Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Keadaan Kak Reno.


__ADS_3

Pagi hari menjelang, dengan semilir hembusan angin yang menyapu kehangatan tubuh. Mentari pagi bersinar dengan sedikit tersipu malu dalam rona jingga kemerah-merahan. Udara pagi yang dingin tetapi terasa beku. Tubuh terasa mengigil dalam sapuan sang bayu yang terasa menusuk tulang belulang. Ngilu dan nyeri menjamah persendian.


Dari Lapas atau Lembaga Pemasyarakatan tempat Kak Reno ditahan tampak semua nara pidana sedang melakukan berbagai macam aktivitas dari berolahraga, berjemur, beribadah dan lain-lain. Namun, Kak Reno duduk menyendiri di sudut dinding di luar lapangan futsal. Dengan menyandarkan kepalanya pada dinding, ia menekukkan kedua kakinya hingga kedua lututnya sejajar dengan dadanya. Kedua tangannya ia rangkulkan melingkar mendekap kedua kakinya.


Pandangan matanya terasa kosing, dengan raut wajahnya yang semakin suram dan rambutnya yang mulai tumbuh panjang berantakkan. Bibirnya dima terkunci rapat, hatinya nelangsa. Pikirannya berkelana memikirkan nasib dan takdir kehidupannya. Apalagi setelah kedua orang tuanya tiada. Hatinya begitu hancur berkeping-keping, sebab ia bahkan tidak dapat menghadiri pemakaman terakhir untuk kedua orangtuanya. Dan sekarang ia begitu terpuruk dalam kesendirian, tanpa seorang pun yang ada di sisinya.Bahkan keluarga yang berkunjung untuk sekedar menengok atau menanyakan keadaannya di lapas pun tidak ada. Kak Reno begitu hancur, setelah semua anggota keluarganya porak poranda termasuk juga dirinya sendiri.


Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, ia begitu tertekan dan terguncang akan semua peristiwa yang telah menghancurkan seluruh anggota keluarganya.


"Arghhhhhhhh......., "pekik Kak Reno keras.


Dia begitu frustasi dan seakan tidak dapat menerima akan semua hal yang terjadi kepada dirinya.


Matanya nanar menatap ke atas mengenang semua memori setiap kejadian hidupnya termasuk bersama diriku.


Dalam derai tangisnya, terlintas berulang kali raut wajahku yang menghiasi pandangan matanya.


" Rani..., "ucapnya lirih memanggil namaku.


Kak Reno teringat kembali bagaimana perlakuan buruknya terhadap diriku. Ucapan kasar, perilaku kasar, tindakan semena-mena dan semua hal buruk yang ia lakukan kepadaku berotasi dalam pikirannya tiada henti.


" Seandainya saja aku tidak menuruti permintaan Enjid, mama, papa dan Mbak Riska mungkin saat ini Rani tidak akan berpisah dariku, mungkin saat ini kehidupanku dan Rani bahagia. Ya Tuhan, betapa bodohnya diriku yang telah menyia-nyiakan dirinya, dan setelah ia pergi dari kehidupanku rasanya sakit sekali. Aku benar-benar hancur dan sangat terluka. Aku tidak sanggup membayangkan jika Rani bukanlah istriku lagi, "ucap Kak Reno dengan air matanya yang mengalir.


"Arghhhhhh.... Rani!, " teriak Kak Reno.


Huhuhuhuhu.... Huhuhuhuhuhu....


Kak Reno terus menangis tiada henti.


Dia benamkan kepalanya di dalam kedua lututnya yang tertekuk seraya memeluk tubuhnya sendiri dalam kesedihannya.


Pikirannya kacau dengan berbagai macam ketakutan dan kegalauan.


"Bagaimana jika setelah bercerai dariku. Rani menikah dengan laki-laki lain. Tidak... Tidak... Itu tidak boleh terjadi, " ucap Kak Reno sambil mengelenggkan kepalanya dengan wajahnya yang ketakutan.


"Aku tidak akan membiarkan Rani menikah dengan laki-laki lain, selamanya Rani adalah milikku dan akan tetap menjadi istriku. Rani harus menikah lagi denganku. Bagaimanapun caranya, " ujar Kak Reno berkata sendiri dengan tatapan matanya yang tajam dan begitu ambisius.


