
Dalam guyuran hujan yang semakin lebat. Pak Budi terus melajukan mobil yang ia kendarai dengan pelan dan hati-hati.
Aku masih memandang ke luar dari kaca jendela mobil, yang tertutup butiran-butiran air hujan yang membasahi.
Pikiran ku masih tertuju pada raut wajah Kak Reno ,yang ku lihat seperti paras Mas Fariz melepaskan senyum kepada diriku.
"Apakah aku terlaru merindukan Mas Fariz? Hingga raut wajannya, begitu mengusik pandangan ku, saat melihat ke arah Kak Reno," gumamku di dalam hati.
"Apa yang Rani pikirkan?, " tanya Pak Budi memecah lamunanku.
Aku terkejut dan langsung melihat ke arahnya, sambil terlihat tegang.
"Apakah Nak Rani, masih teringat akan Nak Reno?, " tanya Pak Budi lagi melontarkan pertanyaan padaku.
Aku terdiam sesaat, sebelum berusaha menjawab pertanyaan Pak Budi. Ku rasa Pak Budi tahu apa yang ku pikirkan, batinku.
"Lho kok Nak Rani diam? Apakah Nak Rani baik-baik saja? , " tanya Pak Budi lagi yang mulai khawatir dan melihat diriku dari kaca spion kecil di atasnya.
Aku menggelengkan kepalaku pelan.
Bik Inah pun turut memandang ke arahku.
Dengan perasaan ragu dan gelisah, aku pun menuturkan kepada Pak Budi, tentang apa yang ku lihat saat melihat ke arah Kak Reno.
Bik Inah dan Pak Budi saling melihat dari kaca spion kecil yang terletak di atas, Pak Budi duduk menyetir.
Tiba-tiba, Bik Inah mengusap punggungku dan mengeluarkan kata-kata yang mengejutkan diriku.
"Apakah itu menjadi tanda, jika almarhum Nak Fariz menginginkan Nak Rani bersama Nak Reno. "
Aku langsung menoleh dan memandang tajam ke arah Bik Inah.
"Mengapa bibi berkata seperti itu?, " tanyaku.
Belum sempat Bik Inah menjawab, Pak Budi sudah berkata terlebih dulu padaku.
"Apa yang di katakan Bik Inah bisa saja menjadi petunjuk buat Nak Rani, untuk memutuskan pinangan Nak Roy. Bukankah, Nak Rani mengajak bapak ke masjid, tempat awal pertemuan Nak Rani dengan Nak Fariz. Untuk mengenang dan mengingat kembali perjalanan pertemuan kalian berdua. Dan kebetulan, atau lebih tepatnya takdir. Di tempat yang sama Nak Rani bertemu Nak Fariz, disitu pula Nak Rani bertemu kembali dengan Nak Reno. Tentu semua itu tidak ada yang kebetulan nak, pasti ada alasan di balik pertemuan Nak Rani dan Nak Reno pada hari ini. "
Perkataan Pak Budi, sungguh membuat perasaan ku semakin tidak menentu.
Aku hanya diam dan larut pemikiran ku sendiri, dengan terus memandangi hujan yang turun.
Tidak lama kemudian, mobil yang Pak Budi kendarai hampir tiba di depan kediaman keluarga Imandar. Tetapi dari kejauhan, aku melihat mobil Kak Roy yang sudah terlebih dulu masuk.
Sebelum Pak Budi, memasuki halaman rumah. Aku dengan cepat meminta Pak Budi untuk memutar balik,dan melajukan mobilnya untuk kembali pergi menjauh dari rumah.
Pak Budi dan Bik Inah terkejut dengan sikapku. Tetapi aku menjelaskan kepada mereka berdua, untuk saat ini diriku tidak ingin bertemu dengan Kak Roy.
Pak Budi dan Bik Inah mengerti perasaan ku, dan menuruti keinginan ku untuk menjauh pergi sementara waktu dari Kak Roy.
Pak Budi dan Bik Inah tidak banyak bertanya atau berkomentar atas permintaan dan alasan ku. Mereka hanya diam, dengan sesekali memandangi diriku.
"Kita mau pergi kemana Nak Rani?, " tanya Pak Budi sambil menyetir mobil.
