
Tante Desi dan keluarganya masih diliputi kecemasan dan ketakutan akan kondisi putri Kak Roy. Dimana Rani terus tidak berhenti menanyakan keberadaan ku. Bude Ayu berulang kali menghubungi diriku, tetapi tetap tidak bisa tersambung. Ummah memang sengaja meminta diriku, untuk menikmati liburanku bersama keluarga Imandar, dan melupakan semua hal yang dapat menekan perasaan dan pikiranku.
"Bagaimana ini Mbak Ayu? Sampai sekarang kita belum tahu dimana keberadaan Rani. Bagaimana jika Rani benar-benar pergi dari kota ini? Lalu bagaimana nasib cucuku nantinya, Mbak? Hiks.. Hiks.. Hiks.., " ucap Tante Desi begitu larut dalam kecemasan nya.
Bude Ayu terus menenangkan Tante Desi, tetapi kesedihan dan rasa kecemasannya terhadap cucunya terus membuat air matanya tidak berhenti mengalir.
Dari kejauhan Kak Roy dengan wajah sendunya, dengan penuh kesabaran dan kasih sayangnya setia menemani putrinya menjalani rangkaian proses kemoterapi.
Hatinya begitu terasa ngilu dan nyeri melihat keadaan putrinya yang semangat hari, terlihat begitu lemah dan pucat.
Dalam kegetiran hatinya, Kak Roy tidak berhenti menyalahkan dirinya. Atas kondisi yang menimpa putri kesayangannya itu.Apalagi saat rasa sakit mendera pada tubuh putrinya, dan lisan sang putri terus menyebut namaku dalam rintihan rasa sakitnya. Air mata Kak pun tumpah tak tertahankan. Hatinya benar-benar terasa hancur dan menderita, begitu sesak dadanya seolah-olah belati melukai jantung hatinya.
Om Surya yang berdiri melihat dari kaca luar ruangan, tempat Kak Roy berada dengan putrinya. Segera masuk menghampiri Kak Roy yang terduduk lemas,melihat putrinya yang menangis merintih kesakitan.
"Nak, lebih baik kamu tenangkan dirimu diluar dulu. Biar papa yang menemani Rani, " ucap Om Surya sambil mengusap pundak Kak Roy pelan.
Kak Roy memandang ke arah Om Surya, lalu menolak untuk meninggalkan putrinya.
Dokter pun menjelaskan kepada Om Surya, jika selama proses kemoterapi tidak akan menimbulkan rasa sakit.
"Anda tidak perlu cemas dan khawatir Pak Surya dan Nak Roy. Kemoterapi tidak akan menimbulkan rasa sakit dalam prosesnya, tetapi kemungkinan setelah proses kemoterapi selesai. Akan ada efek samping pada tubuh Rani. Saat ini, Rani kemungkinan tegang karena baru pertama kali melakukan kemoterapi, sehingga membuat dirinya tidak nyaman, " jelas dokter.
Om Surya mengangguk, "Lalu efek samping apa yang akan terjadi pada cucu saya dok, setelah selesai kemoterapi ini?. "
Dokter pun kembali menjelaskan pada Om Surya, "Efek kemoterapi biasanya mempengaruhi tubuh anak sesaat keseluruhan.Biasanya anak akan mengalami pusing, rasa mual, luka pada mulut, gusi, dan tenggorokan, demam serta kelelahan. Namun, Pak Surya tidak perlu khawatir dan cemas yang berlebihan. Sedapat mungkin, kurangi aktivitas cucu anda, agar dapat beristirahat sebanyak mungkin dan perbanyak mengonsumsi cairan. "
Om Surya mengangguk mengerti dan mendengarkan baik-baik apa yang dokter katakan. Sementara itu, Kak Roy masih diam terpaku melihat putrinya yang sedang terbaring menjalani proses kemoterapi. Sedangkan Tante Desi masih berada di luar, dengan terus menangisi keadaan cucunya ditemani Bude Ayu, yang terus mendampinginya.
