
Bik Inah datang bersama Bibi pengasuh Rani. Mereka berdua meminta diriku dan Kak Roy untuk bergabung bersama keluarga, yang sedang menikmati makanan.
Aku pun mengangguk, dengan mengiyakan perkataan Bik Inah.
Sementara itu, Kak Roy masih terlihat diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun juga.
"Nak Rani, biar Non Rani Bibi yang yang gendong. Kasihan Nak Rani, pasti capek, " kata Bibi pengasuh.
Aku tersenyum kecil ke arahnya."Tidak Bik. InsyaAllah saya tidak capek. Kasihan Rani sedang tertidur pulas. Nanti malah dia terbangun, dan menangis, "jawabku.
"Ya sudah jika begitu Nak Rani. Ayo, bibi bantu berdiri. "
"Iya Bik, terima kasih, " balas ku.
Kak Roy kali ini hanya memandang ke arah ku dengan parasnya yang masih terlihat lesu.
"Apakah Kak Roy baik-baik saja?, " tanyaku.
Kak Roy menganggukkan kepalanya dengan memaksakan senyuman kecil,yang berusaha ia tunjukkan kepada diriku.
"Iya Rani, ya sudah. Ayo kita segera bergabung dengan yang lainnya, " ajak Kak Roy yang sudah berdiri di samping ku.
Aku mengangguk sambil membetulkan posisi gendoganku yang mendekap tubuh mungil Rani.
Bik Inah dan Bibi pengasuh berjalan mengapit diriku, di kedua sisi.
Sementara itu, Kak Roy meminta kami untuk terlebih dulu berjalan. Dimana dirinya mengikuti langkah kaki kami, dari belakang.
Wuzzz...
Angin bertiup sedikit lebih kencang, dan membelai kami semua, seperti sedang mengucapkan salam perpisahan, dalam langkah kaki kami yang mulai beranjak pergi dari tempat ini.
Tidak lama kemudian, aku, bik Inah, Bibi pengasuh dan Kak Roy sudah tiba. Di tempat kedua keluarga berkumpul.
Ummah meminta kami semua untuk makan, sebelum kami semua kembali ke rumah.
Rani pun terbangun, saat mendengar suara bisik. Namun, ia tetap tidak ingin beranjak pergi dari pangkuanku. Dan seperti biasa, ia selalu memintaku untuk menyuapinya makan langsung dari jemari tanganku.
Sementara itu, kulihat Kak Roy tengah duduk di dekat Pak Budi. Dan entah apa yang mereka bicarakan, dimana dari pandangan mataku, kulihat mereka berbicara dengan sangat serius.
Dengan beberapa kali pandangan Kak Roy terus tertuju kepada diriku.
***
Setibanya di rumah, aku langsung membersihkan diriku dan berganti pakaian.
Kemudian, aku duduk di beranda sambil menikmati susu coklat hangat, yang sudah di buatkan oleh Bik Inah.
Tidak lama kemudian, Wirda masuk ke dalam kamarku seorang diri.
Ia lalu menghampiri diriku, dan langsung duduk di sampingku.
Aku memandangi nya, "Dimana Fariz, Wir?, " tanyaku sambil menyeruput susu coklat hangat.
"Fariz sedang bermain bersama Kak Rafa, Ummah, Abi dan Enjid, " jawab Wirda sambil memandangi ku lekat.
"Rani, apakah Kak Roy sudah mengatakan niatnya untuk menikah dengan dirimu?. "
Aku terkejut.
"Bagaimana kamu tahu akan hal itu Wirda?, " tanya ku memandangnya serius.
Wirda tersenyum sambil memegang bahuku.
"Jangan terkejut Rani. Kak Roy itu juga sahabat ku, dia juga banyak bercerita kepadaku. Tentang perasaannya padamu."
Aku menatap Wirda, dan begitu pula Wirda yang memandang wajahku serius.
"Ran, aku menyayangimu seperti saudariku sendiri. Dan aku juga ingin melihat dirimu bahagia, menjalani kehidupan yang sama seperti diriku. Yaitu dengan memiliki seorang pendamping di sisimu. Dan kurasa Kak Roy menjadi orang yang tepat.
