
Pihak kepolisian telah membawa keempat pelaku tindakan penculikan terhadap diriku dan menyita barang bukti temasuk telepon genggam yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang mereka panggil dengan bos. Di kantor kepolisian keterangan mereka masih diminta pernyataannya, sembari pihak kepolisian menelusuri orang yang mendalangi aksi kejahatan terhadap diriku.
Sementara itu, Mas Fariz tampak mondar-mandir penuh kegelisahan memikirkan diriku. Dimana lisannya terus menerus melantunkan do'a dan kalimat dzikir untuk menenangkan hatinya. Sesaat pandangan matanya tertuju kepada pak sipir yang sedang duduk diam dalam keadaan lemas di dekatnya. Mas Fariz pun lalu melangkah kan kakinya dan menyapa pak sipir, "Maaf Pak, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena bapak telah menolong istri saya Rani. "
Pak sipir yang semula terdiam, lalu memandang ke arah wajah Mas Fariz, "Istri?."
"Iya Pak, istri saya Rani yang menjadi korban penculikan saat saya sedang bertausiyah di dalam lapas. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada istri saya jika bapak tidak dengan segera menolongnya, " tutur Mas Fariz dengan mata yang berkaca-kaca.
Pak sipir begitu terkejut mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Mas Fariz.
"Ya Allah, bagaimana jika Nak Reno tahu. Jika perempuan yang sangat ia cintai itu sudah menikah dengan orang lain. Nak Reno pasti akan hancur, " batin Pak sipir di dalam hatinya sambil memandang wajah Mas Fariz.
"Pak! Pak!, " panggil Mas Fariz kepada Pak sipir.
Pak sipir terperanjat dari lamunannya, "Akh, iy.. iy.. Iya.. Ustad Fariz, " jawab pak sipir terbata.
"Apa yang bapak pikirkan?, " tanya Mas Fariz ingin tahu begitu melihat pak sipir seperti bersikap aneh.
Pak sipir masih terdiam dan mencoba menyusun kata-kata yang akan ia sampaikan kepada Mas Fariz. Sementara menunggu pak sipir melanjutkan ucapannya. Mas Fariz meminta Kak Rafa untuk membeli minuman. Maka segera bergegaslah Kak Rafa menuju kantin rumah sakit meninggalkan Mas Fariz bersama pak sipir yang tengah berbincang.
Saat Mas Fariz memandang Kak Rafa yang sedang beranjak pergi, tiba-tiba pak sipir pun berkata sambil mengenggam kedua tangannya sesekali, "Ustad Fariz jangan berterima kasih kepada saya, tetapi berterima kasihlah kepada Nak Reno .Karena dialah yang telah dengan berani mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan istri Ustad Fariz. "
DEG....
Jantung Mas Fariz berdetak cepat seperti ada loncatan listrik seketika dengan perasaan tersentak ketika pak sipir menyebut nama Kak Reno. Maka ingatan nya akan keberadaan Kak Reno di lokasi kejadian tempat ku di sekap kembali terlintas di dalam pikirannya. Mas Fariz masih ingat betul bagaimana dalam keadaan terluka yang cukup berat Kak Reno tetap mendekapku dengan erat, dan benar seperti apa yang telah dikatakan oleh pak sipir. Jika Kak Reno tampak tidak memperdulikan keadaanya untuk menyelamatkan diriku, begitu Mas Fariz memikirkannya berdasarkan penglihatan matanya. Dalam diamnya dengan terus mendengarkan penjelasan dari pak sipir bagaimana Kak Reno berusaha mati-matian untuk menolong diriku. Mas Fariz pun menyimpulkan jika Kak Reno masih sangat mencintai diriku, dimana cinta itu terus tumbuh dan tidak berkurang sedikit pun. Tidak hanya itu pak sipir pun juga menceritakan semua sikap dan perilaku Kak Reno selama di dalam lapas yang sudah banyak mengalami perubahan ke arah yang baik. Mas Fariz senang mendengarkan nya dan tersenyum mengetahui akan perubahan Kak Reno,"Alhamdulillah,saya turut senang sekali mendengar Dek Reno semakin memperdalam ilmu agama dan menuju ke arah yang lebih baik. "
Pak sipir pun merasa heran akan sikap Mas Fariz, sehingga memantik lisan pak sipir untuk bertanya, "Maaf sebelumnya Ustad Fariz. Apakah Ustad Fariz tidak merasa cemburu akan cinta Nak Reno yang terus mengalir kepada Nak Rani yang kini telah menjadi istri Ustad Fariz? Di tambah lagi dengan kejadian seperti ini, dimana Nak Reno tanpa pikir panjang langsung saja bergerak untuk menyelamatkan Nak Rani yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri Ustad Fariz. "
Mas Fariz tersenyum kecil menanggapi pertanyaan dari pak sipir, dimana sikap Mas Fariz ini semakin membuat pak sipir bertambah penasaran.
