
Semua orang masih menatap diriku dan benar-benar menunggu jawaban yang akan keluar dari lisanku.
Perasaan yang berkecamuk dan beradu dalam hatiku. Semakin membuat pikiran dan hatiku, saling tidak terkoneksi dalam satu frekuensi yang sama.
"Rani,ingin berbicara dengan Kak Reno, Abi. Sebelum diriku memutuskan semuanya, " ucapku memandang ke arah Abi.
Abi mengangguk dan tersenyum, dengan ekspresi wajah sedikit tenang.
Aku lalu berdiri dari duduk ku dan berbicara kepada semuanya, jika aku menunggu Kak Reno untuk berbicara di luar.
Ummah menatap diriku yang berlalu perlahan dari semua orang. Sementara itu, Abi dan Enjid berjalan menuju tempat Kak Reno berada sekarang. Lalu menyampaikan keinginan ku. Paras, Kak Reno tersenyum kecil mendengar apa yang Abi katakan dan tiba-tiba parasnya menjadi tegang. Abi menepuk pundak Kak Reno pelan sambil mengangguk kan kepala nya untuk segera menemuiku. Begitu pula yang di lakukan oleh Enjid, Pak Sipir dan Pak Budi.
Ketegangan di wajah Kak Reno pun mulai sedikit mencair. Lalu ia terlihat menarik napas panjang dan dalam, setelah itu berpamitan dengan semua orang.
Dari kejauhan Ummah, Wirda dan Bik Inah pun mengamati apa yang Kak Reno lakukan.
Mereka bertiga pun terlihat tegang dan penuh harap.
Kak Reno yang berjalan pun melihat ke arah Ummah lalu menghampiri nya, sekaligus berpamitan meminta restunya.
Ummah pun tersenyum kepada Kak Reno, dan mengatakan kepada Kak Reno untuk segera menemui diri ku dan mengatakan kejujuran perasaan Kak Reno apa adanya kepada diri ku.
Kak Reno mengangguk, tanda ia mengerti apa yang Ummah katakan.
Semua do'a dari semua orang mengiringi langkah Kak Reno untuk memuluskan ikhtiarnya dalam merengkuh cintanya, dalam bentuk ikatan suci pernikahan.
Sementara itu, diri ku masih berdiri di halaman masjid. Sembari memandangi deburan ombak yang bergulung pelan lalu kuat menghantam batu karang.
Aku terus terpaku dalam lamunan yang menyita pikiran ku.
__ADS_1
Aku menyadari jika hidup memang sebuah pilihan. Pilihan yang beragam dan berbentuk
lurus atau pun berliku, yang membawa dampak baik atau pun buruk, pada pilihan yang akan di ambil. Dan terkadang harus membuat diri ini berdiri atau pun duduk, merangkak atau pun berlari. Sehingga membuat raga menjadi diam atau bereaksi, yang membuat tampilan diri menjadi hitam atau menjadi putih. Semua berhak memilih jalan hidup nya yang dianggap benar atau pun sekedar pantas untuk di pilih dan di jalankan. Termasuk bagi diri ku dan Kak Reno. Namun seberliku atau seterjal apa pun pilihan itu yang akan aku ambil, dan bagaimana pun itu.Sungguh,aku selalu berharap akan langkah ku yang senantiasa mengarah kepada kebenaran dan keridhoan Nya.
Tidak lama kemudian, Kak Reno sudah berada di dekat ku.
Pandangannya mengarah pada laut lepas, yang bergemuruh bersama ombak.
Untuk beberapa saat, aku dan dirinya terdiam dalam panorama laut yang menyita pikiran dan indra penglihatan kami.Bukan untuk menjadi diam, tetapi sekedar rehat sebentar untuk menyusun kata-kata dalam lisan, supaya hati tak lelah dalam hal yang tak pasti.
"Apa yang ingin engkau katakan kepada diri ku Rani?, " tanya Kak Reno melihat sekilas pada ku.
"Permainan apa lagi yang sedang engkau lakukan Kak Reno?.
Kak Reno sedikit tekejut dengan perkataan dariku, tetapi ia masih bersikap tenang.
" Ucapan mu tidak menjawab pertanyaan ku. "
"Lalu apa yang harus ku katakan pada mu Rani, untuk membuat dirimu tidak meragukan diri ku?. "
"Hal itu hanya diri mu sendiri yang dapat menjawab nya Kak, " kataku tidak ingin mengerti dirinya.
Kak Reno menghela napasnya panjang dan menatap lautan kembali.