Lalu tiba-tiba air mukanya berubah seketika menjadi pilu dan lesu.


"Tetapi saat ini aku di dalam penjara dan akan berada di sini dalam waktu yang sangat lama. Lalu bagaimana caranya agar aku dapat segera keluar dari lapas ini dan membawa Rani pergi bersamaku?, " ucap Kak Reno sambil berpikir.


Perlahan Kak Reno menyeka air matanya. Pandangan matanya yang lesu kini terlihat buas dan liar.Dia berusaha memikirkan cara agar dapat membuat permainan baru yang dapat membawa diriku menemuinya.


"Aku sudah kehilangan segalanya, dan tidak akan kubiarkan aku kehilangan dirimu Rani. Meskipun kali ini nyawaku akan menjadi taruhannya. Tetapi harus ada pengorbanan dalam cintaku untuk membawamu kembali masuk ke dalam kehidupanku, " ucap Kak Reno kali ini dengan tersenyum simpul dan meringis.


Tidak lama kemudian sipir yang bekerja di lapas tempat Kak Reno ditahan menghampirinya.


"Mengapa saudara Reno menyendiri disini?, " tanya pak sopir dengan ketus.


"Saya hanya ingin menenangkan pikiran saya pak, " sahut Kak Reno sambil menatap Pak sipir.


Pak Sipir memandang tajam ke arah Kak Reno dan mengamatinya dengan begitu lekat. Dan Kak Reno tampak tidak nyaman dengan tatapan tajam dari Pak Sipir tersebut.


"Saudara Reno seorang muslim kan?, " tanya Pak Sipir. Dan Kak Reno pun menganggukkan kepalanya.


"Saudara Reno lihat bangunan apa itu?, " tunjuk Pak Sipir.


"Mushola pak, " jawab Kak Reno bingung.


"Nah itu tahu. Seharusnya dari pada saudara Reno menyendiri seperti ini, alangkah lebih baik untuk beribadah , melakukan salat sunah.Sekaligus berdo'a kepada Allah memohon kelapangan hidup,ketenangan dan yang terpenting adalah bertobat menyesali perbuatan yang telah saudara Reno lakukan saat saudara Reno masih bisa menghirup udara di luar hotel prodeo ini, " ucap Pak Sipir sambil menepuk pundak Kak Reno.


Mata Kak Reno terpaku dalam kebingungan dirinya memandang Pak Sipir yang memberikan wejangan untuk dirinya.


Sekali lagi pak Sipir menepuk pundak Kak Reno dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu masih muda Nak, jalannya hidupmu masih panjang. Dan saya tahu keberadaan dirimu di sini tidaklah mudah. Kamu harus ikhlas menjalani hidup dan berjanji pada dirimu sendiri untuk berubah menjadi pribadi yang berbeda dan jauh lebih baik dari sebelumnya. "


Kak Reno tidak bergeming mendengar nasehat yang diberikan oleh Pak Sipir kepadanya.


"Hidup itu perlu yang namanya perubahan Nak,tentunya perubahan yang membawa kebaikan untuk hidup kita. Kamu jadikan masalah yang sedang kamu hadapi sebagai sebuah ujian, jangan jadikan sebagai hal yang membuat dirimu terus terpuruk dan tidak mau berusaha bangkit dan untuk menjadi lebih baik.Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Ar-Ra'd, ayat 11 yang berbunyi;


Innallaha la yugayyiru ma biqaumin hatta yugayyiru ma bi`anfusihim.Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Percayalah Nak, setiap masalah punya solusinya masing-masing. Tinggal kita saja mau berikhtiar dan bertawakal kepada Allah atau tidak. "


Kalimat yang keluar dari bibir Pak Sipir sedikit menghipnotis Kak Reno untuk mendengar setiap kata yang mengandung nasehat padanya. Hatinya yang semula terasa kosong dan hampa, perlahan terasa decitan aliran listrik yang menyengat mengetuk pintu hatinya. Dalam kebisuan nya, Kak Reno berusaha membuka hatinya menerima petuah dari pak Sipir.


Sorot mata yang hangat dari Pak Sipir, terasa menggali kegusaran hati Kak Reno yang sepi dan hampa.


