
Hari ini kami semua sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan acara lamaran atau khitbah Kak Rafa pada sahabatku Wirda.
Bik Siti, aku dan Ummah mengecek semua barang -barang yang akan menjadi seserahan kepada Wirda dan keluarganya.
Semua barang -barang hantaran lamaran sudah terkemas dengan cantik dan indah. Begitu banyak sekali barang seserahan yang sudah Ummah persiapkan untuk Wirda baik dari perlengkapan salat, perhiasan, make up, pakaian, aneka makanan tradisional, sepatu, tas, sandal dan lain-lain yang masih banyak lagi. Kami semua memakai pakaian senada yang seragam dengan warna cream mocca. Untuk seragam perempuan yang digunakan Ummah, diriku dan Bik Siti. Ummah memilihkan gamis syar'i berwarna cream mocca dengan khimar besar berwarna mauve. Sedangkan untuk seragam laki-laki Ummah memilihkan setelan baju kemeja koko lengan panjang rabbani yang senada dengan gamis yang kami kenakan.
Pak Budi dibantu Ustad Fariz dan asisten rumah tangga lainnya untuk memasukkan semua barang-barang seserahan ke dalam mobil. Setelah semua sudah siap kami pun bersiap berangkat. Namun, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang cepat menuju ke arah kami yang sedang duduk pada kursi di halaman depan.
"Assalamu'alaikum, "suara seorang perempuan memberi salam kepada semua orang.
" Wa'alaikumussalam warohmatulohi wabarokatuh, "sahut kami semua sambil melihat ke arah perempuan yang berdiri tepat di hadapan kami memakai gamis senada denganku dan Ummah.
" Afwan, saya terlambat Ummah, "ucapnya sambil mencium tangan Ummah.
Ummah tersenyum ke arahnya, begitu pun dengan diriku dan yang lainnya.
" Tidak apa-apa Aisyah. Lagi pula kita semua juga belum berangkat, "sahut Ummah dengan ramah.
Kak Aisyah pun tersenyum dan menyapa semua orang termasuk diriku. Aku pun membalas sapaannya dengan ramah dan sopan pula. Kemudian, Kak Aisyah mendekati Ustad Fariz seperti membicarakan sesuatu yang penting. Aku terus mengamati mereka berdua yang tampak sangat akrab dan begitu dekat, pemandangan yang membuat perasaanku merasa tidak nyaman melihatnya. Entahlah, mengapa aku merasakan hal demikian. Tetapi perasaan ini sungguh mengusik dan menganggu diriku. Sesekali dalam perbincangan Ustad Fariz dan Kak Aisyah kulihat tawa mereka berdua mengembang, apalagi Ustad Fariz yang terlihat juga sangat nyaman dengan keberadaan Kak Aisyah di dekatnya.
Yah, mereka memang sudah dekat bahkan sebelum kedatangan diriku di dalam kehidupan Ustad Fariz. Lalu mengapa aku merasa risih melihat kedekatan mereka, tanyaku pada diriku sendiri. Sambil memejamkan mata sekejap ,aku menghela nafas sebentar.Sembari mengucapkan istighfar di dalam hatiku.
Beberapa menit kemudian, kami sudah masuk ke dalam mobil.
Mobil pertama dikendarai oleh Ustad Fariz, yang ada Kak Rafa di sampingnya dan diriku, Kak Aisyah serta Bik Siti. Lalu mobil kedua dikendarai oleh Pak Budi dengan Abi, Enjid dan Ummah yang ada di dalamnya. Kedua mobil melaju bersamaan menuju ke rumah kediaman Wirda. Di sepanjang perjalanan, Ustad Fariz berbicara dengan Kak Rafa sesekali Bik Siti dan Kak Aisyah menimpali pembicaraan mereka. Namun, aku hanya diam duduk di dekat pintu mobil di belakang jok duduk Ustad Fariz. Pandanganku sengaja ku arahkan melihat ke luar jendela menikmati lalu lalang kendaraan dan berbagai aktivitas orang-orang.
Lampu lalu lintas menyala merah, mobil yang dikendarai oleh Ustad Fariz berhenti. Pandanganku tetap tertuju ke luar jendela, kali ini pada gedung bangunan dan melihat emperan ruko dan toko yang berjajar.
Mataku pun dikejutkan akan sosok perempuan yang kukenal dengan mendorong seorang laki-laki yang duduk dengan kursi roda memakai topi dan wajahnya tertutup masker.
Itu kan Rere, batinku.
Sambil terus mengamatinya dan laki-laki yang ia dorong di kursi roda, ingatanku kembali melayang akan ucapan Wirda tentang laki-laki itu yang tidak asing baginya. Aku melihat lampu lalu lintas sudah menyala kuning, tetapi keadaan kendaraan di sekitarku masih padat dan mobil yang dikendarai Ustad Fariz tidak berjalan karena macet parah, dan lampu lalu lintas menyala merah kembali.
