
Hari demi hari bergulir secara perlahan.
Semua persiapan untuk acara resepsi perayaan pernikahanku dan Kak Reno hampir selesai.
Begitu pula dengan pengurusan dokumen pernikahanku dan Kak Reno.
Setelah melewati semua prosedur dan diverifikasi dari pengadilan agama serta kantor urusan agama.
Maka pernikahanku sudah mendapatkan kepastian hukum yaitu bukti pernikahan berupa akta nikah yang sangat dibutuhkan bagi setiap pasangan yang sudah menikah sebagai bukti otentik dan dokumen yang legal.
"Alhamdulillah mulai sekarang pernikahan Reno dan Rani sudah tercatat legalitas identitas hukumnya sehingga menjadi pasangan suami istri yang sah dan diakui oleh negara lewat pemberian buku nikah dan dokumen kependudukan setelah prosesi Isbat nikah,"ucap Bu Sri penuh syukur.
Pak Gukul datang ke rumah dengan membawa semua berkas dokumen pengesahan pernikahanan surat lainnya.
Semua orang merasa sangat senang mendapat berita bahagia ini.
"Baiklah sekarang kita fokus dengan acara perayaan pesta pernikahan Reno dan Rani ya mah,pah,"ucap Mbak Riska.
"Iya nak,"jawab Bu Sri tersenyum bahagia.
"Oh..ya mah nanti sore fitting kedua baju pengantin Reno dan Rani. Ini Riska sudah di hubungi sama temannya mama yang desain baju Reno dan Rani,"jelas Mbak Riska pada Bu Sri.
"Oh...bagus dong.Kalau begitu nanti Riska bilang ke Rani dan Reno untuk siap-siap setelah ba'da ashar kita langsung melunjur ke butik ya.Sekarang mama istirahat dulu sebentar ya Ris.Mama agak capek,"kata Bu Sri mengusap kepala Mbak Riska pelan.
"Iya mah,"sambil mengangguk.
Bu Sri berjalan menuju lift rumah mereka untuk beristirahat di kamarnya.
Sementara Mbak Riska mencariku dan Kak Reno untuk memberitahukan perihal persiapan fitting baju pengantin.
Sorenya di butik, ditemani Mbak Riska dan Bu Sri seperti biasanya.
Aku dan Kak Reno melakukan pengepasan terakhir baju pengantin kami yang cukup cepat dibuat.
Ternyata gaun baju pengantin yang kupilih lebih ke konsep modern minimalis.
Desain gaun berbahan satin nude pink terlihat berkilau dengan tambahan sedikit payet di beberapa bagian gaun.
Namun aku sedikit kesulitan memakai high heels itu karena aku tidak terbiasa memakainya.
Rasanya tubuhku tidak seimbang ingin jatuh ditambah memakai gaun yang lebar dan besar di bagian bawahnya menutup seluruh ujung kakiku.
Bagaimana aku akan melangkah ucapku dalam hati dengan rasa bingung dan was-was jika aku terjatuh.
Ya Allah,tidak bisa ku bayangkan bagaiamana nantinya.
Ughhhhhhhh....
Aku khawatir.
"Ran, wedding high heels nya mbak pilihkan yang chunky heels berbahan satin pink ini, yang akan memancarkan pesona bak Barbie pada Rani saat memakainya. Detail beads and transparant lace pada sling back heels ini juga tampak modis buat Rani,"ucap Mbak Riska semangat menjelaskan padaku sambil membantuku memakai high heels.
"MasyaAllah Rani kamu terlihat cantik dan mempesona sekali padahal belum di make up (dirias),"puji Mbak Riska memandang ke arahku tersenyum.
Mendengar Mbak Riska memujiku akupun tersenyum malu dan segera membaca do'a ketika dipuji seseorang agar aku tidak terlena dan menghindari dari penyakit 'ain ( adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub. Sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena).
