
Kak Reno dan seluruh anggota keluarganya yang lain sudah tiba di kediaman Keluarga Suprapto.
Bik Siti yang telah tertidur pulas,bangun dengan terkejut mendengar suara bel pintu yang berbunyi sangat nyaring dan berulang.
Sambil lari tergopoh-gopoh,ia dengan segera menuju pintu masuk untuk segera membuka pintu.
Tok...ToK...Tok...
Teeet....Teeet....Teeet.....
Suara bunyi bel dan pintu yang diketuk saling bersahutan bersamaan.
"Bik Siti....Bik....Bik Siti.....!,"teriak suara Mbak Riska memanggil nama Bik Siti dengan kerasnya.
"Iya Non,sebentar...,"sahut Bik Siti sambil menuju pintu.
Tangannya terlihat gemetar karena panik.
Cekrekkk....
Pintu pun terbuka.
"Lama banget sih Bik membuka pintunya!,"ucap Mbak Riska ketus dan langsung masuk ke dalam.
"Pak Budi dan Rani sudah pulang bik?,"tanya Bu Sri kepada Bik Siti sambil menguap.
"Belum pulang Bu,"jawab Bik Siti pelan dengan kepala sedikit tertunduk.
"Kemana mereka berdua?sampai malam begini belum pulang juga?,"tanya Bu Sri pada dirinya sendiri dengan kesal.
Sementara itu,Kak Reno langsung berjalan masuk ke dalam tanpa menyapa siapa pun juga.
Pak Sugeng yang melihat sikap Kak Reno hanya mengelengkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat kesal dan jengkel.
Ia melampiaskan rasa besar yaitu kepada Bu Sri istrinya.
"Lihat putra kesayanganmu itu,mah.Tidak ada permintaan maaf kepada papa bahkan menyapa dengan ucapan selamat malam pun tidak.Ckkkkk....semakin lama kelakuan dan sikap Reno semakin semaunya sendiri,brutal dan tidak dapat mengontrol emosinya.Jika dia seperti ini terus,papa tidak dapat terus menerus untuk selalu membelanya mah.Lebih baik mama menasehati Reno sebelum semuanya terlambat. Jangan sam harusnya apa jugapai sikap arogan dan congkaknya itu membuat dirinya dan juga keluarga ini mendapatkan masalah. Jika hal itu sampai terjadi papah tidak segan-segan untuk mengusirnya dari rumah ini. Meskipun dia adalah anak laki-laki satu-satunya papa miliki,"ucap Pak Sugeng dengan wajah serius dan marah.
"Papa tidak boleh berkata seperti itu pah. Bagaimanapun juga Reno itu darah daging papa. Putra kesayangan papa.
Dan seharusnya papa memahami kondisi dan keadaan Reno saat ini tidak dalam situasi yang baik. Mama sebenarnya sedikit kecewa dengan tindakan papa. Tidak seharusnya papa itu tersulut emosi dengan menampar Reno di depan semua orang. Apakah papa tidak memikirkan perasaan Reno?,"ucap Bu Sri yang terus membela Kak Reno.
"Percuma papa berbicara dengan mama. Karena mama selalu dan terus membela bahkan terlalu memanjakan Reno. Dan sekarang lihatlah Reno, sulit untuk dinasehati. Sudahlah mah, papa capek papa ingin istirahat dan tidur,"ucap pak Sugeng dengan rasa kecewa.
Pak Sugeng pun berlalu meninggalkan Bu Sri yang masih berada di dekat pintu masuk. Sementara Bu Sri masih terlihat termangu dan bingung memikirkan cara untuk mendamaikan suaminya dengan putra mereka.
Kakek yang sejak dari tadi mendengar pembicaraan Pak Sugeng dan Bu Sri, lalu memberikan sarannya kepada Bu Sri.
"Sudahlah nak lebih baik kamu sekarang juga beristirahat. Saat ini suamimu Sugeng masih dalam keadaan emosi, sehingga apa yang keluar dari mulutnya tidak ia pikirkan. Lagi pula kamu juga tahu, Sugeng dan Reno itu sama-sama keras. Mereka tidak akan mau mengalah. Jadi pintar-pintar kamu sebagai istri dan juga sebagai ibunya Reno mencari jalan keluar supaya mereka dapat berbaikan kembali. Dan untuk sekarang biarkan mereka berdua untuk menenangkan diri. Nanti sekiranya salah satu diantara mereka sudah tidak dipenuhi amarah dan emosi baru kamu dekati dan nasehati. Ya sudah kamu tidak usah terlalu memikirkannya. Lebih baik sekarang kamu beristirahat,"suruh kakek kepada Bu Sri.