Akh, beruntung pikirku sehingga aku dapat terus mengamati Rere dan laki-laki itu. Dengan raut wajah serius aku terus melihat ke arah Rere yang terlihat cemas dan terburu-buru. Ku alihkan pandanganku ke arah laki-laki yang duduk terdiam di kursi roda tanpa ada gerakan sedikit pun. Benar saja seperti yang Wirda katakan laki-laki itu memang tidak asing bagiku, dari bentuk tubuhnya, sorot matanya, cara duduknya mengingatkanku kepada seseorang tetapi siapa. Aku berusaha berpikir keras sambil mengkerutkan dahiku.
Bismillah ya Allah bantu diriku untuk mengingat laki-laki yang duduk di kursi roda itu seperti siapa, gumamku di dalam hati. Sambil membaca doa dalam Al-Qur'an surat Al Kahfi ayat 10.
Robbanaa aatinaa min ladunka rohmatan, wa hayyi’ lana min amrinaa rosyadaan.
Ya Allah, berikan kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini, ucapku di dalam hati sambil menutup mataku perlahan dengan besar harapan Allah akan memberikan petunjuk kepadaku.
Kubuka kembali kedua mataku dan terus melihat Rere yang masih belum beranjak dari tempatnya. Pandanganku kali ini tertuju pada laki-laki yang dapat di kursi roda itu dan menatapnya lekat secara seksama. Tali masker laki-laki itu putus, Rere yang melihatnya dengan cepat segera mengganti masker sang laki-laki sambil melihat ke sekelilingnya dengan pandangan penuh ketakutan. Aku terus mengamati gerak-gerik Rere. Perlahan jemari tangannya melepaskan masker yang sudah putus dan rusak dari wajah laki-laki itu dan hendak menggantikannya dengan yang baru.
Aku yang terus tidak memalingkan pandanganku ke arah laki-laki itu, dengan seketika mataku terperanjat melihat laki-laki yang duduk di kursi roda itu sekilas dari pandanganku yang terhalang tubuh Rere seperti Kak Roy.
Mataku terbelalak dengan detak jantungku yang berdesir. Ya Allah benarkah yang kulihat ini,gumamku.
"Dek Rani kenapa diam saja, " tanya suara Kak Aisyah memanggilku.
Tetapi aku tidak menggubris dan tetap fokus pada laki-laki itu. Kulihat mobil yang dikendarai oleh Ustad Fariz masih stuck terjebak kemacetan yang parah. Lalu tanpa berpikir panjang lagi, aku segera keluar dari mobil dan bergegas menuju ke tempat Rere berada. Semua orang di dalam mobil sangat terkejut dengan tindakanku.
"Ya Allah Nak Rani mau kemana?, " teriak Bik Siti cemas.
Tetapi aku terus mempercepat langkahku agar sampai di tempat Rere berada, dan segera memastikan sosok laki-laki itu apakah benar-benar Kak Roy atau bukan.
Di saat aku buru-buru ingin segera sampai ke tempat Rere, pandanganku tidak teliti dan hati-hati melihat ke sekitar.
BRuUkkkk.. Gedubrak...
Tubuhku terjatuh terserempet mobil yang mulai bergerak.
"Dek Rani, " panggil seseorang.
Tetapi aku tidak menoleh untuk melihatnya dan fokus kepada laki-laki bersama Rere. Dengan menahan rasa sakit dan nyeri, aku tetap memaksakan bangkit sambil mendengar umpatan kasar dari si pengemudi mobil yang menabrak diriku.
"Hey,Mbak ini bukan trotoar untuk pejalan kaki, kemana sih matanya? Keadaan sedang macet malah berkeliaran menambah masalah saja. "
Aku mengabaikan ucapan si pengemudi mobil tersebut, dan akhirnya aku sampai di tempat Rere berdiri. Namun, aku kaget karena tidak menemukan lagi keberadaan Rere bersama laki-laki bersamanya. Hatiku kecewa sambil terus berjalan cepat melihat ke sekitar untuk mencari keberadaan Rere yang tidak dapat kutemukan sama sekali. "Ya Allah kemana perginya mereka, gumamku.
Dan di saat aku mondar-mandir seperti orang bingung, kurasakan seseorang menarik pergelangan tanganku yang tertutup dengan manset handsock rabbani rajut.
"Dek Rani, apa yang Dek Rani lakukan disini, " ucapnya dengan suara terengah-engah.
Awalnya aku tidak fokus pada suara itu, dan terus mencari keberadaan Rere yang tidak berhasil kutemukan.
"Dek Rani, " ucapnya dengan sedikit keras dan menarik lagi pergelangan tangaku dengan kuat.
Auwww, suaraku mengaduh merintih kesakitan.
"Maaf Dek Rani, " ucapnya dengan cepat melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku yang terbalut handsock.
Sepertinya mobil yang menabrak ku tadi menyebabkan nyeri menjalar pada lengan, tangan dan tubuhku. Aku pun menoleh kearah seseorang yang berada tepat di hadapanku.
Gleekkk...
Aku tersentak menelan air ludah.
