
Hari ini adalah rangkaian acara semaan atau simaan Al-Qur'an, yaitu berupa acara pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan khidmat sebelum dimulainya pernikahan Kak Rafa dan Wirda. Tujuannya acara ini adalah agar membawa keberkahan dan kelancaran menuju hari pernikahan yang ditunggu-tunggu bagi Kak Rafa dan Wirda khususnya.
Pada acara semaan Al-Qur'an hanya dihadiri oleh pihak keluarga, kerabat dan sahabat terdekat saja, sengaja Tante Warti dan Om Akmal tidak mengundang banyak orang dalam acara semaan ini, supaya suasananya lebih intim, khidmat dan penuh keheningan. Acara ini dilangsungkan pada pukul 12.00 siang ba'da (sesudah )salat zuhur, kemudian dilanjutkan dengan acara pengajian pada pukul 13.30. Barulah saat acara pengajian pihak keluarga Wirda mengundang sejumlah santri dari pondok pesantren serta para tetangga dan kerabat dekat keluarga mereka. Wirda tampak anggun dan sangat cantik mengenakan pakaian kebaya berwarna abu muda, lengkap dengan kain penutup kepala berwarna senada.Dalam acara pengajian itu, Wirda semakin tampil begitu anggun dengan baju kebaya terusan dibaluti brokat yang membuatnya terlihat elegan.
Ditambah dengan tatanan rambutnya yang disanggul serta di tutupi selendang brokat yang berwarna senada dengan baju kebaya yang ia kenakan.
Aku, Bik Siti,dan Tante Warti pun duduk di samping mendampingi Wirda berbaur dengan anggota kerabat keluarganya yang lain. Kami semua pun menggenakan pakaian seragam senada dengan Wirda yaitu kebaya abu-abu muda dengan brokat, tetapi berbeda dengan Wirda dan yang lainnya aku tetap menggenakan hijab sebagai penutup kepalaku. Terlihat rona wajah bahagia dan sedikit tegang yang menyelimut wajah Wirda.
Aku melemparkan senyum kepada Wirda, untuk membuat dirinya merasa lebih baik dan tenang.
Dalam penganjian ini di agendakan khataman 30 juz Al -Qur'an yang dilakukan oleh 15 tim atau kelompok anak-anak santri pondok pesantren yang masing-masing akan mengkhatamkan dua juz, dan ditargetkan akan sudah selesai dalam durasi kurang lebih maksimal dua jam.
Selain digelar pengajian di rumah kediaman Wirda, pengajian juga digelar di rumah kediaman keluarga Imandar dengan juga mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an.
Dalam pengajian yang digelar di kediaman rumah Wirda juga disiapkan air yang akan digunakan dalam prosesi siraman besok. Pihak anggota keluarga Wirda, khususnya Om Akmal dan Tante Warti sangat berharap dengan pengajian tersebut seluruh rangkaian prosesi pernikahan Kak Rafa dan Wirda bisa berjalan dengan lancar dan penuh keberkahan serta tidak ada gangguan ataupun halangan yang merintangi.
Air siraman yang telah dicampur dari berbagai 7 sumber mata air di letakkan di dekat para santri untuk di do'a kan, dimana setengah dari air tersebut akan dibagi dan dikirimkan ke keluarga Imandar untuk acara siraman Kak Rafa juga, dengan harapan agar semuanya menjadi barokah dan aman. Tidak lama upacara pengajian pun telah selesai dan berjalan dengan lancar. Para tamu undangan semaan Qur'an dibagikan alat ibadah sebagai souvenir, setelah mereka semua menikmati hidangan yang telah disajikan.
Wajah lega dan puas akan lancarnya acara semaan dan pengajian Al-Qur'an terlukis jelas pada seluruh anggota keluarga Wirda, begitu juga dengan diriku dan Bik Siti serta Pak Budi.
***
Hari ini semua orang tampak sibuk mempersiapkan acara ritual adat di kediaman rumah Wirda. Tampak Om Akmal dengan memakai baju tradisional Jawa lengkap dengan beskap dan blangkon menaikki tangga besi untuk memasang bleketepe atau anyaman dari daun pohon kelapa di depan pintu masuk pemasangan tarub atau tenda pesta pernikahan.