"Iya pah, terima kasih ya pah papa sudah memberikan saran kepada Sri. Saya hanya bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan Reno saat ini. Hingga wajahnya babak belur seperti itu. Dan lagi Pak Budi serta anak kampung itu belum kembali juga sampai sekarang. Saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres Pah,"ucap Bu Sri yang terlihat sangat serius dan sedikit bingung.
"Benar apa katamu, tetapi kamu lihat sendiri kan. Putramu Reno itu untuk saat ini tidak dapat kita ajak berbicara tentang apa yang terjadi padanya saat ini. Papa yakin semua ini ada hubungannya dengan Rani dan temannya yang bernama Roy itu. Tetapi sudahlah kita pikirkan saja besok untuk saat ini lebih baik kita beristirahat dulu. Papa juga merasa sangat capek dan letih,"ucap kakek sambil menepuk bahu Bu Sri dengan lembut.
Setelah itu kakek berjalan masuk menaiki tangga untuk menuju kamarnya beristirahat.
Sementara Bu Sri masih berdiri di situ.
"Bu Siti tolong buatkan saya susu hangat. Dan letakkan saja di ruang keluarga. Saat ini saya belum mengantuk. Oh ya jangan lupa kunci pintunya. Saya mandi dulu ya bik, dan jangan lupa untuk menambahkan parutan jahe merah di dalam susu saya. Jahenya harus dibakar terlebih dahulu. Bik Siti paham!,"ucap Bu Sri sambil memandang ke arah bi Siti dengan wajah sembab tetapi masih terlihat sangar.
"Baik bu," jawab Bu Siti sambil berlalu pergi menuju dapur.
Sementara itu di dalam kamar Kak Reno masih belum tertidur.
Ia duduk di atas ranjang tempat tidurnya sambil memandang ke arah langit-langit kamar.
Wajahnya tampak serius dan sesekali ia memegang bibirnya dengan tangan kirinya.
Pikirannya melayang berputar mengingat kembali saat dirinya mencium bibirku di depan semua orang yang hadir di rumah Rere.
Sesekali ia tampak tersenyum dengan sudut bibir sedikit terangkat ke atas.
Lalu Ia kembali termangu memikirkan ucapan Rere yang terus berada di kepalanya.
__ADS_1
Ucapan Rere seperti kaset yang terus berulang-ulang berputar di dalam otaknya.
"Terserah apa katamu. Tetapi seperti pepatah benci lama-lama akan menjadi cinta. Dan perbedaan kebencian dan cinta itu sangatlah tipis sekali. Meskipun engkau menyangkalnya tetapi dapat ku simpulkan engkau menutupi rasa cintamu kepada Rani dengan rasa kebencian yang engkau munculkan dan perlihatkan kepadanya. Itulah kenapa engkau bersusah payah menjauhkan Rani dari Roy. Karena sesungguhnya kau tidak rela kehilangan dan mungkin saja kau tidak gentle untuk mengutarakan isi hatimu yang sebenarnya."
Akhhhhhhhhhh......
Kak Reno berteriak dengan sangat keras. Ia berusaha untuk menghilangkan dan melupakan kata-kata Rere dari dalam pikirannya.
"Kenapa dengan otakku ini, terus-terusan mengingat ucapan Rere. Mana mungkin aku bisa suka kepada si Rani. Cih...dia itu bukan tipeku dan bukan pual wanita idamanku. Menyebut namanya saja aku sudah jijik,"ucap Kak Reno pelan sambil menggerutu.
"Tetapi ke mana dia pergi? Hingga sudah larut malam begini dia masih belum pulang juga. Apakah saat ini dia sedang bersama Roy? Atau jangan-jangan mereka berdua kabur? Akhhhhhhhhhh..... Mengapa aku harus memikirkannya? Terserah dia mau pulang atau tidak. Aku seharusnya tidak peduli padanya. Lagi pula dia mau ke mana mana. Karena aku tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah dari sisiku,"ucap Kak Reno pada dirinya sendiri.
"Akkhhhhh.....sudahlah,lebih baik aku tidur sekarang,"ucap Kak Reno kembali kepada dirinya sendiri.
Dan malam pun semakin larut.
Keadaan semakin sunyi dan begitu tenang.
Tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam kamar Kak Reno.
Ia pun memejamkan matanya erat dan berharap dapat segera tertidur dengan pulas.
