
Setibanya di kediaman rumah yang ku tinggali sekarang bersama Kak Reno.
Pandangan mata ku dan Kak Reno di kejutkan dengan adanya sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah kami.
Mobil yang tidak asing dan sangat aku kenali. Yah itu adalah mobil milik keluarga Imandar yang biasa di naiki oleh Ummah.
Aku dan Kak Reno segera turun dari mobil dan saling berpandangan sebentar.
Lalu dengan cepat aku pun berjalan terlebih dahulu dari pada Kak Reno untuk menuju teras rumah. Dan melihat apakah benar ada Ummah yang datang di kediaman rumah kami.
Mata ku memandang ke sekitar dan mencari keberadaan Ummah.
Namun tidak dapat ku temukan keberadaannya sama sekali.
Hingga terdengar langkah kaki beberapa yang berjalan menuju ke arah ku sambil berteriak memanggil nama ku.
"Rani!, " ucap beberapa orang terdengar bersamaan.
Aku menoleh ke belakang dan melihat siapa gerangan yang tengah memanggil ku.
Dan setelah aku menoleh ke belakang.
Aku melihat dengan jelas dan nyata.
Jika Ummah , Wirda bersama putranya, Pak Budi dan juga Bik Inah tengah berjalan bersamaan dan beriringan dengan Kak Reno.
Sontak aku langsung berlari menghampiri mereka semua dan memeluk Ummah erat.
"Ummah, " ucap ku sambil menitikan air mata haru.
Ummah pun membalas pelukan ku dengan usapan lembut jemari tangannya yang mengusap kepala ku.
"Apa kabar sayang?, " tanya Ummah sambil mengusap wajah ku.
"Mengapa Ummah pulang ke rumah tidak berpamitan langsung dengan Rani?, "ucap ku berbalik tanya pada Ummah.
Ummah mencium kening ku seraya berkata, " Karena Ummah ingin putri Ummah memiliki banyak waktu untuk berdekatan dan saling mengerti satu sama lain dengan suaminya. "
Aku terdiam memandang Ummah.
Lalu Wirda mencubit pipi ku pelan.
"Aku senang melihat saudari perempuan ku dalam keadaan yang baik-baik saja. Dan memutuskan tinggal bersama suaminya di sini. "
"Wirda!, " kata ku pelan memanggil dirinya.
Wirda tersenyum dan menghampiriku dengan pelukannya yang erat.
"Rasanya seperti sudah sangat lama sekali tidak bertemu dengan mu Ran, " ucap Wirda.
Aku menatap wajah Wirda dengan penuh air mata keharuan.
Lalu aku dan Wirda tersenyum bersamaan.
Kak Reno lalu memecah kesedihan yang ku rasakan.
"Hei istri ku Rani yang cantik. Sampai kapan engkau akan menangis dan melepas kerinduan dengan saudari mu Wirda. Apakah engkau tidak mengajak Ummah tersayang mu untuk masuk ke dalam rumah?. "
Semua orang tersenyum mendengar perkataan Kak Reno.
"Ehem sudah semakin dekat ya rupanya, " goda Wirda mencolek pinggang ku.
Aku tersipu malu lalu menggandeng lengan Ummah untuk mengajaknya segera masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Kak Reno membantu Pak Budi untuk menurunkan semua barang-barang yang di bawa oleh Ummah di dalam bagasi mobil. Sementara itu aku, Wirda, Ummah dan Bik Inah yang menggendong Fariz berjalan masuk ke dalam rumah.
Untuk pertama kalinya aku merasa sangat senang dan bahagia seperti ini.
Ummah, Wirda dan Bik Inah melihat-lihat kediaman rumah yang ku tinggali bersama Kak Reno.
Dengan lembut Ummah mengusap wajah ku pelan dan berkata, "Rumah ini sangat nyaman, asri dengan pemandangan alam yang sangat memukau. Meskipun sederhana. Tetapi bagaimana pun bentuk suatu rumah baik berukuran besar atau pun kecil itu tidak masalah. Sebab rumah yang baik adalah rumah yang dapat memberikan energi positif dan dapat membuat penghuninya merasa bahagia. Dan Ummah melihat kebahagiaan itu mulai tumbuh di mata mu sayang. "
Aku memeluk Ummah.
Kami berdua larut dalam rasa rindu yang tertahan di hati kami masing-masing.
Tidak lama kemudian Kak Reno masuk ke dalam rumah bersama Pak Budi dengan membawa barang-barang semua orang yang berada di dalam koper besar.
Ummah mengajak diri ku duduk lesehan di ruang keluarga minimalis rumah yang ku tempati sekarang.
Kemudian, Kak Reno menggantarkan Bik Inah ke ruang kamar kedua pada rumah ini untuk membaringkan Fariz yang sedang tertidur.