"Ustad Fariz? Apa yang ustad Fariz lakukan disini?, " tanyaku melihat wajahnya yang serius menatapku. Lalu dengan cepat aku pun menundukkan pandanganku darinya.
"Itu adalah pertanyaan dari saya yang belum Dek Rani jawab, " ucapnya dengan nada sedikit keras kepadaku.
Tetapi pandanganku terus melihat ke sekitar, berharap aku masih dapat menemukan keberadaan Rere.
Ustad Fariz terus mengamatiku dengan tatapannya yang tajam.
"Keningmu berdarah Dek Rani, ayo segera ke mobil untuk diberikan obat setelah itu kita ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Dek Rani karena tadi terserempet mobil. "
Aku tersenyum kecil, " Tidak usah, Ustad Fariz.Insya Allah Rani baik-baik saja ,jadi Ustad Fariz tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Rani ,"ucapku pelan.
Kemudian Ustad Fariz menjawab pertanyaanku dengan suaranya yang sedikit kesal."Saya tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan dirimu Dek Rani, karena saya begitu sangat mencemaskan dan takut terjadi sesuatu kepadamu. Sebab dengan melihatmu dalam keadaan baik-baik saja itu sudah membuat hati saya menjadi tenang. "
DEG..
Jantungku mendesir mendengar perkataan Ustad Fariz. Tetapi aku berusaha tenang dan tidak salah tafsir akan ucapannya.
"Ustad Fariz tidak perlu mencemaskan Rani. Lagi pula sudah cukup selama ini Rani sudah menjadi beban untuk Ustad Fariz. Sekarang Ustad Fariz fokus saja menjalani kehidupan Ustad Fariz selanjutnya bersama Kak Aisyah. Dan maafkan Rani, yang selama ini sudah banyak merepotkan Ustad Fariz, " ucapku pelan.
"Apa maksud perkataan Dek Rani seperti itu?, " tanya Ustad Fariz.
__ADS_1
Mataku menatap ke arah Ustad Fariz yang terus memandangiku dengan sorot matanya yang tajam.
Perlahan aku hendak ingin melangkah sambil melihat ke arah Ustad Fariz. Samar dan buram begitu kulihat wajah Ustad Fariz. Tiba-tiba kurasakan kepalaku melayang dan terasa berputar.
"Dek Rani... Dek Rani apakah baik-baik saja?, " tanya Ustad Fariz kepadaku.
Aku berusaha mengangguk dan menahan rasa nyeri yang menusuk di kepalaku. Tetapi aku tidak dapat menahannya.
Tubuhku hendak jatuh ke lantai, tetapi dengan cepat Ustad Fariz memegangiku.
"Dek Rani.. Dek Rani, " panggil Ustad Fariz panik.
Lalu dengan bantuan beberapa orang, Ustad Fariz membawa diriku yang sudah tidak sadarkan diri kembali ke dalam mobil.
Semua orang yang berada di dalam mobil pun cemas.
"Ya Allah apa yang terjadi kepada Nak Rani, Nak Fariz?, " tanya Bik Siti panik.
Ustad Fariz meletakkan tubuhku bersandar pada tubuh Bik Siti sambil menjawab pertanyaan dari Bik Siti.
"Tadi Dek Rani terserempet mobil Bik dan tiba-tiba jatuh pingsan. "
Ustad Fariz kemudian meminta tolong kepada Kak Aisyah dan Bik Siti untuk mengoleskan minyak angin kepada diriku, lalu Ustad Fariz berjalan ke depan mobil.
"Rafa kamu yang menyetir dulu ya dek, " pinta Ustad Fariz.
"Iya Kak, " sahut Kak Rafa bertukar posisi duduk dengan Ustad Fariz.
Beruntung kemacetan parah sudah terurai, mobil yang dikendarai Kak Rafa pun melaju menuju kediaman rumah Wirda.
Sementara itu, Kak Aisyah dan Bik Siti mengoleskan minyak angin di pelipisku, untuk membuatku tersadar.
"Apa perlu membawa Nak Rani ke rumah sakit Nak Fariz?, " tanya Bik Siti cemas.
Ustad Fariz terdiam sambil berpikir dengan wajahnya penuh kecemasan dan kepanikan disertai peluh yang membasahi wajahnya.
"Saya akan menelpon dokter yang menangani Dek Rani dan memintanya untuk datang ke rumah Dek Wirda memeriksa keadaan Dek Rani. Tetapi nanti jika Dek Rani belum juga sadar dan dokter menginstruksikan supaya Dek Rani dibawa ke rumah sakit, maka dengan segera kita akan langsung membawanya, " tutur Ustad Fariz yang terus melihat diriku bersandar di bahu Bik Siti.
Dengan segera Ustad Fariz pun menghubungi dokter dan memintanya untuk segera datang ke rumah Wirda yang sudah Ustad Fariz kirimkan lokasinya. Lalu, Ustad Fariz menghubungi Ummah memberitahukan keadaan diriku. Ummah begitu cemas dan menangis, tetapi Ustad Fariz berusaha menenangkan Ummah dengan meyakinkannya jika kedaanku InsyaAllah baik-baik saja. Setelah itu, Ustad Fariz menghubungi Wirda dan memberitahukan kondisiku. Sama halnya dengan Ummah. Wirda pun sama terkejutnya, tetapi Ustad Fariz kembali menjelaskan kepada Wirda untuk tidak mencemaskan keadaan diriku dan menyuruh Wirda fokus pada acara lamaran hari ini.