"Allah memberikan saudara Reno kesempatan untuk menjadi manusia dan seorang hamba yang lebih baik lagi dengan belajar dari semua kesalahan yang telah saudara Reno lakukan. Oleh sebab itu, jangan tergelincir ke lembah dosa dan kesalahan yang sama. Selagi masih diberi kesempatan untuk berubah maka gunakanlah kesempatan itu sebelum Allah menutup kesempatan itu dan mencabut roh dari jasad kita, maka semua akan sia-sia, " ucap pak Sipir sambil tersenyum.


Kak Reno memandang lekat ke arah pak Sipir yang sekarang duduk lesehan di lantai di samping Kak Reno.


"Mengapa bapak mengatakan hal ini kepada saya? Padahal kita tidak saling mengenal? Dan tidak ada untungnya bagi bapak?, " kata Kak Reno.


Hati Kak Reno masih diselimuti dengan pransangka kepada niat baik orang lain kepada dirinya. Dan pak Sipir paham akan hal itu, maka dengan sabar dan tenang sambil menatap ke atas juga sesekali melihat Kak Reno. Pak Sipir berusaha menjelaskan argumen dirinya.


"Seperti yang diriwayat dari Rasulullulah Shallallahu alaihi Wasallam mengatakan: Man dalla'alaa khoirin falahu mitslu ajri faa'ilih.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya (H.R. Muslim no. 1893).


Itulah yang menjadi dasar saya menyerukan kepada saudara Reni untuk menginsyafi akan takdir yang Allah Subhanallah Wa Ta'ala berikan kepada saudara Reno, supaya saudara Reno menghindari kesia-siaan."


Gleekkk... Kak Reno menelan air ludahnya, dan terasa tertampar mendengar perkataan dari pak sipir yang kembut, pelan dan santun tetapi tepat mengenai dirinya.


"Allazina amanu wa tatma`innu qulubuhum bizikrillah, ala bizikrillahi tatma`innul-qulub.


Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.


Al-Qur'an surat Ar-Ra'd ayat 28," tutur pak sipir sambil menepuk pelan pundak Kak Reno.


"Mari saudara Reno ke Musholla,menunaikan salat dhuha, " ajak pak sipir sambil menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Kak Reno.


Kak Reno masih terpaku melihat kepergian Pak sipir dari hadapannya, dia datang mendadak dengan membawa secerah cahaya kebaikan untuk diri Kak Reno.


Pandangan mata Kak Reno terus mengikuti langkah kaki pak sipir yang terus berjalan menjauh darinya menuju Musholla.


Ucapan dari bibir pak sipir terus terngiang-ngiang di pikiran Kak Reno.


Dari kejauhan bangunan tinggi putih yang sederhana, seakan memanggil dirinya untuk berkunjung menginjakkan kakinya ke sana.


Sementara hatinya masih berkecamuk memutuskan untuk beranjak dari duduknya atau terus termenung disitu tanpa melakukan apapun.


Kak Reno masih berada dalam dilema dalam menyingkronisasikan hati dan pikirannya.


Dan tidak berapa lama dia terus termenung, matanya terbelalak melihat Pak sipir sudah berada di hadapannya lagi dengan memberikan bungkusan kepada Kak Reno.


"Terimalah ini. "


"Apa ini pak?, " tanya Kak Reno.


"Buka saja dan gunakan jika berfaedah untukmu, " sahut Pak sipir.


Kak Reno membuka bungkusan plastik yang diberikan oleh Pak sipir kepadanya.


Lalu ia mengintip isi di dalamnya dan menarik keluar isinya.


Baju koko, sarung, kopiah, tasbih, sajadah dan Al-Qur'an.


"Akh, semua ini perlengkapan untuk salat, " ucap Kak Reno pelan.

__ADS_1


Kak Reno mengangkat kepalanya dan ingin mengucapkan Terima kasih kepada Pak sipir tersebut.


Tetapi saat ia melihat sekitar sosok Pak sipir itu sudah tidak ada dimana pun dalam jangkauan penglihatannya. Semua orang di sekitarnya tampak sepi. Bulu kuduknya merinding, aliran darahnya mendesir seketika. Kak Reno merasa takut dengan detak jantungnya yang berdebar kencang.


Dengan cepat ia memasukkan semua barang pemberian dari Pak sipir tersebut ke dalam kantong plastik, lalu beranjak berdiri dari tempatnya duduk dan membawa pemberian dari Pak sipir bersama dirinya.


