
"Ya Allah Nak Rani, huhuhuhuhu, " suara isak tangis Bik Siti pecah dengan terus memegangi kepalaku sembari membersihkan ceceran darah di kening hingga pelipisku.
Ummah gelisah menunggu kedatangan Abi, Enjid dan Ustad Fariz yang belum juga tiba.
"Ya Allah,Fariz kenapa kamu lama sekali nak, " ucap Ummah dengan gelisah bercucuran air mata.
Ummah terus mencari apapun di sekitarnya untuk terus menutup lukaku. Hingga tidak lama kemudian Ustad Fariz, Abi dan Enjid datang.
Abi dan Enjid kaget melihat keadaan diriku.
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini kepada Rani?, " tanya Enjid cemas.
"Ceritanya panjang Njid, hiks... hiks, " jawab Ummah sesenggukan.
Ustad Fariz dengan terburu- buru segera meminta Bik Siti dan Ummah untuk membopong diriku menunju lift, supaya segera dapat menuju ke rumah sakit terdekat mendapatkan pertolongan.
Semua orang pun mengangguk setuju.
"Dek Rani apakah kamu kuat untuk berdiri sambil dibantu dipeganggi Ummah dan Bik Siti?, " tanya Ustad Fariz dengan wajahnya yang sangat cemas.
Aku mengangguk pelan dengan menahan rasa sakit di kepalaku yang terasa berputar.
Dengan dibantu Ummah dan Bik Siti aku berjalan pelan sedikit tertatih menuju lift.
Enjid, Abi dan Ustad Fariz berjalan di belakang dan di samping kami. Mereka berjaga-jaga jika tiba-tiba aku jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Pintu lift terbuka, Ummah dan Bik Siti membopong diriku perlahan sembari Ummah terus menekan luka di kepalaku agar darahnya tidak terus mengalir. Ustad Fariz, Abi dan Enjid mengikuti kami.
Dalam samar penglihatanku pintu lift pun tertutup, semua terasa bergoyang dan berputar pelan lalu semakin lama semakin cepat.
"Sayang, kamu yang kuat ya nak, Huhuhuhu, " ucap Ummah sambil memegangi tubuhku yang terasa lemas.
"Nak Rani, sabar ya nak sebentar lagi kita akan sampai di parkiran mobil. Nak Rani bertahan ya, hiks... hiks, " ujar Bik Siti.
Namun, aku tidak bergeming dan terus menatap ke depan dalam pandangan mataku yang sayu dan terus berputar.
Semua orang semakin cemas dan khawatir melihat keadaanku yang terlihat sangat pucat dan sayu.
"Rani, apa kamu dapat mendengarkan ucapan saya, " kata Ustad Fariz sambil melihat ke arahku.
Tetapi lidahku sudah tidak cukup mampu untuk menjawab pertanyaan Ustad Fariz, tubuhku terasa bergetar dan nyeri. Semuanya perlahan menjadi samar dan buram lalu menghitam. Kepalaku berputar kencang dan membuat kedua mataku terpejam.
Bruuggg..
Diriku tidak sadarkan diri.
"Rani!, " teriak Ummah dengan cepat memegangi tubuhku yang hendak terjatuh.
"Ya Allah Nak Rani, Huhuhu, " pekik Bik Siti membantu Ummah menahan tubuh ku.
Abi, Enjid dan Ustad Fariz terkejut mendengar teriakkan Ummah dan Bik Siti. Mereka semua panik.
"Fariz, kamu segera bantu mengangkat Rani. Abi akan segera menyiapkan mobil. Semoga tidak terjadi hal yang buruk kepada Rani, " ucap Abi cemas.
"Iya Abi, baik, " sahut Ustad Fariz.
"Ya Allah bagaimana ini, Huhuhu, " ucap Ummah terus menangis tersedu-sedu.
"Sudah Putri, kamu yang tenang jangan membuat suasana menjadi panik. Kita semua mengkhawatirkan keadaan Rani, tetapi kita tetap harus tenang, " ucap Enjid menenangkan Ummah.
Ummah pun hanya mengangguk sambil terus menatap diriku.