Ini saranku Ran, aku tahu bagaimana perasaan mu terhadap almarhum Kak Fariz. Dan betapa sulitnya, hati dan pikiranmu untuk membuka orang lain masuk ke dalamnya. Tetapi dirimu harus move on dan mencobanya, kamu masih muda serta memiliki jalan kehidupan yang masih panjang. Aku tidak ingin melihatmu terus sendiri seperti ini. "
Aku terdiam mendengarkan perkataan Wirda. Hingga tanpa ku sadari, seseorang mengusap kepalaku lembut. Dan itu adalah Ummah.
"Apa yang Wirda katakan itu benar sayang."
"Ummah, " ucapku lirih.
Ummah tersenyum menatap wajahku, lalu duduk tepat di sampingku dan merangkul kan tangan nya di pundakku, seraya memeluk diriku.
"Bu Desi,Pak Surya dan Roy juga sudah meminta izin kepada Ummah, Abi, Enjid dan Rafa untuk meminta dirimu supaya dapat menjadi istrinya Roy. Dan kami semua tidak keberatan akan hal itu. Justru kami senang sayang, akan niat baik Roy yang ingin segera menikahimu. Tetapi kami semua memutuskan, untuk mengembalikan keputusan ini kepada dirimu. Jangan bilang tidak, sayang. Salatlah istikharah dan mohon petunjuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, untuk memberikan keputusan terbaik dalam kehidupan mu. "
"Tetapi Ummah, Rani tidak mencintai Kak Roy, " bantahku.
Ummah tersenyum kecil, lalu mengusap kepalaku lagi, "Ummah tahu itu.Dan Ummah tahu, putri Ummah juga sulit untuk menerima orang lain masuk ke dalam kehidupanmu. Tetapi Ummah ingin putri Ummah bahagia, dengan menjalani kehidupannya. Cinta akan tumbuh dengan berjalannya waktu, setelah hubungan itu menjadi halal sayang. Menurut Ummah dan kami semua, Roy adalah sosok yang tepat untuk menjadi pendamping mu, nak. Ummah mohon kamu mempertimbangkan hal ini, sebelum berkata tidak atas niat baik Roy. Tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan nya, sayang. "
Kali ini pun aku tetap diam, tanpa berkata-kata sembari memandang Ummah dan Wirda secara bergantian.
Setelah mengatakan hal itu, Ummah dan Wirda izin keluar dari kamarku.
Sementara diriku masih terdiam di beranda, sambil menatap langit yang sedikit mengerti akan perasaan ku saat ini.
Dimana hatiku terus membawa pikiranku terhadap kerinduanku pada Mas Fariz.
Yah, terkadang kita tidak pernah tahu betapa berartinya seseorang di dalam kehidupan kita, sampai ia benar-benar menghilang pergi untuk selamanya dari kehidupan. Dan di saat itulah, hati menjadi remuk karena kepergiannya.
"Jikalau aku membuka hatiku untuk orang lain, dan aku jatuh cinta karenanya. Namun, cintaku itu tidak akan pernah sama, seperti halnya diriku mencintaimu mas.
Sebab, caramu mencintai diriku. Membuatku tidak mampu untuk mencintai orang lain, " gumamku lirih dengan menitikan air mata.
__ADS_1
***
Hari berlalu pergi, meskipun aku sudah melakukan salat istikharah tetap saja. Hatiku belum condong untuk menerima lamaran Kak Roy.
Sulit, bukan karena hatiku masih mencintai Mas Fariz. Tetapi perasaan ku terhadap Kak Roy adalah perasaan seperti kakak dan adik. Aku menghormati nya dan menyayanginya. Namun, bukan untuk menjadi pasangan atau pendamping hidupku.
Meskipun Kak Roy sebenarnya sudah mengetahui perasaan ku. Tetapi ia terus berusaha tiada henti untuk terus menerus menjamah perasaan ku dan menerima cintanya. Hingga aku menyadari, ia juga turut menjadikan putrinya sebagai alasan kedekatan kami, untuk kebahagiaan Rani.