"Akh, tidak ada salahnya jika aku ke Musholla, " ucap Kak Reno lirih sembari memegang lehernya yang terus merinding ketakutan.


Kak Reno dengan cepat bergegas menuju Musholla, sesekali ia melihat kebelakang untuk memeriksa keberadaan dari Pak sipir.


Dan berapa terjejutnya Kak Reno saat ia melihat Pak sipir itu sekarang berdiri tepat di tempatnya duduk sambil melambaikan tangan kanannya dan melemparkan senyum kepada Kak Reno.


Bulu kuduk Kak Reno semakin merinding dengan mata yang melotot menyaksikan keanehan yang terjadi kepadanya. Berharap ini semua adalah mimpi, maka Kak Reni mengusap kedua matanya bersamaan. Ketika matanya terbuka kembali sosok Pak sipir sudah tidak ada lagi dan menghilang dari pandangannya.


Kak Reno semakin terkejut dan takut, dengan cepat ia memutar tubuhnya dan mempercepat langkah kakinya dengan memeluk bungkusan plastik yang ia bawa untuk segera sampai di Musholla.


Rasanya jarak menuju ke Musholla begitu jauh bermil-mil dan terasa berat.


Huff...


Kak Reno menghela nafas sambil menyeka keringat dingin yang membasahi keningnya.


Terdengar dari kejauhan seseorang memanggil namanya.


"Saudara Reno... Saudara Reno."


Kak Reno tidak bergeming dan terus berjalan. Ia tidak berani menoleh ke belakang.


Bukankah itu suara dari Pak sipir tadi, batin Kak Reno dengan mempercepat langkah kakinya.


Bruukkk...


Kak Reno terjatuh karenaa berjalan terburu-buru dan tidak melihat ke jalan hingga kakinya tersandung.


Plukk... Plukkk.. Plukk..


Seseorang menepuk pundaknya pelan, Kak Reno menoleh.


Dan berapa tercengangnya Kak Reno saat melihat Pak sipir itu yang berada di belakangnya dan yang menepuk pundaknya.


Jantungnya terasa lemas seketika, dengan keringat dingin berkucuran.


"Han.. Han.. Han.. Hantu!, " teriak Kak Reno.


"Dimana hantunya, " tanya Pak sipir bingung.


Sambil menutup wajahnya dengan bungkusan plastik yang diberikan oleh pak sipir Kak Reno berkata, "bapak hantunya, pergi pak jangan ganggu saya. "


Pak Sipir tersenyum dan tertawa kecil, lalu


Pak sipir menepuk pundaknya Kak Reno lagi seraya berkata, " Astagfirullah. Bapak bukan hantu saudara Reno. Bapak ini masih hidup tidak ada hantu di sini. Saudara Reno terlalu banyak termenung dan melamun sehingga berhalusinasi yang aneh-aneh. Ya sudah mari saya bantu untuk berdiri. "


Dengan perasaan takut dan ragu-ragu Kak Reno memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya yang disambut baik dengan uluran tangan Pak sipir yang membantunya berdiri.


"Kan sudah saya bilang, saya bukan hantu." "Tetapi Bapak kemana tiba-tiba menghilang?," tanya Kak Reno dengan wajah masih ragu.


"Saya tidak kemana-mana, mungkin itu hanya halusinasinya saudara Reno saja. Ya sudah kalau begitu. Ayo sekarang kita ke Musholah untuk beribadah, "ajak Pak Sipir sambil melemparkan senyum ke arah Kak Reno sedangkan Kak Reno masih sedikit linglung antara sadar dan bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi kepada dirinya.Pak sipir lalu menoleh lagi melihat Kak Reno yang masih saja termenung menatap dirinya.


"Ayo kenapa masih diam di situ!," ajak pak sipir.


Kak Reno pun mengangguk dengan pandangan matanya yang masih seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Iy..iy....iya Pak, "jawab Kak Reno terbata.

__ADS_1


Kemudian Kak Reno melangkahkan kakinya dengan pelan berjalan di belakang Pak sipir, sambil terus menatap tubuh dan langkah kaki Pak sipir yang berada di hadapannya dengan perasaan masih bergidik takut.


__ADS_2