Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Babak baru.


__ADS_3

Kak Reno menyandarkan tubuhnya pada dinding sel penjara yang membelenggu dirinya.Tiba-tiba air matanya menetes tanpa ia sadari. Ada rasa sesak dan nyeri yang secara mendadak menjalar di dadanya. Napasnya terengah-engah seperti ketakutan. Dalam diamnya perlahan jemari tangannya memegang dadanya sembari menengadahkan kepalanya sedikit memandang ke atas. Kebingungan menghampiri dirinya, "Mengapa aku merasa sangat terluka dan hancur? Apa yang sebenarnya sedang terjadi ya Allah?, " ucapnya lirih. Berulang kali Kak Reno mengusap air matanya tetapi tetap saja dirinya tidak dapat menghentikan kedua matanya untuk terus mengalirkan butiran-butiran kesedihan yang membasahi wajahnya. Seperti biasa di saat kesedihan datang menyapanya hanya kepada RabbNya ia berkeluh kesah sembari menuangkan perasaannya dalam sebuah buku menjadi goresan tangannya.


Hari ini kesedihan datang menghampiriku. Secara tiba-tiba air mata menjadi tetesan- tetesan hujan yang turun seperti gerimis sendu. Butiran airnya membasahi perasaanku yang terasa gersang dan sangat risau.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pikiran dan hatiku. Begitu banyak pertanyaan yang timbul di pikiranku.


Aku pun mencoba menerka akan maksud dari pertanda apa yang terjadi kepadaku.


Diriku benar-benar gelisah dalam jeritan hatiku.


Lalu disaat kupejamkan mataku dan mencoba menenangkan rasa derita yang menghujami diriku.


Tanpa ku terka sebelumnya, bayangan kekasih hatiku datang menjelma dalam ilusi ku.


Wajah ayunya membuat diriku semakin mengusik jiwaku untuk merindu.


Namun dalam bias penerawangan pandanganku.


Atmaku seakan menjadi serkah dalam kelimut yang kelabu.


Raut kekasih hatiku terus menjauh pergi meskipun itu hanya di dalam mata batinku.


Oh.. Ya Tuhan ku,


Hanya kepada Mu.


Kusadarkan rasa patah hati akan perpisahanku dengn belahan jiwaku.


Aku tetap akan menunggu.


Hingga dia yang kucinta akan kembali lagi padaku.


Entah kapan itu.


Dimana aku pun tidak tahu.


Tetapi hatiku yakin kepadaMu.


Meskipun aku harus menunggu.


Dalam sepi dan duka akan kesendirianku.


Oh.. Ya Tuhan ku,


Jangan Engkau hilangkan dan palingkan rasa cintaku.


Sebab semakin lama tunas cintaku kepada dirinya tumbuh semakin dalam menghiasi sukmaku.


Kesedihan ini, benar-benar membuatku mengharu biru.


Oh.. Ya Tuhan ku,


Titip rinduku.


Kepada penawar kejahatan hidupku.


Nun jauh berada di ujung pelupuk mataku.


Nur'aini azzahra pengikat jiwaku kepadaMu.


Yang selalu mencintai Rani...

__ADS_1


Reno.


Kak Reno masih terlihat lemas dan langsung membaringkan tubuhnya pada tikar di atas lantai dengan kedua tangannya ia jadikan peyangga kepalanya. Sorot matanya masih menerawang melihat langit-langit atas sel penjara. Dan terdengar lirih dari lisannya ia mengucapakan kalimat dzikir untuk membuat hatinya menjadi tenang.


***


Aku masih berada di keramain keluarga terdekat, sahabat, dan beberapa tamu undangan di acara akad nikahku dan Ustad Fariz yang telah selesai di gelar.Dan sekarang langsung menggelar acara Walimatul Ursy secara intimated dengan mengundang orang -orang terdekat saja.Hal ini sesuai dari permintaan Ustad Fariz dan diriku yang tidak suka acara yang mewah dan penuh keramaian.