Tarub diartikan sebagai peneduh di halaman rumah berupa hiasan dari janur kuning. Umumnya, tarub dipasang di sisi kanan dan kiri tratag atau dekorasi tenda serta pintu gapura tempat tinggal pemilik hajat.
Sementara Tante Warti yang menggunakan kebaya berwarna gold maroon dan jarik serta rambut yang disanggul terlihat sedang memegangi tangga yang dinaiki oleh Om Akmal dengan menggenakan pakaian berwarna senada dengan Tante Warti. Setelah selesai memasang bleketepe, Om Akmal melanjutkan dengan memasang tuwuhan sebagai dekorasi di pintu tarub yang akan menambah estetika indahnya pandangan mata, sehingga menggambarkan suasana yang harmonis ketika melihatnya sekaligus melengkapi syarat akan ritual adat pernikahan.Dan Tante Warti bersama beberapa anggota kerabat keluarga mereka lainnya mengikuti dan membantu Om Akmal dari belakang dengan membawa piranti tuwuhan.
Adapun pemasangan tuwuhan terdiri dari pisang raja, tebu wulung, cengkir gadhing, daun randu ,janur dan aneka dedaunan lainnya seperti daun kluwih, daun andong, daun girang, daun alang-alang, daun opo-opo, daun beringin serta padi. Masing -masing dari semua tumbuhan dan aneka daun tersebut memiliki makna filosofi dan simbolisasi nya yang berbeda-beda.
__ADS_1
Tuwuhan diletakkan oleh Om Akmal di kedua sisi kiri dan kanan pintu masuk pada tarub yang terpasang di halaman depan kediaman rumah keluarga Oktarinto.
Om Akmal dipandu dan diarahkan oleh kerabatnya yang lebih memahami ritual adat tuwuhan dengan sabar dan telaten membimbing Om Akmal memasang dan meletakkan piranti atau bahan-bahan pendukung untuk tuwuhan.Dengan mengikuti instruksi kerabat tertuanya dan tentunya dibantu oleh Tante Warti. Om Akmal memegang tebu wulung, cengkir gadhing, lalu mengikatnya menjadi satu dan digantungkan pada leher tuwuhan. Kemudian, Om Akmal mengambil daun kluwih sebanyak 3 (tiga) lembar besar, lalu dipasang menutupi batang pisang pada bagian atas di bawah cengkir gadhing yang dipasang menggantung tadi. Selanjutnya,di bawah daun kluwih dihiasi dengan otek dua rakit yang dipasang secara melebar atau di jereng (dibentangkan) menutupi batang pisang. Setelah itu, Om Akmal memasang daun kemuning lalu beringin dibawah batang pisang. Kemudian,Om Akmal merakit dengan menyatukan daun maja, daun kara, rumput alang-alang menjadi satu kesatuan. Daun beringin dan daun kemuning dipasang menutupi batang pisang, sedang daun-daun yang lainnya dipasang Om Akmal menjuntai kebawah. Dimana batang pisang dapat dipergunakan untuk tiang penyangga yaitu sebagai tempat melekatnya aneka rupa daun-daun tuwuhan, supaya daun-daun tersebut dapat menyatu menjadi satu kesatuan yang terlihat indah dan bernilai estetika dengan unsur budaya yang memiliki makna filosofis dalam ritual hajat pernikahan. Maka dengan pemasangan bleketepe dan tuwuhan menjadi penanda dalam adat Jawa bahwa Om Akmal dan keluarganya sedang memiliki hajatan.
***
Untuk menyempurnakan acara siraman, seluruh ruangan untuk prosesi siraman di kediaman Wirda didekorasi dengan sangat indah. Terlihat, setiap sudut ruangan dihiasi oleh bunga-bunga cantik. Selain itu, untuk tempat siraman kental sekali dengan nuansa putih dan hijau.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Sebelum melakukan akad nikah, maka Kak Rafa dan wirda melakukan prosesi adat siraman, yaitu mengguyurkan air yang berasal dari tujuh sumber ,kemudian di taburi dengan bunga sritaman atau setaman, yaitu mawar, melati dan kenanga dengan tujuan untuk memberikan aroma harum pada tubuh calon kedua mempelai yaitu Kak Rafa dan Wirda, di kediamannya masing-masing.