***
Ummah dan keluarga Imandar membuatku menikmati liburanku. Aku ingin menyendiri berjalan menyusuri pantai, melihat pemandangan matahari terbenam. Tetapi Ummah dan Abi tidak membiarkan diriku sendiri, harus ada Bik Inah dan Pak Budi yang menemani ku. Dan syarat dari Ummah juga Abi pun kuterima. Meskipun, awalnya aku meminta hanya Bik Inah saja yang menemani diriku. Tetapi dengan tegas Abi dan Ummah menolaknya. Mereka berdua tetap ingin Pak Budi ikut menjaga diriku, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Aku pun akhirnya pasrah dan menerima, atas syarat Ummah dan Abi yang terlalu berlebihan sangat mengkhawatirkan diriku.
Setelah berpamitan dengan Ummah, Abi, Enjid dan Wirda. Aku pun segera mengajak Bik Inah dan Pak Budi turut bersama diriku. Sementara, Ummah dan yang lainnya akan bergegas menikmati makanan yang mereka pesan, sambil melihat pemandangan matahari terbenam, dari hotel tempat kami menginap.
Aku berjalan sambil melingkarkan pergelangan tanganku pada lengan Bik Inah. Sementara itu, Pak Budi berjalan beriringan dengan langkah kaki ku, tepat di sampingku.Mereka berdua sudah seperti bodyguard ku saja. Kemana pun diriku pergi, Ummah dan Abi akan selalu meminta keduanya untuk menemani dan menjaga diriku. Semenjak kepergian almarhum Mas Fariz.
Ummah,Abi dan Enjid terus menjagaku seperti anak kecil. Mereka benar-benar tidak pernah membiarkan diriku sendiri, meskipun hanya pergi sebentar saja.
"Abi, Ummah dan Enjid, tidak akan membiarkan kamu pergi seorang diri nak. Hingga sampai nanti, datang seseorang yang mampu untuk menjaga dan melindungi mu, menggantikan posisi Fariz. Maka, saat itu kami akan merasa tenang dan tidak lagi mengkhawatirkan keadaanmu. Tetapi selama, seseorang itu belum hadir di dalam kehidupan putri Abi. Maka, kami semua akan selalu benar-benar menjaga dirimu. Dari semua hal yang dapat melukai dirimu, " tutur Abi dengan lembut sambik memegang kepalaku.
Aku melihat ke arah Abi, Ummah dan Enjid bergantian.
"Tetapi kenapa Abi, Ummah dan Enjid melakukan semua hal ini. Bukankah Rani sudah cukuo dewasa untuk dapat mampu menjaga diri Rani sendiri, " kataku.
Ummah tersenyum padaku lalu memegang pipiku pelan, "Kamu adalah putri dari keluarga Imandar sayang. Dan kami semua bertanggungjawab untuk menjaga dirimu, sampai Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengirim jodohmu datang. Maka selama jodohmu belum tiba, kamu akan tetap menjadi putri kecil kami, yang berada dalam pengawasan dan penjagaan kami, sayang. "
Aku kembali terngiang akan ucapan Ummah dan Abi kepadaku.Sungguh aku benar-benar merasa penuh rasa syukur, akan kasih sayang yang mereka curahkan padaku dan menganggap diriku layaknya putri kandung mereka.
Aku menarik napas pendek ku, dan terus berjalan kaki menuju bibir pantai.Kemudahan akses jalan menuju lokasi pantai sudah terbilang baik, dengan pemandangan yang indah mulai dari jejeran pohon karet hingga hamparan sawah yang membentang.
Aku ditemani Pak Budi dan Bik Inah terus berjalan santai,sambil melewati jejeran kedai-kedai yang menjual makanan hingga pakaian. Dari kejauhan tempatku berada terlihat dan terdengar tawa anak-anak yang berlarian serta suara deburan ombak, yang masih terdengar bersahut-sahutan. Aroma bau air laut yang segar mulai tercium menusuk indra penciuman ku.
Selain itu, suara motor jenis All Terrain Vehicle atau ATV yang berlalu lalang di pinggir pantai juga ikut meramaikan suasana menjelang temaram.
Banyak kedai terbuat dari kayu berjejer di sepanjang jalan menuju pantai,dengan menawarkan kuliner lokal yang sangat memanjakan lidah, mulai dari tempe mendoan hingga pecel.Aroma wangi makanan yang menusuk indra penciuman, mulai menggoda perut Pak Budi untuk mengajakku berhenti sebentar, mencicipi aneka makanan yang mengugah selera.
__ADS_1
Aku pun tidak dapat menolak keinginan Pak Budi.
