
Mengikhlaskan Mas Fariz yang sudah pergi untuk selama-lamanya dari kehidupan ku. Bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi Ummah dan Abi terus memberikan diriku kekuatan untuk menghadapi dan menerima kenyataan.
Saat kita kehilangan orang yang kita cintai, baik itu pasangan,anggota keluarga maupun teman dekat, sangat sulit untuk mengucapkan selamat tinggal atas kepergiannya. Termasuk diriku sendiri yang masih sekuat tenaga berjuang untuk mengikhlaskan kepergian Mas Fariz dari kehidupan ku dan memulai kembali kehidupan baru ku tanpa dirinya. Hal yang masih teramat sulit dan menyakitkan untuk di kenang dalam ingatan.
Namun, pada titik tertentu, aku harus benar-benar menerima bahwa Mas Fariz telah pergi untuk selama-lamanya dan melepaskannya.
Mengikhlaskan dan melepaskan mungkin tampak seperti membuat diriku terlihat menyerah kepada orang itu atau ingatannya. Padahal, kenyataan nya tentu tidak seperti itu.
Aku duduk terdiam di atas kursi rodaku, sembari memandangi langit biru dari beranda kamarku.
Ku tarik napas panjang yang dalam, untuk membuat perasaan ku benar -benar tenang .
"Tidak ada gunanya terus-terusan terjebak kesedihan berlarut-larut atau berduka atas kehilangan Mas Fariz.Mas Fariz tentu tidak ingin hidupku berhenti atau dibatasi karena ingatan akan kenangannya yang terus tumbuh di pikiran dan hatiku, "ucapku lirih sambil memejamkan mataku.
Ingatanku kembali teringat akan perkataan Enjid beberapa waktu lalu padaku, " Rani boleh berduka dan merindukan Fariz,karena itu adalah hal yang wajar, tetapi itu harus bertahan beberapa saat saja dan tidak berlarut-larut berkepanjangan. Namun, juga normal untuk mencapai titik di mana Rani menerima dan mengikhlaskan Fariz setelah kepergiannya, serta melepaskan kesedihan yang berkelanjutan di dalam kehidupan Rani. Itu tidak berarti Rani tidak sedih atas kehilangan Fariz,juga tidak berarti kesedihan Rani langsung berhenti. Akan tetapi, itu menandai pergeseran di mana rasa sakit yang begitu luar biasa dan sulit diatasi oleh hati Rani, mulai mereda. Karena setelahnya, Rani dapat melihat ada kehidupan setelah kematian."
Aku terdiam merenungi perkataan Enjid dan berikhtiar untuk melakukannya. Perasaan ku masih bergetar dalam memori ingatnku bersama Mas Fariz.
Ughhhh.....
Ku hembus kan napas lagi sembari memandangi langit yang masih terlihat bersih tanpa awan. Aku larut dalam pemikiran ku sendiri.
Jodoh, rezeki, dan maut telah diatur Tuhan. Dan jika dianalogikan, dunia ini ibarat ruang tunggu. Kehidupan hanya sementara. Cepat atau lambat, kematian akan menghampiri tiap makhluk yang bernyawa.Termasuk diriku sendiri, gumamku di dalam hati.
Memang tak mudah merelakan kematian orang yang kita cintai dan sayangi. Yah, seperti apa yang dikatakan Ummah, Abi dan Enjid.Dimana jalan satu-satunya adalah ikhlas. Agar jalan Mas Fariz di alam kubur tak terhalangi dan almarhum bisa beristirahat dengan tenang.
Kematian memang menjadi jurang terdalam antara diriku dan orang yang cintai,yaitu almarhum Mas Fariz. Kepergiannya pun sangat menorehkan luka yang amat perih di dalam hatiku. Dimana aku mulai merasa kesepian dan tubuh seperti dibalut kerinduan yang terdalam padanya. Karena rindu adalah satu-satunya tali penghubung antara diriku dan almarhum. Karena rindu adalah tanda cinta dan kasih sayangku untuknya ,yang tak akn pernah berkurang.
Ku seka lagi air mataku yang jatuh untuk ke sekian kalinya, saat bayang akan dirinya menari kembali mengikat pikiran dan hatiku untuk merindukannya.
Akh, rasanya rindu itu berat...
Sesak dan penat menghujam di relung dada.
Bahkan memaksakan untuk bertemu adalah sebuah ketidakmungkinan. Sementara benak tak pernah bisa menayangkan kenangan lain selain dengan memori dan kenangan singkat bersamanya. Pikiran, badan, dan jiwa kini semakin digerogoti rasa kehilangan yang teramat dalam. Sungguh,betapa sangat sulit untuk melepaskannya yang telah banyak mengajari diriku banyak hal, dari mulai membantuku keluar dari kurungan penderitaan,menemaniku di kala suka dan duka, mengajariku semakin dekat kepada Sang Pencipta dan melimpahi duniaku dengan curahan kasih sayangnya.Semua kenangan akan ingatan itu, benar-benar membuatku tertawa dan menangis seketika.
