
Ummah bersama Abi dan Pak Budi segera menuju ke tempat lokasi terjadinya kecelakaan yang menimpa diri ku, Kak Reno, putri Kak Roy, Bibi pengasuh Rani, Sopir Kak Roy dan Bik Inah.
"Ayo Pak Budi. Tolong lebih di percepat lagi Pak, laju mobilnya. Saya betul-betul mengkhawatirkan keadaan Rani dan yang lainnya, "pinta Ummah dengan wajahnya yang terlihat sangat cemas.
" Tenang Ummah. Ummah jangan bersikap seperti ini. Kasihan Pak Budi ikut panik juga, "ucap Abi berusaha menenangkan Ummah dengan mengusap lembut lengan Ummah.
"Iya Bi. Ummah mengerti dan paham. Tetapi Ummah tidak bisa tenang sebelum memastikan keadaan Rani dan yang lainnya, dalam keadaan baik-baik saja, " jawab Ummah pelan sambil memandang Abi dengan wajah penuh kecemasan.
Abi mengangguk pelan dan terus mengusap punggung Ummah, untuk membuat hati dan perasaan Ummah menjadi jauh lebih tenang.
Ummah tidak berhenti memanjatkan do'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bersamaan dengan Pak Budi yang terus melajukan mobil yang ia kendarai. Supaya dapat segera tiba di lokasi keberadaan Bik Inah saat ini.
Tidak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Pak Budi sudah tiba di tempat kejadian kecelakaan.
Sudah banyak aparat kepolisian dan kerumunan orang yang berada di tempat lokasi kecelakaan.
Ummah terus berlari untuk mencari keberadaan diri ku.
Tetapi Ummah tidak dapat menemukannya.
Hingga akhirnya pihak kepolisian menghampiri Abi dan Ummah, dan
memberitahukan dimana keberadaan Bik Inah sekarang.
Ummah heran dan terkejut karena dalam penjelasan oleh pihak kepolisian. Mereka tidak menyebutkan akan adanya keberadaan diri ku dan Kak Reno.
Maka bertambah cemas dan panik lah Ummah.
Namun, Abi terus berada di sisi Ummah dan menguatkan Ummah untuk tetap berpikiran positif juga tenang.
Setelah itu, aparat kepolisian bersama Abi,Pak Budi dan Ummah menuju rumah sakit tempat Bik Inah, Bibi pengasuh Rani dan sopir pribadi Kak Roy berada.
Selama di perjalanan menuju ke rumah sakit Ummah tidak berhenti menangis dan terus memanggil nama ku.
***
Kepala ku terasa berat dan nyeri,dimana sekujur tubuh ku pun terasa kaku dan sulit untuk di gerakkan.
Terdengar suara beberapa orang berbicara dengan keras dan kasar.
Suara yang membuat indra pendengaran ku terusik dan terus memaksa diri ku, untuk segera membuka kedua mata ku secara perlahan-lahan.
__ADS_1
Pandangan mata ku masih terlihat samar dan belum begitu tampak jelas.
Dan rasa nyeri di kepala ku terus semakin menjadi. Namun, keinginan hati ku begitu kuat. Untuk terus memaksa indra penglihatan ku melihat apa yang terjadi di sekitar ku.
Nyut.. Nyut.. Nyut..
Kepala ku kembali terasa cenat-cenut dan nyeri sekali. Jemari tangan ku ingin berusaha untuk mengapai kepala ku. Tetapi ku rasakan ada sesuatu yang menahan tangan ku untuk bergerak.
Maka dengan sekuat tenaga.
Aku pun berusaha untuk membuka kedua mata ku secara lebar, dan melihat apa yang sebenarnya terjadi pada ku.
Dalam keadaan masih terasa lemah dan pusing. Akhirnya pandangan mata ku pun terbuka lebar.
Dimana mata ku pun terbelalak melihat lurus ke depan.
Kak Reno berada dalam kondisi kedua tangannya di ikat tali, pada masing -masing kedua tangannya.
Aku terus melihat ke arah Kak Reno, yang masih tidak sadarkan diri, ia begitu terlihat terkulai lemah dengan beberapa luka yang terdapat di wajahnya.
Hati ku terasa sakit dan cemas melihat keadaannya.
Namun, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa. Karena kondisi tubuh ku juga berada dalam ikatan, dengan mulut ku yang di tutup kain.