Saat ini aku merasakan seperti diterpa semilirnya angin sepoi yang membelai lembut tubuhku. Dimana seluruh sanak keluarga,handai taulan dan para sahabat Ustad Fariz,Abi dan Enjid pun turut hadir dalam perhelatan ini, seperti perumpamaan turut serta melepasku bersama Ustad Fariz ke pelabuhan yang mana sebentar lagi akan melepas kami berdua yang akan berlayar mengarungi samudera kehidupan yang sangat luas. Dalam pemikiran ku hal ini seperti menjadi perlambang bahwa semuanya yang hadir saat ini Insya Allah merestui pernikahanku dan Ustad Fariz. Aku yang duduk berdampingan dengan Ustad Fariz merasa cukup lelah setelah melalui prosesi acara ijab qabul dan berlanjut dengan acara Walimatul Ursy. Lantunan ayat -ayat suci Al-Quran berkumandang memenuhi ruangan yang langsung terhubung dengan taman di samping kediaman rumah keluarga Ustad Fariz.


Tiba-tiba kedua orang tua Wirda yaitu Tante Warti dan Om Akmal datang menyalami kami berdua dan memberikan ucapan selamat.


"Congratulations on your marriage. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia. Tante benar-benar terkejut saat Abi dan Ummah mu menghubungi Tante secara tiba-tiba meminta kami untuk lekas datang kemari menghadiri akad nikahmu dan Rani, " ucap Tante Warti kelas Ustad Fariz.


Ustad Fariz pun hanya tersenyum kecil dan sedikit mengangguk saja.


Lalu Tante Warti meneruskan ucapannya lagi, "Tetapi Ummah mu sudah menjelaskan semuanya kepada Tante. Namun, Tante senang akhirnya kedua putri Tante sudah menikah dan menjadi satu kesatuan bagian keluarga Imandar. "


Tante Warti lalu memeluk ku erat, "Wirda yang mendengar berita pernikahanmu dan Nak Fariz ingin segera pulang Ran. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan dirimu setelah mengetahui berita yang sangat membahagiakan ini. "


Aku pun hanya tersenyum kecil mendengar perkataan dari Tante Warti. Kemudian Tante Warti mengajak ku berfoto berdua dengannya. Setelah itu Tante Warti dan Om Akmal bergabung bersama Ummah, Abi dan Enjid untuk mengobrol.


Ustad Fariz menatap diriku, "Apakah kamu capek Dek Rani?. "


"Sedikit lelah Ustad, " jawabku.


"Kalau begitu Dek Rani duduk dulu, biar saya ambilkan minum ya?, " tanya Ustad Fariz kepadaku.


Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ustad Fariz tetapi Iya dengan cepat langsung mengambil sebotol air mineral yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini, dan dengan segera pula Ustad Fariz kembali lagi ke tempatku yang sekarang diriku duduk secara lesehan di tempat di langsungkannya akad nikah antara diriku dan Ustad Fariz sebelumnya. Dengan perlahan Ustad Fariz membuka tutup botol air mineral lalu memberikannya kepadaku, "Ini Dek Rani, lebih baik Dek Rani minum dulu ya, "ucapnya dengan lembut dan sedikit cemas memandang memandangi diriku. Aku pun tersenyum kecil sambil meraih botol minum yang ia berikan kepadaku, "Terima kasih banyak ustad."


Ustad Fariz pun tersenyum sambil melihat diriku, dan dengan perlahan aku pun meneguk air putih yang berada di dalam botol air mineral tersebut.


Tidak Berapa lama kemudian acara walimatul ursy sudah selesai. Aku pun dengan segera membersihkan diriku dan juga menghapus sisa-sisa make up yang di wajahku. Begitu pula yang dilakukan oleh Ustad Fariz yang juga membersihkan dirinya di tempat berbeda denganku yaitu di dalam kamarnya. Aku menggenakan gamis syar'i yang telah disiapkan boleh Ummah. Gamis yang Ummah pilihkan memiliki detail seperti ada tambahan rompi yang memberikan kesan preppy look. Desainnya dibuat seperti ada tambahan rompi atau overlayered yang menjuntai ke bawah sehingga menciptakan kesan lebih rapi. Dimana gamis ini juga dikombinasikan dengan kain bordir yang memberikan kesan mewah dan elegan yaitu warna peach dengan warna cream.


