
Malam datang menyapa dan menyelimuti para insan di dunia untuk beristirahat setelah seharian di sibukkan dengan aktifitas-aktifitas yang membuat tubuh merasa lelah. Begitu pula dengan Ummah, Wirda, Pak Budi dan Bik Inah serta keponakan kesayangan ku Fariz.
Semua sudah tertidur lelap setelah mengemas semua barang dan pakaian masuk ke dalam koper. Karena esok di pagi hari kami semua akan bertolak pergi kembali ke kota asal ku yaitu tempat dimana segala cerita kenangan pahit dan manis bermula.
Tetapi kali ini kedua mata ku seakan sulit untuk terpejam. Meskipun sudah ku usahakan untuk memicingkan kedua mata ku dan berusaha memejamkannya.
Namun, ada keresahan yang menjalar di raga dan sanubari ku. Sesuatu hal yang tidak dapat ku mengerti dalam pikiran ku sendiri.
Aku terbangun dan segera beranjak dari tempat tidur ku. Kemudian aku berjalan perlahan agar tidak membangunkan Kak Reno yang tidur di sofa bed.
Yah aku dan Kak Reno memang tidur terpisah dari awal mula pernikahannya kami. Kak Reno tidak keberatan akan hal itu dan ia pun tidak memaksakan dirinya untuk berusaha menjamah serta memaksakan hasratnya pada diri ku.
Namun, saat ku lihat ia tidak berada di sofa bed nya. Mata ku mencari keberadaan nya di sekitar kamar tidur. Karena penasaran akhirnya aku segera menyalakan lampu.
Cetek..
Lampu utama menyala terang dan memang benar aku tidak dapat menemukan keberadaan Kak Reno di kamar ini.
"Kemana Kak Reno pergi?, " ucap ku pelan sambil berpikir.
Pandangan mata ku tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul satu malam. Aku segera merapaikan kerudung ku dan mencari keberadaan Kak Reno.
Setelah melihat di dalam kamar tidur tidak ku jumpai Kak Reno. Aku pun berjalan keluar dari kamar.
"Mungkin Kak Reno sedang berada di dapur?, " kata ku pelan.
Tetapi juga tidak ku temui keberadaan dirinya di sana. Hingga perlahan indra pendengaran ku mendengarkan sayup-sayup suara merdu seseorang yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Aku pun tersenyum senang.
"Akh itu pasti Kak Reno, " ucap ku pelan sambil bergegas mencari keberadaan dirinya.
Dan tidak butuh yang lama bagi diri ku untuk menemukan keberadaannya.
Seperti dugaan ku Kak Reno sedang berada di ruang salat rumah ini dan sedang khusyuk membaca Al-Quran.
Aku berjalan perlahan dan sangat pelan supaya tidak menganggu dirinya.
Nikmat dan begitu indah suaranya sungguh mengetarkan sanubari ku untuk terus menyimak bacaan Al-Quran yang Kak Reno lantunkan.
__ADS_1
Tanpa ku sadari aku pun telah duduk lesehan tidak jauh dari Kak Reno yang sedang duduk menghadap kiblat.
Dan aku semakin terbius dengan bacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang ia lantunkan.
Tidak lama kemudian Kak Reno pun menyadari kehadiran diri ku.
Kemudian ia pun menyelesaikan bacaan tadarus Al-Quran nya.
Aku tersentak mengetahui jika Kak Reno sudah selesai membaca Al-Quran.
Dan kini ia berada tepat duduk di hadapan ku.
Kak Reno tersenyum sambil mengusap kepala ku yang tertutup kain kerudung.
"Kamu belum tidur Ran?, " tanyanya lembut.
Aku menggelengkan kepala ku pelan.
"Belum kak. Aku belum mengantuk dan maafkan aku jika kehadiran ku menganggu diri mu yang sedang membaca Al-Quran. "
"Tidak Ran, kehadiran mu tidak pernah mengusik diri ku. Kamu adalah pelengkap kehidupan ku dan menjadi salah satu alasan terbesar bagi ku untuk terus menjalani kehidupan ini, " ucapnya lembut sambil memandangi diri ku lekat.
"Jangan berkata seperti itu Kak Reno, " kata ku.
Kak Reno memandang ku serius dan mendekatkan wajahnya begitu dekat dengan wajah ku. Hingga kedua ujung hidung kami pun bertemu.