__ADS_1
Dan Abi yang sudah keluar terlebih dahulu sudah bersiap untuk menyiapkan mobil. Namun, Pak Budi rupanya sudah berada disana terlebih dahulu dan sudah menyiapkan mobil.
Ustad Fariz dengan panik membawa tubuhku yang tidak sadarkan diri untuk masuk ke dalam mobil.
"Ummah tolong masuk dulu ke dalam untuk memegangi kepala Dek Rani, " pinta Ustad degan sangat panik.
"Iya nak, " jawab Ummah dengan bergegas.
Ummah yang sudah masuk terlebih dahulu di dalam mobil, lalu memegangi tubuhku dengan membiarkan kepalaku bersandar pada pangkuan Ummah, kemudian Bik Siti masuk setelahnya.
Ustad Fariz, Abi dan Enjid kemudian juga masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Budi yang segera melaju menuju rumah sakit.
"Bismillah, " ucap Pak Budi.
"Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbina lamunqolibuun.Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, " ucap Ustad Fariz sambi menoleh ke belakang melihat keadaan diriku.
Semua orang tegang dan cemas dalam kepanikan akan kondisiku saat ini.
Mobil yang di kendarai Pak Budi pun melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung di larikan ke ruang IGD untuk segera mendapatkan pertolongan. Sementara semua orang menungguku di luar dengan rasa kecemasan.
"Bagaimana Rani bisa terluka seperti itu Fariz?, " tanya Enjid sambil memegangi pundak Ustad Fariz.
Ustad Fariz memandang wajah Enjid. Namun, sebelum dirinya sempat untuk menjawab pertanyaan dari Enjid. Ummah sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari Enjid.
"Ini semua karena Aisyah, Njid. "
Enjid seraya berpikir heran dan seakan tidak percaya akan perkataan Ummah.
"Aisyah?, " tanya Enjid.
Enjid dan Abi terlihat semakin bingung dengan ucapan Ummah.
" Bagaimana bisa Aisyah melakukan hal ini kepada Rani? Abi tidak habis pikir Ummah. Apa mungkin wanita selembut Aisyah bisa melakukan hal tercela dan menyakiti orang lain sampai terluka parah seperti itu?,"tanya Abi dengan wajahnya yang penuh keheranan dan bingung. Ummah pun langsung menoleh ke arah Abi sambil menyeka air matanya.
"Bahkan Ummah sendiri pun hampir tidak percaya Bi ,tetapi Ummah, Bik Siti dan Fariz melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana sifat kasar Aisyah sebenarnya. Dia tidak hanya menyakiti Rani, tetapi ucapannya juga sangat terlampau tidak etis untuk didengarkan. Abi tahu apa yang ia inginkan kepada Rani?,"tanya Ummah memandang ke wajah Abi.
Abi pun menggerutkan dahinya untuk mengetahui kelanjutan dari perkataan Ummah, begitupun juga dengan Enjid yang begitu terlihat ingin tahu akan kejadian hal yang sebenarnya .
" Apa yang sebenarnya diinginkan Aisyah kepada Rani. Ummah?,"tanya Abi dengan wajahnya yang sangat serius. Ummah pun menghela nafasnya untuk kembali mengatur kata-katanya dan berusaha menenangkan dirinya agar dapat menjelaskan kepada suaminya dan juga Enjid.