Aku berpikir sejenak, untuk memutuskan tempat yang akan kutuju.
Dengan cepat aku pun menjawab, "Pak, kita cari rumah makan terdekat dari sini saja Pak. Pasti Pak Budi dan Bik Inah sudah lapar kan?, "tanya ku sambil memandang bergantian ke arah mereka.
Pak Budi tersenyum dan mengangguk, begitu pula Bik Inah yang juga terlihat tersipu malu.
__ADS_1
Aku mengusap tangan Bik Inah pelan dan melemparkan senyuman ku padanya, supaya ia tidak merasa canggung kepada diriku.
Kemudian aku mengirimkan pesan kepada Ummah, supaya beliau tidak mengkhawatirkan diriku.
Assalamu'alaikum, Ummah.
Rani masih ingin berada diluar, sembari melihat dan mengenang tempat-tempat yang berhubungan dengan almarhum Mas Fariz. Ummah tidak usah khawatir, sebab
Rani bersama Bik Inah dan Pak Budi.
Love you, Ummah.
Lalu, aku segera mematikan telepon genggam milikku dan juga meminta Pak Budi dan Bik Inah menonaktifkan telepon genggam milik mereka.
Beruntung, Pak Budi dan Bik Inah mau melakukan permintaan ku.
Yang membuat diriku tenang, karena keberadaan ku tidak dapat diketahui oleh Kak Roy dan yang lainnya.
Ughhhh...
Aku menarik napas pendek, dan kembali memandang hujan.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Pak Budi sudah tiba di halaman parkir resto yang bernuansa pedesaan.
Tempat yang pernah ku kunjungi dengan Mas Fariz juga Wirda sebelumnya.
Aku dan Bik Inah segera turun tepat di depan pintu masuk resto, sementara itu Pak Budi masih berada di mobil dan akan memarkirkan mobil.
Aku dan Bik Inah masuk terlebih dulu, sambil mencari tempat duduk lesehan yang dapat membuat diriku merasa nyaman. Dan Bik Inah lalu mengikuti langkah ku, dengan terus berada di samping diriku.
Aku sangat menyukai tempat ini,karena banyak area yang berbeda-beda spotnya baik dari lesehan,modern,santai,yang jadul pun juga ,dan yang terpenting nice view.
"Sepertinya ada penambahan baru dari tempat ini, yaitu konsep makan di saung. Dimana sebelumnya tidak ada, " gumamku.
Aku pun lalu bergegas, menuju salah satu saung pilihanku, diikuti oleh waitress dan Pak Budi yang masih tertinggal agak jauh.
Setelah duduk di saung, aku pun meminta waitress menunggu sebentar, sampai Pak Budi tiba dan masih berjalan menuju tempatku berada sekarang.
Melihat Pak Budi sudah mendekat, aku lalu memesan makanan dan minuman pilihanku. Kemudian, meminta Bik Inah memesan makanan dan minuman untuk nya, selanjutnya baru Pak Budi.
Sambil menunggu pesanan datang, aku terus memandangi guyuran hujan yang turun, menimbulkan suara gemercik pada telaga buatan. Semakin hujan turun dengan deras, suasana semakin syahdu dalam alam terbuka penuh kesejukkan.
Hujan seakan menggoda hati untuk terhanyut dalam irama gemercik airnya, dan mengingat akan seseorang yang berada dalam angan jauh di pelupuk mata.
Dan pandangan ku terhenti seketika, saat melihat sepucuk surat dari Kak Reno yang berada di dalam tas ku.
Dengan perlahan, aku mengambil surat itu dan membukanya.
Ketika matahari bersembunyi, dan sang awan mendung dengan seksama jadi penguasa langit. Kemudian, hujan pun turun mengguyur bumi.
Gemercik airnya menenangkan, dan membawa lagi pertemuan kita.
Bukan karena kesengajaan ku, tapi putaran waktu menggiring raga ini kembali padamu.
Maafkan aku, jika kehadiran diriku membuat luka di hatimu, kembali terbuka.
Ran,
Aku turut berduka cita, atas kepergian kekasih hatimu. Dan aku juga sangat merasa kehilangan akan ketiadaan dirinya.
__ADS_1
Tidak mudah memang untuk melupakan seseorang yang sangat berarti, di dalam kehidupan kita. Karena aku pun pernah merasakan nya.
