Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Memilih untuk tetap bersabar


__ADS_3

Aku berjalan pelan menahan rasa sakit yang menghujam di hati dan jiwaku.


Luluh lantah setiap kepingan ragaku.


Mengetahui kebenaran yang begitu sangat menyakitkan.


Ku pejamkan mataku sesaat seraya ingin melupakan semua hal yang terjadi secara tiba-tiba.


Ughhhhhhhh.....


Kutarik napas dalam begitu panjang.


Dengan dada yang terasa sesak dan bibir bergetar.


Lalu ku pegang dadaku dengan bersandar pada koridor dinding rumah sakit.


Tidak terasa air mataku menetes perlahan.


"Astaghfirullah.Laa yukalifullahu nafsan Illa wus'aha",ucapku terisak pelan.


Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya.


Aku meyakini ayat itu.


Bahwa Allah sangat mencintai orang-orang yang sabar.


Nasihat dari almarhumah bunda yang selalu terngiang di telinga Rani.


Aku mulai mengubur kesedihanku.


Ughhhhh.....


Akhhhhh....


Ku usap air mataku dengan tangan dan kerudungku.


Aku harus kuat,Allah bersamaku,batinku dalam hati.


Tidak berapa lama kemudian, aku telah tiba menemui Wirda sambil membawa dua botol air mineral dan roti sobek untuknya dan mamanya makan.


Wirda menatapku dengan wajah sedikit berbinar.


Ia langsung berdiri mendekatiku.


"Ran,Alhamdulillah seluruh pengobatan papa sudah di biayai dan semua aset yang disita dan di bekukan oleh negara sudah di kembalikan.Tuduhan gratifikasi kepada papa juga sudah di cabut,"ucap Wirda semangat.


"Iya Wir,alhamdulillah aku turut senang mendengarnya.Sekarang kamu fokus dengan kesembuhan papamu ya.Oh...ya dan ini ada air mineral dan roti untuk kamu dan mamamu makan.Kalian pasti belum minum dan makan apapun kan?,"tanya Rani sambil memberikan kantong plastik kepada Wirda.


Wirda mengangguk dan menerima bungkusan kantong plastik dari Rani seraya berkata,"Terima kasih ya Ran,"sambil memeluk ringan Rani.


"Iya sama-sama,yuk kita temani mamamu,"ajakku.


"Terima kasih ya Ran,"ucap mama Wirda.


"Tante kenapa bilang terima kasih,Rani tidak melakukan apa-apa untuk Tante dan Wirda,"ucapku sambil mengusap lembut tangannya.


"Ada nak,Rani melakukan hal yang besar kepada Tante,Wirda dan Om,"ucapnya sedih.


Aku sambil berpikir memandangnya.


"Kami berhutang budi padamu nak,"ucapnya sambil menarik tanganku untuk duduk di sampingnya.


Wirda terheran melihat sikap mamanya sambil duduk di sebelahku.


"Karena Rani,hari ini nyawa papa Wirda dapat di selamatkan.Karena Rani pula nama suami Tante menjadi bersih kembali.Dan karena Rani pula semua aset kekayaan keluarga kami kembali,"ucap Tante menahan tangis.


"Ran...jadi ...semua ini berkat kamu?,"sela Wirda terkejut.


Bagaimana Tante bisa tahu gumamku dalam hati dan terlihat bingung.


Sambil menangis Tante berkata,"Kamu pasti bingung Tante tahu dari mana kan?,"tanyanya.


"Tadi pengacara keluarga Suprapto yaitu Pak Gukul kemari menjelaskan semuanya kepada tante Ran tentang semua yang terjadi,"ucapnya lirih sambil menyeka air matanya lalu melanjutkan kembali ucapannya.

__ADS_1


"Ran,demi keluarga Wirda khususnya suami Tante kamu rela bertahan di tengah kekejaman keluarga Suprapto.Padahal nyawamu bisa menjadi taruhannya nak.Tante sangat berterima kasih atas semua pengorbanan yang kamu lakukan nak.Tante berdo'a semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu,"ucap Tante lalu memelukku.


Pelukan hangat dari seorang ibu yang tulus tanpa kepura-puraan batinku.


"Ran,terima kasih untuk semuanya meski aku tahu pilihanmu dengan membantuku dan keluargaku akan sangat menyakitimu.Tetapi,kamu tetap memilihnya.Kenapa Ran?,"ucap Wirda menangis yang juga memelukku.


Tidak berapa lama kulepas perlahan pelukan Wirda dan mamanya.Kutatap wajah mereka bergantian sembari menggenggam tangan mereka berdua.


"Aku melakukan ini semua agar sahabatku tidak menjadi yatim piatu seperti diriku.Agar sahabatku tidak mengalami rasa sakit dan derita yang kurasakan.Kepahitan menjalani kehidupan tanpa orang tua yang menemani.Dan karena aku tidak ingin melihat sahabatku sedih.Aku ingin selalu melihat kebahagian di wajah cantik sahabatku bersama orang tua disisinya,"ucapku pelan.


Huhuhhuhu.....


Hiks....hiks...hiks...


Tangis Wirda pecah...


Ia memeluk erat tanpa berkata apapun.


Tuk..tuk...tuk....


Suara langkah sepatu datang memecah suasana haru yang kami bertiga rasakan.


"Permisi,disini apakah ada perwakilan keluarga terdekat atas nama pasien Bapak Akmal Oktarinto?,"tanya perawat sambil membawa map di tangannya.