Dimana Kak Roy sangat mengetahui, jika aku sangat menyayangi Rani dan pun sebaliknya Rani juga sangat menyayangi diriku. Tetapi jika karena keberadaan putrinya, menjadi alasan diriku untuk menikah dengan Kak Roy. Rasanya begitu ironi untukku. Pernikahan adalah ibadah, dan bukan sesuatu yang dapat di kompromi kan. Setelah pernikahan paksa ku yang pertama dengan Kak Reno. Aku sungguh tidak ingin menjalani pernikahan seperti itu lagi. Hingga Allah menghadirkan Mas Fariz di dalam kehidupan ku, walaupun hanya sesaat. Namun, bersama dirinya dapat kunikmati indahnya ikatan pernikahan yang sakral, penuh dengan cinta terhadap Sang Khalik. Hingga sampai sekarang, aku tidak merasa yakin. Jika ada seseorang yang mampu dan sama menjadi imamku seperti Mas Fariz.
Aku masih terus larut dalam pikiranku, di dalam mobil yang melaju. Dimana Pak Budi sedang menyetir dan Bik Inah duduk di samping ku.
Yah, aku penat akan desakan semua orang yang segera meminta diriku, lekas menerima pinangan Kak Roy.
Maka kali ini aku ingin menepi dan sedikit menjauh pergi dari semua orang.
Aku ingin kembali ke tempat ketika pertama kali Mas Fariz dan diriku bertemu.
Langit yang semula terang benderang, kini menjadi hitam pekat tertutup gumpalan awan hitam.
Byurrr.... Bressss...
Hujan deras turun mengguyur bumi dengan seketika. Udara yang terasa panas dan gersang sebelumnya, kini menjadi dingin dan teduh, dalam kesunyian deru gemercik air yang riuh.
Memori ku kembali teringat akan kenangan yang membawa benakku, kembali pada awal pertemuan ku dengan Mas Fariz.
Hujan ini seakan -akan membawa nostalgia bagi diriku, yang terus merindukan nya.
Bi Inah mengusap punggung ku, ia seolah tahu isi hatiku.
Aku melihat ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menyandarkan kepala ku di bahunya.
"Sabar ya Nak Rani, " ucapnya lirih seraya memeluk diriku.
Aku mengangguk pelan dalam dekapan nya, hingga mobil yang di kendarai oleh Pak Budi telah tiba di halaman masjid, tempat yang menjadi awal pertemuan ku dengan Mas Fariz.
Hatiku terenyuh, melihat setiap sudut kenangan bersamanya yang menyayat pilu relung jiwaku, untuk tidak pernah berhenti melupakan dirinya.
Ku angkat kepala ku untuk melihat sekitar, rupanya di masjid sedang ada kegiatan. Terlihat dari kejauhan banyak jama'ah yang memenuhi masjid.
"Nak Rani apakah kita turun sekarang?, " tanya Pak Budi padaku yang sudah memarkirkan mobilnya.
Aku mengangguk, dan ingin segera turun dari mobil. Seperti ada sesuatu yang menarik diriku, untuk segera mendekat ke masjid. Sayup-sayup dari speaker masjid terdengar suara yang tidak asing bagiku.
Aku pun segera mengambil payung untuk turun dari mobil, begitu pula Bik Inah dan Pak Budi yang dengan cepat turut mengambil payung, setelah melihat tindakanku.
Aku segera turun dari mobil, diikuti Bik Inah yang menyertai langkah kakiku, lalu di susul oleh Pak Budi.
Dalam guyuran hujan, aku terus berjalan mengamati keadaan masjid yang tidak terlalu banyak perubahan seperti dulu.
"Sudah lama aku tidak kemari,setelah kepergian Mas Fariz," batinku.
Bik Inah tiba-tiba sudah berada di sampingku dan memegang pergelangan tanganku.
"Iya Bik, " sahut ku sambil mengangguk.
Dan seketika, terdengar lagi lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang membius diriku.
Dimana suara itu menggetarkan hatiku.