Tetapi sebesar apa pun aku berusaha, usaha ku begitu terasa sia-sia belaka.
Mata ku terus melihat ke arah Kak Reno.
Miris dan terasa terluka hati ku melihat keadaan nya.
Pikiran ku pun mencoba berusaha menginginkan kembali, akan peristiwa yang membuat diri ku dan Kak Reno berada dalam kondisi seperti sekarang ini.
Tetapi ingatan ku hanya sampai pada saat sekumpulan laki-laki bertubuh besar dan seram, yang dengan kasar menarik tubuh Kak Reno.
Aku pun tiba-tiba tersadar dan mencari keberadaan Rani, Bik Inah, bibi pengasuh Rani, dan sopir pribadi Kak Roy.
Tetapi aku tidak dapat menemukan keberadaan mereka di dekat ku.
"Ya Allah, siapa yang tega melakukan perbuatan keji seperti ini kepada diri ku dan juga Kak Reno, " ucap ku di dalam hati sambil terus mengamati keadaan di sekitar ku.
Tidak lama kemudian, masuklah beberapa sekumpulan laki-laki bertubuh besar dan seram mendekati Kak Reno.
__ADS_1
Aku pun mengingat mereka, yaitu orang dan pelaku yang sama. Dimana mereka yang rupanya telah menculik diri ku dan juga Kak Reno.
Melihat kedatangan mereka masuk ke dalam ruangan tempat diri ku dan Kak Reno di sekap.
Dengan segera aku pun berpura-pura tidak sadarkan diri, dengan memejamkan kedua mata ku kembali.
Sengaja aku melakukan hal tersebut, supaya diri ku dapat mengetahui apa tujuan mereka telah menculik diri ku dan juga Kak Reno.
"Sepertinya mereka berdua masih belum sadar juga, " ucap salah seorang laki-laki yang bertubuh besar kepada teman-temannya yang lain.
"Apa perlu kita bangunkan mereka?, " tanya temannya yang lain sambil melihat ke arah ku dan juga Kak Reno.
"Tidak perlu, akan jauh lebih baik jika mereka belum tersadar saat ini. Karena bos kita ingin melihat keadaan mereka saat ini, " ucap laki-laki yang pertama kali berkata.
"Baiklah kalau begitu, kita tinggalkan saja mereka di sini. Dan pastikan semua ruangan ini tetap terkunci, agar mereka tidak dapat melarikan diri dan kabur dari sini. "
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang keras dari salah satu sekumpulan laki-laki bertubuh besar.
"Hahahaha. Mana mungkin mereka bisa kabur dari sini. Coba kamu lihat kondisi mereka berdua yang tidak berdaya. "
Tubuh ku bergetar dan terasa lemas, saat mendengarkan suara tawa mereka yang begitu keras dan kasar.
"Pasti ada seseorang yang telah merencanakan semua ini, " batin ku di dalam hati.
Secara hati-hati aku pun memicingkan sedikit mata ku. Dan melihat sekumpulan laki-laki bertubuh besar itu keluar dari ruangan tempat diri ku dan Kak Reno di sekap.
***
Ummah langsung berlari menghampiri Bik Inah yang terbaring lemas di atas ranjang pasien, pada ruang ICU.
Abi, Pak Budi dan beberapa aparat kepolisian pun berjalan mengikuti Ummah.
Tanpa menunggu lagi Ummah langsung memeriksa kondisi Bik Inah yang masih terbaring.
"Bik Inah, bagaimana keadaan Bik Inah?, " tanya Ummah dengan wajah penuh kecemasan sambil memegangi pundak tangan Bik Inah.
Beruntungnya Bik Inah sudah tersadar dan dalam kondisi yang sudah sedikit membaik.
Meskipun masih terlihat jelas guratan rasa trauma dan ketakutan dalam wajahnya.
Namun, Abi melarang Ummah untuk menanyakan kejadian yang baru saja menimpa Bik Inah. Sebelum dokter datang menjelaskan keadaan Bik Inah.
__ADS_1
Ummah mengangguk dan mematuhi permintaan Abi.
Meskipun di dalam hati Ummah, ia sudah begitu sangat tidak sabar, untuk menunggu Bik Inah memberikan keterangan akan kronologis peristiwa yang telah menimpanya.