
Untuk yang tersayang.....
Dimana hadirnya menyejukkan batin dan raga.Sentuhannya membalut luka dalam kepayahan menapaki kehidupan.
Yah...aku rindu pada ragamu dalam setiap helaan napasku.Saat sang surya bersinar dan tenggelam menyapu hari menjadi bulan dan tahun tetapi jiwaku selalu mengenangmu.
Jangan tanya apa jadinya aku tanpamu.Menjadi sendiri dalam ketegaran dunia yang asing ini. Lelah dan kesedihan beriring menghampiri namun pondasiku telah engkau tempa sebelum dirimu pergi.
Akh...air mataku terus mengalir.Pilu dalam kenangan kasih sayangmu.
Rinduku tidak tertahan tetapi aku paham kita tidak dapat bersua.
Dalam do'a kuselipkan setiap bait barisan cinta akan rinduku padamu.
Dimana Sang pencipta yang menautkan hati ini padamu.
Untuk raga yang tidak dapat kujamah....
Paras yang tidak dapat kutatap...
Suara yang tidak dapat kudengar....
Dan jiwa yang telah pergi menjauh dariku...
Kubisikkan lantunan keperihanku.
Dalam dekapan selimut malam yang beku dan nyanyian pohon bambu dalam keheningan.
Tuhan,sampaikan rinduku padanya dan kabarkan bahwa aku baik-baik saja.
Meski tubuh ini tidak setegar dulu.
Tetapi jiwaku tetap bertahan menjadi baja.
Terus berjuang meskipun terasing di tanah sendiri.
Terus berjuang meskipun sendiri.....
Tanpa lelah...
Tanpa rasa takut....
Tanpa keputusasaan...
Sebab kutahu perjalanan ini masih panjang.
Dimana peranku masih berawal.
Tujuanku masih samar.
Melepasmu memang tidak mudah.Sebab engkau mahluk terkasih di hati ini.
Namun maut memisahkan kita.
Memaksa diriku menerima kondisi sulit ini.
Sekarang aku di puncak rindu padamu bunda......
Hanya do'a penawar rindu batinku padamu.
Gemuruh teriakkan nyanyian hati.
Lirih dalam sunyi lisan berucap
Mengirimkan bait-bait do'aku padamu.
Semoga engkau menjadi ahli kubur,yang dilapangkan kuburnya dan mendapat pertolongan Allah Subhanahu wa Ta' ala.
Hikssss.....
Hikssss.......
Tessss......tessss......tessssss.....
Air mataku mengalir.
"Rindu benar-benar.... rindu padamu bunda..",ucapku pelan dalam bibir yang bergetar menahan isak tangis.
Kucoba menenangkan diri perlahan dengan sesekali menghela napas dalam supaya dadaku tidak terasa sesak.
Hufhhhhhhh.....
Arghhhhhhh......
Hufhhhhhhhh....
Arghhhhhh........
Kupejamkan mataku sejenak untuk menurunkan ritme tangisanku.
Kuambil tisu di samping sajadahku.
Kutarik perlahan mengusap air mataku yang membasahi wajah.
Srotttt...srottttt....
Kukeluarkan ingusku pula agar sesakku berkurang.
Srettt...srettt.....
Hufhhhhhh.....
Kulakukan berulang hingga dadaku terasa sedikit lapang dan mulai tenang.
"Astaghfirullahal'adzim Alladzi La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu wa Atubu Ilaihi. Artinya: “Aku mohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan kecuali hanya Dia, Dzat Yang Maha Hidup Kekal dan Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri, dan saya bertaubat kepada-Nya.”
Ucapku berusaha menenangkan diriku.
__ADS_1
Setelah terasa cukup tenang.Aku mempersiapkan diriku untuk khusyuk mengirimi do'a untuk almarhumah bunda.
Huffffhhhhh.....
"Bismillahirrahmanirrahim yang artinya...,"ucapku.
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang".
Kemudian aku melanjutkan lisanku.
