
Pak Sugeng dan mbak Riska sudah bersiap-siap mengemasi barang-barang milik Bu Sri yang berada di ruangan rumah sakit. Mereka sudah siap untuk membawa Bu Sri pulang ke rumah mereka .
"Mah dokter mengizinkan mama pulang hari ini. Tetapi ingat mama harus bed rest membatasi akitivitas yang biasa dilakukan selama beberapa waktu.Mama juga masih bisa beraktivitas di dalam rumah, tetapi bukan aktivitas yang berat serta tidak boleh banyak memikirkan sesuatu yang dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan stres mama meningkat.Dan papa berharap mama bersungguh-sungguh untuk melakukan itu semua," pinta Pak Sugeng kepada Bu Sri. "Iya pah,tentu saja Mama akan mendengarkan apa yang dokter pesankan. Sekarang mama akan lebih berpikiran slow dan tidak terlalu overthinking terhadap semua hal yang terjadi dalam hidup mama. Mama ingin sehat pah. Mama ingin terus menyaksikan Riska juga Reno tumbuh dan hidup bahagia ,"ucap Bu Sri sambil tersenyum mengusap wajah mbak Riska yang tersenyum kepadanya.
" Ya sudah kita segera bergegas ke mobil dan pulang. Kakek di rumah pasti terkejut denagan kedatangan kita ,"ucap Pak ja?Sugeng kepada istrinya.
Lalu Pak Sugeng, Bu Sri dan Mbak Riska pun berjalan keluar dari ruangan tempat Bu Sri dirawat. Dan tiba-tiba salah seorang perawat menghentikan langkah mereka bertiga.
" Maaf Pak Sugeng saya mengganggu. Untuk pembayaran administrasi yang Bapak lakukan menggunakan kartu debit terjadi masalah Pak" ucap perawat kepada Pak Sugeng .
"Maksudnya bagaimana sus? Bukankah sebelumnya semuanya baik-baik saja dan tidak ada kendala .Lalu kenapa tiba-tiba terjadi masalah seperti ini,"tanya Pak Sugeng.
" Iya maaf Pak, kartu debit yang Bapak tadi berikan ternyata uangnya tidak dapat untuk ditarik .Dan untuk itu Bapak sekarang langsung saja ke ruang administrasi nanti akan ada petugas di sana yang akan menjelaskan kepada bapak mengenai masalah ini,"ucap perawat tersebut kepada Pak Sugeng .
"Oh ya Baiklah kalau begitu sus. Terima kasih atas informasinya ,"kata Pak Sugeng.
"Iya Pak sama-sama,kalau begitu saya permisi dulu,"ucap perawat kepada Pak Sugeng sambil berlalu pergi.
lalu Pak Sugeng pun melihat ke arah Mbak Riska dan Bu Sri.
"Ada apa Pah?," tanya Bu Sri pelan .
"Itu kartu debit papa tidak bisa dicairkan. Mungkin sedang ada kendala teknis atau eror ," ucap Pak Sugeng kepada Bu Sri.
"mah,"kata Pak Sugeng kepada Bu Sri.
"Oh ya Riska.Apakah kamu membawa uang tunai untuk berjaga-jaga. Siapa tahu kartu kredit Papa juga sedang bermasalah?," tanya Pak Sugeng kepada Mbak Riska.
"Ada kok Pah.Riska selalu membawa cukup banyak uang tunai," sahut Mbak Riska.
" Ya sudah kalau begitu Riska. Sini papa pinjam dulu ya," kata Pak Sugeng.
"Iya Pah, sebentar Pah.Riska ambilkan uangnya,"ucap Mbak Riska sambil mengambil uang di dalam tasnya lalu memberikan kepada Pak Sugeng.
"Ini Pah uangnya. Silahkan papa pakai dulu saja," jawab Mbak Riska sambil memberikan uang kepada Pak Sugeng.
" Iya nak terima kasih ya," sahut Pak Sugeng menerima uang dari Mbak Riska seraya berkata ,"Oh ya Riska kamu dan mama langsung saja menuju ke mobil. Papa akan menyelesaikan masalah administrasi biaya tagihan rumah sakit mama dulu secepatnya. Setelah itu,nanti Papa akan menyusul kalian ya," pinta Pak Sugeng kepada Mbak Riska.
" Iya Pah, baiklah kalau begitu Riska dan mama menuju ke mobil dulu ya pah," kata Mbak Riska.