Aku lalu berdiri setelah meminta izin kepada Ummah untuk membuatkan minuman dan menyiapkan makanan untuk cemilan. Tetapi Ummah menolaknya dan meminta diri ku untuk tetap di samping nya.
"Tidak usah repot sayang. Ummah kan sedang berkunjung ke rumah putri Ummah sendiri. Nanti Ummah dan yang lainnya akan mengambil minum dan makan sendiri. "
"Tetapi tidak bisa seperti itu Ummah.
Ummah dan yang lainnya pasti kelelahan karena sudah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan lama. Sebaiknya Ummah beristirahat di kamar bersama Fariz dan Wirda, " balas ku.
Ummah menggelengkan kepalanya.
"Ummah tidak lelah sayang. Ummah hanya ingin menghabiskan waktu dengan berbincang bersama putri Ummah yang kini sudah tinggal berjauhan dengan Ummah, " ucap Ummah pelan dengan nada haru.
"Ummah, " panggil ku sambil merangkul kan tangan ku ke tubuh Ummah.
Dan tanpa ku duga Kak Reno datang dengan membawa nampan besar yang berisi minuman hangat dan beberapa kue kering dan basah yang tadi kami beli di pasar tradisional.
"Apakah Wirda tidak salah lihat Ummah jika Kak Reno menyiapkan minuman dan makanan untuk kita?, " ucap Wirda terkejut dan seakan tidak percaya.
Namun, Kak Reno hanya tersenyum sambil meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman di dekat Ummah dan Wirda.
Kemudian Kak Reno mengambil secangkir kopi hitam yang masih panas. Lalu memberikannya kepada Pak Budi yang duduk sedikit berjauhan dengan diri ku, Ummah dan Wirda.
"Terima kasih Nak Reno, " ucap Pak Budi sambil menerima secangkir kopi hitam dari Kak Reno.
Kak Reno tersenyum dan mengangguk.
"Kedatangan Ummah kemari merepotkan dan menganggu Reno dan Rani ya?, " tanya Ummah sambil memandang diri ku dan Kak Reno secara bergantian.
"Tidak Ummah. Mengapa Ummah berkata seperti itu. Suatu keberkahan bagi Reno dan Rani karena kedatangan Ummah sebagai ibu kami berdua. Untuk itu Ummah jangan pernah merasa sungkan atau tidak enak. Bukankah Reno dan Rani adalah anak Ummah juga, " jawab Kak Reno.
Ummah mengangguk dan tersenyum dengan wajahnya yang penuh haru.
Setelah mengobrol dan melepaskan rindu dengan Ummah, Wirda, Bik Inah dan Pak Budi. Aku lalu meminta Ummah untuk beristirahat di kamar kedua bersama dengan Fariz dan Wirda.
Sementara itu, aku dan Bik Inah sedang mempersiapkan makan siang di temani Pak Budi dan Kak Reno yang ikut serta membantu memasak di dapur.
Kebersamaan yang sungguh membuat diri ku merasa bahagia dapat berkumpul dengan Bik Inah dan Pak Budi yang telah lama menemani dan menjaga diri ku selama ini.
"Bibi betah jika harus tinggal di rumah ini bersama Nak Reno dan Nak Rani di sini. Suasana nya di sini sungguh tenang, damai dan asri. Apalagi udaranya begitu sangat sejuk dan terasa segar, " ucap Bik Inah.
"Benar kah Bik Inah, " kata ku.
"Iya Nak Rani, " sahut Bik Inah sambil tersenyum pada ku.
Kemudian Bik Inah menatap diri ku lekat, "Jika Nak Rani berkenan. Bibi akan berbicara pada Bu Putri supaya bibi dapat tinggal di sini menemani Nak Rani, " kata Bik Inah penuh harap.
__ADS_1
Aku tersenyum sambil mengusap punggung Bik Inah, "Terima kasih ya bik. Karena Bik Inah sayang dan peduli pada Rani. Tetapi apakah Wirda masih membutuhkan bibi untuk menjaga Fariz. "
Bik Inah terdiam dan terlihat berpikir.
Hingga tanpa kami sadari Ummah sudah berada di dapur dan mendengarkan percakapan ku dengan Bik Inah.
Ummah lalu mengusap pundak Bik Inah lembut, "Tentu saja Bik Inah dapat tinggal bersama Rani di sini. Tetapi jika Reno dan Rani mengizinkannya. "
Bik Inah lalu melihat ke arah ku dan Kak Reno secara bergantian.
Kak Reno tersenyum dan mengangguk, "Mengapa Bik Inah menatap ke arah Reno seperti itu?. Reno setuju saja jika Bik Inah ingin tinggal bersama kami di sini. "
Bik Inah tersenyum lalu memandang ke arah ku. Aku pun mengusap pelan lengan Bik Inah.
