Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kembali bersama bunda


__ADS_3

Kak Roy mendekatiku dan kakek.Senyumnya yang teduh menenangkan siapa pun yang memandangnya.Perlahan dengan lembut Kak Roy mengusap pundak kakek untuk menopangnya berdiri.


"Kek,jangan menangis lagi.Kasihan Rani juga ikut sedih melihat kakek seperti ini,"ucap Kak Roy lembut.


Kakek yang mendengar ucapan Kak Roy pun melirik perlahan ke arah Kak Roy.Dengan perlahan Kak Roy menebar senyumnya yang hangat.Kakek mengangguk pelan setelah itu ia memandangiku dengan tatapan dalam.Aku iba melihatnya lalu kuseka perlahan air matanya dengan jemariku perlahan.Kedua matanya yang mulai renta menutup perlahan dalam derai air matanya yang masih menetes.


"Kakek jangan menangis ya.Lebih baik sekarang kakek pulang dan beristirahat di rumah kek.Kakek sudah terlihat letih,"ucapku lembut dengan suara sedikit parau.


Kakek hanya diam menatapku kemudian Kak Roy menimpali ucapanku,"Benar kata Rani kek.Kakek jangan menangis lagi.Dan Kakek beristirahat dulu saja dirumah.Rani biar Roy yang jagain disini.Nanti untuk sementara Rani bisa menginap dirumahnya Wirda.Jadi kakek tidak usah cemas.Yang terpenting sekarang kakek menjaga kesehatan juga,"ucap Kak Roy bijaksana.


Pandanganku dan kakek bertemu.Aku pun mengangguk mengisyaratkan setuju akan saran dari Kak Roy.Perlahan kakek pun menyetujui permintaanku dan Kak Roy.Pak Sugeng dan Bu Sri pun mendekatiku.Tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka hanya usapan lembut dari Pak Sugeng dan kecupan lembut dari Bu Sri yang mendarat di keningku.Sebelum mengantar kakek pulang.Pak Budi dan beberapa ajudannya diminta oleh Pak Sugeng untuk tetap berada di rumah sakit menemaniku.Semula Mbak Riska dan Kak Reno tidak ingin pulang bersama mereka.Tetapi entah apa yang Kak Roy katakan saat mendekati Kak Reno sehingga akhirnya ia dan Mbak Riska pun ikut pulang.Kakek membelai pelan kepalaku.Hingga akhirnya ia dan keluarganya berlalu pergi dari hadapanku.


Kak Roy mendekatiku dan berkata,"Ran,jika Rani ingin melihat bunda segera membaik Rani pun juga harus menjaga kesehatan Rani.Sekali ini kakak mohon dengarkan kakak.Sementara Rani menginap dulu di rumah Wirda.Supaya badan Rani juga menjadi lebih fit kembali,"bujuk Kak Roy lalu meneruskan ucapannya,"Wir, untuk sementara Rani tidak apa-apa kan menginap di rumahmu?,"tanya Kak Roy.


Dengan tanggap Wirda pun menjawab,"Iya kak nggak apa-apa .Wirda juga malah senang kok kak.Wirda juga setuju dengan saran Kak Roy,"jawab Wirda lalu ia memegangiku,"Mau ya Ran.Kamu jangan keras kepala lagi.Ingat demi bunda dan kesehatanmu sendiri,"ucap Wirda meyakinkanku.


"Iya Ran.Kondisi bunda jangan terlalu khawatir nanti malam Kak Roy akan kembali lagi kesini dan In syaAllah kakak akan menginap di rumah sakit bersama Pak Budi yang lainnya.Jadi Rani jangan khawatir ya.Sekarang kakak antar Rani dan Wirda kerumah Wirda dulu ya.Besok pagi saat kondisi Rani sudah sehat kembali.Kakak akan jemput Rani.Bagaiamana?,"tanya Kak Roy.


Aku pun mengangguk pelan pertanda setuju dengan saran dari Kak Roy.