" Dek Wirda tidak perlu mengkhawatirkan Dek Rani. Insya Allah ada saya, Bik Siti dan Ukhti Aisyah yang akan menjaga Dek Rani. Saya meminta tolong kepada Dek Wirda menyiapkan ruangan atau kamar untuk Dek Rani, supaya saat sampai di rumah Dek Wirda. Dek Rani segera dapat beristirahat dan dapat langsung diperiksa oleh dokter yang sedang menuju ke rumah Dek Wirda. Maka nanti jika ada dokter yang menangani proses pencangkokan mata Dek Rani waktu di rumah sakit ,mohon Dek Wirda lihat dan sambut untuk mempersilahkannya masuk dulu sembari menunggu kedatangan kami."
"Iya Kak Fariz, "sahut Wirda dengan ucapannya yang terasa berat dan penuh kecemasan terhadap diriku. Lalu sambungan telepon dari Ustad Fariz ke Wirda pun terputus. Ustad Fariz langsung memasukkan telepon genggam miliknya ke dalam saku kemeja kokonya, dan kembali melihat keadaan diriku yang masih belum sadarkan diri. Di dalam laju mobil yang dikendarai oleh kak Rafa kecemasan begitu sangat menyelimuti wajah Ustad Fariz terhadap diriku. Rasa kecemasan dan kekhawatiran terus menyelimuti hati dan pikiran Ustad Fariz, yang membuat bibirnya tidak henti-henti memanjatkan do'a dan kalimat dzikir kepada Allah Subhanahu wa ta'ala untuk meminta kepada Sang Kuasa, agar aku dapat segera tersadar dan dalam kondisi baik-baik saja. Ustad Fariz tampak tidak tenang dari duduknya. Dia terus menoleh ke belakang dan memastikan keadaanku dengan selalu bertanya kepada Kak Aisyah dan Bik Siti ,apakah aku sudah tersadar atau belum. Kak Rafa yang menyetir mobil pun secara tidak langsung mengamati kecemasan yang sangat tampak diraut wajah kakaknya itu.
Mobil terus melaju melewati jalan-jalan panjang dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang ,dalam kecemasan dan penuh rasa khawatir Ustad Fariz dan Bik Siti terus berharap dan berdoa agar mereka segera sampai di kediaman rumah Wirda.
***
Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Kak Rafa sudah tiba di halaman rumah Wirda dan dengan segera Ustad Fariz dibantu oleh Bik Siti mengangkat tubuhku untuk segera masuk ke dalam kamar Wirda.
Wirda dan dokter pun ternyata sudah bersiap menunggu kedatangan Ustad Fariz.
Tampak di kediaman rumah Wirda masih terlihat sepi,Ummah beserta rombongan ternyata belum tiba karena masih terjebak macet di jalan. Sementara itu, Ustad Fariz dan Bik Siti sudah berada di dalam kamar Wirda dan membaringkan diriku di atas ranjang tempat tidur. Ustad Fariz pun menunggu diluar bersama Kak Aisyah dan Kak Rafa.Sementara Bik Siti dan Wirda tetap berada di dekatku, menemaniku saat dokter memeriksa keadaanku. Dan tidak berapa lama aku pun mulai tersadar dari pingsan ku. Aku berusaha membuka kelopak mataku dengan sedikit memicingkan mata dan menggerakkan jemari tanganku perlahan, tetapi kepalaku masih terasa berputar dan nyeri. Dokter lalu memberikan obat kepada Bik Siti ,agar aku segera meminumnya. Bik Situ pun langsung bergegas mematuhi perintah dokter, dan dengan bantuan Wirda Bik Siti meminumkan obat kepada diriku yang dibantu duduk oleh Wirda.
Dokter memintaku untuk beristirahat dan tidak melakukan banyak aktivitas yang menguras pikiran dan tenagaku. Aku pun menggangguk perlahan dalam keadaanku yang masih lemas dan terasa pusing. Kemudian dokter meminta Bik Siti dan Wirda juga untuk keluar bersamanya,agar aku dapat beristirahat karena obat yang dokter berikan akan memberikan efek rasa mengantuk yang luar biasa. Maka dengan segera Bik Siti dan Wirda pun mengikuti anjuran dokter keluar dari kamar Wirda, setelah berpamitan dengan diriku. Di luar Ustad Fariz yang melihat dokter keluar dari kamar segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Dek Rani dokter, " tanya Ustad Fariz dengan sangat cemas. "Alhamdulillah keadaannya Nak Rani saat ini baik-baik saja. Namun jika dalam beberapa jam ke depan nyeri di kepala Nak Rani masih belum hilang dan masih terlihat lemas atau tidak dapat beraktivitas, maka dengan segera Nak Fariz harus membawa Nak Rani ke rumah sakit untuk di observasi dan mendapatkan tindakan secepatnya.Saya takut akibat tertabrak mobil menimbulkan benturan atau luka pada mata Nak Rani, tetapi semoga tidak demikian. Dan ada salep untuk menghilangkan lebam dan nyeri pada tubuh Nak Rani yang sudah saya berikan.Tetapi di aplikasikan pada tubuh Nak Rani saat ia sudah sadar saja. Sekarang yang terpenting Nak Rani harus beristirahat dan jangan diganggu,"perintah sang dokter.