Dimana kesedihan seakan-akan terus merajai hati dan pikiran, meski keinginan berusaha untuk tegar.
Percayalah Rani,
Allah Subhanahu Wa Ta'ala terkadang mendatangkan kesedihan yang mendalam di kehidupan kita. Karena tak lain Allah telah mempersiapkan kebahagiaan yang begitu sempurna dan tersembunyi, dari penjangkauan kita sebagai manusia biasa.
Yakinlah, karena memang Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak mungkin menetapkan kisah buruk-Nya, kemudian Allah meninggalkanmu begitu saja seorang diri.
Mengapa?
Sebab, pasti setelahnya Allah akan menghadirkan kisah bahagia yang pastinya sempurna dan indah mewarnai kehidupan mu.
Tidak perlu menyesali dirinya yang telah pergi menghadap kepada Sang Pemiliknya,sebab Allah telah menyediakan orang yang lebih baik dari dirinya, tanpa sepengetahuan dirimu.
Sehingga tugasmu saat ini adalah yakin dan teruslah berprasangka baik pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan jangan lupa untuk semakin memperbaiki diri juga semakin dekat kepada-Nya, karena jodoh yang baik dan bahkan benar-benar sangat baik itu adalah dirimu sendiri yang menciptakan, sedangkan Allah Ta'ala hanya merestuinya saja.
Dan nanti kemudian, jika memang seseorang yang terbaik untuk dirimu telah Allah hadirkan.Tidak peduli sejauh apa pun seseorang yang telah Allah persiapkan untuk dirimu, berada saat Ini.InsyaAllah dirimu akan bertemu dan kembali padanya, tanpa pernah engkau sadari dan duga.
Percayalah Rani,
mungkin jeda menyakitkan ,yang saat ini engkau rasakan adalah salah satu cara Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi dirimu dan dirinya agar saling memperbaiki diri, dan bertemu lagi nanti ,disaat dirimu dan dirinya sudah benar-benar baik,serta hati kalian semakin matang dan dekat kepada Sang Ilahi.
Dimana terkadang kita terbuai dan hanyut dengan kata cinta, hingga kita terkadang melupakan sebenarnya untuk apa kita di ciptakan ke dunia ini.
Satu hal yang perlu dirimu pahami dan mengerti adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala,tidak akan pernah menciptakan cinta untuk membuatmu terluka dan tersakiti.Tetapi, jika luka hinggap di perjalanan cintamu, itu karena dirimu yang menciptakannya sendiri.
Kuat dan bangkit lah dari rasa kesedihan dan kesepian yang membelenggu dirimu.
Karena aku yakin, dirimu mampu dan tegar untuk melakukannya.
Hidup terus berlanjut Ran, untuk terus membuat diri kita berjuang dan memainkan peranan kita dalam kehidupan ini.
Diantara gemercik suara hujan dan keheningan di tempat ini, aku mengingatmu dalam kesibukan kecil yang membahagiakan dan memainkan perasaan hatiku, padamu.
Don't cry over because it is over, smile because it happened.
(Jangan menangisi yang telah berlalu, tersenyumlah karena semua telah terjadi).
Semoga saat Allah mempertemukan kita kembali, dirimu akan dapat menerima kehadiran diriku, tanpa perlu untuk menghindar.
Yang selalu mencintai Rani,
Roy.
Aku pun lalu memegangi surat tersebut, sembari masih memandang hujan yang masih terus turun.
Pikiranku terus mengalir menuju bayangan Kak Reno, sesuatu yang bersemayam mengikat hatiku.
Tetapi, entah apa itu aku tidak mengerti.
Bik Inah mengusap punggungku dengan lembut, lalu memintaku untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah tersedia di atas meja.
Aku mengangguk dan tersenyum pada Bik Inah juga Pak Budi yang menatap diriku serius.
Hujan masih terus mengguyur dengan deras, dan membuat suasana hatiku menjadi teduh.
Apapun yang terjadi nanti, aku pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
__ADS_1
Aku lalu bergabung bersama Pak Budi dan Bik Inah, menikmati hangatnya makanan dan minuman dalam guyuran hujan, yang membersamai kedekatan kami.