno tidak merasa cemburu pada Nak Roy? Dimana kehadiran nya dan putrinya juga menjadi sebuah kendala untuk Nak Reno, mendekati Nak Rani, "tanya Pak Budi lagi ingin tahu.
Kak Reno kembali tersenyum dengan wajahnya yang tenang sembari memandang langit pagi yang terlihat semakin cerah.
"Sejatinya seseorang sangat menginginkan kebersamaan dengan yang dicintainya Pak, hal itu pun juga berlaku pada diriku.Seperti orang yang memasak dia akan berkumpul dengan komunitas memasak,yang suka tanaman akan membeli tanaman hias untuk dirawat.Apalagi jika kita mencintai seseorang.Tentu akan berikhtiar lebih untuk mendapatkan nya. Sebab rasa cinta kepada seorang insan lebih kuat dari rasa cinta kepada apapun. Sehingga sudah sewajarnya, rasa cinta itu membimbing hati dan pikiran kita, untuk memiliki seseorang yang kita cintai."
Kak Reno melihat ke arah Pak Budi, lalu melanjutkan perkataannya lagi, "Memiliki dan dapat hidup bersama dengan orang yang kita cintai,di dalam hubungan pernikahan yang legal adalah suatu kebahagiaan jiwa. Kebanggaan di dalam dada dan kepuasan di dalam hasrat. Serta kesenangan di alam dunia.
Namun...
Aku mencintai Rani karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan di saat diriku telah yakin sepenuhnya maka aku pun harus bersiap untuk mengikhlaskan dan patah hati dalam luka. Jika cinta yang ku miliki tak dapat bersatu dengan dirinya. "
Pak Budi termanggu mendengar kan perkataan Kak Reno.
"Sungguh Nak Reno, bapak tidak menduga jika Nak Reno dapat memiliki pemikiran seperti itu dan sangat jauh berbeda sekali dengan Nak Reno dulu. Bapak melihat ada sifat almarhum Nak Fariz yang ada pada diri Nak Reno saat ini."
Kak Reno hanya diam sambil tersenyum dengan wajahnya yang semakin terlihat teduh dan bersahaja.
Tidak lama kemudian, Pak Budi dan Kak Reno pun beranjak dari duduknya , untuk kembali beraktivitas. Namun, sebelum mereka berpisah Kak Reno memberikan sepucuk surat, yang ia titipkan untuk ku pada Pak Budi.
Aku sedang duduk di balkon kamar hotel tempat ku menginap. Aku malas dan enggan untuk keluar dari kamarku. Takut kalau-kalau harus bertemu lagi dengan Kak Reno,yang seakan-akan ingin mempermainkan diriku.Beruntung, Ummah memilihkan kamar menginap di hotel ini, dengan memiliki area balkon yang cukup luas dan menyenangkan untuk bersantai.Seperti yang ku lakukan saat ini. Dimana masing-masing balkon pada setiap kamar hotel juga terpisah dinding , sehingga menjamin privasiku. Ummah memilihkan untukku dan Wirda Deluxe Ocean Room atau Suite Room, yang memiliki pemandangan langsung ke laut.Yang mana kamar dan balkon hanya dipisahkan dinding dan pintu kaca, sehingga aku pun bisa melihat pemandangan indah langsung dari dalam kamar yang nyaman dengan AC menyala, seperti yang Wirda dan Bik Inah lakukan di dalam. Kami bertiga satu kamar dan itu hal yang menyenangkan untukku, karena aku dan Wirda dapat terus berbincang-bincang selama liburan ini, tanpa batasan waktu.
__ADS_1
Dan tiba-tiba suara pintu kamar hotel diketuk.
Bik Inah langsung berjalan menuju pintu kamar dan membukanya, ternyata Pak Budilll) lldatang mengantarkan amplop berisi sepucuk surat dari Kak Reno untuk diriku.
Bik Inah pun langsung menerima nya dan Pak Budi pamit pergi. Dengan segera Wirda pun bertanya apa tujuan dari kedatangan Pak Budi. Bik Inah langsung menunjukkan amplop surat yang Kak Reno titipkan pada Budi, untukku.
"Ya sudah Bik, sini suratnya biar Wirda yang memberikannya pada Rani. Bik Inah tolong jagain Fariz saja ya, " ucap Wirda.
Bik Inah mengangguk dan memberikan surat itu pada Wirda.
Wirda pun langsung bergegas menuju balkon untuk menemui diriku, yang tengah duduk bersantai menikmati pemandangan laut.
Perlahan Wirda berjalan mendekatiku lalu duduk di samping ku. Aku melihat kedatangannya dengan senyuman kecilku. Begitu pun Wirda yang membalas senyumku, sambil memberikan amplop berisi surat dari Kak Reno.
Sontak saja wajahku menjadi kecut dan miring seketika.
"Untuk apa lagi ia memberikanku surat?, " ucapku pelan dengan nada kesal.
Wirda menaikkan kedua pundaknya ke atas,"Tidak tahu Rani, di buka saja. Siapa tahu ada pesan penting dari Kak Reno. "
Wirda memberikan ku amplop itu.
Aku terus melihat amplop itu dan belum meraihnya dari tangan Wirda.
Akhirnya dengan rasa enggan aku pun mengambil surat itu dan terus memandangnya.
Wirda terus meminta ku untuk segera membukanya, tetapi aku hanya diam dan larut dalam pikiran ku.
__ADS_1
Mencoba untuk menerka permainan apa yang sedang dilakukan Kak Reno terhadap diriku lagi kali ini.