Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kecurigaan Bunda


__ADS_3

"Lepaskan aku,"ucapku pada Kak Reno.


Namun ia tetap tidak menggubris perkataanku.Sesekali langkah kakinya terhenti dan menoleh ke arahku lalu ia meletakkan telunjuk di bibirnya mengisyaratkan padaku untuk diam.Kemudian ia terus menarik tanganku dengan genggamannya yang kuat.


Bu Sri berjalan mendekat ke arah kami.Ia terlihat senang melihat Kak Reno mengenggam tanganku.


"Ayo masuk Ran,"ucap Bu Sri mengajakku.


Aku pun mengangguk dengan wajah yang senang.Kali ini hanya aku dan Bu Sri yang masuk ke dalam ruangan bunda.


"Ren,tangan Rani ingin kamu pegang teruskah?,"tanya Bu Sri.


Mendengar ucapan Bu Sri Kak Reno sontak melepaskan genggaman tangannya padaku,"Eh...nggak mah,"ucap Kak Reno.


Aku pun melirik ke arahnya sekilas dan melihat ke arah Kak Roy dengan raut wajah yang kesal namun tetap tersenyum padaku.Lalu aku pun masuk bersama Bu Sri.


Sesampainya di dalam ruangan ku lihat bunda sedang tertidur.Selang infus dan beberapa alat medis masih menancap di tubuhnya.Pilu hatiku melihat keadaan bunda.Di wajahnya masih terlihat jelas jika fisiknya belum benar-benar membaik.Aku terus memandangi bunda.Rasanya tidak tega untuk membangunkannya.Perlahan kucium kening bunda sambil kugenggam jemari rentanya yang lemah.


"Allahummasyi,bunda.Artinya:Tuhanku,sembuhkan bunda,"ucapku pelan.


Aku duduk di samping ranjang tempat bunda tidur.Air mataku tidak terasa mengalir seketika.Bu Sri yang melihat kesedihanku membelai lembut kepalaku.


"Yang sabar dan kuat ya Ran,tadi kata perawat bundamu habis diberi suntikan dan terlelap.Mungkin ini efek dari obatnya,"ucap Bu Sri menjelaskan padaku.


Aku mengangguk dan berkata pada Bu Sri,


"Mama jika ingin menunggu diluar nggak apa-apa ma.Rani masih ingin menunggu bunda disini,"ucapku.


"Nggak apa-apa Ran,mama mau disini nemenin Rani,"jawab Bu Sri.


Bu Sri duduk di sofa.Sementara aku tetap duduk di samping bunda.Akh,sedih rasanya melihat keadaan bunda seperti ini.Hatiku begitu merindukan bunda.Pelukannya,sentuhan lembutnya,ucapan bunda dan semua tentang bunda.Lisanku tidak berhenti membaca dzikir dan mendo'akan bunda,


"Allahumma rabban naas mudzhibal ba'si isyfi antasy-syaafii laa syafiya ilaa anta syifaa'an laa yughaadiru saqoman.Artinya: Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia,hilangkanlah penyakitnya,sembuhkanlah ia.(Hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya,tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu,kesembuhan yang tidak kambuh lagi.Aamiin Ya Robbal'alamiin,"ucapku pelan.


Tidak lama kemudian bunda terbangun dari tidurnya.Aku yang melihat bunda mulai tersenyum merekah melihat kondisinya.


"Alhamdulillah bun,bunda ini Rani bun,"ucapku sambil memeluknya.


Bunda merespon pelukanku.Ia mengusap kepalaku dengan lembut seraya berkata lirih menyebut namaku,

__ADS_1


"Rani..Rani..putri bunda,"ucapnya lirih.


"Iya bun...ini Rani bun,putri bunda,"ucapku sambil mencium tangannya.


Mendengar suaraku dan bunda.Bu Sri datang menghampiri.


"Alhamdulillah akhirnya Bu Tari sudah sadar,"ucapnya bahgia.


"Iya mah...Alhamdulillah,"ucapku.


Bunda menatap ke arahku dan Bu Sri bergantian perlahan,


"Mama?,"tanya bunda.


Dengan cepat Bu Sri menjelaskan kepada bunda,


"Iya Bu Tari.Atas permintaan saya Rani saya suruh memanggil saya mama.Rani sudah saya anggap seperti putri saya sendiri bu.Tidak apa-apa kan Bu Tari,"tanya Bu Sri.


"Iy..iya bu,"jawab bunda pelan.