"Ternyata selama ini Aisyah itu menyukai Fariz,Bi.Aisyah mencintai Fariz, sehingga Aisyah merasa cemburu dan tidak suka melihat kedekatan Rani dengan Fariz juga kedekatan Rani dengan keluarga kita. Oleh karena itu, Aisyah menemui Rani dan meminta Rani untuk pergi menjauh dari Fariz dan dari keluarga kita. Sebenarnya Ummah juga sudah curiga melihat gelagat Aisyah saat acara ngunduh mantu, saat ia menghampiri Rani waktu duduk di taman,dari kejauhan Ummah sudah melihat tatapan Aisyah yang aneh dan tidak suka kepada Rani. Ummah sebenarnya ingin mendekati Rani ,tetapi karena kesibukan dalam acara ngunduh mantu.Ummah jadi lupa, hingga saat Ummah mengajak Fariz untuk melihat keadaan Rani di kamarnya dan Bik Siti mengatakan jika ada Aisyah yang datang ke kamar Rani dengan ekspresi wajah yang tidak lazim, maka mendengar penjelasan dari Bik Siti,lalu dengan segera saja Ummah mengajak Bik Siti dan Fariz ingin menemui mereka di beranda, tetapi saat sampai di sana kami semua mendengarkan kata-kata Aisyah yang terdengar tidak pantas untuk diucapkan. Ummah sungguh tidak percaya Bi, jika Aisyah mampu berkata demikian.Saat itu Fariz sudah berniat untuk ingin menghentikan Aisyah agar tidak bertutur kata seperti itu, tetapi semua kesalahan Ummah. Karena Ummah melarang Fariz menghentikan Aisyah berkata kasar kepada Rani. Seandainya saja Ummah mendengarkan kata-kata Fariz tentu hal ini tidak akan terjadi Bi. Huhuhuhuhu... Huhuhuhu.... , "jelas Ummah dengan panjang lebar sambil menangis tersedu-sedu.
" Astaghfirullahaladzim Ya Allah ,"ucap Enjid sambil meletakkan tangan kanannya di dadanya. Enjid dan juga Abi seakan tidak percaya jika Kak Aisyah dapat melakukan hal seperti itu.
Abi lalu berjalan mendekat ke arah Ummah, sambil mengusap pundak Ummah dan sedikit memeluk Ummah untuk menenangkan istrinya tersebut .Sementara itu, Ustad Fariz hanya tertunduk lemas dengan rasa khawatir yang sangat berlebihan akan kondisiku, begitu pula dengan Bik Siti yang terus menangis yang juga mencemaskan keadaanku. Sementara itu Pak Budi hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia juga sangat syok dan terkejut mendengar penuturan yang disampaikan oleh Ummah akan peristiwa yang telah membuat diriku terluka.
" Saya kira setelah ini Nak Rani dapat hidup dengan tenang dan tidak ada lagi orang-orang jahat di sekelilingnya, tetapi kenapa masih saja Nak Rani mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang iri dan tidak suka dengan dirinya. Huhuhuhuhuhu..., "ucap Bik Siti tiba-tiba.
Pak Budi yang tadi terdiam pun ikut bertutur menimpali perkataan dari Bik Siti.
" Iya Bik. Saya pun mengira jika sekarang adalah masa untuk Nak Rani memulai kebahagiaannya, tetapi dengan peristiwa ini sungguh membuat hati saya miris dan sedih. Padahal baru saja, saya sudah merasa sangat senang menyaksikan penglihatan Nak Rani sudah kembali, tetapi sekarang ada Nak Aisyah yang malah dengan sengaja membuat Nak Rani terluka. Saya terkadang berpikir Bik, mengapa Allah tiada henti - hentinya memberikan cobaan untuk Nak Rani, "tutur Pak Budi sambil menitikan air mata.
Semua orang yang mendengar penuturan dari Pak Budi pun hanya dapat terdiam tanpa berkata apapun juga.
Tiba-tiba Ummah pun segera berjalan mendekati Ustad Fariz yang duduk di sebelah Enjid. Ustad Fariz lalu menatap wajah Ummah yang terlihat sangat sembab dan terus menangis dengan kesedihan yang begitu teramat sangat. Ummah pun menggenggam jemari tangan Ustad Fariz dengan erat seraya meminta.
"Fariz, Ummah berfikir mungkin inilah waktunya yang tepat bagimu untuk segera melamar Rani menjadi istrimu. Rani perlu sosok seseorang yang dapat melindunginya. Nak, Ummah tidak ingin melihat Rani terus menderita dan disakiti oleh orang-orang yang tidak suka terhadap dirinya ,karena sudah sepantasnya Rani bahagia.Ummah ingin kamu dapat menjaganya dan juga melindunginya ,sebab tidak mungkin jika Rani harus berjuang sendiri ,dan kita tidak pernah tahu sampai kapan orang-orang yang terus iri dan tidak suka kepada Rani akan berhenti menyakitinya. Ummah sungguh tidak kuasa nak, jika terus melihat Rani dalam kondisi yang terus disakiti dan dalam keadaan seperti ini ,karena Ummah sungguh sangat menyayangi Rani. Huhuhuhuhu. "
__ADS_1
Ustadz Faris pun semakin tidak kuasa melihat isak tangis ibundanya tersebut, dengan perlahan Ustad Fariz menyeka air mata yang mengalir membasahi wajah Ummah.