"Kak Roy terima kasih banyak untuk semua bantuan yang telah kakak berikan,"ucapku pelan.


Kak Roy tersenyum sambil berkata,"Sudah Rani nggak perlu berpikir macam-macam mulai sekarang.Yang terpenting sekarang Rani dan bunda sehat setelah itu baru dipikirkan langkah dan keputusan selanjutnya yang harus Rani ambil bersama bunda,"ucap Kak Roy.


Aku pun mengangguk dan tersenyum kecil pada Kak Roy yang juga membalas senyumku dengan tawanya yang hangat dan tenang.Kemudian ia pun mengantarku dan Wirda menuju rumah Wirda.


Sesampainya di rumah Wirda orang tuanya menyambutku dengan suka cita dan ramah.Wirda pun menceritakan semua perihal mengenai kondisiku.Maka bertambah iba dan prihatin orang tuanya melihat keadaanku.Tidak lama setelah itu Kak Roy pamit pulang.Sementara Wirda menuntunku menuju kamarnya untuk beristirahat.Di kamar Wirda,ia membantuku membersihkan diriku dan mengganti pakaianku yang sudah lusuh.Dengan kasih sayang pula ia menyuapiku bubur dengan pelan.


Aku menatapnya dalam,"Terima kasih banyak ya Wir.Kamu sudah sangat kurepotkan,"ucapku lirih.

__ADS_1


Wirda tersenyum pelan,"Udahlah Ran,kayak sama siapa aja.Kamu itu sahabatku bahkan sudah kuanggap layaknya saudariku sendiri.Nah,mulai sekarang jangan sembunyikan apapun dariku ya Ran.Apapun itu kamu harus membaginya denganku.Mengerti!,"ucap Wirda serius.


Aku pun mengangguk dengan mata berkaca-kaca.Wirda menepuk pipiku lembut,"Setelah ini minum obatnya ya Ran.Supaya kondisimu lekas membaik,"ucap Wirda lembut.


Setelah meminum obat.Wirda pun menyuruhku untuk beristirahat.Aku berbaring,rasanya seluruh tubuhku terasa sakit dan begitu pegal.Sayup-sayup dalam tatapanku yang mulai mengantuk karena efek obat yang kuminum sehingga membuatku terlelap dalam selimut malam yang sunyi.


***


Esok harinya setelah menyantap sarapan pagi bersama keluarga Wirda.Kak Roy menjemputku untuk melihat kondisi bunda di rumah sakit.Wirda pun ikut bersamaku dan Kak Roy karena hari ini sekolah kami libur.Lalu Kak Roy berbisik lembut,"Ran,kabar baik.Alhamdulillah bunda sudah siuman semalam dan kondisinya berangsur membaik,"ucap Kak Roy.


"Alhamdulillah ya Allah.Benar kan?Kak Roy nggak bohong?,"tanyaku.


"Benar Ran,"jawab Kak Roy sumringah.


Aku pun tersenyum bahagia dan lekas mengajak Kak Roy untuk segera menuju rumah sakit.Aku sungguh tidak sabar untuk berjumpa dengan bunda.Maka setelah pamit dengan kedua orang tua Wirda.Aku,Kak Roy dan Wirda berlalu pergi menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Wirda tetap menuntunku dengan perlahan.Meskipun aku ingin cepat sampai ke ruangan bunda dan segera bertemu dengan bunda.Akh,rasa tidak sabarku akhirnya terobati saat aku sudah berada di pintu ruang perawatan bunda.Dengan tidak sabar segera kubuka pintu.Rona wajahku sumringah begitu melihat bunda yang sedang menatap kearahku dalam kondisi berbaring.


Aku menangis bahagia dalam haru kesedihanku.Lirih lisanku memanggil asma bunda,"Bunda...jangan sakit lagi ya Bun.Rani sayang bunda....Rani sangat menyayangi bunda.Hikssss.....hiksssss,"ucapku lirih dalam derai air mataku.