Semakin sering bayangnya muncul dan menyiksaku dengan menancapkan duri kerinduan yang teramat dalam kepadanya.
"Oh, Ya Allah kuatkan diriku melalui semua ini tanpa dirinya lagi, " ucapku lirih dengan bibir bergetar.
Betapa pun diriku ingin berusaha melupakannya, tetapi selalu gagal kulakukan. Karena almarhum Mas Fariz yang telah pergi meninggalkan dunia ini, memang tak pantas dilupakan. Karena kenangan bersamanya yang telah pergi meninggalkan diriku, bukannya harus dihapuskan begitu saja.
Aku pun memutuskan untuk merawat dan memelihara kenangan bersamanya.Dengan merasakan kehadirannya bukan hanya di setiap kegiatanku. Tapi juga dalam diriku.
Sebab mengikhlaskan menurut diriku bukan berarti melupakan. Tapi menerima kenyataan, jika diriku suatu hari nanti, akan menyusulnya dan kembali bersama-sama dengan dirinya.
***
Pada pagi ketika cuaca sedang cerah dan kondisi lingkungan tenang.Untuk pertama kalinya Ummah, Abi, Enjid, Pak Budi dan Bik Inah menemaniku berziarah ke makam Mas Fariz dan Bik Siti. Melepas kerinduan kepada dua orang yang kami sayangi dengan mengunjungi pusara mereka. Sebab hanyalah do'a dan waktu luanglah untuk sekedar berkunjung yang menjadi obat rindu atas kepergian mereka.Meski tak bisa bertatap muka, namun melihat tempat peristirahatan terakhir orang tercinta sudah cukup mengobati rasa rindu di hati kami masing-masing.
"Assalamu’alaikum dara qaumin mu’minin wa atakum ma tu’adun ghadan mu’ajjalun, wa inna insya-Allahu bikum lahiqun.wa as alullooha lanaa walakumul ‘aafiyah.
Semoga Keselamatan terlimpah padamu, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Allah yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan disini,"ucap Abi dan Enjid bersamaan mengucapkan salam saat memasuki area pemakaman dan aku yang lainnya mengikuti bacaan do'a tersebut dengan lirih dan pelan
__ADS_1
Ummah lalu mendorong kursi roda ku perlahan menyusuri jalan setapak menuju tempat peristirahatan terakhir Mas Fariz dan Bik Siti.
Hatiku bergetar saat kami semua tiba di makam Bik Siti, dimana air mataku tumpah begitu juga dengan Ummah dan Bik Siti.
Tak lama kemudian, setelah mendoakan Bik Siti.Langkah kaki semua orang berlalu pergi, penuh kehati-hatian melewati beberapa makam dan rerumputan yang tumbuh hijau, terlihat terawat dengan baik. Ummah pun kembali mendorong kursi roda ku menuju makam Mas Fariz dengan perlahan. Dan jantung ku pun terus berdegup kencang tiada henti.
Akhirnya kami semua tiba,
Jarak antar makam yang dipisahkan oleh jalan setapak serta berada ditengah indahnya taman.Begitu membuat mataku terus berkaca-kaca saat memandangi pusara makam almarhum Mas Fariz.
Seketika pula,aku tertegun menatap nisan bertuliskan nama Mas Fariz yang ada di hadapanku.
Nyesss...
Linu dan nyeri rasanya hatiku.
Mengetahui orang terkasih dalam hidupku telah pergi untuk selamanya, berpulang ke hadirat-Nya.
Rasa rindu yang amat mendalam kembali mengisi lubang di hatiku, dan menjalar memenuhi organ tubuh ku yang lain.
Dimana dadaku mulai terasa sesak.
Tiba-tiba kenangan dengan Mas Fariz berserakan di dalam pikiranku. Dan tanpa kusadari, parasku sudah berenang dalam aliran air mata.
Ummah mengusap punggungku dan memberikan pelukan hangatnya, untuk menguatkan diriku.
"Astaghfirullah hal adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaihi.
Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang Tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri dan aku bertobat kepada-Nya, " ucapku lirih dan pelan untuk menguatkan diriku.
Seketika suasana menjadi hening bahkan daun -daun dari pohon bunga kamboja di pemakaman tak bergerak sedikit pun.
Hanya bau wangi dari semerbak bunga yang menghiasi makam Mas Fariz. Dan lantunan do'a yang dibacakan Abi , terus menggema dalam sayup-sayup ketenangan ini.
Kemudian Abi dan Enjid memberikan ku ruang untuk mendekat pada makam Mas Fariz. Ummah dan Bik Inah langsung membantu diriku untuk turut menghampiri makam almarhum Mas Fariz.
Aku hanya dapat menatap pusara Mas Fariz dengan penuh keharuan.