Dan Ustad Fariz pun juga mengenakan kemeja koko dengan warna senada seperti gamis ku.


Setelah selesai berganti pakaian Ustad Fariz mengajak diriku untuk menemui Ummah, Abi dan Enjid di ruang keluarga.


Langkah kaki kami berdua terasa begitu sedikit canggung selepas ikatan kami menjadi halal sebagai pasangan suami istri.


Dalam perjalanan menuju ke ruang keluarga Ustad Fariz mencoba mengajak diriku berbicara untuk menghilangkan ketegangan di antara kami berdua, "Apakah Dek Rani baik-baik saja?. "


Aku menoleh sedikit ke arah Ustad Fariz , lalu mengalihkan pandangan ku ke arah depan, "Alhamdulillah iya Ustad. "


Untuk beberapa saat Ustad Fariz pun terdiam dan terus melangkah bersama diriku dengan sedikit jarak di antara kami berdua.


Tidak lama setelah itu pun aku dan Ustad Fariz telah tiba di ruang keluarga.


Ummah langsung menarik tangan ku perlahan untuk segera duduk di sampingnya. Sementara Ustad Fariz segera duduk di samping Enjid. Ummah begitu terlihat sangat bahagia sekali karena aku dan Ustad Fariz telah resmi menjadi pasangan suami istri. Begitu juga dengan Abi dan Enjid. Ternyata mereka semua memanggil ku dan Ustad Fariz untuk memberikan wejangan.


"Hari ini adalah hari yang berbahagia dan bersejarah bagimu kalian berdua. Abi, Ummah dan Enjid sangat bersyukur dapat menghantarkan langkah perjalanan hidupmu ke jenjang pernikahan, semoga menjadi pembuka pintu gerbang kebahagiaan hidupmu kelak. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberkahi dan merahmatimu kalian berdua, " tutur Abi sambil merangkul pundak Ustad Fariz lalu menepuk-nepuk nya pelan.


"Aamin ya rabbal alamin, " jawab Ustad Fariz sambil menganggukkan kepalanya lalu tersenyum menatap Abi.


Kemudian, masuk asisten rumah tangga di keluarga Imandar membawakan minuman hangat dan beberapa kudapan kecil yang di letakkan di atas meja lalu setelah itu pergi. Sementara itu, aku mencoba mencari keberadaan Bik Siti dan Pak Budi yang tidak kulihat.


Kemana keberadaan mereka, batinku sambil duduk dengan tenang.


Kemudian, Abi pun melanjutkan ucapan nya kembali kepada Ustad Fariz," Anakku Fariz. Engkau telah memutuskan pilihan untuk menjadi pendamping hidupmu kepada ananda Nur'aini azzahra,dan menetapkannya sebagai pasangan hidupmu dalam membangun mahligai rumah tangga. Ketahuilah nak, bahwa seluruh keluarga menaruh harapan besar agar rumah tangga yang engkau bangun berasama Rani kelak dapat menjadi mahligai yang kokoh, laksana karang yang tak lekang diterpa panas dan hujan, dan tidak remuk diterjang gelombang ombak. Harapan Abi khususnya,semoga pernikahan kalian berdua menjadi mahligai rumah tangga yang senantiasa memantulkan cahaya Sakinah, Mawaddah wa Rahmah sebagaimana rumah tangga Nabiullah Adam Alaihissalam dan Siti Hawa,Yusuf dan Zulaikha, serta Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Khadijah Al-Kubra. Itulah contoh mahligai rumah tangga yang membawa kerinduan dikala jauh, dan kedamaian serta kasih sayang dikala dekat serta saling berbagi rasa dikala suka,dan saling menghibur dikala duka."


Ustad Fariz mendengarkan dengan sungguh-sungguh semua perkataan Abi, begitu juga dengan diriku, Ummah dan Enjid.