Tante Warti , diriku dan Bik Siti menjemput Wirda dari kamarnya yang sudah memakai baju untuk prosesi siraman, lalu aku dan Tante Warti menuntun Wirda menuju tempat siraman yang sudah dinantikan oleh beberapa perwakilan kerabat keluarga Wirda.
Sebelum memulai acara siraman, tokoh agama setempat mengawalinya dengan do'a, dengan tujuan untuk membersihkan segala hal negatif yang dianggap mengganggu proses pernikahan dan ijab qabul.
Barulah kemudian Om Akmal dan Tante Warti menguyurkan air siraman pada tubuh Wirda. Secara bergiliran masing -masing dari pihak keluarga Wirda mengguyurkan air yang sudah tercampur dengan beragam aneka bunga tujuh rupa yakni, melati, melati gambir, sedap malam, mawar merah, kenanga, kantil, dan mawar putih.Wirda terlihat bahagia dan menikmati akan prosesi siraman yang sedang berlangsung
Setelah acara siraman, dilanjutkan dengan prosesi adat selanjutnya pada pernikahan adat Jawa yaitu Dodol Dawet atau menjual dawet kepada para tamu undangan.
Pada prosesi dodol dawet ini, Tante Warti yang melayani pembeli, sedangkan Om Akmal memayungi Tante Warti yang sibuk menjajakan dapetnya.
Acara dodol dawet ini tidak benar-benar berjualan, karena sebenarnya pembeli membayarnya hanya dengan kreweng atau pecahan tembikar dari tanah liat. Keadaan menjadi sangat ramai dan penuh dengan canda dan tawa , saat semua orang termasuk anak kecil berebut untuk membeli es dawet. Tidak terkecuali Pak Budi, Bik Siti dan Bik Inah yang berebutan membeli dawet, hingga membuat suasana begitu riuh dengan tawa yang terbahak-bahak dari semua orang .
Acara dilanjutkan dengan potong tumpeng, dimana Tante Warti mengambil puncak tumpeng beserta lauk pauknya, lalu melakukan dulangan pungkasan atau suapan terakhir kepada putrinya Wirda yang ada di dalam kamarnya. Ini adalah momen yang sangat mengharukan dan cukup menitikan air mata bagi Tante Warti karena sekaligus melepaskan putri semata wayangnya yaitu Wirda untuk membangun keluarganya sendiri setelah menikah dengan Kak Rafa.
Kemudian Om Akmal melakukan ritual adat pernikahan selanjutnya yaitu tanam rambut dan lepas Ayam. Om Akmal memotong sedikit rambut Wirda , dan di tempat lain masih di kediaman rumah keluarga Imandar. Abi dan Ummah juga menyuapi Kak Rafa dengan nasi tumpeng , lalu memotong juga sedikit rambut Kak Rafa kemudian menanamkannya sama seperti yang dilakukan oleh Om Akmal di kediaman rumah Wirda.
Ritual adat Jawa ini dilakukan dengan tujuan agar Kak Rafa dan juga Wirda dijauhkan dari segala hal buruk dalam rumah tangganya nanti.
Setelah itu,diteruskan dengan pelepasan ayam jantan hitam sebagai bentuk keikhlasan orang tua melepas anaknya hidup mandiri. Seperti seekor ayam yang bisa mencari makan sendiri. Pelepasan ayam jantan hitam ini diwakilkan Om Akmal dan Abi di kediamannya masing-masing.
__ADS_1
Setelah acara siraman di siang hari selesai. Pada malam harinya Wirda menjalani tradisional midodareni. Wirda harus tetap berada di dalam kamarnya, seperti dipingit di dalam kamar karena Wirda dilarang bertemu hingga hari H pernikahannya dengan Kak Rafa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Dan di dalam midodareni ini pula Kak Rafa beserta seluruh anggota keluarganya datang dengan mengenakan busana tradisional Jawa lengkap.