Mata kami bertiga menoleh bersamaan melihat perawat (suster) yang datang menghampiri kami.


Mendengar pertanyaan si mbak perawat dengan sigap dan cepat Tante Warti (mamanya Wirda) menanggapi pertanyaannya.


"Iya sus,saya keluarga terdekatnya,"kata Tante Warti merespon.


"Oh ..ya maaf jika boleh tahu ibu siapanya Bapak Akmal?,"tanya perawat.


"Saya istrinya sus dan ini putri saya.Ada apa ya sus?,"Tante Warti balik bertanya.


"Hmmmm..begini Bu,Alhamdulillah kini kondisi Bapak Akmal sudah membaik.Namun,masih berada di ruang ICCU(Intensive Cardiology Care Unit) sebab masih memerlukan pemantauan secara intensif dari dokter.Untuk itu ibu bisa ikut saya menemui dokter yang merawat suami ibu untuk mendapatkan penjelasan secara detail terkait kondisi dari Bapak Akmal secara lengkap,"jelas perawat panjang lebar.


Maka tanpa berlama-lama Tante Warti pun langsung ikut perawat di temani Wirda.


Brukkk...


"Astaghfirullahaladzim..,"ucapku terkejut sambil memegang kepala dan wajahku.


"Itu semua berkas Roy yang kamu butuhkan,"ucap Kak Reno kasar setelah melempar map tebal berisi berkas-berkas Kak Roy.


Aku memandang sekilas ke arah Kak Reno.


Lalu memungut semua lembaran kertas yang berceceran di lantai.


"Kamu itu perempuan paling bodoh yang pernah kutemui.Hanya demi orang lain merelakan dirinya sengsara.Ckkkkkk....,"ucap Kak Reno mencelaku.


Dengan masih memakai baju pasien Kak Reno berdiri mendekatiku yang membungkuk di bawahnya.Ia melipatkan (menyilangkan) kedua tangannya di dada.


"Apa untungnya buatmu dengan menolong Roy?,"tanyanya ketus.


Tetapi aku malas dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.


Melihat sikapku yang tidak memperduliknnya Kak Reno marah dan kesal.


"Auwwwwww.....aduh.....Astaghfirullahaladzim Ya Allah,"ucapku seraya menjerit kesakitan.


"Rasakan ini!,"kata Kak Reno sambil menginjak jemari tangan kananku.


"Hahahahaa....sakitkan...ini....rasakan lagi,"ucapnya senang dengan menekan lebih kuat kakinya yang beralaskan sandal di jari-jariku.


Entah kekuatan dari mana yang menghampiriku.Dengan berani aku mendorong kaki Kak Reno dengan tangan kiriku yang masih membawa map.


Saat tubuh jangkung Kak Reno goyah dan sempoyongan hendak terjatuh.


Dengan cepat pula kutarik jari tanganku yang ia injak.


Lalu mengibaskan jariku meredakan nyeri yang ditimbulkan.


Ughhhh.....

__ADS_1


Nyut....nyut....nyut....nyut..


Rasa sakitnya bukan main yang kurasakan.


Hingga mataku berkaca-kaca dan menitikkan air mata.


Kulihat jariku merah,memar dan terluka.


Begitu tidak punya hati Kak Reno,ucapku dalam hati.


Aku pun beranjak berdiri.


Namun,tiba-tiba sebelum aku mampu untuk berdiri sempurna Kak Reno mendorong tubuhku dengan kedua tangnnya.


BRuuuukkkk......


Aku jatuh ke lantai.


Nyessssss......


Rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhku.


"Rasakan!,'hardik Kak Reno.


Suaranya keras dan galak.


"Itu akibatnya jika berani melawanku!,"bentaknya sambil menunjuk ke arahku.


"Rani!....,"teriak Wirda dari kejauhan.


Ia membantuku berdiri namun aku belum mampu.


Kulihat wajah Wird kesal.


"Kamu...,"ucap Wirda kepada Kak Reno.


"Sudah Wir,"ucapku memotong kalimat Wirda.


Aku menatap ke arah Wirda dan menggelengkan kepala agar ia tidak meneruskan kata-katanya untuk mengumpat Kak Reno.


"Tapi Ran...,"bantah Wirda kesal.


Namun kembali ku isyaratkan padanya untuk tidak membalasnya.


Perlahan Wirda mengerti dan memahami maksudku.


"Hahahaha....kamu takut ya?,"ledek Kak Reno sambil berjalan pergi meninggalkan kami.


Sementara aku hanya memandangnya dari kejauhan sambil mengelengkan kepala seraya berdo'a,


"Robbanaa afrigh ‘alainaa shobron wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qoumil kaafiriin".


"Artinya:Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir."


"Kamu nggak apa-apa Ran?,"tanya Wirda cemas.


Aku mengangguk.


Wirda tersenyum tetapi khawatir.


"Wir,aku harus menemui Kak Roy di penjara,"ucapku sambil berdiri sempoyongan.


Wirda melihatku.


"Aku ikut Ran,melihat kondisimu seperti ini,"ucapnya cemas.


"Tetapi papamu,"tanyaku.


"Tenang Ran kondisi papa mulai stabil dan ada mama yang menjaga papa,"jawb Wirda meyakinkanku.


"Baiklah jika begitu,"jawabku.


Aku yang berjalan sedikit pincang di temani Wirda menuju ke tempat Kak Roy di tahan.

__ADS_1


__ADS_2