" Iya nak hati-hati dan jaga mamamu baik-baik ya," pinta Pak Sugeng sambil mengusap rambut Mbak Riska.
"Tentu pah.Papa tenang saja,"sahut Mbak Riska.
Kemudian Mbak Riska dan Bu Sri pun segera bergegas menuju ke mobil. Sementara Pak Sugeng berjalan berlawanan arah menuju tempat administrasi untuk membayar biaya tagihan rumah sakit Bu Sri.
__ADS_1
Dan setelah beberapa lama kemudian Mbak Riska dan Bu Sri yang menunggu di dalam mobil dikejutkan dengan kedatangan Pak Sugeng yang mengetuk kaca jendela mobil.
Tuk...Tuk...Tuk....
Terdengar Pak Sugeng dengan pelan mengetuk kaca mobil.
" Oh ya ampun Papa rupanya ,"ucap Mbak Riska terkejut. Lalu segera membukakan pintu mobil agar Pak Sugeng masuk ke dalam.
" Bagaimana pah sudah selesai ?,"tanya Mbak Riska memandang ke arah Pak Sugeng.
"Iya nak tetapi Papa membayar menggunakan uang tunai sepertinya kartu debit dan kartu kredit Papa bermasalah jawab Pak Sugeng yang sudah bersiap memakai seat belt.
" Sudah Pah mungkin juga sedang gangguan teknis atau ada sesuatu yang error ,"sahut Mbak Riska kepada Pak Sugeng.
" Iya nak. Ya sudah kita langsung saja pulang ya biar mamamu bisa segera beristirahat di rumah ,"ucap Pak Sugeng pada Mbak Riska.
"Iya pah," sahut Mbak Riska.
Kemudian mobil yang dikemudikan oleh Pak Sugeng pun melaju meninggalkan tempat parkiran rumah sakit untuk menuju kediaman rumah keluarga Suprapto.
Sesampainya Pak Sugeng ,Bu Sri dan Mbak Riska di kediaman rumah keluarga Suprapto mereka langsung turun dari mobil. Dan pandangan mereka tertuju kepada kakek yang sedang duduk bersama Pak Gukul dan beberapa asisten pengacara di dekatnya.
"Pah,"panggil Pak Sugeng kepada kakek yang terlihat termenung dengan wajahnya yang pucat.
" Pah...Pah," panggil Pak Sugeng lagi kepada kakek sambil menggoyangkan tangannya dengan maksud agar kakek merespon panggilan Pak Sugeng.
Namun, sekali lagi kakek juga tetap masih terdiam dan tidak menjawab panggilan dari Pak Sugeng. Melihat keadaan kakek yang seperti itu Pak Sugeng pun menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada kakek kepada Pak Gukul.
Pak Gukul terlihat cemas dan sedikit bingung seperti sulit untuk mengatakan kejadian yang barusan saja terjadi kepada Pak Sugeng.
" Pak Gukul apa yang terjadi kepada Papa saya?. Mengapa Papa seperti membatu dan tidak merespon panggilan saya Pak Gukul?," tanya Pak Sugeng kepada Pak Gujul dan terus memanggil kakek, "Pah... pah," ucap Pak Sugeng agar kakek mau merespon panggilannya.
Bu Sri dan Mbak Riska pun mendekat dan ikut duduk bergabung di samping Pak Sugeng.
"Kek..kakek,"ucap Mbak Riska berusaha untuk memanggil kakek tetapi Kakek juga tidak merespon panggilan dari Mbak Riska. Sementara itu ,Pak Gukul terlihat bingung dan ragu untuk menceritakan semua kebenarannya kepada Pak Sugeng. Tetapi setelah Pak Sugeng mendesak dan terus bertanya kepada Pak Gukul akhirnya Pak Gukul pun menceritakan apa yang telah terjadi kepada kakek.
" Tadi Bapak Gondrong Widodo kemari Pak Sugeng ,"ucap Pak Gukul.
" Bapak Gondrong Itu siapa Pak Gukul?," tanya Pak Sugeng yang terlihat bingung. "Bapak Gondrong Widodo itu adalah pengacara keluarga dari almarhum Bapak Widiyanto kakeknya Nak Rani," ucap Pak Gukul dengan pelan.
" Lalu apa kaitanya dengan papa saya yang terlihat seperti orang melamun seperti ini?," tanya Pak Sugeng kembali .