"Untuk apa saya cemburu pak, dimana cinta dan kasih sayang yang saya miliki untuk istri saya lebih besar daripada rasa kecemburuan yang tidak ada apa-apa nya. Saya mencintai istri saya karena Allah dan Allah pula lah yang menyatukan kami dalam ikatan agung nan suci yaitu pernikahan, " tutur Ustad Fariz.
Pak sipir bergetar hatinya mendengar apa yang di sampaikan Ustad Fariz kepada dirinya.
"Saya tahu pak, saat ini Dek Reno belum mengetahui jika Dek Rani telah menjadi istri saya, sehingga Dek Reno bersikap demikian. Tetapi saya juga manusia biasa yang tidak dapat menghalangi niat baik Dek Reno untuk menolong istri saya. Sejatinya Allah yang telah membentuk ikatan antara saya dan Dek Rani, begitu pula akan perasaan yang tumbuh di hati Dek Reno untuk Dek Rani tidak dapat saya halangi atau memaksa nya untuk berhenti mencintai istri saya. Tetapi yang hanya dapat saya lakukan adalah terus mempertahankan ikatan yang telah Allah bangun antara saya dan Dek Rani, agar tetap terjalin kokoh sesuai takdir yang Allah tetapkan bagi perjalanan cinta saya. "
Pak sipir betul-betul semakin bergetar hatinya mendengarkan pemahaman Ustad Fariz akan pandangannya tentang perasaan nya. Jauh di dalam lubuk hati pak sipir berharap," Semoga saja Nak Reno juga dapat memiliki kematangan pemikiran yang sama seperti Ustad Fariz dalam mengelola perasaan cintanya, " gumam pak sipir di dalam hati.
Tidak lama setelah itu Kak Rafa pun datang dengan membawa bungkusan berisi makanan dan minuman, lalu menawarkan nya dengan sopan kepada pak sipir.
Pak sipir pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih , sembari mengambil sebotol minuman isotonik dingin untuk membasuh kerongkongan nya yang terasa kering.
"Apakah sudah ada perkembangan informasi dari pihak kepolisian Dek Rafa mengenai orang yang menjadi otak penculik terhadap Dek Rani!, " tanya Mas Fariz.
Kak Rafa menggelengkan kepalanya, " Belum kak, polisi masih terus menelusuri jejak-jejak otak pelaku penculikan yang menyewa jasa keempat kawanan penculikan terhadap Dek Rani, " jawab Kak Rafa.
Mas Fariz pun terdiam seraya berfikir dalam. Kak Rafa lalu memandang ke arah Mas Fariz yang duduk di hadapannya, "Apa yang sedang Kak Fariz pikirkan?. "
Mas Fariz lalu menoleh ke arah Kak Rafa, "Tidak Dek, kakak hanya berpikir sepertinya semua yang terjadi kepada Dek Rani sudah di rencanakan, seperti adanya perempuan yang berpura-pura menjadi sipir. Kemungkinan orang yang merencanakan hal ini sudah tahu jika kakak akan membawa Dek Rani ikut serta bersama kakak. "
Kak Rafa pun mengangguk, "Bisa jadi kak, bahkan kemungkinan kerusuhan yang terjadi di lapas juga termasuk dari bagian rencananya. "
"Iya Nak Rafa, itu bisa jadi. Seperti nya memang ada keterkaitan setiap kejadian di lapas dengan aksi penculikan Nak Rani. Tetapi kita harus tetap menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi pihak kepolisian untuk mengetahui siapa dalang dari otak pelaku kejahatan ini. Jika dari pengamatan dan dugaan saya, dapat saya simpulkan jika pelaku ini sepertinya orang dalam dan sudah sangat mengenal Ustad Fariz dan Nak Rani, " ujar Pak sipir.