Mendengar keramaian yang terjadi kedua orang tua Wirda yang sedang bersiap-siap di atas pun turun. Mereka menduga jika seluruh keluarga Ustad Fariz sudah datang, tetapi setelah mendengarkan kronologi dari cerita Ustad Fariz kedua orang tua Wirda pun terkejut dan juga sangat mengkhawatirkan keadaanku. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari Ustad Fariz berdasarkan apa yang disampaikan oleh dokter ,kedua orang tua Wirda pun sedikit merasa tenang dan lega. Begitu pun dengan semua orang yang berada di situ sudah dapat bernapas dengan sedikit lega, sebab kondisiku mulai membaik dan sudah tersadar.
Terdengar suara deru mesin mobil, yang
membuat semua orang pun bergegas menuju ke halaman rumah. Ternyata mobil yang dikendarai oleh Pak Budi dengan membawa rombongan Ummah telah tiba di kediaman rumah Wirda.
Dari pihak keluarga Wirda yaitu Om Akmal dan Tante Warti menyambut dengan hangat kedatangan Ummah dan rombongan. Setelah itu, Ummah,Abi ,Enjid ,Pak Budi dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamu rumah kediaman Wirda. Saat berjalan memasuki ruang tamunya keluarga Wirda. Ummah dengan wajahnya yang panik dan cemas langsung menanyakan keadaan diriku kepada Ustad Fariz, begitu pula dengan Pak Budi ,Abi dan Enjid yang juga terlihat sangat khawatir. Lalu dengan tenang dan pelan Ustad Fariz menjelaskan semua kronologi yang terjadi kepadaku dan juga keadaanku sekarang yang sedang tertidur dan beristirahat di kamar Wirda. Ummah dengan segera ingin melihat keadaanku di dalam kamar ,tetapi Ustad Fariz melarangnya karena dokter meminta agar diriku tetap beristirahat tanpa mendapatkan gangguan. Setelah Ummah memahami dan mengerti akan anjuran dari dokter, dengan berat hati Ummah pun mengesampingkan rasa khawatir dan keingintahuannya untuk melihat keadaanku. Namun raut wajah kecemasan masih menyelimuti wajah Ummah yang terus memikirkan diriku, sedangkan Enjid,Pak Budi dan Abi sedikit merasa tenang karena mendengar dari penuturan Ustad Fariz jika diriku sudah mulai tersadar .Dan sekarang sedang tertidur di kamar Wirda setelah mendapat pemeriksaan dari dokter.
Ummah, Enjid,Abi , Kak Aisyah dan Kak Rafa duduk di ruang tamu di kediaman rumah Wirda .Sementara Pak Budi ,Ustad Faris dan Bik Siti mengambil barang-barang seserahan yang ada di dalam mobil untuk diberikan kepada Wirda dan keluarganya.
Karena barang seserahan yang diberikan dari keluarga Kak Rafa begitu sangat banyak , sehingga Kak Rafa pun beserta Kak Aisyah harus ikut serta membantu mengambil barang-barang seserahan yang ada di dalam mobil dan meletakkannya di ruang tamu tempat di mana semua orang sekarang sedang berkumpul untuk melamar Wirda.
Sengaja keluarga Ummah dan keluarga Wirda mengadakan acara lamaran secara privat dan tertutup yang hanya dihadiri oleh kedua keluarga inti tanpa mengundang siapapun.
Dengan tujuan agar proses lamaran dapat berlangsung cepat dan menghindari adanya orang yang hasad, sehingga berusaha untuk merusak hubungan antara pihak lelaki dengan keluarga wanita yang dipinang.
Setelah semua barang seserahan sudah diambil dari mobil dan diletakkan di dalam ruang tamu Wirda di atas meja ,maka semua keluarga dari Kak Rafa yang ikut serta langsung duduk dengan tenang dan khidmat. Dan tanpa menunggu dan membuang-buang waktu Abi pun segera memulai acara khitbah dengan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan keluarganya ke rumah kediaman keluarga Wirda.
Namun, sebelum Abi memulai pembicaraan Kak Rafa terlihat begitu tegang dan cemas. Ustad Fariz yang duduk di samping Kak Rafa dan melihat ketegangan sang adik, lLu membisikkan kepada Kak Rafa untuk membaca do'a sebelum memulai acara khitbah yang kemudian dilaksanakan dengan baik oleh kak Rafa.Maka dengan khusyuk dan pelan Kak Rafa melantunkan do'a sebelum acara khitbah dimulai.