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Allahumma la tu akhizni bima yaqulun waghfirli ma la ya'lamun waj'alni khoiran mimma yadzunnun."
"Artinya:Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
" Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku."
__ADS_1
"Aamiin ya rabbal'alamiin ( kabulkan ya tuhan, kabulkanlah)."
"Sekarang Rani coba berdiri lalu berjalan pelan,nanti Rani merasa nyaman atau tidak,"suruh Mbak Riska sambil membantuku berdiri.
Kugapai tangan Mbak Riska agar tubuhku dapat berdiri.Rasanya ribet dan sulit untukku sebab aku tidak pernah memakai gaun dan high heels seperti ini dari dulu.
Pelan-pelan aku dapat berdiri walau masih tidak stabil hingga saat ingin mencoba berjalan tubuhku tidak seimbang dan.....
Auwwwww.....
Tubuhku akan terjatuh....
Hupppp....
Aku sudah merasa pasrah saat Mbak Riska tidak mampu meraihku.
Kupejamkan mata.
Aku jatuh tetapi kenapa tidak terasa sakit,batinku.
Karena penasaran maka aku pun membuka kedua mataku pelan.
Dan betapa terkejutnya aku saat melihat Kak Reno.
Wajah kami bertemu begitu dekat.
Kedua tangannya memegang tubuhku dengan meyangganya.
"Kamu nggak apa-apa Ran?,"tanyanya cemas.
Aku mengangguk pelan.
"Alhamdulillah syukur jika kamu baik-baik saja,"ucapnya senang.
Ckrrrrrkkkkkk....
Aku dan Kak Reno melihat sekitar ternyata Mbak Riska memotret kami.
"Yeaayyy.....dapet.Momen langkah ini wajib di abadikan,"kata Mbak Riska sambil memandang ke telepon genggamnya.
Kak Reno membantuku berdiri perlahan dan mengenggam tanganku yang masih oleng dengan high heels yang aku kenakan.
"Mbak Riska bukannya bantuin malah foto aja,"ucap Kak Reno melirik ke arah Mbak Riska.
"Lha kan sudah ada Reno.Jadi mbak nggak perlu bantuin kan.Your power has greater strength.And I think you alone are enough to help Rani.
Nanti mbak malah ganggu lagi.Hehehehe.....,"ucap mbak Riska agak cengengesan.
Kak Reno hanya mengelengkan kepala melihat kelakuan Mbak Riska.
Sementara diriku masih membuat tubuhku nyaman dengan gaun dan high heels yang kukenakan.
"Ran,kakak bantu kamu berjalan pelan ya,"ucap Kak Reno menawarkan bantuan.
"Ehhhh....bentar kalian berdua berdiri dong mbak mau foto dulu sama kalian sebentar aja.Mah,tolong fotoin ya,"kata Mbak Riska sambil memberikan telepon genggamnya kepada Bu Sri.
Dengan cepat kilat Mbak Riska langsung berdiri di antara aku dan Kak Reno sambil menggandeng tangan kami berdua.
Melihat kelakuannya Bu Sri hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Tidak lama setelah itu.Bu Sri pun gantian meminta foto denganku dan Kak Reno.
"Masya Allah kedua anak mama terlihat serasi.Yang satu terlihat tampan dan yang satunya terlihat cantik.Kalian berdua akan mempesona semua orang,"ucap Bu Sri sambil memegang pipiku dan Kak Reno dengan penuh cinta.
"Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun."
__ADS_1
"Artinya:Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka,"ucap Kak Reno mendengar Bu Sri berkata demikian.
"Aamiin ya robbal alamiin (kabulkan ya tuhan, kabulkanlah),"sahutku.
"Kamu membaca do'a apa nak?,"tanya Bu Sri penasaran.
"Oh..ini mah,bacaan do'a ketika dipuji orang lain atau ketika orang lain memuji kita agar terhindar dari penyakit hati,"jawab Kak Reno sambil membantuku duduk di kursi.
