
Aku masih mengenggam surat yang di berikan oleh wanita yang menutup wajahnya itu. Sesekali ku arah kan pandangan mata ku menuju Kak Reno dan melihat ke arah sekitar ku. Dan melihat apakah ada CCTV di dalam ruangan ini. Dan ternyata memang benar dugaan ku. Aktivitas ku dan Kak Reno memang mereka pantau.
Sambil membolak-balikan surat itu.
Aku terus berpikir keras.
"Apa yang sebenarnya di inginkan oleh sosok berjubah hitam itu?, " tanya ku di dalam hati.
Jika ia tidak ingin menyakiti ku, lalu untuk apa ia menculik diri ku dan Kak Reno.
Pertanyaan yang masih menjadi misteri untuk ku.
Dengan penasaran aku pun lalu duduk di kursi kayu dekat ranjang Kak Reno sedang berbaring saat ini.
Kemudian, aku membuka perlahan surat itu dengan perasaan yang tidak menentu.
Rani,
Tulisan awal surat itu pada ku.
Dimana aku merasakan jika sosok ini mengenal diri ku dengan baik.
Aku senang dapat melihat diri mu, setelah sekian lama. Dimana rindu dan rasa yang bertumpu, begitu sulit untuk di pendam lagi.
Aku tidak akan lagi bertanya pada diri mu. Apakah engkau menginginkan nya atau tidak.
Apakah engkau setuju atau tidak.
Apakah engkau marah atau tidak.
Sekarang aku tidak akan memikirkan semua hal itu lagi.
Karena sekarang adalah waktunya bagi diri mu untuk menerima, apa pun yang menjadi keinginan dan juga hasrat ku pada mu.
Nikmati kebersamaan mu dengan Reno, setelah itu engkau harus membiarkan dirinya pergi dari hidup mu.
Dan membuangnya tanpa bekas.
Kemudian aku akan hadir di dalam hidup mu, yang akan menghujani hari-hari mu dengan cinta yang telah tumbuh begitu subur pada mu.
Jangan salah mengambil keputusan Rani.
Karena setiap keputusan yang akan engkau ambil. Mempengaruhi kelangsungan hidup semua orang yang berada di sekitar mu.
__ADS_1
Percayalah,
Kali ini aku bisa melakukan apa pun, untuk mendapatkan diri mu.
Karena cinta yang terluka itu, sangat menyakitkan dan begitu membuat ku menjadi hampir gila karena mu.
Aku masih merasa gemetar setelah membaca surat itu.
Dan mencoba untuk menerka siapa gerangan penulisnya.
Seseorang yang pastinya tahu dan kenal dengan sangat baik pada ku juga Kak Reno.
Aku masih terdiam sembari melihat ke arah Kak Reno, dengan sesekali meletakkan telapak tangan ku di keningnya.
Ku pandangi wajahnya sebentar, untuk sekedar mengobati akan rasa kecemasan di dalam diri ku.
"Lekaslah membaik Kak Reno. Aku sangat berharap engkau segera sehat seperti sedia kala, " ucap ku lirih sambil mengusap wajahnya pelan.
Kemudian, aku bangun dari duduk ku dan mengecek semua jendela juga pintu.
Yang semuanya sudah terkunci dengan rapat. Lalu aku menggeser kursi yang semula ku buat duduk, saat di samping Kak Reno. Tepat menaruhnya di depan pintu masuk ruangan ini.
Setelah itu, aku berjalan mendekati tas yang berisi pakaian gamis untuk ku.
Tas terbuka dan ku lihat ada beberapa pakaian gamis lengkap dengan setelan hijabnya. Dan juga perlengkapan salat yang semuanya masih baru.
Badan ku sudah terasa kotor dan tidak nyaman. Lalu aku mengambil handuk dan pakaian dari dalam tas tersebut. Kemudian, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri ku.