Aku terpaku dan terdiam seketika, dengan mata yang berkaca-kaca.
Pak Budi pun sudah berada di samping ku. Aku pun menoleh ke arahnya, begitu pula Pak Budi.
"Pak, apakah bapak mendengar suara itu?, " tanyaku pelan.
Pak Budi pun mengangguk dan tampak terkejut pula seperti diriku.
"Iya Nak Rani, suara itu seperti suara almarhum Nak Fariz, " jawab Pak Budi dengan wajah syoknya seperti diriku.
Air mataku jatuh perlahan, dimana ku kira itu hanya ilusi akan kerinduan ku padanya.
Dengan cepat aku pun mengajak Pak Budi dan Bik Inah, untuk segera bergegas masuk ke dalam masjid. Memastikan siapa pemilik suara itu.
Langkah kaki ku terasa ringan, dengan perasaan yang berdebar-debar penuh ketegangan. Aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang menungguku di dalam. Dan menarik diriku kuat untuk segera mendekat. Tapi entah apa itu, aku tidak tahu.
Aku segera meletakkan payung yang kubawa dan berjalan cepat menuju tempat wudhu ditemani Bik Inah.
Perasaan tegang dan seakan tidak sabar berkecamuk di dalam dadaku.
Setelah mengambil wudhu dengan Bik Inah, aku segera mengajak Bik Inah untuk bergegas masuk ke dalam masjid, dan melaksanakan salat dua raka'at.
Dimana suara itu masih terdengar jelas dan dalam melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran.
Selesai salat aku dan Bik Inah duduk bersama jama'ah wanita lainnya untuk mendengarkan bacaan ayat suci Al-Quran.
Tenang dan damai...
Kurasakan seperti Mas Fariz sedang berada bersamaku.
Air mataku mengalir penuh keharuan.
Aku sungguh tidak sabar, untuk segera memastikan siapa pemilik suara itu.
Meskipun aku tahu dengan pasti, jika itu bukanlah Mas Fariz tentunya.
"Ya Allah, takdir apa lagi yang akan Engkau berikan kepada diriku, " batinku di dalam hati.
__ADS_1
sembari menyeka air mataku agar tidak tumpah.
Bik Inah terus mengusap punggungku, dan membisikkan kata-kata yang dapat menguatkan diriku.
Aku mengangguk dan memastikan kepada Bik Inah jika diriku baik -baik saja.
Tidak berapa lama, suara itu menghilang pergi dan membuat perasaan ku menjadi gundah karenanya.
Semua jama'ah wanita tampak banyak yang keluar, meskipun ada beberapa yang masih berdiam diri di dalam masjid.
Aku pun segera mengajak Bik Inah untuk keluar.
Dari luar tempat diriku berada bersama Bik Inah. Pak Budi melambaikan tangannya, untuk segera meminta diriku keluar mendekatinya.
Kulihat wajah tegang dan ekspresi penuh keterkejutan yang di perlihatkan oleh Pak Budi.
"Ada apa ini, " tanyaku di dalam hati.
Tanpa berlama-lama, aku pun segera keluar bersama Bik Inah dan menuju ke arah Pak Budi.
Tetapi baru beberapa langkah kaki ku berjalan. Suara seseorang yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Quran kembali terdengar oleh indra pendengaran ku.
Hatiku bergetar dan terus membuat jantungku berdegup kencang.
"Pak Budi, ayo ikut bersama Rani untuk memastikan siapa pemilik suara ini. Suara ini begitu mirip dengan suara Mas Fariz, Pak, " ucapku memohon.
Pak Budi terdiam sambil memandangi diriku.
Sementara itu, aku pun menjadi bingung dengan sikap Pak Budi.
"Ada apa pak?, " tanyaku lagi.
Pak Budi melihat ke arahku lagi dengan serius, "Apakah benar Nak Rani ingin tahu siapa pemilik suara ini?."
Aku mengangguk dengan penuh rasa penasaran akan sikap aneh Pak Budi yang ku tangkap.
Pak Budi pun tampak menarik napasnya berulang. Hal yang membuat diriku menjadi semakin bingung dengan sikapnya.
