Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Lamaran untuk Ustad Fariz.


__ADS_3

Ummah berjalan dengan langkah kakinya yang terasa sangat berat untuk menemui kedua orang tua Kak Aisyah, tetapi Ustad Fariz terus dengan pelan dan sabar menuntun Ummah untuk mengikuti langkah kakinya.


Jika bukan karena perkataan Fariz, rasanya enggan untuk diriku menemui kedua orang tua Aisyah,gerutu Ummah di dalam hatinya.


Tidak lama langkah kaki Ummah dan Ustad Fariz sudah tiba di depan ruang tamu umum yang biasa digunakan keluarga mereka untuk menyambut tamu yang tidak terlalu dekat dengan keluarga mereka untuk berkunjung.


"Ayo Ummah, " ajak Ustad Fariz.


Ummah pun terdiam tanpa berkata-kata, hanya pandangan matanya yang memandang wajah Ustad Fariz sesekali. Itu pun Ummah lakukan untuk meyakinkan hatinya agar bersedia menemui kedua orang tua Kak Aisyah.


Di dalam ruang tamu kedua orang tua Kak Aisyah sangat menantikan kehadiran Ustad Fariz dan keluarganya dengan raut wajah mereka yang penuh kecemasan. Hingga pandangan mata keduanya tertuju pada Abi, Ustad Fariz dan Ummah yang melangkah masuk ke dalam ruang tamu sedang berjalan menghampiri mereka, lalu dengan tiba-tiba berubahlah air muka kedua orang tua Kak Aisyah yang semulanya dihiasi ekspresi kecemasan kini sedikit demi sedikit menunjukkan pancaran rona bahagia dalam sebuah harapan yang mereka tunjukkan melalui ekspresi dan sikap keduanya.


"Assalamu'alaikum, mohon maaf sudah lama menunggu ya bapak dan ibu, " ucap Abi mengawali pembicaraan.


Abi lalu menyalami ayahanda Kak Aisyah, tetapi tidak dengan ibunda Kak Aisyah. Abi hanya menundukkan kepala nya sedikit sambil melipatkan kedua tangannya di dada seraya memberi salam. Begitu pula yang dilakukan oleh Ustad Fariz.


"Wa'alaikumussalam.Tidak Pak, kami justru senang sebab Bapak dan Ustad Fariz menemui kami berdua, malahan kami yang harus minta maaf sebab telah menganggu waktu bapak, ibu dan Ustad Fariz, " ucap ayahanda Kak Aisyah dengan rasa sungkan.


Ibunda Kak Aisyah ingin menyalami Ummah, tetapi Ummah menunjukkan sikap acuh tak acuh, maka dengan lembut Ustad Fariz pun berbisik kepada Ummah, "Ummah tidak baik bersikap seperti itu, kita harus memuliakan tamu kan Ummah. "


Ummah lalu memandang wajah Ustad Fariz sekilas, dan sedikit luluh lah hati Ummah mendengar apa yang dikatakan Ustad Fariz. Dan dengan sedikit rasa keterpaksaan di dalam hatinya, Ummah pun menjabat uluran tangan ibunda Kak Aisyah.


Abi lalu mempersilahkan kedua orang tua Kak Aisyah untuk duduk kembali, dan di ikuti oleh Abi, Ummah dan Ustad Fariz yang duduk juga pada sofa di ruang tamu. Mereka bertiga duduk berhadapan dengan kedua orang tua Kak Aisyah.


Abi lalu membuka percakapan, "Oh ya maaf bapak dan ibu bagaimana keadaan Nak Aisyah sekarang? Saya mendapatkan kabar dari putra saya Fariz jika Aisyah saat ini sedang dirawat di rumah sakit. "


Kedua orang tua Kak Aisyah saling berpandangan satu sama lain saat mendengarkan ucapan Abi. Terlihat dari mata sang ibunda Kak Aisyah yang berkaca -kaca.


Namun, ayahanda Kak Aisyah langsung menjawab pertanyaan dari Abi, "Iya Pak betul, saat ini putri kami Aisyah memang sudah dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah keadaannya mulai membaik meskipun masih sedikit lemah, beruntung kami segera membawanya ke rumah sakit sehingga Allah masih memberikan kesempatan bagi putri kami Aisyah untuk dapat hidup menjalani kehidupannya. "


Abi mengangguk, "Syukur Alhamdulillah jika demikian, dan kami mohon maaf belum bisa membesuk putri bapak sebab kami memiliki urusan yang mendesak. "


"Iya Pak, kami mengerti, " sahut ayahanda Kak Aisyah.