"Tentu Rani juga akan sangat senang jika Bik Inah menemani Rani di sini, " kata ku.
Bik Inah tersenyum bahagia dan langsung memeluk diri ku.
Tidak lama kemudian makan siang sudah siap di atas meja makan. Kami semua makan bersama dengan perasaan bahagia dan senang. Namun setelah makan siang Ummah mengajak diri ku dan Kak Reno untuk membicarakan hal yang penting.
Aku terlihat tegang dan berpikir dengan ekspresi penuh kecemasan.
"Apakah semuanya baik-baik saja Ummah? , " tanya ku.
Ummah mengusap kepala ku pelan dan tersenyum.
"Iya sayang InsyaAllah semuanya baik-baik saja. Tetapi memang ada hal yang harus Ummah katakan dan kalian berdua harus mengetahuinya. "
Aku semakin tegang dan cemas.
Tetapi berulang kali Ummah berusaha menenangkan diri ku. Hingga Wirda, Pak Budi dan Bik Inah ikut bergabung dalam pembicaraan ku dan Ummah.
Ummah memandang ke arah ku dan Kak Reno secara bergantian.
Dimana beberapa kali aku melihat Ummah menghela napas panjang dan kuat. Sebelum beliau ingin mengatakan sesuatu kepada diri ku dan Kak Reno.
Aku menatap Ummah dalam dan terus menunggu lisannya untuk bertutur kepada diri ku.
Yang pada akhirnya Ummah pun mengatakan kepada ku dan Kak Reno. Akan keadaan Kak Roy dan keluarga nya. Khususnya keadaan putrinya yang sangat membutuhkan kehadiran diri ku di di sisinya.
Aku mencemaskan keadaan Rani dan sungguh tidak menyangka jika ia dapat menderita penyakit kanker yang ganas.
Ummah melihat kesedihan di mata ku.
Tetapi Ummah juga meminta diri ku dan Kak Reno untuk memikirkan akan hal ini terlebih dahulu. Sebelum memutuskan untuk menemui putri Kak Roy. Dimana jika mendapatkan izin dari Kak Reno dan diri ku, Maka Ummah akan membawa putri Kak Roy ke kediaman rumah ku dan Kak Reno saat ini.
Kak Reno tidak merasa keberatan dan langsung mengiyakan juga memberikan izin jika Ummah akan membawa putri Kak Roy ke kediaman rumah kami. Bahkan Kak Reno justru ingin datang berkunjung ke kediaman rumah Kak Roy untuk mengucapkan rasa berduka cita atas meninggalnya kedua orang tuanya. Namun, Ummah tidak mengizinkan niat Kak Reno.
"Ummah tidak setuju dengan keinginan mu Reno. Ummah mengerti jika maksud dan tujuan mu itu baik. Tetapi kamu juga harus tahu bagaimana perasaan Roy pada Rani. Ummah tidak ingin jika niat baik kalian berdua untuk menolong putrinya Roy malah akan membawa masalah dalam hubungan kalian berdua, " ucap Ummah tegas.
Kak Reno tersenyum dengan sikap nya yang tenang dan santai.
"Kita tidak boleh berpikiran yang buruk terhadap Roy,Ummah. Karena berburuk sangka atau suudzon merupakan sifat yang sangat di tentang oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Selain itu, sikap suudzon memiliki dampak buruk kepada diri sendiri maupun orang lain, yang dapat mengganggu kesehatan jiwa kita.Karena sibuk dengan berburuk sangka kepada orang lain. Sikap ini perbuatan dosa.Sehingga dapat menjadikan hidup kita akan kurang merasa bahagia karena terlalu sering mengurusi orang lain, dapat memutuskan tali silaturahmi, dan dapat merusak diri sendiri.
Apa pun nanti tanggapan dan niat juga maksud dari Roy yang sebenarnya biarlah menjadi urusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan kita yang terpenting tetap berbuat baik. Lagi pula Roy adalah sahabat Reno juga Ummah, " jelas Kak Reno pada Ummah.
Ummah menganggukkan kepalanya, "Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan dan pertimbangan mu Reno. Ummah tidak dapat menentangnya. Ummah hanya menginginkan kebaikan dan kebahagiaan untuk kalian berdua. "
Aku pun mengangguk dan langsung memeluk Ummah yang masih ragu dan takut akan keputusan Kak Reno mengenai menemui Kak Roy secara langsung.
Yang itu artinya Kak Reno dan diri ku akan bertemu kembali dengan Kak Roy.
Ummah terus mengusap kepala ku berulang kali dan tidak dapat dapat menyembunyikan rasa gelisah dan takutnya.
__ADS_1