Namun, kenyataannya tidak demikian.
Ia begitu gusar dan tidak tenang.
Tubuhnya bergerak bergantian dari sisi kiri ke sisi kanan.
Pikirannya terus membuatnya berkelana.
Hingga ia bangun dari tidurnya, selalu berdiri mendekati jendela.
Perlahan dibukanya sedikit tirai jendela kamarnya, sambil memicingkan mata melihat ke halaman depan rumahnya.
Matanya terus mencari sesuatu yang terus mengganjal hatinya.
Namun, tidak ia temukan keberadaannya.
Wajahnya kembali bertambah keruh.
Maka ditariklah tirai jendela kamarnya dengan kasar agar tertutup kembali.
Ia pun kini kembali duduk sambil bersandar di atas ranjang tempat tidurnya.
Kedua kakinya ia selonjorkan sambil berusaha menutup kedua matanya.
Dengan harapan kali ini ia akan tertidur.
Namun, sayang matanya tidak dapat berkompromi dengan pikiran dan hatinya.
Kini ia kembali termenung.
Pikiran dan hatinya, bekerja sama untuk memikirkan sesuatu yang tidak ia inginkan.
Dan ia terus tersadar meski malam bertambah makin pekat dan gelap.
Matahari berangsur-angsur akan terbit.
Cahayanya kali ini terasa redup.
Tidak ada kehangatan darinya.
Udara semakin lama semakin terasa dingin.
Brrrrrr......
Pak Budi mengigil kedinginan.
"Pak Budi apakah baik-baik saja," tanya ustad Fariz .
"Alhamdulillah ya nak Fariz, cuma udaranya hari ini terasa dingin sekali ya,"sahut Pak Budi.
"Iya Pak, makanya saya segera membeli teh hangat. Ini buat bapak,"ucap ustad Fariz sambil menyodorkan teh hangat dalam gelas cup kepada Pak Budi.
__ADS_1
"Wah terima kasih nak,"ucap pak Budi senang dan langsung membuka kap gelas tersebut lalu menyeruput teh yang diberikan ustad Fariz.
"Bismillah.Srupppppp......MasyaAllah,nikmat dan hangat,"ucap Pak Budi.
Ustad Fariz pun tersenyum melihat Pak Budi.
Lalu ia pun juga meminum teh hangat dari gelas cup yang ia beli.
"Nak Fariz setelah ini,saya akan pulang sebentar ke kediaman keluarga Suprapto. Saya akan mengembalikan kunci mobil dan berniat untuk berhenti bekerja dari sana bagaimana menurut nak Fariz?,"tanya Pak Budi kepada ustad Fariz.
"Hmmmmm, menurut saya itu pilihan yang bagus dan bijak, pak. Nanti Pak Budi tidak usah pusing memikirkan pekerjaan. Pak Budi bisa langsung bekerja sebagai sopir pribadi saya. Itupun jika Pak Budi tidak keberatan. Bagaimana menurut Pak Budi?,"tanya ustad Fariz sambil melihat ke arah Pak Budi yang sedikit termenung.
"Alhamdulillah, saya pasti mau nak Fariz.Dengan senang hati saya menerima pekerjaan baru saya sebagai sopir pribadi nak Fariz,"ucap Pak Budi senang.
"Kalau saya boleh tahu .Apa alasan Pak Budi dengan tiba-tiba ingin berhenti bekerja sebagai sopir pribadi dari keluarga Suprapto?,"tanya ustad Fariz.
Pak Budi tidak langsung menjawab pertanyaan dari ustad Fariz.Untuk sejenak Pak Budi terdiam.
"Sebenarnya sudah sejak lama saya sudah merasa tidak nyaman bekerja di sana.
Tetapi karena saya ingin mencari bukti kebenaran tentang kejahatan yang dilakukan oleh Pak Suprapto makanya saya tetap bertahan di situ. Meskipun sampai sekarang saya belum mampu untuk menemukan bukti-bukti kejahatan Pak Suprapto. Apalagi saat saya mengetahui jika anak Rani adalah cucu dari bapak Widiyanto. Maka Saya berusaha untuk tetap bertahan di rumah kediaman Suprapto sebagai sopir pribadi mereka. Dengan niat dan tujuan untuk melindungi dan menjaga nak Rani dari kejahatan keluarga Suprapto. Tetapi semakin lama semakin ke sini .Saya merasakan perilaku mereka semakin semena-mena terhadap nak Rani. Sungguh saya merasa sudah tidak sanggup melihat kekejaman yang mereka lakukan kepada nak Rani. Besar harapan saya semoga nak Rani dapat segera terbebas dari keluarga Suprapto dan menjalani kehidupan yang bahagia. Sekaligus lepas dari predikat sebagai istri dari nak Reno Suprapto. Saya merasa setelah bertemu dengan nak Fariz ada setitik celah bagi
nak Rani untuk keluar dari belenggu ke keluarga itu,"ucap Pak Budi panjang lebar.