Sementara Ummah hanya terus diam memandangi wajah kedua orang tua Kak Aisyah dengan tatapan wajah sinisnya, hal ini sedikit membuat ibunda Kak Aisyah merasa sedikit risih dan tidak nyaman. Tetapi karena ini menyangkut tentang kehidupan putrinya, maka ia bertahan untuk menerima perlakuan kurang mengenakan yang ditunjukkan oleh Ummah.


Abi lalu mempersilahkan kedua orang tua Kak Aisyah untuk minum dan menikmati beberapa makanan ringan yang disajikan oleh asisten rumah tangga mereka.


Maka kedua orang tua Kak Aisyah tanpa ragu dan juga untuk menghormati lalu meminum teh hangat dari cangkir kecil di atas meja.


Abi tersenyum sambil menunggu kedua orang tua Kak Aisyah selesai meminum teh dari cangkir, untuk segera menanyakan akan maksud dan tujuan kedatangan mereka kemari.


Dukkk...


Kedua orang tua Kak Aisyah meletakkan cangkir yang mereka selesai minum kembali di atas meja.


"Terima kasih pak, untuk jamuannya kepada kami, " ucap ayahanda Kak Aisyah.

__ADS_1


Abi pun menjawab dengan senyumannya yang khas, "Tidak perlu berterima kasih pak. Ini sudah kewajiban kami selaku tuan rumah untuk menjamu tamunya. Oh ya bapak dan ibu jika kami boleh tahu, apa yang menjadi maksud dan tujuan dari kedatangan bapak dan ibu kemari?. "


Abi yang langsung menanyakan sebab kedatangan kedua orang tua Kak Aisyah di kediaman rumah mereka, dengan tiba-tiba langsung membuat ekspresi wajah kedua orang tua Kak Aisyah menjadi tegang dan sedikit keruh seketika.


Cukup sedikit lama kedua orang tua Kak Aisyah terdiam dan saling berpandangan satu sama lain, hingga sang ayah memberanikan dirinya untuk menyampaikan akan maksud dan tujuan kedatangan mereka di keluarga Imandar.


Abi, Ustad Fariz dan Ummah menatap serius wajah ayahanda Kak Aisyah. Khususnya Ummah, yang seakan-akan sudah tahu tentang apa yang mendasari kedatangan kedua orang tua Kak Aisyah di kediamannya. Tatapan mata Ummah yang tajam dan sinis, membuat ibunda Kak Aisyah terus memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari sorotan mata tidak suka yang ditunjukkan Ummah akan kedatangannya dan sang suami.


Ayahanda Kak Aisyah terlihat sedikit ragu, bingung dan tegang untuk memulai perkataannya. Namun, ibunda Kak Aisyah dengan cepat mengenggam jemari tangan suaminya tersebut untuk menguatkannya. Ayahanda Kak Aisyah pun menoleh ke arah istrinya, dimana ibunda Kak Aisyah menundukkan kepalanya sedikit sebagai isyarat baginya untuk meminta sang suami yakin dan segera menuturkan akan hajat mereka datang di kediaman rumah keluarga Ustad Fariz.


Dengan menghembuskan napas pendeknya, ayahanda Kak Aisyah lalu berkata dalam perasaan dan sikapnya yang terlihat tegang.


"Sebelumnya saya dan istri meminta maaf kepada bapak, ibu dan Nak Fariz karena mungkin kedatangan kami sangat menganggu dan kurang berkenan di hati semuanya. Tetapi karena hal ini sangat mendesak mengenai putri kami Aisyah. "


Tiba-tiba ucapan dari ayahanda Kak Aisyah terhenti, ia seakan sedang kembali untuk menata Kata-katanya lagi.


Sementara Abi dan Ustad Fariz menunggu ayahanda Kak Aisyah untuk meneruskan kembali perkataannya, namun tidak dengan Ummah yang terlihat semakin kesal seakan sudah kemana arah pembicaraan yang akan di ucapkan oleh ayahanda Kak Aisyah.