“Khususon ila ruhi ummii (Tari Puspitasari) binti (Suparjo). Allahumaghfirlaha warhamha wa afihaa wa’fu anhaa, lahumul fatihah.”
Artinya: “Terkhusus untuk ruhnya dia (Tari puspitasari) putrinya (Suparjo). Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia, untuknya Al-Fatihah.”
Mataku terpejam dengan khidmat dan khusyuk sembari menegadahkan kedua tanganku meminta keridhoan Allah kepada almarhumah bunda.
Suaraku bergema pelan dan tenang.
"Bismillahir-rahmanir-rahimm, al-hamdu lillahi rabbil-'alamin ar-rahmanir-rahim maliki yaumid-din iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in ihdinas-siratal-mustaqim siratallazina anamta 'alaihim gairil-magdubi 'alaihim wa lad-dallin."
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus: (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
"Aamiin ya rabbal alamin (kabulkan ya tuhan, kabulkanlah."
Kuusapkan kedua telapak tangan di wajahku dengan besar pengharapan Allah mengabulkan do'a yang kukirimkan untuk almarhumah bunda.
Air mata kerinduan teramat besar.
Aku memang telah mengikhlaskan kepergian almarhumah bunda.
Tetapi aku juga manusia biasa yang rentan akan kekhilafan dan kelengahan ketegaran jiwa.
Seketika raga terkulai lemah tidak berdaya.
Mengenang seseorang yang sangat istimewa nan bermakna pergi menghilang di keabadian.
Tidak ada lagi tempat berkeluh kesah meluapkan semua derita luka kepahitan hidup.
Pilu tersayat hati dalam nelangsa.
Menjerit sukma mengetarkan raga.
Aku ingin kuat tetapi mataku tetap menangis terisak.
Ya Allah ini bukan tanda kelemahanku atau pun ketidakikhlasanku pada takdirmu.
Jiwaku hanya ingin meronta meluapkan tumpukan rindu yang menyergap kalbu.
Hikkssss.....
Hikssss...
Hngggggg......hnggggggg....hngggggg...
Aku masih terus terisak dalam derai air mata yang tumpah ruah.
Lusuh...basah....dengan linangan air mata kesedihan...
"Bun...."
"Bun...."
"Ra..ni..Rani....Rani....rindu bun...da...sangat....sangat....rin...du ...bun,"dengan sangat terisak.
Kutekuk kedua lututku sengaja agar kedua tanganku dapat memeluk tubuhku.
Ku masukkan kepalaku diatas tekukan kedua lututku seperti tumpuan bersandar.
Aku benamkan semua kesedihan.
Hikssss.....
Hiksssss..
Hiksssss.....
Dingin menyergap menembus mukena putihku.
Angin berhembus semakin lama semakin kuat.
Kesunyian hilang ditelan deru suara gemuruh guntur di langit.
Duarrrr......Duarrrr....Duarrrr.....
Menggelegar mengetarkan indera pendengaran.
Suasana mencekam menusuk raga.
Petir menyambar keras disertai kilatan.
Ekspansi udara yang cepat membelah udara dalam kurungan hawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding.
Angin semakin bergolak dalam aliran udara yang terperangkap.
Dingin.....seperti membeku.
Bresssss.....
Bresssss....
Bressss......
Hujan turun mengguyur bumi dengan deras.
Ritme jatuhnya seakan tidak terputus meluapkan gelombang kejut kesedihan.
Alam seakan melukiskan hatiku yang merana dalam rindu.
__ADS_1
Ledakan suara gemuruh menyamai hati yang menjerit akan pilu.
Biarlah sebentar saja aku benar-benar menghanyutkan diri tenggelam dalam kontraksi gejolak hati keterputusasaan.
Bukan menjadi lemah...
Atau pun membuat cabang-cabang baru kesedihan.
Tidak ya Allah,pekikku dalam hati.
Aku masih tersadar dalam nelangsa rindu.
Tetapi jiwaku ingin memantulkan sisi keterpurukan berbeda yang akan kusingkirkan.