Bismillahirohmanirohim.
Allahumma innaka taqdiru wa laa aqdiru wa laa a'lamu wa anta 'allaamul ghuyuubi. Fa in ra'aita lii fii (Wirdawati Oktarinto binti Akmal Oktarinto) khairan fii diinii wa aakhiratii faqdirhaa lii.
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Men-takdir-kan, dan bukanlah aku yang men-takdir-kan. Dan (Engkau) Maha Mengetahui apa yang tidak kuketahui. Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Maka jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan Wirdawati Oktarinto binti Akmal Oktarinto untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah aku bersamanya.Aamiin ya robbal 'alamiin, " ucap Kak Rafa lirih.
"Seharusnya do'a nya dilafalkan olehmu pada malam sebelum khitbah, sesudah melaksanakan sholat hajat, dan sholat istikharah, Dek Rafa bukannya telat sekarang, " bisik Ustad Fariz. "
Kak Rafa tersenyum meringgis, "Hehehe, kelupaan Kak. "
Ustad Fariz pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian v mereka berdua diam untuk mendengarkan Abi berbicara.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, "ucap Abi memberi salam pembuka kepada semua orang.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, "jawab semua orang yang ada di ruang tamu itu semua.
Kemudian Abi melanjutkan ucapan pembuka lamaran yang disimak dan didengar oleh semua orang yang hadir di ruang tamu itu.
" Bismillahirohmanirohim. Alhamdulillahirobbilalamin.
Asyhadu allaa ilaaha illaallahu wahdahu laa syarika lahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu.
Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai hamba dan utusan-Nya.
Puji syukur hanya kepada Allah
Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita sekalian, sehingga kita dapat bertemu, berkumpul dan saling silaturahmi pada hari yang berbahagia ini dalam keadaan sehat wal’afiat."ucap Abi sambil melihat ke sekitar nya, lalu Abi mengarahkan pandangannya kepada kedua orang tua Wirda dan Wirda.
"Selamat siang kami haturkan kepada Bapak Akmal Oktarinto dan Ibu Warti Oktarinto serta ananda Wirdawati Oktarinto,dan segenap keluarga yang kami hormati. Terimakasih kami ucapkan telah berkenan menerima kami sekeluarga dengan baik. Perkenankanlah saya Iwan Syarfan Imandar selaku Abinya Rafasya Syarfan Imandar,untuk secara resmi menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami ini datang ke rumah kediaman keluarga Bapak Oktarinto," ucap Abi sambil terdiam sebentar lalu melanjutkan kembali tutur katanya.
"Pada hari ini, kami sekeluarga inti hadir di tengah-tengah keluarga Bapak/Ibu Oktarinto, tiada lain dalam rangka bersilaturahmi agar saling mengenal lebih dekat antara satu dengan lainya. Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan hajat dari putra kami yang paling bungsu dari dua bersaudara yaitu Rafasya Syarfan Imandar, untuk menyampaikan niat tulusnya dengan melamar putri Bapak/ Ibu yang bernama Wirdawati Oktarinto.Demikianlah yang menjadi maksud dan tujuan kedatangan kami sekeluarga di kediaman bapak/ibu pada hari ini . "
__ADS_1
Terlihat Kak Aisyah sedang sibuk memotret kegiatan lamaran dan mengabadikan dalam kamera miliknya yang ia bawa.
Sementara itu, Kak Rafa dan Wirda saling melirik satu sama lain dengan wajah penuh ketegangan dan terkadang pipi mereka memerah karena tersipu malu menatap satu sama lain.
Lalu terdengar Abi pun melanjutkan ucapannya kembali.
"Mudah-mudahan Bapak dan Ibu berkenan untuk meridho’i niat putra kami Rafa, dengan menerima lamaran ini. Hanya inilah yang dapat kami utarakan kepada Bapak dan Ibu, sambil menanti sambutan dan jawaban dari Bapak/Ibu.Apakah lamaran kami ini diterima atau mungkin ditolak,dan tidak lupa kami sekeluarga mohon maaf apabila dalam menyampaikan maksud dan tujuan ini ,ada tutur kata yang kurang berkenan di hati Bapak dan ibu sekalian. Begitu pula hantaran seserahan yang kami bawa hari ini. Semoga dapat diterima dengan baik karena hanya ala kadarnya sebagai wujud keseriusan hati kami.
Allahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’allahu Sahlan.Ya Allah, mudahkanlah segala urusan kami karena tidak ada yang mudah kecuali Engkau jadikan mudah.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq.
Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.
Jazakumullah Khairan katsiran. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Akhirul Kalam, saya ucapkan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, "jawab semua orang yang berada di situ.
Kemudian Om Akmal pun menyambut niat baik lamaran yang diajukan oleh keluarga Kak Rafa untuk Wirda putrinya, dengan memberikan jawaban dan respon setelah malam sebelumnya Om Akmal beserta Tante Warti dan Wirda telah memutuskan keputusan akan jawaban dari lamaran hari ini.
"Bismillahirohmanirohim.