Lisan Ummah sudah terasa gatal untuk bertutur dan melayangkan ucapan yang ingin menyudutkan kedua orang tua Kak. Namun, rupanya Ustad Fariz memahami gelagat Ummah sejak tadi, ia pun mengusap punggung Ummah seraya berbisik, "Ummah sabar ya Ummah, kita dengar kan dulu apa yang menjadi tujuan kita kemari. Fariz tahu Ummah kesal dan tidak suka akan kedatangan kedua orang tua Ukhti Aisyah,tetapi kita harus tetap menghormati mereka.Ummah beristighfar ya Astaghfirullahalazim. "


Ughhhhhh....


Ummah menarik napas untuk melonggarkan hatinya yang terasa semakin tidak nyaman duduk berlama-lama berhadapan dengan kedua orang tua Kak Aisyah.


Kemudian, ayahanda Kak Aisyah yang terlihat lebih tenang kembali berkata, "Maksud dan tujuan kami kemari adalah untuk melamar Ustad Fariz menjadi calon suami putri kami Aisyah bapak dan Ibu. "


DEG....


Sementara Abi dan Ustad Fariz juga sangat terkejut.


"Setelah apa yang terjadi kepada putri kami Aisyah. Kami pun langsung memberanikan diri kemari terlepas akan bagaimana pandangan dan penilaian bapak, ibu dan Ustad Fariz terhadap kami. Tetapi inilah yang dapat kami lakukan sebagai orang tua akan memenuhi permintaan putri kami Aisyah yang bertutur kepada kami jika dirinya sangat mencintai dan tidak bisa hidup tanpa Ustad Fariz. Oleh karena itu, besar harapan kami supaya bapak dan ibu serta Ustad Fariz dapat sekiranya menerima lamaran yang kami ajukan, kami sangat memohon dan mengiba akan kemurahan hati bapak, ibu dan Ustad Fariz terhadap putri kami Aisyah supaya dapat terus hidup dan tidak frustasi dalam menjalani kehidupannya. "


Ummah yang mendengarkan penuturan ayahanda Kak Aisyah sudah semakin tidak dapat menahan emosinya.


"Bapak tahu apa yang bapak katakan itu! Dan apa yang telah putri bapak lakukan, " ucap Ummah sedikit kasar.


Abi dan Ustad Fariz ingin berusaha menghentikan ucapan Ummah, namun terlambat Ummah sudah tidak menghiraukan apapun permintaan dari Ustad Fariz.


Kedua orang tua Kak Aisyah saling berpandangan satu sama lain, mereka berdua begitu terkejut mendengar ucapan dari Ummah.


"Apa maksud dari perkataan Ibu?, " tanya ibunda Kak Aisyah ingin tahu.


"Putra saya Fariz tidak akan menerima lara dari putri Ibu Aisyah, " sahut Ummah.


Kedua orang tua Kak Aisyah tercengang dan syok mendengar ucapan dari Ummah.


"Tetapi kenapa Ibu?, " tanya ibunda Kak Aisyah.

__ADS_1


Ustad Fariz berusaha menenangkan Ummah dan langsung menjawab pertanyaan dari ibunda Kak Aisyah.


"Maaf Bu. Benar apa yang dikatakan Ummah saya. Saya tidak bisa menerima lamaran dari bapak dan ibu, sebab saya sudah memiliki pilihan sendiri untuk menjadi calon istri saya. Alhamdulillah saya sudah melamarnya dan saat ini kami sekeluarga tengah mempersiapkan pernikahan saya dan calon istri saya. "


DEG....


Jantung kedua orang tua Kak Aisyah terasa berhenti berdetak mendengarkan penuturan langsung dari Ustad Fariz.


Ummah pun langsung menimpali perkataan Ustad Fariz.


"Dan bapak ibu tahu, saat ini calon istri putra saya Fariz berada di rumah sakit dan mengalami cedera yang cukup parah, hal itu karena tindakan dan perilaku kasar yang dilakukan oleh putri bapak dan ibu bernama Aisyah itu."


"Tidak mungkin putri kami melakukan itu, " bantah ibunda Kak Aisyah sambil menitikan air matanya.


Ummah tersenyum sinis, "Ibu bilang tidak mungkin! Padahal ibu bisa melihat sendiri kebenarannya, jika putri ibu sangat egois dengan melukai dirinya sendiri untuk dapat memenuhi hasratnya akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan terhadap putra saya Fariz. "


Kedua orang tua Kak Aisyah semakin terkejut dan tidak percaya jika putrinya melakukan hal yang dapat melukai orang lain, kedua orang tua Kak Aisyah terus membantah. Ummah yang sangat kesal mendengar pembelaan dari kedua orang tua Kak Aisyah dengan segera melontarkan ultimatumnya.