DEG.. DEG.. DEG..
Jantung ku kembali berdegup kencang dan cepat. Dan lagi sensasi rasa seperti sengatan kejutan listrik. Mulai menjalar dari ubun-ubun hingga ke ujung mata kaki ku.
Huh..
Ku rasakan hembusan hangat napasnya yang menyentuh wajah ku.
Dan semakin membuat diri ku merasakan sesuatu gejolak gemuruh sensasi aneh yang membuat ku tak mampu lagi untuk menatap matanya.
Aku pun segera menundukkan pandangan mata ku darinya.
Namun, dengan cepat dan begitu lembut ia mengangkat dagu ku dengan jemari tangan kanannya.
__ADS_1
"Jangan palingkan wajah mu dari wajah ku Ran. Jangan engkau hindari tatapan mata ku. Karena paras dan mata ini sudah lama tertahan dalam belenggu rindu yang teramat dalam. Dan kini biarkan indra penglihatan ku menyampaikan rasa rindunya itu melalui tatapan ku, " ucap Kak Reno pelan dengan wajah yang begitu serius.
Aku tidak kuasa dan berusaha untuk menghindarinya. Maka dengan cepat aku melepaskan jemari tangan Kak Reno dari memegang dagu ku.
Dan begitu jemari tangan Kak Reno sudah tidak bisa mencapai diri ku. Aku pun berusaha untuk menjauh darinya.
Tetapi sekali lagi tangannya terlalu cepat dan begitu sigap untuk meraih tubuh ku.
Buggg..
Kak Reno langsung mendekap tubuh ku dengan erat.
"Jangan pergi Ran ku mohon. Biarkan tubuh ini merasakan raga mu yang terus menghangatkan perasaan ku. Aku ingin terus memeluk tubuh mu dalam dekapan ku Ran. Agar aku tahu dan benar-benar yakin. Jika saat ini aku dan diri mu telah menjadi satu dalam ikatan yang suci, " ucap Kak Reno sambil terus mendekap tubuh ku.
Aku terdiam dan termangu dalam dekapan hangat tubuhnya.
Kali ini aku seakan tidak mampu untuk menolak kedekatan kami.
Nyaman dan perasaan yang begitu tenang saat Kak Reno merengkuh tubuh ku dalam hangat dekapan tubuhnya.
Dan Kak Reno terus menuturkan kerinduannya pada ku melalui dekapan dan lisannya yang berbisik lembut nan pelan pada indra pendengaran ku.
"Selama ini aku selalu diam saat engkau berada jauh atau dekat dari ku Ran. Namun itu bukan berarti aku tidak memiliki rasa pada mu Ran.
Diri ku hanya ingin berusaha menjaga apa yang seharusnya di jaga, engkau saja yang yang tidak pernah tahu Ran betapa selama ini aku berusaha tegar dan kuat.Melihat mu bersama dengan almarhum Ustad Fariz. Tetapi saat itu aku sadar, jika diri ku bukan siapa-siapa dan memang tak layak untuk memiliki mu. Hingga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengajarkan diri ku dari semua ujian yang Dia berikan pada ku. Supaya diri ku segera berbenah diri dan menjadikan diri ku pantas juga layak untuk menjadi imam bagi mu Ran.
Dulu aku selalu diam di hadapanmu, tetapi engkau tidak pernah tahu Ran. Jika di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala nama mu terus ku gemakan dalam setiap lantunan do'a-do'a ku.
Aku hanya ingin selalu bersama diri mu Ran hingga pada dua waktu yaitu saat ini dan selamanya. Sampai maut memisahkan kita berdua. Aku sangat mencintai mu Ran, " ucap Kak Reno dengan lembut dan begitu dalam.
Aku diam mendengarkan suaranya yang bergetar dalam keharuan dan terus mendekap erat tubuh ku.
Tanpa ku sadari kedua jemari ku pun membalas pelukan darinya.
Aku dan Kak Reno tenggelam dalam rasa.
Sebuah rasa yang tak dapat ku pahami melaui akal pikiran. Namun, dapat ku mengerti melalui sentuhan lembutnya.
pandangan mata kami pun saling bertemu dan berbicara dengan bahasanya sendiri.
__ADS_1
Dalam diam dan keheningan dimana bibir kami saling bertemu dan mengunci satu sama lain.