Mas Fariz dan Kak Rafa menyimak apa yang di katakan oleh pak sipir sembari meminum air mineral.
Mas Fariz melihat ke sekitar, "Oh ya Dek, dimana keberadaan Pak Budi. Kakak tidak melihatnya dari tadi. "
Kak Rafa meneguk air mineral dari botol, lalu menutup dan meletakkan botol tersebut di sampingnya, "Pak Budi pulang ke rumah kak, untuk menjemput Abi, Enjid, Ummah dan Wirda kemari sekaligus membawa pakaian ganti untuk kita kak, " jelas Kak Rafa.
"Oh, pantas saja kakak tidak melihat Pak Budi, mungkin tadi kakak terlalu panik dan cemas akan kondisi Dek Rani sehingga tidak mengetahui jika Pak Budi pulang, " sahut Mas Fariz.
Prakkk...
Pintu ruang IGD terbuka.
__ADS_1
Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang IGD.
Mas Fariz, pak sipir dan Kak Rafa memandang secara bersamaan ke arah dokter yang berjalan menuju tempat mereka bertiga sedang duduk.
Mas Fariz langsung berdiri dan segera menghampiri dokter, "Bagaimana keadaan kedua pasien dok?. "
Dokter memandang ke arah Mas Fariz, "Keadaan pasien laki-laki yang bernama Reno sudah dapat kami atasi dengan baik dan sekarang pasien sedang tertidur setelah mendapatkan pertolongan dan kami berikan obat yang membuat dirinya mengantuk. "
"Alhamdulillah, " ucap pak sipir dan Mas Fariz bersamaan.
"Lalu bagaimana keadaan istri saya dok?, " tanya Mas Fariz cemas.
Wajah dokter terlihat begitu sangat serius dan membuat semua orang menjadi sangat khawatir , khususnya Mas Fariz yang tidak dapat menahan akan rasa kegelisahan hatinya, "Ada apa dok? Apa yang terjadi kepada istri saya?. "
"Istri anda membutuhkan donor darah secepatnya, sebab ia banyak mengeluarkan darah. Untung saja istri anda segera di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan jika tidak kemungkinan nyawanya tidak akan tertolong, " ucap dokter.
"Baiklah dok saya yang akan mendonorkan darah saya untuk istri saya, " ucap Mas Fariz lugas.
"Kita harus mengecek dulu golongan darah anda, apakah sama atau tidak dengan golongan darah istri anda, " jawab dokter.
Setelah itu, Mas Fariz pun segera dilakukan pengecekan golongan darah denganku ternyata golongan darah Mas Fariz dan diriku berbeda. Dimana golongan darahku B+ sedangkan golongan darah Mas Fariz adalah A. Dokter segera meminta Mas Fariz menghubungi saudara atau teman terdekat yang bergolongan darah sama dengan diriku, sebab stok darah dengan golongan darah B+ di PMI sedang kosong.
"Istri anda harus segera mendapatkan donor darah kurang dari dua jam, jika tidak akan sangat fatal terhadap kelangsungan hidup istri anda, " jelas dokter.
Mas Fariz terus berikhtiar mencari golongan darah yang sama denganku, dan menghubungi semua sahabat, relasi kerja maupun kerabatnya. Tetapi tidak membuahkan hasil. Mas Fariz duduk sambil terus berdo'a memohon kemudahan akan jalan keluar dari masalah ini. Dan Kak Rafa yang berada di samping Mas Fariz pun berusaha untuk menenangkan kakaknya itu.
Hati Mas Fariz begitu gelisah dan tidak tenang, ia pun bersama pak sipir lalu meminta izin untuk melihat keadaan diriku dan Kak Reno.