Tidak berapa lama kemudian, aku pun segera keluar. Karena aku juga tidak ingin berlama-lama berada di kamar mandi. Aku takut jika mereka membawa Kak Reno pergi. Setelah melihat Kak Reno dalam keadaan yang baik-baik saja. Aku pun dapat bernapas lega dan tenang.
Melihat Kak Reno yang masih tertidur pulas. Aku pun segera mengambil perlengkapan salat dan melaksanakan ibadah.
Dengan memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, untuk semua hal yang sekarang sedang menimpa diri ku dan Kak Reno.
***
Ummah masih terpaku dan terdudul lemas di atas jalan. Tidak hanya Ummah,
sopir ambulan dan juga dua orang petugas medis yang ikut menaikki mobil ambulan masih sangat shock.
Mereka semua masih terguncang hebat akan peristiwa yang baru saja terjadi di hadapan mereka.
Abi, Enjid, Pak Budi dan aparat kepolisian segera turun dari mobil dan menghampiri Ummah juga yang lainnya.
__ADS_1
"Ummah.. Ummah tidak apa-apa?, " tanya Abi sambil memegangi wajah Ummah dengan ke dua tangan Abi.
Ummah menangis dengan tatapan matanya yang terpaku, sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah jalan.
"Abi, mereka membawa Reno dan Rani. Hiks.. Hiks.. Hiks, " ucap Ummah dengan wajahnya yang sangat tegang dan penuh ketakutan.
Abi berusaha untuk menenangkan Ummah yang menangis dengan sangat histeris. Tetapi semua seakan-akan tidak berarti untuk membuat Ummah menjadi tenang.
Karena Ummah sudah sangat ketakutan dan terus memikirkan keadaan diri ku dan juga Kak Reno.
"Rani.. Rani... Reno...
Orang-orang jahat itu membawa Rani dan juga Reno bersama mereka Bi.
Bagaimana jika mereka akan menyakiti Reno dan juga Rani, Abi. Huhuhuhuhu....., " ucap Ummah dengan wajah penuh ketakutan.
Abi langsung memeluk Ummah dan segera mendekapnya erat.
Sementara itu, Pak Budi dan Enjid bersama aparat kepolisian yang lain menolong sopir ambulan dan kedua petugas medis yang terluka.
Jalanan yang semula sepi sekarang menjadi ramai, dengan kedatangan banyak warga yang melihat keadaan sekitar.
Abi yang melihat keadaan Ummah semakin ketakutan dan sangat cemas, dengan segera meminta Pak Budi dan juga Enjid untuk segera meninggalkan tempat kejadian peristiwa.
Bersama dengan sopir dan dua petugas medis yang juga segera di bawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan.
Sementara itu, aparat kepolisian masih memeriksa lokasi tempat terjadinya penculikan terhadap diri ku dan juga Kak Reno.
Dan selama di perjalanan Ummah terus menceritakan semua kejadian yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Hingga membuat Ummah tidak berhenti untuk menangis dan terus memanggil nama ku.
Abi pun semakin khawatir dan sangat mencemaskan kondisi Ummah. Dimana Abi terus menerus mendekap tubuh Ummah, agar dapat membuatnya tenang.
Namun, peristiwa penculikan yang terjadi kepada diri ku dan Kak Reno.
Sungguh membuat Ummah mengalami trauma yang hebat dan berat.
"Mereka semua membawa senjata tajam dan berlaku kasar, Abi. Ummah takut mereka akan bertindak buruk terhadap Rani dan juga Reno. Huhuhuhuhu..... Huhuhu, " ucap Ummah sambil memegangi lengan Abi.
"Iya Ummah. Ummah harus tenang dulu, " pinta Abi sambil memegangi wajah Ummah yang lusuh dan basah karena linangan air mata.
"Tidak Abi. Ummah tidak akan bisa tenang selama Rani dan Reno belum di temukan Abi.Ummah sangat mencemaskan keadaan mereka berdua Abi. Abi harus segera mencari keberadaan Reno dan Rani. Bagaimana pun caranya, " imbuh Ummah sambil terus menangis tiada henti.
__ADS_1