Aku dan Bik Inah mencari tempat duduk yang telah di sediakan, tidak jauh dari kedai makanan yang sedang Pak Budi pesan.
Tidak jauh dari tempatku dan Bik Inah duduk. Banyak pula pengunjung yang duduk-duduk dengan santai, seraya menghangatkan badan setelah lelah bermain air di laut.Sembari menyantap makanan menikmati keindahan pantai.
Tak lama kemudian Pak Budi sudah duduk di dekat Bik Inah. Lalu di susul pemilik kedai yang mengantarkan makanan dan minuman pesanan Pak Budi. Tanpa menunggu lagi, Pak Budi lalu mengambil sepotong tempe mendoan berukuran besar yang tersaji hangat, lengkap dengan taburan cabe rawit hijau,yang semakin mengugah selera.
Selain itu, Pak Budi juga memesan minuman hangat,untuk menemani teman pas saat menikmati keindahan senja di pantai tersebut, sembari menyantap hangat nya tempe mendoan.
Aku tersenyum melihat Pak Budi yang makan dengan lahapnya.
"Ayo nak Rani! Bik Inah , enak sekali tempe mendoannya, " ucap Pak Budi sambil menyantap tempe mendoan bersamaan dengan cabe rawit hijau.
Aku mengangguk dan tersenyum kecil, sambil memandangi cahaya keemasan yang memantul di pasir kehitaman, serta ombak yang berkejar-kejaran dapat dari salah satu sudut pantai tempat ku berada saat ini.
Kemudian, pandangan mataku tertuju pada empat gelas minuman hangat yang Pak Budi pesan.
"Pak Budi, mengapa memesan minumannya empat gelas? Bukankah kita hanya bertiga saja, " kataku.
Pak Budi terdiam dan berhenti mengunyah tempe mendoan, lalu memandangi ku.
Aku menunggu jawaban dari Pak Budi, hingga tiba-tiba seseorang datang dan langsung duduk di hadapan ku, seraya berkata, "Satu gelasnya lagi untukku Rani. "
Aku terkejut dan terbelalak melihat Kak Reno sudah duduk mengumbar senyuman nya padaku.
Aku memandang ke arah Pak Budi, yang menjadi tegang karena kehadiran Kak Reno. Tetapi, Kak Reno dengan cepat berkata, "
Tidak perlu kaget Rani. Aku yang meminta Pak Budi untuk sekaligus memesankan minuman hangat untukku. Karena tanpa sengaja tadi kami bertemu di kedai itu. Kamu tidak keberatan kan, jika aku ikut duduk bergabung disini dengan mu?. "
"Meskipun aku tidak memperbolehkan dirimu untuk duduk disini. Kamu juga akan tetap berada disini, " kataku dengan wajah kecut.
Kak Reno kembali tersenyum padaku, "Kamu ternyata sudah sangat mengenal diriku dengan baik Ran. "
"Bukan karena aku mengenal dirimu, tetapi memang karena dirimu keras kepala dan tidak tahu diri, " jawabku ketus sembari mengalihkan pandangan ku darinya.
Kak Reno terus menggodaku, bahkan dia seakan tidak peduli dengan sikap kasar ku padanya.
"Minumlah dulu susu hangat yang sudah Pak Budi pesan untukmu Rani. Agar hatimu yang dingin melihat diriku, dapat mencair dan menerima kehadiran ku dengan senyuman indahmu. "
Aku diam tidak menggubris nya, lalu aku pun beranjak berdiri dan meninggalkan mereka bertiga, menuju pantai.
Pak Budi dan Bik Inah terkejut melihatku yang tiba-tiba menjauh.
"Nak Rani!, " panggil Bik Inah dan hendak mengejar diriku.
Tetapi Kak Reno menghentikannya.
"Bik Inah duduk saja disini dengan Pak Budi. Biar Rani saya yang mengejarnya, " pinta Kak Reno.
Bik Inah terlihat ragu, "Tapi Nak Reno!. "
Kak Reno tersenyum kecil , "Bik Inah tenang saja, jangan khawatir terhadap Rani. Saya tidak akan menyakiti nya Bik. "
Bik Inah terdiam dan memandang Kak Reno yang langsung berjalan cepat mengejar diriku.