"Ummah.Fariz tahu apa yang menjadi kekhawatiran dalam hati Ummah ,tetapi tidak dengan serta-merta Fariz langsung melamar Rani. Kita juga harus tahu apakah Rani juga setuju dan mau menikah dengan Fariz, Ummah. Karena pernikahan itu adalah sejatinya ibadah dan Fariz tidak ingin jika Rani menjalani pernikahan dengan Fariz karena keterpaksaan atau desakan keadaan.Fariz memang memiliki perasaan yang khusus kepada Rani Ummah.Dan Ummah pun juga tahu akan hal itu, tetapi tidak dengan secara tiba-tiba Fariz langsung menikahi Rani.Lagi pula Ummah juga tahu kan jika Rani itu bukan seperti gadis lainnya. Rani memiliki pemikiran yang berbeda dari gadis-gadis umum nya. "
Ustad Fariz berusaha menjelaskan kepada Ummah, tetapi Ummah sepertinya seakan tidak sefrekuensi dengan pemikiran Ustad Fariz.
"Tetapi nak, sampai kapan kamu akan mengungkapkan niatmu itu kepada Rani. Bukankah kamu lihat sendiri bagaimana sekarang kondisi Rani.Ummah takut nak, saat Rani berada di dekat kita saja masih ada orang yang bisa menyakitinya nak, apalagi saat Rani memutuskan untuk keluar dari rumah kita. Entah apa yang akan terjadi kepada dirinya nanti. Ummah tidak bisa membayangkan hal itu nak. Ummah sungguh takut ...Ummah sangat takut sekali akan hal-hal buruk di luar sana yang dapat menyakiti Rani. Meskipun Ummah tahu Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu menjaga dan melindungi Rani ,tetapi tetap saja nak, kita tidak pernah tahu akan rasa dengki ,iri dan tidak suka yang menyelimuti hati seseorang untuk terus menyakiti Rani dari pihak-pihak yang kita tidak pernah tahu datang dari mana saja. "
Ustad Fariz pun terdiam membisu mendengarkan penjelasan dari Ummah.
Ustad Fariz seraya berpikir untuk menentukan jalan terbaik dari masalah ini dalam rasa kecemasan yang menyelimuti hatinya.
Dalam diamnya Ustad Fariz. Abi dan Enjid pun ikut bertutur kepada Ustad Fariz.
Enjid mengusap lembut punggung cucunya itu.
"Enjid berpikir apa yang Ummah mu katakan itu tidak ada salahnya nak. Enjid setuju akan pemikiran Ummah mu. Semakin cepat kamu merealisasikan niatmu untuk menikahi Rani, maka akan baik pula bagi kehidupan kalian berdua. Dan Enjid juga sangat senang sekali jika hal itu benar-benar terjadi nak. Mungkin kondisi dan waktunya tidak tepat, tetapi mengingat akan hal-hal buruk yang dapat terus mengintai Rani, akan jauh lebih baik jika kalian segera dapat terikat dalam hubungan pernikahan sebagai suami istri, terlepas dari keadaan Rani yang telah menjadi yatim piatu dan tidak memiliki siapa pun lagi. Akan lebih baik jika ada mahramnya yang dapat menjaga dan melindunginya yaitu suaminya. "
"Abi juga setuju akan pemikiran Ummah dan Enjid. Sebaiknya setelah kita mengetahui kondisi Rani dari dokter. Abi berharap niatmu dapat segera direalisasikan nak, " sahut Abi sambil mengusap kepala Ustad Fariz.
"Iya Nak Fariz, Bik Siti juga sangat setuju sekali. Menurut Bibi, hanya Nak Fariz yang pantas menjadi pendamping sekaligus suami bagi Nak Rani, " ucap Bik Siti dengan semangat.
"Iya Nak Fariz, Pak Budi juga mendukung penuh, " sahut Pak Budi.