Mas Fariz masuk bersamaan dengan pak sipir ke ruang IGD. Dimana Mas Fariz masuk ke ruanganku sedangkan pak sipir masuk ke ruangan Kak Reno.
Di dalam ruangan Kak Reno, pak sipir masuk dengan perlahan supaya tidak membangunkan Kak Reno yang sedang tertidur. Air mata pak sipir mengalir menatap sedih akan keadaan Kak Reno sambil membacakan do'a dengan lirih untuk kesembuhan Kak Reno. Dengan perlahan tangan pak sipir mengusap kepala Kak Reno, "La ba'sa thohurun InsyaAllah Nak Reno. Semoga Allah lekas memberikan dirimu kesehatan dan segera pulih. Aamiin."
Dan tiba-tiba kedua mata Kak Reno terbuka perlahan-lahan menatap pak sipir, "Dimana Rani pak?. "
Pak sipir terkejut mendengar akan suara Kak Reno yang terbangun, "Nak Reno sudah bangun. "
Pak sipir terlihat gusar dan bingung harus mengatakan apa kepada Kak Reno tentang kondisiku.
Kak Reno yang menatap wajah pak sipir dengan wajah lemas nya, seakan merasakan ada sesuatu yang yang sedang disembunyikan oleh pak sipir, sehingga dengan cepat dan mengejutkan pak sipir. Kak Reno langsung berusaha untuk duduk dari posisinya yang sedang terbaring.
"Eh... Eh... Apa yang yang Nak Reno lakukan? Nak Reno belum sehat betul, " ucap pak sipir sedikit berteriak sambil memegangi tubuh Kak Reno untuk tetap berbaring.
Tetapi Kak Reno tetap bersikeras untuk mengetahui keadaan diriku dan terus mendesak pak sipir untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Maka dengan terpaksa pak sipir pun mengatakan kepada Kak Reno tentang kondisiku yang sangat mendesak untuk segera mendapatkan donor darah B+ . Mendengarkan panuturan dari lak sipir Kak Reno bertambah keinginannya untuk menemui diriku dan langsung berusaha untuk turun dari ranjang pasien sambil membawa selang infus yang terkait dengan besi tinggi yang bisa di dorong.
"Eh.. Nak Reno mau kemana? Nak Reno belum dalam kondisi stabil?, " ucap pak sipir sedikit berteriak untuk menghentikan Kak Reno.
Tetapi usaha pak sipir dan perawat yang mencegah tindakan Kak Reno sia-sia, dimana keinginannya untuk melihat keadaan diriku lebih besar mengalahkan akan rasa sakit yang ia rasakan.
Sambil terus mencari ruangan dimana tempat keberadaan ku. Kak Reno terus memanggil nama ku dengan lirih dalam air matanya yang mengalir perlahan.
Hingga langkah kakinya tepat berada di pintu ruanganku berada yang tidak di tutup.
Kak Reno melangkah dengan tertatih dan memaksakan dirinya. Dari kejauhan ia dapat melihat tubuhku terbaring lemah di ranjang pasien yang semakin menarik dirinya untuk semakin masuk ke dalam ruangan dan mendekat kepadaku. Tetapi seketika pandangan mata Kak Reno tertuju pada Mas Fariz yang duduk di samping ranjang pasien tempatku terbaring, dimana Mas Fariz mengengam jemari tangan ku erat dan menciumnya berulang kali sembari menitihkan air mata.
Kak Reno terpaku menatap lekat akan tindakan Mas Fariz yang menghentikan langkah kakinya.
"Ya Allah, bantulah hamba untuk segera menemukan orang yang mempunyai golongan darah B+ yang sama seperti istri hamba, " ucap Mas Fariz lirih sambil terus mengenggam jemari tanganku.
"Istri?!, " kata itu muncul di dalam pikiran Kak Reno.
DEG...
Tubuhnya seakan menjadi lemas dan lunglai seketika, hingga pak sipir datang membantu memegangi tubuh Kak Reno.
Kak Reno seolah-olah masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
__ADS_1
"Apakah kamu baik-baik saja Nak Reno?, " tanya pak sipir.