__ADS_1
Sementara itu, Bik Inah terlihat memarahi Pak Budi, "Kamu itu kok makan saja tho Pak. Bagaimana dengan Nak Rani?. "
Dengan santai Pak Budi pun menjawab, "Sudah Bik Inah tenang saja dan nikmati tempe mendoan bersama saya. Nak Rani akan baik-baik saja. Ada Nak Reno bersamanya. Setidaknya, mereka berdua dapat kembali dekat lagi, setelah sekian lama. Kita cukup mengawasi mereka dari sini."
"Tetapi jika terjadi sesuatu pada Nak Rani. Pak Budi yah, yang bertanggungjawab, "gertak Bik Inah.
" Tidak akan terjadi apa-apa pada Nak Rani Bik Inah. Percayalah, hanya Nak Reno yang dapat membuat Nak Rani melupakan masa lalunya, "sahut pak Budi sambil menyeruput kopi hitamnya.
Bik Inah terdiam tanpa berkata, tetapi pandangan matanya tidak berhenti tertuju pada diriku, yang berada jauh darinya.
Semburat jingga perlahan-lahan merekah di langit,menandakan matahari mulai tenggelam. Terlebih lagi, terpaan angin juga terasa makin kencang seiring dengan perjalanan siang hari menuju gelap.
Aku berdiri menghilangkan rasa kesal di hatiku. Tetapi ia kembali muncul dan berada di dekatku.
" Aku tidak pernah menduga, jika keindahan senja ini membawa mu kembali dalam kehidupan ku, Rani. Seperti senja yang hadir , saat hati merasa penat dan sepi. Keberadaan ku pun hadir untuk merangkai kisah kita yang terhenti Rani. Aku akan terus menjadi bayangan mu, meskipun engkau tidak menginginkannya, "ucap Kak Reno memandangi ku.
Aku pun melihat ke arah Kak Reno, " Untuk apa kamu melakukan semua ini? Bukankah kamu sudah tahu jawabannya."
"Aku tidak peduli Rani, karena hatiku akan terus berusaha untuk meraih mu. Sama seperti senja, aku akan terus hadir untuk merangkai awal yang baru bersama dirimu.
Sudah banyak senja yang kulalui tanpa mu Ran, namun baru kali ini senja membawa mu kembali padaku. "
"Jangan terlalu berharap akan sesuatu hal Kak Reno, engkau akan terluka nantinya. "
"Aku tidak takut terluka Rani. Bahkan luka kehidupan ku sudah cukup besar memporak-porandakan diriku. Tetapi aku tetap bertahan dan kuat, karena ada cintaku yang terus tumbuh pada dirimu di dalam hatiku, " ucap Kak Reno lirih.
"Jangan buang-buang waktumu untuk mengharapkan sesuatu yang engkau sendiri tidak akan pernah dapat memiliki nya, yaitu cinta dan hatiku. "
Kak Reno tersenyum dan tidak terlihat sedih akan perkataan ku.
"Kehidupan itu misteri Rani. Tidak ada yang dapat menerka, kapan cinta itu akan hadir dan tumbuh di dalam hatimu. "
"Terserah apa kata mu Kak Kak Reno, aku tidak ingin berdebat dengan dirimu. Tinggal kan aku sendiri disini dan jangan menganggu ku lagi, " pintaku padanya.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan dirimu Rani, jika aku adalah bayangan yang selalu mengikuti setiap langkah mu pergi. "
Aku menarik napasku panjang dan dalam, dan melihat ke arahnya sekilas.
"Kamu benar-benar keras kepala!, " ucapku sambil membalikkan tubuhku dan berjalan kembali menuju ke tempat Bik Inah dan Pak Budi berada.
Dan lagi Kak Reno terus mengikuti langkah ku.Bahkan dia masih terus dapat tersenyum, meskipun aku tidak mempedulikan dirinya.
"Rani, aku akan datang melamarmu pada kedua orang tua almarhum mas Fariz, " ucapnya.
Aku tersentak dan sangat terkejut mendengar perkataannya.
"Jangan bercanda Kak Reno!, " ucapku.
"Aku serius Rani dan sungguh-sungguh dengan perkataan ku, "jawabnya.
" Jangan lakukan itu!, "ucapku sambil berjalan pergi meninggalkan dirinya.
" Rani tunggu dengarkan aku, Rani!, "teriaknya sambil mengejar diriku.
Namun, aku tidak peduli dan terus berjalan cepat untuk menjauh darinya.
__ADS_1