__ADS_1


Sambil menepuk pundak Ustad Fariz, Abi terus melanjutkan nasihat nya lagi, "Nak, seperti yang sudah Abi katakan tadi. Dimana dirimu telah memilih pasangan yang akan mendampingi hidupmu yaitu Rani, yang dimana kepadanya engkau akan menggantungkan harapanmu untuk melaksanakan sunatullah yaitu mendapatkan keturunan yang saleh dan salehah.Ketahuilah anakku Fariz, bahwa pernikahan itu bukanlah sekedar menemukan pasangan hidup untuk kebutuhan biologis saja.Tetapi dari segi sosiologis memiliki definisi untuk memadukan dan menyatukan dua keluarga besar menjadi satu kesatuan dalam ikatan utuh sebuah keluarga besar. Hendaklah kalian berdua bisa menyatukan perbedaan di antara kalian berdua dalam satu fondasi yang kokoh.Pesan Abi adalah pandang dan ambillah sisi-sisi positif dari kedua belah pihak pasangan,untuk menutupi sisi-sisi negatif dari masing-masing pihak di antara kalian berdua. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberkahi dan merahmati bagi semua hambanya yang berpandangan positif atau khusnu dzan.Disini Abi, Ummah dan Enjid hanya akan membekali do’a dan restu kepada dirimu dan Rani, semoga kalian berdua rukun-rukunlah selalu dalam membangun mahligai hidup ini dan semoga berkah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melingkupi hidup kalian berdua. "


"Aamiin ya Rabbal 'alamiin, " ucap diriku bersamaan dengan Ustad Fariz, Ummah dan Enjid.


Setelah Abi selesai memberikan nasihatnya kepada diriku dan Ustad Fariz khususnya, maka sekarang giliran Enjid yang memberikan nasihatnya. Ustad Fariz pun lalu bergeser pindah tempat duduk dan duduk di samping Enjid.


Enjid meminum secangkir teh hijau tawar yang masih hangat sebelum dirinya memulai petuahnya kepada Ustad Fariz.


Ustad Fariz pun sudah bersiap mendengarkan ucapan Enjid yang telah selesai meletakkan cangkir berisi teh hijau hangat kembali ke atas meja.


Lalu pandangan mata Enjid memandang Ustad Fariz yang juga menatap dirinya.


"Dengan keputusanmu memilih Rani menjadi pendamping hidupmu, maka dapat Enjid menyimpulkan atas pilihan yang telah engkau buat diantaranya mengandung dua makna dalam penafsiran Enjid,yaitu pertama dimana dirimu telah menggabungkan dua keluarga besar yang berarti kau telah memiliki dua orang tua, yakni orang tua kandungmu dan orang tua isterimu.Meskipun kita semua sama-sama tahu jika Rani sudah menjadi yatim piatu dan tidak memiliki kerabat atau siapapun lagi di dunia ini. Maka bertambah besarlah tanggungjawab mu terhadap Rani, Nak. "


"Iya Enjid, Fariz paham dan InsyaAllah Fariz akan menjaga dan melindungi Dek Rani dengan sebaik-baiknya, " sahut Ustad Fariz.


Enjid tersenyum sambil mengusap kepala Ustad Fariz,"Yang kedua mengandung makna bahwa engkau bersama Rani telah bertekad sehidup semati menjadi pasangan hidup, maka wajib bagi kalian berdua menutup mata serapat-rapatnya untuk menundukkan pandang kalian,yang jelas tidak sebebas lagi seperti waktu sebelum penikahan kalian berdua tertunaikan sekarang. Maka, Enjid meminta peganglah teguh sumpah kalian berdua sampai maut memisahkan kalian.Karena demikian adalah ajaran agama yang kita peluk dan agungkan yakni agama Islam.


