
Setibanya di kediaman rumah Imandar. Ummah meminta Bik Siti segera membawaku untuk beristirahat di kamar. Sementara Ummah langsung menemui Enjid dan Abi serta menceritakan semua peristiwa yang terjadi kepada mereka. Abi dan Enjid pun turut kaget mendengar apa yang disampaikan oleh Ummah.
Dengan wajah penuh kecemasan dan kegelisahan Ummah segera meminta supaya Ustad Fariz dan diriku untuk segera menikah.
"Abi... Njid!, " panggil Ummah.
Abi dan Njid menoleh ke arah Ummah dengan tatapan wajah yang sangat serius.
"Saya ingin Fariz dan Rani menikah pada hari ini juga, mengingat banyak sekali gangguan untuk mereka. Apalagi kondisi Roy yang seperti itu, jika ia benar-benar bercerai dengan Rere tidak menutup kemungkinan Bu Desi akan meminta Rani untuk menikah dengan putranya. Dan Rani tentu tidak akan mungkin dapat menolaknya, dimana kita tahu jika hatinya Rani itu mudah tersentuh dan sangat sensitif. Ummah tidak ingin jika putri Ummah itu harus terus berkorban terus menerus demi kebahagiaan orang lain. Sudah sepantasnya dia juga bahagia dan menata kehidupannya terutama bersama putra kita Fariz. "
Abi dan Enjid masih terdiam memikirkan ucapan Ummah. Dan Ummah terus menerus berbicara menyampaikan perasaannya.
"Ummah sungguh tidak dapat berkata-kata, gadis -gadis seperti Aisyah dan Rere itu mengapa begitu nekat sekali melakukan tindakan diluar batas kewajaran dengan mengatasnamakan cinta. Lalu, cinta macam apa ini jika rasa cinta yang mereka miliki justru menyakiti dirinya, orang lain dan termasuk orang yang mereka cintai. Ummah rasa mereka sudah tidak lazimnya memiliki pandangan dan cara berpikir orang normal pada umumnya. "
Abi pun melihat ke sekitar, "Lalu dimana Fariz dan Rani?. "
Ummah langsung menjawab, "Fariz bersama Pak Budi masih menemani Roy dan Bu Desi di rumah sakit, sementara Rani bersama Bik Siti, Ummah memintanya untuk beristirahat. Kasihan ia baru saja keluar dari rumah sakit tetapi langsung mendapatkan shock terapi seperti ini. "
Enjid yang semula diam kini ikut masuk dalam perbincangan antara Ummah dan Abi.
"Apakah setelah Fariz dan Rani menikah sekarang, kamu dapat memastikan jika tidak akan ada lagi gangguan yang akan menyertai perjalanan rumah tangga mereka, Putri?. "
Ummah memandang ke arah Enjid, "Tentu Putri tidak dapat memastikannya Njid, karena itu semua hanya Allah Ta'ala yang tahu akan segala sesuatunya. Putri meminta supaya Fariz dan Rani segera menikah setidaknya untuk menghindari racun-racun yang akan membahayakan bagi keduanya. Sekarang apakah Enjid mau jika nanti Aisyah menggunakan akal licik dan tipu dayanya supaya dapat menikah dengan Fariz?. "
"Tentu Enjid tidak menginginkan itu Putri, " jawab Enjid.
"Oleh sebab itu Njid, mengapa saya begitu menginginkan agar Fariz dan Rani untuk segera menikah, setidaknya mereka berdua dapat terhindar dari hal-hal negatif yang terus membayangi mereka. "
Enjid menggerakkan kepalanya seperti memantuk-mantuk dan berpikir, "Baiklah jika ini semua demi kebaikan Fariz dan Rani. Maka dengan segera kamu telepon Fariz untuk segera pulang, kita akan membahas dengan Fariz perihal pernikahannya apakah mau dilangsungkan sekarang atau bagaimana.Semua berkas dokumennya pun sudah disiapkan oleh Pak Hadi. Kita hanya tinggal menunggu persetujuan dari Fariz dan Rani saja. "
Ummah tersenyum senang mendengar penuturan dari Enjid. Dengna cepat Ummah langsung mengambil telepon genggam miliknya untuk segera meminta Ustad Fariz pulang secepatnya.