Bunda perlahan mengenggam tanganku,


Kubalas genggaman bunda sambil mencium tangannya,


"Selama ini Bu Sri dan keluarga yang menjaga dan merawat Rani bun.Mereka mengizinkan Rani tinggal di rumahnya.Dan seluruh biaya pengobatan bunda ditanggung semua oleh Bu Sri dan keluarga,"ucapku menjelaskan pada bunda.


Namun bunda hanya diam tidak bergeming tanpa ekspresi di raut wajahnya.Aku yang melihat bunda perubahan ekspresi muka bunda lalu berusaha menenangkannya,


"Bun,biaya dan lain-lain jangan bunda pikirkan ya bun.Sekarang bunda fokus saja pada kesembuhan bunda ya bun,"ucapku.


Tidak lama setelah itu Kak Reno dan Kak Roy masuk ke dalam ruangan bunda.Bu Sri yang melihat kedatangan mereka langsung menoleh dan memanggil Kak Reno,


"Reno,kesini cepat,"ucap Bu Sri.


Kak Reno melangkah mendekat dan menebar senyumnya,


"Iya mah,"ucap Kak Reno.


"Bu Tari perkenalkan ini putra saya Reno,"ucapnya sambil menunjuk Kak Reno pada bunda. Lalu Bu Sri meneruskan perkataannya,"Reno ayo salim dan beri salam pada Bu Tari bundanya Rani,"perintah Bu Sri.

__ADS_1


Dengan sedikit menoleh dan melirik ke arah bunda Kak Reno mengangguk mendengar ucapan Bu Sri.Kemudian ia mendekati bunda dan memberi salam kepada bunda.


Pemandangan yang membuat hatiku syok melihatnya.


Bunda hanya mengangguk tanpa bicara sepatah katapun.Lalu Kak Roy mendekat ke tempat bunda dan melakukan hal yang sama seperti Kak Reno lakukan.


Bunda sedikit tersenyum dan berkata,


"Dapatkah saya bicara berdua saja dengan Rani?,"tanya bunda.


Dengan cepat Bu Sri menjawab,


"Oh..tentu saja Bu Tari.Kami semua akan keluar.Bu Tari dapat leluasa berbicara dengan Rani,"ucap Bu Sri sambil memegang tangan bunda pelan dan melempar senyum pada bunda.Tidak lama setelah itu Bu Sri mengajak Kak Reno dan Kak Roy keluar dari ruangan bunda dirawat.


Setelah mereka semua keluar bunda tampak serius menatapku,


"Ran,tolong jawab pertanyaan bunda dengan jujur.Apakah ada yang Rani sembunyikan dari bunda?,"tanya bunda.


"Akh...apa maksud pertanyaan bunda,bun,"jawabku mengelak.


"Entah apa yang menggusik hati bunda nak.Tetapi bunda merasa ada hal yang terjadi diluar sepengetahuan bunda.Seperti ada yang Rani sembunyikan dari bunda nak,"jelasnya cemas.


Aku yang sedari tadi mendengar ucapan bunda merasa sangat terkejut dengan apa yang kudengar.Namun sekali lagi aku bersikap tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Nggak ada apa-apa Bun.Sekarang Rani minta bunda fokus pada kesembuhan bunda dulu ya Bun,"jawabku mengalihkan pembicaraan.


"Tetapi tetap saja Ran,perasaan bunda tidak enak dan tenang,"ucap bunda lalu ia menatapku lama,"Ran,itu dahimu kenapa nak?,"tanya bunda panik.


"Oh nggak apa-apa bun,cuma jatuh terpeleset kok bun.Dan ini sudah mau sembuh kok bun.Bunda nggak usah cemas ya bun.In syaAllah Rani baik-baik saja bun,"ucapku sambil tersenyum meyakinkan bunda.


Bunda hanya diam memandangiku.Kulihat rasa cemas dan kekhawatiran yang tergambar jelas pada raut wajahnya.


Maafkan Rani bun, sebab Rani berbohong.Demi kesembuhan bunda Rani terpaksa melakukan semua ini karena Rani begitu takut kehilangan bunda.In syaAllah di waktu dan tempat yang tepat.Saat kondisi bunda sudah membaik Rani akan menceritakan semuanya kepada bunda,ucapku dalam hati.


Tidak lama kemudian dokter dan perawat masuk masuk.Mereka menyuruhku keluar sebentar untuk mengecek kondisi bunda.


Sebelum keluar kucium bunda dan tangannya sembari berbisik lembut pada bunda,


"Rani sayang bunda,"ucapku.

__ADS_1


Bunda tersenyum dalam raut parasnya yang masih terus menerka tabir misteri yang mengganjal di hatinya.Sorot matanya kuat menatapku.Aku diam dan melangkah perlahan meninggalkan ruangan bunda.


__ADS_2