Kak Reno tetap diam dengan terus memandang ke arah Mas Fariz dan diriku, hingga dengan perlahan-lahan Mas Fariz bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah wajahku dengan mengusap pelan kepalaku dan mendaratkan kecupan lembutnya di kepala juga bibirku.
Kak Reno yang menatap tindakan Mas Fariz menjadi bertambah syok dan sangat begitu terkejut. Dimana dadanya begitu terasa sesak dan sakit sekali.
Pak sipir pun hanya dapat memandangi kesedihan yang di rasakan oleh Kak Reno.
Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, jemari tangan Kak Reno menunjuk ke arah Mas Fariz dan diriku, "Pak, Rani dan Ustad Fariz?. "
Pak sipir paham akan maksud pertanyaan dari yang Kak Reno ucapkan.Sambil menganggukkan kepalanya perlahan pak sipir pun berkata pelan, "Iya Nak Reno, sekarang perempuan yang engkau sangat cintai yaitu Nak Rani sudah menjadi istri Ustad Fariz yang sah secara hukum dan agama . "
Tes... Tes... Tes...
Air mata Kak Reno mengalir begitu deras dengan bibirnya yang bergetar.
Dadanya kembali terasa sesak dan menekan, ia tidak pernah merasakan rasa sakit akan kehilangan seperti ini. Harapan nya terasa pupus dan hancur. Tubuhnya gemetar dalam keheningan nya. Pak sipir pun lalu membawa Kak Reno untuk kembali ke ruangan nya dengan membawa perasaan Kak Reno yang begitu sudah hancur berkeping-keping.
"Oh, Tuhan inikah perasaan akan derita kehilangan atas seseorang yang sangat dicintai, setelah keterlambatan penyesalanku yang sudah menyia- nyiakan orang yang sangat berharga di dalam hidupku, kini aku harus menyaksikannya dia bersama orang lain, " batin Kak Reno di dalam hati.
Pak sipir paham betul apa yang saat ini di rasakan oleh Kak Reno. Tidak banyak kata yang pak sipir ucapkan kepada Kak Reno, ia justru membiarkan Kak Reno bergulat dengan emosi dan perasaannya.
Pak sipir duduk di dekat ranjang Kak Reno sambil menatap wajah Kak Reno yang terlihat masih termenung memikirkan sesuatu.
Sementara itu, Kak Reno yang berada dalam keterpurukan dirinya kembali terlintas akan ucapan pak sipir dan Mas Fariz, yaitu dimana diriku harus dengan segera mendapatkan donor darah secepatnya. Kak Reno dengan cepat menyeka air matanya dan menatap ke arah pak sipir, "Pak, beritahu Ustad Fariz bahwa saya akan mendonorkan darah saya untuk Rani, karena golongan darah kami sama yaitu B+."
Pak sipir terdiam, seakan tidak percaya apa yang ia dengar, "Tapi bukankah kondisi Nak Reno belum membaik. "
Kak Reno memandang wajah pak sipir dengan serius, "Nyawa dan kehidupan Rani lebih penting dari apapun juga pak. Saya bahkan rela dan ikhlas memberikan kehidupan yang saya miliki agar dapat membuat perempuan yang sangat saya cintai dapat menjalani kehidupannya dengan bahagia. Seperti yang sudah bapak sering katakan kepada saya, sesuatu yang memang sudah Allah takdirkan untuk kita pasti Allah akan kembalikan lagi kepada pemilik nya. Maka saya percaya akan hal itu, saya ikhlas menerima takdir cinta yang telah Allah buat di antara saya, Rani dan Ustad Fariz dan jika memang Rani ditakdirkan menjadi jodoh saya, maka Allah pula lah yang akan mengatur jalannya untuk membawa dirinya kembali kepada saya. Dan jika pun Rani bukanlah menjadi jodoh saya, maka saya pun akan ikhlas menerimanya. Sebab sekarang saya menyadari bahwa mencintai tidaklah harus memiliki raga atau fisik yang hanya simbol jasad tidak abadi. Tetapi dengan mencintainya secara diam dan melihatnya bahagia maka akan membuat diri saya bahagia pula menyaksikannya, dimana cinta saya kepada Rani akan terus tumbuh dalam penjagaan Sangat Khalik. "
Pak sipir tertegun mendengar perkataan yang terucap di bibir Kak Reno, ia sungguh tidak membayangkan jika Kak Reno dapat bersikap demikian. Dengan kedua mata yang berkaca-kaca pak sipir bangun dari duduknya lalu mengusap kepala Kak Reno perlahan-lahan, "Bapak bangga pada mu Nak. "
Kak Reno hanya menatap wajah pak sipir dengan senyum kecil yang berlalu meninggalkan dirinya menuju ke ruangan tempat ku berada.