"Tetapi bagaimana jika Dek Rani menolak untuk menikah dengan Fariz, " ucap Ustad Fariz lesu dan ragu.
Enjid menepuk bahu Ustad Fariz.
"Belum di coba kok sudah berputus-asa. Bismillah yakin dengan niat baikmu itu nak, dan percayakan semuanya kepada rencana Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena do'a kami semua bersama mengiringi niatmu itu nak, " ucap Enjid membesarkan hati Ustad Fariz yang ragu.
Ustad Fariz pun terdiam memikirkan ucapan Enjid.
Sungguh di dalam hatinya, besar pengharapan Ustad Fariz untuk dapat mempersunting diriku menjadi istrinya, sebab sudah lama perasaan itu bersemi di dalam lubuk jiwanya hingga ia ingin benar-benar memantaskan dirinya untuk menjadi layak memimpin dirimu dalam mengarungi kehidupan berumahtangga yang masih berada dalam pikiran dan hatinya.
Ummah memandang Ustad Fariz lekat dan memegang wajah putranya itu.
"Bagaimana nak? Apakah kamu sudah siap untuk menyampaikan niatmu kepada Rani?, " tanya Ummah.
Ustad Fariz masih terdiam dalam pikiran nya.
Ummah dan yang lainnya menunggu kesanggupan akan Ustad Fariz. Namun, sebelum Ustad Fariz memberikan jawabnya. Pintu ruang IGD pun terbuka, dokter berjalan keluar menghampiri ke arah semua orang yang sedang menunggu keadaan ku.
Pandangan mata semua orang pun tertuju pada langkah kaki dokter. Tidak perlu menunggu komando, dengan serentak semua orang berdiri menyambut kedatangan dokter untuk segera tahu bagaimana akan kondisiku saat ini.
Dan Ustad Fariz menjadi orang pertama yang menanyakan keadaan diriku.
"Bagaiamana keadaan Dek Rani dok? Apakah dek Rani baik-baik saja dok? , " tanya Ustad Fariz begitu sangat cemas.
Semua orang melihat kearah Ustad Fariz yang terlihat begitu sangat cemas.
Dokter tersenyum kecil.
"Alhamdulillah, keadaan pasien dapat teratasi dengan baik. Untung pasien segera cepat dibawa kemari.Kening pasien mengalami robek yang cukup dalam dan sudah kami lakukan tindakan dengan menjahit nya, " jelas dokter.
"Lalu kenapa Dek Rani bisa sampai pingsan dok?, " tanya Ustad Fariz lagi.
"Kemungkinan pasien terbentur benda keras dan tekanan darah pasien juga rendah. "
"Lalu apa dampaknya Dok? Apakah Dek Rani baik-baik saja?, " tanya Ustad Fariz kembali.
" Alhamdulillah sejauh ini keadaan pasien dalam keadaan baik dan sedang beristirahat.Kami pun juga masih melakukan observasi terhadap pasien, jika dalam beberapa jam kemudian pasien mengalami sakit kepala yang berat atau keadaan yang mengganggu secara medis, maka kita akan melakukan langkah selanjutnya. Namun kita berharap saja semoga tidak ada hal-hal atau indikasi medis lainnya yang menyertai keadaan pasien. Baiklah kalau begitu demikian yang dapat saya sampaikan mengenai kondisi pasien ,jika keluarga ingin menjenguk keadaan pasien.Saya izinkan mungkin salah satu atau dua orang secara bergantian dahulu ,sehingga tidak mengganggu pasien yang sedang dalam masa istirahat atau pemulihan, "jelas dokterkepada semua orang .
__ADS_1
"Baik dok. Kami mengerti, terima kasih dok,"jawab Ustad Fariz kepada dokter. Dokter pun laluvmeminta izin untuk meninggalkan mereka dan kembali bertugas, sedangkan Ustad Fariz dan Ummah meminta kepada semua orang agar mereka terlebih dahulu untuk melihat keadaan diriku ,dan semua orang pun mempersilahkan keduanya untuk masuk terlebih dahulu ke ruang IGD. Sementara yang lain masih menunggu untuk dapat bergiliran masuk melihat kondisiku saat ini.