Lalu perlahan ku seka air mataku.
Tak lupa, diriku pun memberikan salam terlebih dahulu.
" Assalamu'alaikum mas,"ucapku dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Ku kuatkan diriku dengan mengusap batu nisan yang bertuliskan namanya.
Aku pun tersenyum melihat pusara Mas Fariz yang dipenuhi banyak bunga.
"Walau pertemuan kali ini kita tidak lagi bertatap mata Mas, namun melalui doa khusyuk ku di depan pusara mu, batin kita bisa menyatu, " kataku pelan sambil menyiram dengan air dari botol yang diberikan Ummah, lalu menaburkan bunga di atas makam Mas Fariz.
Tidak lama aku pun terdiam melantunkan do'a untuknya. Tanpa terasa air mataku kembali menetes. Dalam kesedihan suara hatiku sekan menjerit.
"Oh, Ya Allah, betapa cepat Engkau panggil Mas Fariz dari sisiku. Betapa sulit bagiku untuk mencerna semua ini. Betapa berat hidup yang harus ku jalani selanjutnya tanpa dirinya.Duhai suamiku,
__ADS_1
duhai belahan jiwa ku....aku sangat merindukan mu. Sangat ingin berkumpul dan bersama lagi seperti dulu denganmu. Apa yang harus ku perbuat sekarang, tanpa mu mas, ?".
Aku hanyut dalam pikiran dan keharuan ku.
Entah bagaimana aku akan meneruskan hidup ini tanpa kehadiran Mas Fariz di dalam hidupku. Ku tarik napas panjang dan dalam, sembari memejamkan kedua mataku.
Ughhhh....
Aku hanya bisa pasrah, berserah diri, dan bermohon pada-Nya.
Karena tidak ada yang bisa merubah takdir,
Hal yang menandakan betapa besarnya kekuasaanMu ..dengan menjemput orang terkasih yang amat kusayangi.
Di atas pusara Mas Fariz kali ini, aku berdo'a agar Mas Fariz selalu hadir di setiap momen terbaikku, Mas Fariz bisa merasakan kebahagian di tengah-tengah kami, walau raga Mas Fariz tak lagi ada menemani kami, tapi Mas Fariz akan tetap hidup di hati kami semua Mas. Semoga Mas Fariz selalu diberikan kebahagian disana.
Air mataku kembali mengalir , kali ini bukan karena diriku lemah. Tetapi diriku berusaha untuk mengikhlaskan Mas Fariz berpulang kepada Sang Pemiliknya.
Perlahan dengan bantuan Ummah dan bik Inah, aku memeluk dan mencium nisan Mas Fariz.
Momen ini pun menimbulkan rasa sedih yang sangat mendalam bagi semua orang yang memandang.
"Mas Fariz, Rani pulang dan akan terus kuat dan tegar menjalani kehidupan ini. Dan satu hal yang pasti .Selalu ada cinta di hati Rani untuk mu,meski Mas Fariz sudah tak ada di dunia ini. "
Ku seka air mataku dan memberikan senyuman terbaikku pada pusara Mas Fariz.
Ummah dan Bik Inah membantu ku lagi duduk di kursi roda.
Tidak lama setelahnya, kami semua pulang meninggalkan makam Mas Fariz.
Wuzzz...
Angin bertiup semilir lalu kencang, menggoyangkan dedaunan dan ranting pohon kamboja, yang mengugurkan bunganya.
Harum khas semerbak dari bunga kamboja, menusuk indra penciuman akan wanginya.
Dedaunan dan ranting pohon kamboja kembali bergoyang-goyang...
Mereka seolah melambai mengucapkan selamat tinggal atas kunjungan kami semua.
Aku dan yang lainnya terus pergi menjauh, dari tempat yang sunyi. Dimana kelak kami semua pun juga akan berada seperti mereka saat ini...
Wallahu'alam
Entah kapan, hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang tahu.
Tetapi kematian itu pasti yang akan menghampiri.
Disini diriku dan yang lainnya terus mengambil hikmah dan pelajaran dari ziarah kubur ini, dan mempersiapkan diri kami masing-masing dengan amal perbuatan yang terbaik. Sebelum Allah benar-benar meminta kami semua untuk pulang dan kembali menyusul Mas Fariz ....
Yah, kepergiannya dalam hidupku tentu memberikan pukulan yang sangat menyakitkan untuk ku dan seluruh anggota keluarga Imandar. Bukan hanya karena tak lagi bisa bertemu seperti sedia kala. Namun juga karena banyak hal yang berubah dalam hidup setelah ia tak lagi di dunia ini. Mulai dari keluarga hingga teman maupun kerabat lainnya. Semua akan pergi dan menyisakan rindu di hati ini, padanya.
Mas Fariz, aku telah mengikhlaskan dirimu...
__ADS_1
InsyaAllah.. aku kuat