Maka tidak henti-hentinya aku mendaratkan kecupan sayangku pada wajah bunda.Kupegang lembut jemari bunda dan meletakkannya pada wajahku.Teduh hatiku merasakan kehangatan usapan jemarinya.Bunda menatapku dalam senyum kecilnya.Pandangannya sayu dalam guratan wajahnya yang masih lemah.Lirih lisannya menyebut namaku,"Rani putri bunda."


"Iya bun,"jawabku pelan.


Bunda menatapku kembali dan melanjutkan ucapannya,"Sekarang putri bunda sudah besar.Putri bunda sudah tumbuh menjadi gadis tangguh yang kuat.Bunda bangga pada Rani.Apapun yang terjadi bunda berharap Rani selalu sabar,ikhlas dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta'ala,"ucap bunda pelan.


"Iya bun,"jawabku pelan sambil menangis.


Perlahan jemari bunda mengusap lembut wajahku dengan senyum kecilnya yang mengembang.Lama bunda memandangiku,begitu lekat seolah-olah ia enggan untuk berpaling melepaskan pandangannya dariku.Matanya masih berkaca-kaca meski air matanya tidak lagi berderai.Namun aku merasakan kesedihan yang dalam dari tatapan bunda.Begitu sayu penuh makna tanpa mudah kucerna maksud dari tatapan sendunya.Ditariknya napas perlahan seraya ia melantunkan penggalan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang begitu menenangkan hatiku.Meskipun pelan namun sangat indah dan merasuk dalam jiwa yang mendengarkan,

__ADS_1


"A'uudzubillahi billahi minasy syaithonir rojiim. Bismillahirrahmanirrahim.Wa la tastawil-hasanatu wa las-sayyi`ah, idfa' billati hiya ahsanu fa izallazi bainaka wa bainahu 'adawatung ka`annahu waliyyun hamim.Wa ma yulaqqaha illallazina sabaru, wa ma yulaqqaha illa zu hazzin 'azim.Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.(QS.Fushilat ayat 34-35).Dan Allah ta'ala juga berfirman dalam QS.Ali Imran ayat 134 yang berbunyi:Allazina yunfiquna fis-sarra`i wad-darra`i wal-kaziminal-gaiza wal-'afina 'anin-nas, wallāahu yuhibbul-muhsinin.Yang artinya:(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,"bunda menghela napas sebentar kemudian meneruskan melantunkan penggalan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Khuzil-'afwa wa`mur bil-'urfi wa a'rid 'anil-jahilin.Artinya:Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS.Al-A'raf ayat 199).


Wa laman sabaro wa ghofaro inna zalika lamin 'azmil-umur.Artinya:Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan,sesungguhnya(perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.(QS.Asy-Syura ayat 43),"tutur bunda sambil mengenggam erat jemariku.


Bunda terdiam sesaat kemudian melanjutkan perkataannya kembali," Rani tahu dari semua penggalan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang bunda lantunkan memiliki arti akan pemahaman dari sebuah sikap akhlak mulia yaitu untuk menahan amarah(Hilman atau lemah lembut)dan sabar (sadar bahwa itu musibah dan ujian),memaafkan kesalahan orang lain,mengerjakan yang ma'ruf,menjauh dan berpaling dari orang yang bodoh serta membalas kejelekan dengan kebaikan,"ucap bunda sungguh-sungguh.