Do’a restu Enjid mengiringi perjalanan kalian berdua untuk mendayung bahtera hidup baru kalian yang baru saja dimulai. Berlayarlah cucuku Fariz dan Rani, dayunglah bahtera kalian berdua menuju pantai harapan,dan tetap sadarilah oleh kalin berdua,dimana semakin jauh kalian berdua melepas pantai,maka akan semakin luas pula samudera hidup yang membentang di hadapan kalian nantinya.Dan ketahuilah cucuku Fariz dan Rani, semakin luas samudera yang membentang, cakrawala pandangan kalian berdua pun akan semakin luas pula. Demikian pula halnya dengan samudera kehidupan ini,yang seirama dengan suara alam ini. Seperti peribahasa, dimana yang berbunyi semakin keatas tingkat kehidupanmu, maka akan semakin besar pula godaan yang akan menghadangmu. Enjid berpesan berhati-hatilah engkau berdua.Dimana nantinya gelombang menerpamu juga akan semakin besar,bahkan ada kalanya disertai dengan badai dan topan. Ingatlah sekali lagi wahai cucuku Fariz dan Rani,ketika gelombang dan badai menghadangmu di tengah samudera kehidupan in.Maka tidak ada satu pun orang yang dapat membantu menaklukkan rintangan itu kecuali diri kalian berdua saja lah yang dapat melaluinya dengan bekerja sama.Dan ketika kalian berdua menjumpai keadaan seperti itu, maka keteguhan iman,sabar,tawakkal,saling memahami,saling mengerti, saling asah,saling asih dan saling asuh, menjadi kekuatan yang sangat berharga bagi kalian berdua.Enjid berpesan kepada kalian berdua senantiasalah berdo’a dalam munajat kalian, mohonlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar dijauhkan dari segala aral yang buruk yang menganggu biduk rumah tangga kalian.


Dan ingatlah bahwa agama menempatkan pernikahan adalah sebagai "mitsaqan ghalidza" yang memiliki arti "perjanjian yang agung" atau "ikatan yang kuat".


Sehingga camkanlah untuk kalian berdua,bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala hanya tiga kali menggunakan kata-kata "mitsaqan ghalidza" ini di dalam Al-Qur’an,yang pertama: tatkala Allah Subhanahu Wa Ta'ala membuat perjanjian dengan para Nabi Ulul Azmi yakni Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa sebagaimana yang dilukiskan di dalam surat Al Ahzab ayat 7 yang berbunyi;


Wa iz akhazna minan-nabiyyina misaqahum wa minka wa min nuhiw wa ibrahima wa musa wa ‘isabni maryam, wa akhazna minhum misaqan galiza.


Yang artinya:(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi, darimu (Nabi Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.


Selanjutnya kata mitsaqan ghalidza yang kedua dipakai tatkala Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengangkat bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah,seperti di dalam surat An Nissa ayat 154 yang berbunyi;


Wa rafa‘na fauqahumut tura bimisaqihim wa qulna lahumudkhulul-baba sujjadaw wa qulna lahum la ta‘du fis-sabti wa akhazna minhum misaqan galiza.


Yang artinya:Kami pun telah mengangkat gunung (Sinai) di atas mereka untuk (menguatkan) perjanjian mereka. Kami perintahkan kepada mereka, "Masukilah pintu gerbang (Baitulmaqdis) itu sambil bersujud". Kami perintahkan pula kepada mereka, "Janganlah melanggar (peraturan) pada hari Sabat."Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kukuh.


Dan ketiga adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyatakan bahwa hubungan pernikahan adalah mitsaqan ghalidza seperti di dalam surat An Nissa ayat 21 yang berbunyi:


Wa kaifa ta'khuzunahu wa qad afda ba'dukum ila ba'diw wa akhazna minkum misaqan galiza.


Yang artinya:Bagaimana kamu akan mengambilnya (kembali), padahal kamu telah menggauli satu sama lain (sebagai suami istri) dan mereka pun (istri-istrimu) telah membuat perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) denganmu?.