Yang Terhormat Bapak Sucipto Syarfan Imandar selaku kakek Nak Rafa,dan Yang Terhormat Bapak Iwan Syarfan Imandar serta Ibu Putri Handayani Imandar selalu kedua orang tua dari Nak Rafa, " ucap Om Akmal sambil melihat ke arah Enjid, Abi dan Ummah.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, "Om Akmal memberi salam kepada semua orang.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh jawab semua orang yang ada di ruangan itu.
Setelah itu Om Akmal melanjutkan kembali kata-katanya.
"Alhamdulillahilladzi an’amanaa bini’matil iimaan walislaam. Wanusholii wanusalimu ‘alaa khoril anam sayyidinaa muhammadin wa’alaa alihi wasohbihi ajma’iina imaa.
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kami menghaturkan selamat datang kepada seluruh anggota keluarga Imandar di kediaman kami. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala meridho’i silaturrahim kita pada siang hari ini, " ujar Om Akmal sambil tersenyum.
"Aamiin ya robbal'alamiin, " sahut semua orang.
"Saya menyampaikan rasa terima kasih atas apa yang diutarakan oleh Abinya dari Ananda Rafa yang telah menyampaikan secara jelas dan gamblang tentang maksud dan tujuan kehadiran Bapak Iwan sekeluarga ke kediaman kami, sekaligus bersyukur atas berkenan-nya Bapak Iwan sekeluarga hadir untuk bersilaturahmi dengan keluarga kami, " tutur Om Akmal sambil menundukkan sedikit kepalanya sambil melihat ke arah Abi.
"Adapun terkait dengan maksud dan tujuan dari Bapak Iwan dan keluarga besar untuk menanyakan apakah putri kami yang bernama Wirdawati Oktarinto sudah ada yang melamar atau meminang atau belum, ini yang bisa menjawab adalah putri kami. Maka dari itu saya akan memanggil putri kami Wirda dan bertanya."
Kemudian Wirda yang duduk di samping Tante Warti terlihat tersipu malu disaksikan oleh semua orang khusus nya Kak Rafa.
Om Akmal dengan senyum lebarnya memulai bertanya kepada Wirda.
"Putriku Wirda,apakah ananda sudah ada yang punya dan sudah menerima pinangan atau lamaran dari laki-laki lain? Mohon untuk dijawab. "
"Sudah.. Sudah.., " teriak Pak Budi.
Kak Rafa menepuk lengan Pak Budi yang menggoda dirinya.
Pak Budi dan yang lain tertawa melihat tingkah Kak Rafa.
"Lho, Nak Rafa kok malah menepuk bapak tho. Maksud bapak Nak Wirda sudah ada yang punya dan menerima lamaran dari.., " ucap Pak Budi terputus sambil meringgis.
"Dari siapa Pak? , " tanya Kak Rafa ingin tahu.
"Mau tahu? Atau mau tahu banget atau mau tahu aja, " goda Pak Budi.
"Pak Budi serius, pak, " pinta Kak Rafa.
"Hehehe, ya jelas Nak Wirda punya nya Nak Rafa lah, masak menerima lamaran nya Pak Budi. Hahahahaha, " ujar Pak Budi tertawa keras yang membuat suasana menjadi tidak sunyi dan ceria.
Semua orang pun tertawa, tetapi Kak Rafa malah tersipu malu apalagi saat Wirda mengatakan jika dirinya belum ada yang punya dan belum menerima lamaran orang lain. Maka Pak Budi bertambah lah menggoda Kak Rafa.
Selanjutnya Om Akmal bertanya kembali kepada Wirda. "Putriku Wirda apakah bersedia dan mau dilamar oleh ananda Rasanya Syarfan Imandar yang selama ini sudah akrab dan saling mengenal dengan dirimu?. "
Dan Wirda pun mengangguk dengan malu-malu sambil berkata, "Iya saya bersedia menerima lamaran dari Kak Rafa. "
Sontak saja Kak Rafa langsung berkata, "Alhamdulillah ya Allah. " Dan membuat seisi ruang tamu terkekeh.
Sementara Kak Aisyah sibuk mengabadikan semua momen lamaran, Bik Siti permisi ke dapur membantu Bik Inah menyiapkan makanan dan minuman untuk segera dihidangkan.
Kemudian Om Akmal melanjutkan kembali perkataannya.
"Baik, bapak dan ibu yang saya hormati. Setelah kita mendengarkan langsung secara bersama-sama jawaban dari anak kami Wirda, yaitu bahwa anak kami bersedia dan mau dilamar oleh Nak Rafa. Maka kami sebagai orang tua hanya bisa meridho’i apa yang telah menjadi niat baik dan keputusan dari anak kami Wirda dan niat tulus dari Nak Rafa putra dari Bapak Iwan dan Ibu Putri.