"Begini saja Pak Sugeng baca saja berkas yang ada di dokumen ini .Setelah itu saya akan menceritakan semuanya kepada Pak Sugeng. Apa yang sebenarnya terjadi," ucap Pak Gukul sambil menyerahkan dokumen kepada Pak Sugeng .
Pak Sugeng pun menerimanya dan Mbak Riska pun yang terlihat penasaran juga ikut melihat Pak Sugeng membolak-balikkan kertas tersebut dan membacanya.
__ADS_1
Lalu ekspresi wajah Pak Sugeng dan Mbak Riska pun tiba-tiba berubah drastis menjadi tegang dan begitu syok setelah membaca ada pemindahan aset kekayaan kepada ahli waris yang sah dan tertera namaku di dalam dokumen tersebut ."Apa maksudnya ini Pak Gukul?,"tanya Pak Sugeng sambil terbata. Dan Mbak Riska pun terlihat lemas dengan nafas yang sedikit terengah seakan Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia baca dan ia lihat dengan matanya sendiri.
"Ada apa Riska? apakah semuanya baik-baik saja?,"tanya Bu Sri ingin tahu.
Namun, Mbak Riska pun seperti sulit untuk menjelaskan semuanya kepada Bu Sri. Lidahnya terlalu keluh dan kaku untuk mengatakan apa yang sudah ia baca dari dokumen yang diserahkan oleh Pak Gukul kepada Pak Sugeng dan dirinya.
Bu Sri yang melihat Mbak Riska begitu tegang dan terlihat syok segera menanyakan tentang apa yang terjadi sebenarnya kepada Pak Gukul.
"Pak Gukul tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi .Kenapa suami saya, mertua saya dan anak saya terlihat begitu sangat terkejut setelah membaca dokumen itu ?,"kata Bu Sri kepada Pak Gukul.
" Baiklah Bu Sri Pak Sugeng dan Dek Riska saya akan menjelaskan apa maksud dari dokumen yang saya serahkan kepada Pak Sugeng untuk membacanya. Tadi sudah saya katakan jika pengacara dari almarhum kakeknya Nak Rani kemari untuk menyerahkan salinan berkas dokumen ini kepada Bapak Suprapto dan keluarga.Supaya dapat mengetahui isi dari dokumen ini yang berisi tentang pemindahan seluruh aset harta kekayaan yang selama ini digunakan oleh Bapak Suprapto dan seluruh keluarga Pak Sugeng kepada ahli waris sebenarnya yaitu Nak Rani .Dan karena sudah terjadi pemindahan secara sah serta resmi maka semua aset dan harta kekayaan baik uang,barang bergerak atau pun barang tidak bergerak yang Pak Sugeng dan Dek Riska simpanbsemuanya dibekukan dan tidak dapat digunakan kembali tanpa seizin Nak Rani. Dan juga tadi Pak Gondrong mengatakan Bapak Suprapto diberikan waktu tenggang selama 3 hari untuk mengosongkan semua rumah ini dan hanya membawa pakaian yang dikenakan saja saat keluar dari rumah ini. Karena seluruh isinya adalah hak dan punyanya Nak Rani" ucap Pak Gukul menjelaskan kepada Pak Sugeng ,Bu Sri dan Mbak Riska.
Pak Sugeng ,Bu Sri dan Mbak Riska pun terduduk lemas dan tidak dapat berkata-kata .Pandangan mereka terlihat kabur dengan wajah mereka yang sangat pucat.
" Ya Tuhan pantas saja kartu debit ku tadi tidak bisa digunakan untuk membayar semua tagihan mama di rumah sakit. Ternyata semua uang yang ada di tabungan sudah dibekukan dan tidak dapat digunakan lagi. Lalu sekarang kita harus apa dan akan tinggal di mana?," ucap Pak Sugeng sambil menangkupkan kedua tangannya ke mukanya dan sedikit menarik rambutnya ke arah belakang dengan wajah yang terlihat sangat tegang.
" Tidak semua ini pasti tidak benar kan Pah. Semua ini pasti hanya mimpi karena mana mungkin anak kampung itu bisa melakukan hal seperti ini kepada kita .Riska tidak sanggup Pah.Riska sangat tidak sanggup bila kita akan jatuh miskin dan jadi gelandangan Pah.Huhuhuhuhu....,"ucap Mbak Riska sambil berteriak histeris dan menangis.
" Riska...Riska... Riska tenagkan dirimu. Tenangkan dirimu nak.Mama mohon,Hiks...hiks...hiks," ucap Bu Sri dengan pelan dan juga ikut menangis.