Lalu dalam ketegangan wajahnya Pak Budi pun berkata padaku, "Apapun yang akan Nak Rani lihat dan saksikan, jangan pernah terkejut atau merasa syok. Mungkin ini adalah takdir dan jalan dari Allah. "
Aku semakin bingung dan tidak mengerti, akan maksud perkataan dari Pak Budi.
Lisanku ingin segera bertanya kepada Pak Budi akan arti ucapannya. Tetapi hasrat ku untuk mengetahui siapa pemilik suara ini lebih besar mengalahkan keingintahuan ku terhadap makna dari ucapan Pak Budi.
Pak Budi lalu menuntunku, yang berjalan mengikuti langkah kakinya.
Ia berjalan dengan perlahan membawa diriku bersama Bik Inah, untuk semakin mendekat kepada si empunya suara, yang saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Suara indah nan merdunya, begitu serupa dan mirip dengan suara almarhum Mas Fariz.
Setelah beberapa menit kami berjalan, akhirnya Pak Budi berhenti pada sebuah pintu masjid, lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku.
"Sekarang Nak Rani dapat mengetahui dan melihat secara jelas siapa gerangan pemilik suara yang mirip dengan suara Nak Fariz. Orangnya berada di dalam dan sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, " ucap Pak Budi serius.
Aku mengangguk, dengan perasaan penasaran bercampur rasa bahagia.
Dimana suara merdu itu terus menghipnotis diriku untuk memastikan siapa si pemilik nya.
DAG.. DiG... DUG....
Jantung ku terus berdegup kencang tidak berhenti.
Aliran listrik seperti mengalir dalam peredaran darah ku.
Ku langkah kan kaki kananku, untuk masuk kembali ke dalam masjid. Ditemani Bik Inah dan Pak Budi di belakang ku.
Pelan.. dan pelan...
Kaki ku melangkah, dengan pandang mataku terus melihat ke sekitar mencari sesuatu yang ingin ku temukan segera.
Lantunan ayat suci Al-Quran masih terdengar, dan makin jelas juga kuat.
Dimana debar perasaan ku semakin menggoncang hatiku.
Aku melihat dari kejauhan seorang laki-laki yang memegang mikrofon, dengan pakaian gamis berwarna abu-abu muda senada dengan songkok yang ia kenakan.
Tetapi wajahnya tertutup oleh seseorang di dekatnya.
Rasa keingintahuan ku, terus membawa diriku mendekat dan melangkah menemukan parasnya.
Pak Budi berusaha mencegah diriku, tetapi tidak ku peduli kan. Dimana hatiku seolah-olah terus menuntun pikiran ku untuk mendekat padanya.
Dan setelah diriku cukup dekat kepada beberapa orang yang mengitarinya.
Yang kini beralih memandang diriku, karena keberadaan ku.
Aku terkejut dan syok melihat wajah yang tak asing dan sangat ku kenali. Begitu pula si pemilik suara itu.
Tubuhku terasa bergetar seketika, melihat dirinya yang juga sangat terkejut melihat ragaku berada di hadapan nya.
Dengan segera ia pun menyudahi tadarusnya, lalu bangun dari duduknya dan melihat ke arahku.
"Rani!, " ucap nya terdengar sedikit keras dari bibirnya.
Aku sungguh tidak percaya, jika dia memiliki suara yang sama persis, seperti suara Mas Fariz saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Perlahan dia ingin mendekat ke arah diriku, tetapi aku berjalan mundur dan pergi menjauh darinya, diikuti Bik Inah yang mengejar diriku.
"Rani.. Tunggu, " ucapnya lirih dan pelan sambil mengangkat tangan kanannya sedikit ke atas untuk meminta diriku jangan berlalu.
Namun, Pak Budi segera menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Jangan Nak Reno, biarkan Nak Rani sendiri. Dia masih sangat terkejut dan syok, " ucap Pak Budi menatap Kak Reno.
Sementara itu, Kak Reno pun terdiam dan terus memandang diriku yang semakin berlalu pergi dari hadapannya.