Sementara di dalam kamar aku sudah selesai berganti pakaian dan duduk di beranda bersama Bik Siti.
"Apakah Nak Rani membutuhkan sesuatu, seperti minuman hangat atau makanan barangkali?, " tanya Bik Siti menatap diriku.
Aku menggelengkan kepalaku pelan dan tersenyum kecil kepada Bik Siti.
"Rani tidak sedang haus dan lapar Bik. Hanya saja Rani masih begitu terkejut atas, peristiwa yang baru saja terjadi kepada kita, rasanya seperti mimpi melihat Kak Roy masih hidup setelah selama ini kita menganggapnya telah meninggal dunia. "
Bik Siti juga langsung merespon perkataan dariku, "Bibi pun tidak menduganya sama sekali Nak Rani jika Nak Rere berani dan tega melakukan kebohongan yang begitu besar seperti ini. Hal ini tentu sangat membuat Bu Desi sangat terpukul sekali, setelah mengetahui jika putranya masih hidup tetapi dalam kondisi yang tidak berdaya seperti itu. "
"Iya Bik, jika saja kondisi Rani sehat ingin rasanya Rani menemani Tante Desi pasti semua ini sangat berat baginya, untuk menerima tindakan Rere terhadap Kak Roy."
Bik Siti lalu mengusap kepala ku pelan, "Ya sudah Nak Rani jangan terlalu memikirkan masalah ini yah. Sekarang kan Nak Roy sudah bersama keluarganya dan Nak Rere juga sudah diamankan oleh pihak berwajib. Nah, yang terpenting sekarang Nak Rani fokus untuk menata kehidupan Nak Rani bersama Nak Fariz, yaitu bersiap-siap untuk melangsungkan pernikahan. "
Aku terdiam dan seraya berpikir.
__ADS_1
Bik Siti melihat ekspresi wajahku.
"Lho, Nak Rani kok terlihat tidak senang. Ada apa jika Bik Siti boleh tahu? Apakah Nak Rani tidak menginginkan pernikahan ini?, " tanya Bik Siti dengan menatapku serius.
Aku pun menatap Bik Siti sebentar lalu memalingkan pandanganku pada langit luas di hadapanku.
"Tidak ada Bik. Hanya saja..., " ucapanku terhenti seketika.
Bik Siti yang penasaran dengan kelanjutan perkataan dariku, dengan segera bertanya padaku, "Hanya saja apa Nak Rani?. "
Aku menghela napas dalam-dalam dan seraya sedikit memejamkan kedua mataku sebentar, "Hanya saja semua terasa seperti asing dan tidak membuat hati Rani sepenuhnya nyaman Bik. Entah mengapa Rani merasakan demikan. Tetapi sudahlah Bik, tidak perlu dibahas lagi. Kita bicarakan hal yang lain saja. "
Bik Siti kali ini menatapku serius dan mencoba untuk menelisuk perasaan gundahku. Sementara aku masih terpaku menatap langit dengan banyak pikiran dan pertanyaan yang memenuhi kepalaku.
"Apakah Nak Rani memikirkan Nak Reno?, " tanya Bik Siti.
Aku begitu tersentak mendengar pertanyaan Bik Siti kepadaku.
"Mengapa Nak Rani terlihat kaget dengan pertanyaan yang Bibi katakan?, " tanya Bik Siti lagi padaku.
"Bagaimana Rani tidak kaget Bik, secara tiba-tiba Bibi menanyakan pertanyaan di luar tema pembicaraan kita, " sahut ku.
Bik Siti berdiri dari duduknya, lalu berjalan dan berdiri setengah jongkok dimana kedua tangannya memegang wajahku, "Sebab terakhir kali Nak Rani bertemu dengan Nak Reno di Lapas. Bibi mengamati ada perubahan yang terjadi pada diri Nak Rani. Entah apakah itu rasa iba melihat kondisi Nak Reno atau keterkejutan Nak Rani saja. Mungkin juga Bibi salah menafsirkannya. Ya sudah jika begitu, Bibi akan buatkan coklat hangat dulu untuk Nak Rani ya. Nak Rani tunggu dulu disini, " pinta Bik Siti sambil tersenyum.
Aku masih terdiam mencerna setiap ungkapan kata dari Bik Siti, hingga ia pun berlalu pergi meninggalkan diriku yang masih terduduk membisu memandang langit.