Diriku menggantung rendah di hadapanmu Tuhan.
Ketika aktivitas kehidupan tetap harus bergulir.
Aku ingin memberi jeda jiwaku sebentar.
Menata kembali yang telah hancur.
Hingga membuatnya kokoh disaat aku harus sendiri.
Sunyinya hati ini....
Hufhhhhhh.....
"Aku harus kuat",ucapku berusaha mendikte diri sendiri.
Untuk sesaat aku teringat percakapanku dengan almarhumah dulu.
"Ran,kenapa kok bunda lihat Rani seperti bersedih?,"tanya bunda menyelidiiki.
"Hmmm...,"ingin berusaha menutupi.
"Kalau kita sedang bersedih harus banyak mendekatkan diri dengan Allah nak.Lebih-lebih lagi di perbanyak istighfar dan membaca Al-Qur'an terutama surat Yusuf nak.In syaAllah hati menjadi tenang nak,"jelas bunda padaku.
Aku mengangguk memahami perkataan bunda.Lalu bertanya kembali kepada bunda.
"Kenapa dengan surat Yusuf bisa menghilangakan kesedihan bun?,"tanyaku.
"Karena Allah menurunkan surat ini kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di tahun kesedihan saat beliau ditinggal oleh istri dan pamannya yang merupakan dua sosok penopang dakwah beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat ini dan merasakan ketenangan dari masalah dan kesedihan yang beliau alami,"jawab bunda.
"“Subhaanallah(Maha suci Allah)."
" Rani baru tahu tentang ini bun,"jelasku.
"Iya nak, bunda juga pernah mendengar saat mengikuti kajian bahwa di dalam surat Yusuf mengandung banyak permasalahan yang dihadapi nabi Yusuf, terdapat pula solusi kesuksesan ketika surat tersebut kita renungi,"jawab bunda sungguh-sungguh.
"Lalu apa saja masalah yang terdapat pada surat Yusuf bunda?,"tanyaku dengan penasaran.
"Ada problema atau masalah politik, ekonomi, pendidikan, wanita, perasaan, tentang kezhaliman, penghianatan, kesedihan, keluarga, buah kesabaran dan iman dan lain-lain demikian yang bunda simak saat mendengar kajian nak,"ucap bunda dengan sumringah sembari mengusap lembut kepalaku.
Lalu bunda melanjutkan ucapannya kembali,"Jadi apapun musibah, apapun yang engkau rasakan maka semua permasalahan tersebut telah termaktub dan terangkum dalam surat Yusuf."
Aku memeluk bunda dan mencium pipinya.
"Terima kasih ya bun,"ucapku lirih.
Bunda tersenyum hangat membalas senyuman dan pelukkanku.
Stttttttt......
Memori kenangan bersama bunda yang indah.
Aku tersadar dari kenangan masa laluku.
Kemudian.....
Kuambil Al-Qur'an dan akan membacanya.
Jawaban ketenangan dan penghibur diri di saat dalam kesedihan.
"Audzubillahiminasyaitonirrojim."
" Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk."
"Bismillahirrahmanirrahim ."
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Kutarik napas perlahan dan mulai membaca dengan khusyuk.
"Qala innama asyku bassi wa huzni ilallahi wa a‘lamu minallahi ma la ta‘lamun."
"Yang artinya."
"Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui."
Kemudian kubaca kembali ayat berikutnya.
"Ya baniyyazhabu fa tahassasu miy yusufa wa akhihi wa la tai'asu mir rauhillah, innahu la yai'asu mir rauhillahi illal-qaumul-kafirun".
"Yang artinya."
"Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.”
"Quran Surat Yusuf Ayat 86 dan 87."
"Shadaqallahul adzim artinya."
“Maha benarlah Allah yang Maha Agung
"Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta'ala (Mahasuci dan Mahatinggi,"ucapku penuh syukur.
__ADS_1
Hatiku merasakan ketenangan dari masalah dan kesedihan yang kualami.
Aku begitu menikmati bacaannya hingga mengikis kegundahan hatiku perlahan.