Kak Rafa terlihat sangat tampan dan gagah layaknya seorang pangeran dengan berpakaian beskap lengkap ditambah aksesoris berupa kalung, korset dan juga keris. Dalam rombongan kedatangan keluarganya Kak Rafa yang sangat ramai, terlihat juga anggota kerabat keluarga Kak Rafa yang turut ikut serta bersilaturahmi ke rumah kediaman keluarga Wirda dengan membawa begitu banyak seserahan atau hantaran untuk Wirda, berupa kebutuhan pokok, busana,sandal, sepatu, kosmetik, buah-buahan, makanan dan lain-lain.
Kedatangan seluruh keluarga Kak Rafa disambut dengan sangat baik dan penuh keramahan oleh keluarga Wirda.
Sementara di dalam kamarnya, Wirda duduk ditemani diriku dan Bik Siti dipingit di dalam kamarnya dengan hanya mengenakan pakaian berwarna polos tanpa perhiasan apapun kecuali cincin lamaran.
Di depan kamar Wirda terdapat ubo rampe berupa kembar mayang yang dipajang. Sepasang periuk yang diisi dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak sebagai penutup juga ada disitu.
Selain itu, juga terdapat sepasang kendi yang diisi air suci yang cucuknya ditutup dengan daun dadap serep atau tulang daun/ tangkai daun.
Kemudian Tante Warti pun masuk pelan sambil membawa baki yang berisi potongan daun pandan, parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi,dan kelengkapan lainnya seperti mayang jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur,dan meletakkannya di bawah ranjang tempat tidur Wirda,supaya ruangan berbau harum.Setelah selesai meletakkan benda-benda tersebut,lalu Tante Warti mendekati Wirda dan duduk di sampingnya, yang berniat memberikan wejangan kepada Wirda sebelum akad pernikahan dilaksanakan.
Pandangan mata Tante Warti begitu lekat menatap Wirda
Sementara diluar semua orang bergembira khususnya Kak Rafa dan keluarganya,yang tampak semakin intim dan dekat dengan seluruh keluarga Wirda . Dan banyak pemuda-pemudi tetangga di tempat tinggal rumah Wirda yang hilir mudik membantu menyiapkan makanan dan minuman untuk para tetamu yang datang dan panitia yang sedang mendekorasi panggung pelaminan dan membuat kembar mayang yaitu sepasang hiasan dekoratif yang dibentuk dari rangkaian akar, batang, daun, bunga, dan buah dari semua bagian pohon kelapa,dibuat setinggi setengah sampai satu badan orang dewasa.Kembar mayang ini nantinya akan diserahkan didampingi sepasang cengkir gading yang dibawa sepasang gadis.Dalam acara nebus kembar mayang atau jual beli kembar mayang yang bersifat simbolis memenuhi ritual adat.
Setelah menjalani prosesi terakhir dalam malam Midodareni yaitu Wilujeng Majemukan. Dimana dalam ritual ini, masing-masing dari keluarga Kak Rafa dan Wirda akan bersilaturahmi, untuk merelakan keduanya memulai kehidupan berumah tangga.
Kemudian, keluarga Wirda yang diwakilkan oleh Om Akmal akan menyerahkan asul-asul dari seserahan yang telah mereka terima. Asul-asul memiliki isi yang sama dengan seserahan sebelumnya, yakni pakaian dan kebutuhan pokok atau sehari-hari yang biasa digunakan.
Tidak lama kemudian Kak Rafa dan seluruh anggota keluarganya pulang karena hari sudah malam menunjukkan pukul 22.00 WIB dimana acara midodareni telah selesai. Dengan wajah sumringah dan bahagia, Kak Rafa sudah tidak sabar untuk menantikan hari esok segera tiba, dimana Wirda akan secara resmi menjadi istrinya. Kak Rafa ingin segera beristirahat untuk mempersiapkan energi dan dayanya saat dilangsungkan berbagai acara keesokan harinya.
Setelah kepulangan Kak Rafa dan anggota keluarganya, waktu pun terus berjalan dan menunjukkan pukul 24.00 WIB. Keluarga Wirda mengadakan bancakan atau syukuran dengan berbagi hidangan dan dimakan bersama dengan
para tetamu, keluarga dan tetangga yang masih berada disitu untuk melek-melek'an atau begadang pada malam acara midodareni.
__ADS_1