Setelah Ustad Fariz menerima telepon dari Ummah, ia pun segera bergegas mengajak Pak Budi untuk pulang. Tentunya setelah berpamitan dengan Tante Desi dan keluarganya. Ustad Fariz pun berjalan perlahan mendekati Tante Desi yang masih berdiri mondar-mandir di depan ruangan Kak Roy sedang di periksa oleh dokter.
"Assalamu'alaikum Tante Desi, saya dan Pak Budi pamit untuk pulang dulu ya Tante, sebab ada keperluan di rumah yang mengharuskan saya harus segera pulang. Dan saya minta maaf tidak bisa terlalu lama menemani Dek Roy disini?, " ujar Ustad Fariz.
Tante Desi dengan wajah luyuhnya menatap Ustad Fariz, "Iya Nak Fariz tidak apa-apa . Tante yang harusnya minta maaf karena telah banyak merepotkan dirimu dan keluarga mu. Oh ya Tante titip salam untuk Ummah dan keluarga mu yang lain juga Rani. Jika memungkinkan Tante berharap kamu bisa mengajak Rani kemari untuk menemui Roy ya Nak Fariz, semoga dengan kedatangan Rani akan membawa dampak positif bagi kesembuhan Roy, " ucap Tante Desi.
Ustad Fariz pun tersenyum kecil, "InsyaAllah Tante. Ya sudah kalau begitu Fariz dan Pak Budi pamit pulang dulu Tante. Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumussalam Warohmatulohi Wabarokatuh. Hati-hati ya Nak Fariz dan Pak Budi, " jawab Tante Desi.
Ustad Fariz dan Pak Budi pun menganggukkan kepala, sambil berpamitan dengan kerabat Tante Desi yang lainnya.
Langkah Ustad Fariz dan Pak Budi sedikit mereka percepat, sebab Ummah, Abi dan Enjid sedang menunggu kepulangan mereka. Hingga saat mereka berjalan cukup jauh dari tempat posisi Tante Desi semula. Langkah kaki Ustad Fariz dan Pak Budi dikejutkan oleh panggilan ibunda Kak Aisyah.
"Nak Fariz... Nak Fariz!, " teriak ibunda Kak Aisyah seraya berlari menghampiri Ustad Fariz dan Pak Budi.
Ustad Fariz yang mendengar namanya dipanggil, dengan segera menoleh ke arah sumber suara orang yang memanggilnya. Begitu pula Pak Budi yang melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Ustad Fariz. Dan berapa terkejutnya Ustad Fariz juga Pak Budi mendapati jika Ibunda Kak Aisyah yang memanggil Ustad Fariz.
"Ada apa ibu?, " tanya Ustad Fariz.
Dengan napas terengah-engah ibunda Kak Aisyah pun berkata kepada Ustad Fariz, "Apa yang sedang Nak Fariz lakukan kemari? Apakah Nak Fariz ingin membesuk Aisyah? Kalau begitu mari akan saya antar Nak Fariz menuju ruangan dimana Aisyah sekarang dirawat?, " ucap ibunda Kak Aisyah dengan penuh percaya diri disertai ekspresi wajah yang bahagia.
__ADS_1
Ustad Fariz terdiam dia tidak tahu jika Kak Aisyah di rawat pada rumah sakit yang sama tempat Kak Roy sedang diperiksa. Sementara itu, hati ibunda Kak Aisyah begitu senang karena di dalam pemikirannya ia menduga jika Ustad Fariz datang ke rumah sakit tersebut, karena ingin menjeguk putrinya.
Akh rupanya Nak Fariz masih perhatian dengan Aisyah. Mungkin aku bisa mempengaruhinya supaya dapat menikahi putriku Aisyah sebab kulihat tidak ada kedua orang tuanya yang turut serta dengannya, batin ibunda Kak Aisyah di dalam hatinya.
Pak Budi melihat gelagat yang kurang baik dari tatapan Ibunda Kak Aisyah, maka dengan segera Pak Budi pun menyela pembicaraan sebelum Ustad Fariz mengiyakan ajakan Ibunda Kak Aisyah.