" Tidak mah. Ini mimpikan mah .Ini semua tidak benar-benar terjadi kan Mah Riska tidak sanggup mah .Riska sangat tidak sanggup bila kita menjadi orang miskin mah, Huhuhuhuhu...,"ucap Mbak Riska sambil menangis tersedu-sedu.
Bu Sri lalu mengusap air mata di wajahnya Mbak Riska dan berusaha untuk menenangkan putrinya itu.
" Pak Gukul,apakah tidak ada cara untuk menghentikan pemindahan seluruh aset kepada Rani ?,"tanya Pak Sugeng dengan wajah yang terlihat sangat kaku dan tegang melihat ke arah Pak Gukul.
" Tidak ada Pak karena memang sesungguhnya seluruh aset dan harta kekayaan yang dimiliki oleh Bapak Suprapto sebenarnya memang adalah hak dan kepunyaan Nak Rani secara mutlak dan sah. Dan itu tidak bisa diganggu gugat lagi. Tetapi jika Nak Rani memiliki rasa iba dan kasihan kepada keluarga Pak Suprapto mungkin Nak Rani dapat memberikan sedikit aset yang ia miliki untuk keluarga bapak.Atau setidaknya memberikan masa tenggang lagi yang cukup lama bagi keluarga Pak Sugeng untuk dapat tinggal dulu sementara di rumah ini,"ucap Pak Gukul.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Pak Gukul.
Pak Sugeng pun terlihat sangat lemas dan tidak dapat berkata-kata lagi .Matanya nanar, wajahnya pucat dia sungguh tidak menyangka jika semuanya akan menjadi seperti sekarang ini.
Sementara itu Mbak Riska masih memeluk Bu Sri sambil menangis tersedu-sedu dan semakin histeris. Setelah mendengar apa yang disampaikan Pak Gukul kepada Pak Sugeng.
" Kalau menurut saran saya Pak Sugeng, Bu Sri dan Nak Riska beserta Pak Suprapto segera mencari keberadaan Nak Rani dan meminta maaf kepadanya,"ucap Pak Gukul dengan pelan .
Mendengarkan kata-kata dari Pak Gukul.
Mbak Riska pun seperti orang naik darah dan marah, "Apa maksud perkataan Pak Gukul kami semua harus meminta maaf kepada Rani. Balak jangan sembarangan berbicara seperti itu ya!," bentak Mbak Riska dengan kasar dan terlihat marah sambil menangis. "Sudah nak. Riska jangan berkata seperti itu. Kamu tenang dulu ,"ucap Bu Sri berusaha menenangkan Mbak Riska.
" Maaf Dek Dek Riska itu kan hanya saran dari saya. Karena hanya itulah salah satunya cara agar Dek Riska dan keluarga dapat tinggal sementara di rumah ini dan menentukan langkah selanjutnya sambil menyusun rencana. Karena saat ini yang dapat menolong keluarga Dek Riska hanyalah Nak Rani seorang. Dan jika sampai gugatan cerai yang diajukan nak Rani terhadap Dek Reno dikabulkan oleh pengadilan agama maka saat itu semuanya akan menjadi sulit bagi keluarga Dek Riska. Karena Nak Rani sudah tidak ada lagi memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Pak Suprapto dan jika itu pun terjadi saya pun juga akan angkat tangan. Dan tidak akan bisa membantu keluarga Pak Suprapto," ucap Pak Gukul dengan pelan. Tetapi mbak Riska mendengar apa yang dikatakan Pak Gukul terlihat tidak senang. Sorot matanya yang tajam dan sedikit melotot ke arah Pak Gukul seakan tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh Pak Gukul kepadanya ,"Tidak sampai kapanpun aku tidak akan pernah meminta maaf kepada Rani. Bahkan mengizinkan keluargaku meminta maaf kepada anak kampung itu.Tidak akan pernah Pak !,"teriak Mbak Riska.
" Baiklah jika itu memang keputusan dari Dek Riska .Saya tidak memaksa .Itu hanyalah sebuah saran dari saya .Kalau begitu saya permisi dulu Pak Sugeng, Bu Sri dan Dek Riska,"ucap Pak Gukul lalu beranjak pergi meninggalkan mereka semua.
Sementara seluruh keluarga Suprapto yang berada di halaman masih terduduk lemas dan termenung menerima kebenaran yang baru saja terjadi kepada mereka.
__ADS_1