"Mama baru tahu nak.Bukannya kalau dipuji itu berarti kita disenangi orang lain kan.Seperti mama memuji Reno dan Rani karena mama sayang pada kalian dan nggak ada niat jelek pada anaknya,"pendapat Bu Sri sambil duduk di sebelahku.
"Iya mah,supaya kita yang mendapat pujian tidak terlena karena dipuji.Dan menjauhkan dari sifat ujub atau sombong. Dengan membaca do'a ini kita sadar bahwa diri kita tidak lebih baik dari orang lain. Karena sesungguhnya yang pantas untuk dipuji hanyalah Allah Subhanahu wa ta'ala ( Mahasuci dan Mahatinggi),"jelas Kak Reno sambil melepaskan dasi berbentuk pita di kerah kemejanya.
"Ohhh....begitu ya nak.Berarti, saat dipuji orang lain kita sebaiknya membaca doa ketika dipuji dan memperbanyak istighfar,"tanya Bu serius.
"MasyaAllah betul sekali mah,"jawab Kak Reno dengan tersenyum.
"Hmmm...kira-kira gimana bajunya nyaman nggak setelah kalian fitting?,"Bu Sri bertanya kepada kami berdua.
Aku dan Kak Reno saling memandang.
"Reno nyaman-nyaman aja mah.Kalau Rani gimana?,"tanya Kak Reno memandangku.
"Rani masih belum terbiasa.Seperti aneh saja memakainya,"ucapku dengan polos.
"Iya nggak apa-apa nak,nanti di rumah biar Mbak Riska bantuin Rani ya.Terutama pakai high heels ya nak,"ucap Bu Sri tersenyum sambil memegang daguku.
"Iya kan Ris,"kata Bu Sri menoleh ke Mbak Riska.
"Ehh...iy....iy..iya mah,"ucap Mbak Riska kaget yang sedang fokus dengan telepon genggamnya.
"Hmmmm....kamu itu main handphone terus Ris,"ucap Bu Sri sedikit kesal.
"Ini nggak main handphone mah.Riska lagi lihat foto-foto Reno dan Rani tadi.Lucu dan bagus,"bela Mbak Riska sambil menunjukkan layar telepon genggamnya pada Bu Sri.
Bu Sri dan Kak Reno pun melihat karena penasaran.
"Mbak kirim ke Reno ya,"pinta Kak Reno.
"Mama juga ya Ris,"ucap Bu Sri.
Mbak Riska mengkerutkan dahinya sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
"Hmmmmm......giliran tadi pegang handphone dan ambil foto pada nggak suka.Ehhh...sekarang pas lihat fotonya pada minta.Ckkkkkkkkk......,"ucap Mbak Riska sambil menggelengkan kepalanya.
"Gitu aja ngambek mbak,"balas Kak Reno sambil mencubit pipi Mbak Riska.
"Ren,sakit tahu.Nggak mbak kasih kalau gitu,"gertak Mbak Riska pada Kak Reno.
"Ehhhh....jangan gitu dong mbak.Iya ...iya Reno minta maaf.Kirimin ya mbak please!,"ucap Kak Reno memohon.
"Udah deh kalian berdua ini seperti masih kecil aja.Malu kan dilihat Rani,"sela Bu Sri.
Aku hanya memandangi Kak Reno dan Mbak Riska.
Tingkah mereka terkadang dewasa tetapi terkadang juga kekanak-kanakan.
Namun,aku tahu mereka saling menyayangi dan melengkapi sebagai saudara dan saudari.
Kulihat tawa Kak Reno merekah bahagia.
Selam ini belum pernah ia tersenyum selepas ini tanpa beban.
Ia begitu sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
Yah,setiap waktu bersamanya.
__ADS_1
Memenuhi bingkai hari-hariku yang berwarna akan sikapnya yang membuat takjub dan terkesan.
Ia membuatku tidak bisa berhenti untuk memandangnya.