"Maaf ibu, kami kemari tidak untuk membesuk Putri ibu, tetapi kami kemari mengantarkan kerabat kami yang sedang sakit. Untuk itu kami permisi sebab ada keperluan mendesak yang akan kami kerjakan. "
Ibunda Kak Aisyah seperti tertampar mendengar penuturan dari Pak Budi, ia begitu kesal.
Ustad Fariz pun hanya diam, sementara Pak Budi langsung menatap ke arah Ustad Fariz, "Mari Nak Fariz kita segera bergegas. Bu Putri dan yang lainnya sedang menunggu kita di rumah, " ajak Pak Budi sambil tersenyum kecil.
Ustad Fariz pun menganggukkan kepalanya.
"Maaf ibu kami permisi dulu, sebab kami sedang terburu-buru. Saya do'a kan semoga ukhti Aisyah lekas sembuh. InsyaAllah di lain kesempatan saya dan anggota keluarga saya lainnya dapat membesuk Ukhti Aisyah, " ucap Ustad Fariz.
Ibunda Kak Aisyah terdiam menahan malu dan rasa kekesalannya. Dia ingin berusaha menghentikan langkah Ustad Fariz, namun Pak Budi yang menyadarinya dengan cepat langsung menarik tangan Ustad Fariz untuk menjauh dan pergi meninggalkan ibunda Kak Aisyah.
Pak Budi tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya ke arah ibunda Kak Aisyah. Sementara itu, ibunda Kak Aisyah hanya memandang wajah Pak Budi dengan geram dan wajah tidak suka.
Pak Budi dan Ustad Fariz kemudian berjalan menuju halaman parkir untuk segera tiba di rumah.
Sesampainya di dalam mobil Ustad Fariz mengucapkan terima kasih atas tindakan Pak Budi yang membantu dirinya karena telah menolak permintaan ibunda Kak Aisyah.
Hahaha hahaha...
Terdengar tawa Pak Budi sambil menyetir mobil sambil melafazdkan basmalah.
"Saya tahu akan niat tidak baik dan tersembunyi dari ibunda Nak Aisyah.Entah apa yang akan terjadi jika Nak Fariz mau menemui Nak Aisyah, tentunya ia pasti akan memanfaatkan kedatangan Nak Fariz dengan rencananya yang lain. Ini Pak Budi tidak bermaksud untuk su'udzon ya Nak Fariz, tetapi demikian lah yang terlihat dalam pandangan Pak Budi, " jelas Pak Budi.
Ustad Fariz pun menganggukkan kepalanya, ia seakan memahami apa yang ingin berusaha Pak Budi jelaskan kepada dirinya, meskipun itu sedikit menyakiti hati ibunda Kak Aisyah, tetapi memang harus dilakukan sebab tidak ada pilihan lainnya.
Ustad Fariz menatap ke arah depan dengan perasaan penuh ketegangan dan debar-debar yang menjalar di sanubari nya.
Senyumnya mengembang seketika, ia seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.
Pak Budi sesekali melirik melihat wajah bahagia Ustad Fariz dan tersenyum kecil sembari menggoda Ustad Fariz, "Ehemmmmm.... Yang sudah tidak sabar untuk segera menghalalkan cintanya. "
Ustad Fariz tersenyum malu, "Akh, Pak Budi bisa saja. "
Pak Budi menyeringai dengan tawanya yang terlihat senang tetapi tetap menggoda Ustad Fariz, "Hehehe.. Saya tidak pernah melihat ekspresi wajah penuh ketegangan dari Nak Fariz sebelumnya. "
Ustad Fariz lalu menatap lagi lurus kedepan.
"Ini adalah hal penting dalam kehidupan saya Pak Budi.Setelah sekian lama saya memantapkan hati dan perasaan yang saya miliki serta menyadari akan keinginan dari hati saya yang terdalam. Biidznillah, semua yang saya pendam dan simpan dalam waktu yang lama secara perlahan-lahan telah Allah bukakan dan beri jalan cahaya terang Pak, " tutur Ustad Fariz.
Pak Budi pun hanya tersenyum sambil sesekali melihat ke arah Ustad Fariz sambil terus fokus mengendarai mobil.
__ADS_1
Mobil pun terus melaju mengejar waktu untuk segera tiba membawa Ustad Fariz pulang ke kediamannya dan memulai prosesi penting yang ia nantikan sejak lama.