"Kamu tahu Rani, kedatangan dirimu yang tiba-tiba hadir di dalam kehidupan ku. Seperti tetesan butiran-butiran hujan, yang terbawa sang bayu. Dan tanpa dapat kupahami dan mengerti kehadiranmu membuatku tersenyum Rani. Di mana fatamorgana pikiran ku yang semula sempit menolak kehadiran dirimu, perlahan dapat menguap begitu saja ,lalu menyeret ku masuk ke dalam dunia mu. Awalnya aku menolak, tetapi tanpa ku sadari. Aku menjadi bahagia akan kehadiran mu yang mulai mengusik pikiran dan juga hati ku. Yah,,,meskipun, pada saat itu aku masih memandang diri mu dari sisi terburuk penilaian diri ku yang penuh keegoisan.
Tetapi saat itu aku hanya cukup diam, dan memandang diri mu dari kejauhan. Namun, semua itu tak lantas membuat ku merasa cukup... hingga nafsuku terus membakar diri ku untuk membenamkan perasaan yang ku miliki dalam kebencian."
Kak Reno terdiam sebentar memandang ke arah ku, lalu meneruskan kembali perkataannya.
__ADS_1
"Tetapi, takdir langit menginginkan hal yang lain pada hatiku. Dalam kebencian yang ku paksakan, terlintas sepi rasa yang membakar relung hati ku, saat dirimu dekat dengan seseorang Ran. Dan ketika dirimu melangkah menuju diri ku, entah kenapa hati ini tersenyum. Kenangan masa lalu yang buruk penuh kesedihan pada kisah kita, membuat ruang di dalam hati ku menyadari bahwa sesungguhnya senyum mu sangatlah berarti bagi diri ku. Aku terus berlayar menjauh darimu Ran, dan kini sudah saatnya aku berhenti dan berlabuh dalam kehidupan mu... Bersamamu... Karena hidup ku adalah kamu. Setelah baik dan buruk kehidupan yang aku jalani. Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menetapkan pilihan akan kebenaran cinta sejati ku, yaitu dirimu Ran, " ucap Kak Reno dengan sangat serius dan dalam.
Kak Reno melihat ke arah ku, bersamaan dengan diri ku yang juga melihat ke arahnya. Titik pandangan kami bertemu dalam gemuruh suara ombak dan sapuan angin yang berhembus sedikit kencang.
Dengan cepat ku tundukkan pandangan ku darinya, dan berkata, "Lalu apa tujuan dirimu mengatakan ini semua pada ku? Apakah engkau sengaja mengajak diri ku bernegosiasi akan hasratmu?. "
Kak Reno tersenyum memandang diriku, dan lagi aku pun memalingkan pandangan ku darinya. Kak Reno terdiam dalam keheningan nya, padahal diri ku sedang menunggu jawaban lisannya.
"Seulas senyum yang engkau berikan, tidak akan memberikan jawaban dalam kewibawaan yang engkau ciptakan, " kataku pada nya.
"Tetapi senyum tidak akan menghancurkan wibawa dan mencoreng citra seseorang, Ran.Karena senyum tidak akan membuat menjadi rendah atau pun murah. Karena senyum adalah sedekah. "
"Jadi?, apa alasan mu ingin menikahi ku? " tanya ku.
"Aku tidak perlu memiliki alasan untuk menikahi dan mencintaimu Ran. Sebab engkaulah alasan keberadaan diri ku tercipta. "
Aku melihat ke arahnya, dan Kak Reno terus menatap ke laut lalu meneruskan perkataannya.
"Aku ingin hadir kembali di dalam kehidupan mu, dan menghapus semua jejak luka yang pernah ku torehkan pada mu. Meskipun, ku tahu engkau sulit mengerti maksud ku.
Aku ingin menatap dengan cara pandang baru, menggapai dari sudut yang tak pernah ku tempuh dalam mencintaimu Ran.
Aku Reno Suprapto menghaturkan permintaan ku, untuk menjadikan diri mu sebagai pendamping hidup ku. Bukan karena keinginan, atau hasrat semata. Tetapi memenuhi ibadahku, pelengkap baktiku kepada Sang Maha Pencipta dalam mengarungi perjalanan kehidupan ini bersamamu. Wanita yang telah Allah tetapkan takdir nya bersama diri ku, dan Aku pun menerima nya dengan sepenuh hatiku, serta berjanji akan mencintai nya karenaNya. "
Aku terdiam membisu..
"Jadilah rinduku Ran... Dan menjadi keindahan dalam gelapnya malam perjalanan hidupku yang telah lama suram. "
Aku memandangnya dengan perasaan sensasi aneh yang tidak ku mengerti. Kak Reno masih menunggu lisanku untuk berucap sesuatu kepada dirinya...
__ADS_1