"Terserah apa pembelaan yang bapak ibu utarakan terhadap putri kalian. Tetapi sampaikan ucapan saya ini kepada putri bapak dan ibu, jika ia masih terus menganggu dan memaksakan keinginannya untuk dapat menjadi istri putra saya, maka saya tidak akan segan -segan melaporkan tindakan kekerasan yang telah dilakukan oleh Aisyah kepada pihak berwajib, sebab kami mempunyai banyak bukti dan saksi untuk menjebloskan putri bapak dan ibu ke dalam penjara, bahkan saat ini juga pun Aisyah dapat langsung ditahan, dan nanti bapak juga ibu dapat membela putri kalian Aisyah di pengadilan. Saya dengan senang hati akan menyambut kedatangan kalian semua di pengadilan untuk melihat dan menyaksikan putri bapak dan ibu di jatuhi hukuman penjara, " gerta Ummah .


Air mata kedua orang tua Kak Aisyah tidak terbendung, sungguh mereka tidak menduga jika putri mereka Aisyah dapat melakukan tindakan yang dapat melukai dan mengancam nyawa orang lain.


Abi dan Ustad Fariz terlihat terdiam tidak mampu berkata-kata setelah Ummah meluapkan rasa kekesalannya. Dan kedua orang tua Kak Aisyah pulang dari rumah kediaman keluarga Imandar dengan rasa malu yang teramat sangat.


Sementara Ustad Fariz masih berusaha menenangkan Ummah yang kesal dan mengomel.


"Bukankah sudah Ummah katakan jika kedatangan mereka itu pasti ingin meminta Fariz untuk menikahi Aisyah. Memang tidak tahu diri Aisyah itu, dan kalian berdua tidak percaya akan yang Ummah katakan. Pokoknya hari ini juga Ummah minta Fariz dan Rani segera menikah dan tidak ada yang boleh membantahnya, " ucap Ummah kesal sambil berlalu meninggalkan Ustad Fariz dan Abi yang masih duduk di ruang tamu.


Abi mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap wajah Ustad Fariz.


"Ummah mu jika sudah marah sulit untuk menenangkannya nak. Kamu lebih baik segera susul Ummah dan katakan sesuatu kepadanya untuk menenangkan Ummah mu, "pinta Abi.


Ustad Fariz pun mengangguk dan segera bergegas menyusul Ummah.Sementara itu Abi kembali bergabung ke ruang tamu lain untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Enjid, sekaligus segera mempersiapkan pernikahan Ustad Fariz dan diriku.


Ustad Fariz segera menghampiri Ummah dan mengajaknya duduk sambil memberikan segelas air putih kepada Ummah, supaya membuat Ummah merasa lebih tenang dan jauh lebih baik.


" Apakah Ummah masih merasa kesal?, "tanya Ustad Fariz sambil mengenggam jemari tangan Ummah.


Ummah menghela napasnya panjang dan dalam.


" Maafkan Ummah ya Nak atas sikap Ummah yang berlebihan. Ummah hanya tidak ingin jika pernikahan mu dan Rani terusik akan hal-hal seperti itu. Kamu tahu kan Nak jika Ummah sangat menyayangi Rani dan sangat menginginkan dirinya dapat segera menjadi istrimu, karena Ummah tahu kamu juga sangat mencintai Rani kan?, "tanya Ummah.


Ustad Fariz tersipu malu dan mengangguk.


Ummah tersenyum sambil memegang wajah Ustad Fariz, " Tidak ada yang dapat membahagiakan dan melindungi Rani dengan baik kecuali dirimu Nak, dan sebaliknya tidak ada seorang pun yang dapat menentramkan dan membuat hati, jiwa dan kehidupan putra Ummah bahagia kecuali Rani seorang. Ya sudah sekarang kita jemput Rani untuk mendapatkan rawat jalan di rumah saja. "


"Baik Ummah, " sahut Ustad Fariz.

__ADS_1


Setelah itu, Ummah, dan Ustad Fariz pamit kepada Enjid untuk membawa diriku pulang demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan Abi pun ikut serta ke rumah sakit bersama Ummah, Ustad Fariz dan Pak Budi.


Seperti biasa Pak Budi menjadi sopir terbaik untuk mengemudikan mobil menuju rumah sakit tempat ku di rawat.


__ADS_2