Karena sudah ada kecocokan antara putra dan putri kita,maka kami selaku orang tua dan keluarga besar MENERIMA sepenuhnya lamaran dari ananda Rafasya Syarfan Imandar. Kami sebagai orang tua hanya berpesan, walaupun antara putri kami Wirda dan Nak Rafasudah menjalin ikatan cinta dalam bentuk lamaran atau pinangan pada hari ini. Kami mohon untuk tetap menjaga martabat dan nama baik keluarga serta agama kita. Dan kami mohon untuk bisa saling mengingatkan dan menjaga pergaulan sesuai dengan norma, adat serta budaya yang berlaku.
Demikian sambutan dari saya selaku dari ayahanda Wirda. Apabila ada tutur kata dan tindakan kami dalam menyambut kehadiran Bapak Iwan dan keluarga besar yang kurang berkenan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga niat baik kita semua mendapat ridho dari Allah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga apa yang kita musyawarahkan pada siang hari ini tidak ada aral meintang sampai hari pernikahan nanti.
"Aamiin, " sahut semuanya.
Lalu Om Akmal menutup perkataannya dengan salam.
Kemudian Kak Rafa dan Wirda bertukar cincin. Setelah itu,Enjid, Abi, Ummah, Tante Warti, Ustad Fariz musyawarahkan untuk segera mengagendakan akad nikah dan resepsi Kak Rafa dan Wirda yang insya Allah akan digelar tiga hari setelah lamaran ini berlangsung ,dan semuanya pun setuju. Tampak wajah bahagia tergambar jelas dari paras Kak Rafa dan Wirda yang masih tersenyum malu-malu. Sementara itu, Ummah langsung meminta izin untuk memeriksa keadaanku ditemani Wirda dan juga Kak Aisyah. Dan yang lainnya menikmati hidangan makanan dan minuman yang telah disajikan oleh Bik Siti dan juga oleh Bik Inah.
Sesampainya di depan kamar Wirda. Ummah dengan perlahan membuka pintu kamar Wirda agar tidak mengangguku,dan Ummah melihat diriku masih tertidur dengan pulas, yang kemudian membuat Ummah menutup pintu itu kembali dengan pelan dan mengajak Kak Aisyah dan Wirda kembali ke ruang tamu bergabung dengan yang lainnya.
Semua orang tampak terlihat sangat bahagia dengan diterimanya lamaran yang diajukan oleh Kak Rafa terhadap Wirda. Tetapi Ustad Fariz, masih terus memikirkan keadaanku dalam lukisan wajahnya yang ia paksakan untuk terlihat senang dan bahagia. Di dalam hatinya ia tidak pernah putus melantunkan do'a kepada Sang Maha Kuasa agar diriku baik-baik saja dan tidak terjadi hal-hal yang buruk lagi.
" Dek Rani semoga Allah selalu menjagamu dan melimpahkan semua kebahagiaan kesehatan dan keberuntungan kepadamu karena hanya itulah yang dapat membuat hatiku menjadi tenang dan tentram, batin Ustad Fariz di dalam hati sambil menyaksikan wajah kebahagiaan di paras sang adik yang menatapnya dengan senyuman sumringah.
"Barakallahu lakuma wa jama’a baina kuma fii khair. Semoga selalu diberikan kebahagiaan ya Dek. Semoga Allah selalu menuntunmu dan calon istrimu kelak menuju cinta Allah.Dan segera dihalalkan dalam ikatan suci pernikahan, " tutur Ustad Fariz.
"Aamiin ya rabb. Jazakallah Khairan katsiran Kak, " balas Kak Rafa sambil memeluk Ustad Fariz.
Ustad Fariz membalas pelukan sangat adik sambil menepuk punggungnya seraya berkata, "wa jazakallahu khairan . "
Kedua kakak beradik itu begitu dekat dan berbagi kebahagiaan bersama.
Ummah dari kejauhan memandang penuh rasa kebahagiaan akan kedekatan kedua bersaudara itu. Lalu Tante Warti mengajak Ummah berbincang-bincang untuk menentukan pakaian adat dan acara resepsi yang akan mereka usung untuk pernikahan putra dan putri mereka. Sementara itu, Pak Budi terus menyantap makanan dan minuman yang dihidangkan dengan begitu lahap sambil sesekali menggoda Kak Rafa.
Bik Siti yang ikut bergabung pun juga ikut menggoda Kak Rafa dengan candaannya, yang membuat semua orang tertawa mendengarkannya.
Lalu di sela candaan dari Bik Siti, Ustad Fariz melontarkan tanya kepada Bik Siti mengenai kondisi ku sekarang.
"Bik, apakah Dek Rani belum bangun?, " tanya Ustad Fariz cemas.
Bik Siti menggelengkan kepalanya, "Belum Nak Fariz, mungkin efek obatnya membuat Nak Rani tertidur sangat lelap sekali. Tidak apa-apa Nak Fariz tidak usah khawatir. InsyaAllah Nak Rani akan baik-baik saja, sebab Nak Rani adalah gadis yang kuat dan tangguh, " ucap Bik Siti sambil tersenyum.
__ADS_1
Ustad Fariz pun terdiam dan larut dalam pikirannya akan rasa khawatir dan kecemasan yang tidak dapat ia sembunyikan dengan memikirkan kondisiku saat ini.