Jadi, cucuku Fariz dan Rani mohon camkan dan betul-betul ingatlah bahwa perjanjian pernikahan antara suami dan istri sebagaimana yang Enjid sampaikan tadi disejajarkan dengan perjanjian para Nabi, dan perjanjian Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan bani Israil. Betapa agung dan beratnya kalimat ijab dan qabul itu dalam akad nikah yang telah kalian berdua ikrarkan. Dengan memperhatikan hal tersebut secara langsung dapat mencerminkan betapa sakralnya peristiwa pernikahan itu. Dimana Agama Islam menempatkan betapa peristiwa "pernikahan" itu pada posisi yang agung,sakral dan luhur. Ketika ijab qabul telah diikrarkan ,maka saat itulah suamidan istri telah menyatu dalam ikatan yang lebih kokoh daripada besi dan baja sekalipun. Ikatan yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata itu mampu mempertautkan dua hati manusia yang berlainan jenis. Dalam kitab tafsir Al-Maraghiy menjelaskan, bahwa dengan pernikahan maka setiap pihak merupakan belahan dari lainnya. Sehingga, seolah-olah satu pihak merupakan bagian dari kesempurnaan wujud bagi pihak lainnya.Oleh karenanya apabila salah satu dari kalian berdua ada yang merusak tali pernikahan, berarti telah merusak mitsaqan galidza ini, dimana kalian berdua telah mengecewakan sanak saudara dan kerabat yang telah hadir turut serta memberikan do’a restu kepadamu. Karena itu peganglah erat-erat tali "mitsaqan ghalidza" itu,agar kau berdua senantiasa mendapatkan berkat dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Hanya itu yang dapat Enjid pesanan kepada kalian berdua. Berlayarlah cucuku Fariz dan Rani.Selamat mengayuh bahtera kehidupan kalian berdua do'a Enjid menyertai kalian berdua. Barakallahu lakuma wa baa raka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiir .Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atas mu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan. "


"Aamiin Ya Mujibassailin .Terimalah doa kami, Wahai engkau Tuhan yang mengabulkan segala permintaan orang yang meminta, " ucap Ustad Fariz.


"Aamiin, " ucapku bersama-sama dengan Ummah dan Abi.


Kemudian giliran Ummah yang berpesan kepada kami berdua, "Anakku Faruz dan Rani. Mohon ingatlah akan apa yang Ummah sampaikan kepada kalian berdua yaitu ada tiga hambatan komunikasi bagi mahligai rumah tangga pemula seperti Dr.John Gray pernah menulis dalam "Men are from Mars,and Women are from Venus" bahwa otak pria dan wanita berbeda,jalur logika dan kemampuan berbahasanya pun berbeda yang dapat mempengaruhi komunikasi dalam rumah tangga.Untuk menghindari kesalah pahaman dalam komunikasi hendaklah saling menjelaskan dan memahami apa yang menjadi kemauan dan pikiran masing-masing.Hambatan kedua adalah masalah kepercayaan satu terhadap lainnya.Oleh karena itu, bangunlah rasa saling percaya dan kejujuran antara kalian berdua,hendaklah saling menjaga kepercayaan dan kehormatan masing-masing agar tumbuh rasa saling percaya diantara kalian.Dan yang ketiga adalah masalah keuangan, janganlah hendaknya hal ini menjadi sumber pertentangan.Oleh karenanya janganlah pernah saling merahasiakan masalah keuangan,bangunlah rasa saling bertanggung jawab dan keterbukaan dalam hal keuangan antara kalian berdua dan juga dalam hal apapun juga. Jadi intinya kalian berdua harus saling terbuka dan percaya satu sama lain. "


"Baik, InsyaAllah Ummah, " jawabku.


Ummah lalu mengusap kepalaku pelan dan mengusap punggung ku. Disini aku benar-benar merasakan kehangatan kasih sayang dari seorang ibu dari sikap yang Ummah tunjukkan kepadaku.


Lalu tiba-tiba Bik Siti datang dan berkata kepada Ummah, "Bu Putri kamar Nak Fariz sudah selesai dihias. "


Ummah tersenyum senang, "Lalu barang-barang Rani apakah sudah dipindahkan Bik Siti?. "


"Sudah Bu Putri, " sahut Bik Siti.


Ummah lalu memandang ke arahku dan Ustad Fariz, "Malam ini dan seterusnya Rani tidur di kamar Fariz ya. "

__ADS_1


Aku dan Ustad Fariz terkejut dan syok, terlebih lagi diriku yang begitu tersentak mendengar ucapan Ummah. Sementara Ummah, Bik Siti, Abi dan Enjid terlihat tersenyum.


__ADS_2