Ustad Fariz pun menyimak luapan dan curahan hati Pak Budi dengan sungguh-sungguh.
"Semua ini adalah bagian dari rencana dan takdir yang Allah Subhanahu Wa ta'ala telah rancang untuk pak Budi ,Dek Rani dan juga termasuk saya untuk melaluinya dan bertemu di saat yang telah Allah tentukan.
Pak Budi apakah mempunyai nomor telepon sahabat dekatnya Dek Rani?,"tanya ustad Fariz.
"Hmm,ada nak Fariz.Nak Wirda adalah sahabat terdekat sekaligus sahabat terbaiknya Nak Rani.Tetapi untuk apa nak?bapak harus menghubungi Nak Wirda,"Pak Budi bertanya balik kepada ustad Fariz.
"Saya akan menemani Pak Budi kerumah kediaman Keluarga Suprapto.Untuk itu Pak Budi dapat menghubungi sahabat Dek Rani yang bernama Wirda.Supaya ada yang membantu menjaga dan mengawasi Dek Rani selama kita berdua pergi pak.Sebab ukhti Aisyah harus pulang pagi ini karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan,"ucap ustad Fariz.
"Oh,baiklah jika begitu nak Fariz.Saya akan menghubungi Nak Wirda sekarang,"ucap Pak Budi sambil memegang telepon genggam miliknya.
"Iya pak,silahkan.Saya masuk ke dalam dulu menghantarkan teh hangat ini untuk ukhti Aisyah.Sekaligus mengecek dan melihat keadaan Dek Rani dan Dek Roy,"ucap ustad Fariz sambil membawa gelas cup yang berisi teh hangat dan roti.
Ustad Fariz pun berlalu masuk kedalam ruang UGD dan Pak Budi berusaha untuk menelpon Wirda.
Tut......Tut..Tut...
Bunyi suara telepon yang belum tersambung.
Pak Budi terus menerus mencoba menghubungi Wirda sambil berjalan mondar-mandir.
Bismillah ,semoga nak Wirda mengangkat telepon darinya ,ucap Pak Budi dalam hati.
Hingga tiba-tiba terdengar suara Wirda dari balik telepon genggam milik Pak Budi.
"Halo .Assalamualaikum ada apa Pak Budi?," tanya Wirda setelah memberi salam kepada Pak Budi.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Nak Wirda. Sebelumnya Bapak minta maaf sudah mengganggu waktunya nak Wirda,"ucap Pak Budi dengan rasa tidak enak dan sungkan kepada Wirda.
"Tidak mengganggu kok pak. Oh iya, ada apa ya Pak Budi?,"tanya Wirda dengan nada bicara yang penasaran.
"Anu nak ini tentang nak Rani,"jawab Pak Budi.
"Rani kenapa Pak ?,"tanya Wirda dengan nada bicara terkejut dan rasa ingin tahu.
"Nak Rani dirawat di rumah sakit nak Wirda. Apakah nak Wirda bisa ke sini untuk membantu menjaga nak Rani?,"tanya Pak Budi dengan lembut.
"Bisa pak. Ada apa dengan Rani Pak?,"tanya Wirda dengan nada bicara yang panik dan takut.
"Nak Rani sedang sakit nak. Nanti jika nak Wirda sudah datang kemari akan Bapak ceritakan semuanya,"ucap Pak Budi menenangkan Wirda.
"Baik pak Budi. Tolong segera kirimkan alamat rumah sakit Rani dirawat ke nomor telepon saya ya Pak. Saya tunggu,"pinta Wirda.
"Saya tutup dulu teleponnya ya nak Wirda. Setelah ini akan saya kirimkan alamatnya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"ucap Pak Budi.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.Baik Pak,"balas Wirda.
telepon pun terputus dan mati.
Pak Budi pun dengan segera mengirimkan alamat rumah sakit tempatku dirawat kepada Wirda.
__ADS_1
Setelah itu,Pak Budi menyusul ustad Fariz masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaanku dan Kak Roy.