Aku bertanya-tanya apa maksud bunda mengatakan ini semua padaku dalam hati.Dan lagi bunda seperti mengetahui apa yang kupikirkan hingga tanpa kutanyakan bunda langsung menguraikan maksud dari ucapannya padaku dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Ran,bunda ingin Rani mema'afkan semua kesalahan dari keluarga Pak Suprapto.Bunda tidak ingin Rani larut dalam kebencian dan rasa dendam.Bunda memahami semua mungkin terasa sangat sulit dan begitu menyakitkan untukmu nak.Namun percayalah Allah tidak akan menghadirkan ujian melebihi kemampuan seorang hambanya.Saat itu bunda begitu syok mengetahui bahwa Rani memilih menikah siri dengan Reno.Tetapi setelah bunda mencerna untuk memahami keputusan yang putri bunda ambil.Bunda akhirnya dapat menelaah keputusanmu nak.Bunda yang seharusnya meminta ma'af pada Rani karena kondisi bunda maka Rani harus berkorban begitu sangat besar,"ucap bunda lirih sambil meneteskan air mata.


Aku yang melihat bunda menangis menjadi tidak tega,"Nggak Bun,bunda nggak salah,"ucapku berusaha menguatkan bunda sambil kuseka air matanya perlahan,"Bunda jangan menangis ya Bun,"pintaku.


Bunda tersenyum kecil dan terus memandangiku,"Rani mau kan memenuhi permintaan bunda untuk mema'afkan seluruh keluarga besar Pak Suprapto khususnya Pak Sugeng,Bu Sri dan Reno.Anggap semua sudah Qadarullah nak,ikhlaskan apa pun yang terjadi dan pasrahkan semuanya kepada Allah ta'ala.Maka bersediakah putri bunda memenuhi keinginan bunda tersebut?,"tanya bunda pelan.


Aku terdiam membisu.Semua terasa berat dan menyakitkan untuk berusaha melupakan semua yang terjadi.Aku pun masih diam tidak bergeming hingga bunda mengusap pipiku lembut seraya memanggil namaku pelan,"Rani..Ran,kenapa Rani diam?Rani mau kan memenuhi apa yang bunda minta?,"tanya bunda penuh harap.


Aku menghela napas dalam sembari kututup perlahan kedua mataku.


"Bismillah,iya bun.In syaAllah Rani ikhlas menerima semua yang terjadi dalam kehidupan Rani Bun.Rani akan berusaha melupakan semua dan menganggap jika semua yang terjadi adalah pilihan dari Allah ta'ala untuk menguji Rani supaya menjadi hamba yang lebih baik lagi dan In syaAllah lillah akan keputusanNya,"ucapku yakin.


Bunda tersenyum,"Alhamdulillah nak.Bunda bangga pada Rani.Percayalah nak dengan mema'afkan tidak akan membuatmu merasa rendah ataupun hina justru akan membuatmu semakin mulia dan semakin dekat dengan Allah.Jazakillag Khoiron nak,semoga Allah membalas kebaikanmu sayang,"ucap bunda bahagia.


Aku lalu mencium tangan bunda dan berkata,"Aamiin ya robbal'alamiin."


Pandanganku dan bunda bertemu dengan tatapan bahagia tanpa beban amarah ataupun kebencian.Semua perlahan menguap dalam dekapan hangat penuh ketenangan dari raga bundaku,belahan jiwaku.Aku sungguh beruntung memilikimu Bun.Wanita tangguh yang Sholihah nan baik hati dengan jiwa yang sangat elok menjadi suri teladan bagiku.


Aku larut dalam dekapan bunda.Sementara Kak Roy dan Wirda tersenyum bahagia melihatku dan bunda yang tidak berlarut dalam kesedihan.Ya Allah,terima kasih untuk hari yang sangat membuatku nyaman dan tenang dalam dekapan kasih sayang bundaku serta memiliki teman seperti Kak Roy dan Wirda yang selalu menyayangi dan mendukung diriku.

__ADS_1


"Allaahumma a'innaa 'alaa dzikrika wa syukrika wa Husni ibaadatik.Artinya:Ya Allah,tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu dan mensyukuri Rahmat dan nikmat-Mu dan perbaikilah amal ibadah kami kepada-Mu,"ucapku lirih.


Aku,bunda,Kak Roy dan Wirda tersenyum bersama dalam kebahagian kecil yang merona dalam hati dan jiwa masing-masing.


__ADS_2