Pak sipir masuk perlahan ke dalam ruangan ku dan menghampiri Mas Fariz yang masih menangis menundukkan kepalanya.
Tangan pak sipir perlahan menegang pundak Ustad Fariz, "Maaf Ustad Fariz saya menganggu. "
Mas Fariz lalu mengangkat kepalanya dan menatap kedatangan pak sipir di dekatnya.
"Tidak apa-apa, ada apa pak?, " tanya Mas Fariz sambil menyeka air matanya.
Dengan wajah serius pak sipir pun berkata, "Alhamdulillah, saya sudah menemukan orang yang memiliki golongan darah sama dengan istri Ustad Fariz, dan orang tersebut pun juga sangat bersedia mendonorkan darahnya untuk istri Ustad Fariz. "
"Benarkah pak?, " ucap Mas Fariz dengan raut wajah seakan tidak percaya tetapi terlihat bahagia.
"Benar Ustad Fariz, " jawab Pak sipir sambil menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah ya Rabb, " ucap Mas Fariz dengan penuh syukur.
Lalu Mas Fariz pun melihat ke arah pak sipir, "Jika saya boleh tahu siapa orang berhati begitu mulia itu pak, yang mau mendonorkan darahnya untuk istri saya?. "
Pak sipir tanpa ragu langsung menjawab, "Orang itu adalah Nak Reno, Ustad. "
Wajah Mas Fariz sedikit terkejut dan tidak menduganya sama sekali jika Kak Reno yang akan sekali lagi menyelamatkan diriku.
Mendengar akan berita baik itu. Mas Fariz pun dengan segera menemui dokter dan memberitahukan jika Kak Reno yang akan mendonorkan darahnya untuk diriku. Setelah dokter melakukan pemeriksaan dan pengujian kecocokan golongan darah serta memastikan jika kondisi Kak Reno akan baik-baik saja untuk mendonorkan darahnya. Dan setelah hasil pemeriksaan menyatakan jika golongan darah Kak Reno cocok dengan golongan darah ku juga terjamin keamanan bagi Kak Reno yang kondisinya masih belum stabil pulih.
Qadarullah,melalui donor darah yang Kak Reno berikan kepada diriku, yang akhirnya memberikan kesempatanku untuk dapat menjalani hidup kembali.
Meskipun dalam keadaan hancur dan terluka. Kak Reno dapat tersenyum lebar karena dapat memberikan bentuk ketulusan cintanya kepada diriku, meskipun saat ini hubungan di antara kami sudah terhalang jarak pemisah yang begitu jauh dan dalam. Tetapi Kak Reno berusaha mengikhlaskan semuanya.
"Ya Rabb, kutitipkan cinta, rindu dan kasih sayangku yang telah Engkau tanamkan di hatiku untuk Rani. Bersama darah yang mengalir dari seonggok jasad hidup yang rapuh ini. Maka biarkan cinta dan semua perasaan ku akan terus mengalir bersama aliran darahku yang menetap di raganya, karena Mu aku mencintaiNya dan karenaMu lah aku akan mengikhlaskannya menjalani kehidupan barunya bersama Ustad Fariz, laki-laki terbaik nan sholeh yang memang pantas untuk bersanding dan menjadi imam bagi Rani, " ucap Kak Reno di dalam hati sembari memandang wajahku yang berjarak di darinya.
Tes.. Tes... Tes...
__ADS_1
Air mata Kak Reno menetes bersamaan dengan tiap tetesan darah yang menetes dari tubuh nya dan mengalir menuju ke pembuluh nadi ku.