
Abi, Enjid dan Pak Budi masih menunggu diri ku tersadar. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka. Setelah kejadian yang menimpa diri ku dan Kak Reno. Dimana banyak jiwa dan kehidupan yang harus berlalu pergi.
Tidak lama kemudian, suami almarhumah Bude Ayu datang bersama dengan anak perempuan nya. Mereka berdua datang ke rumah sakit, setelah pihak kepolisian menghubungi mereka. Sekaligus memberitahukan semua kejadian yang telah terjadi. Termasuk mengenai keadaan Bude Ayu yang sudah meninggal dunia.
Setelah mengetahui semua keterangan dari pihak kepolisian. Jika Bude Ayu dan Kak Roy menjadi dalang dalam penculikan diri ku dan Kak Reno. Suami Bude Ayu dan anak perempuannya, segera menghampiri Abi, Enjid dan Pak Budi untuk meminta maaf.
"Saya mohon maafkan kesalahan dari almarhumah istri dan keponakan saya, Pak Sucipto dan Pak Iwan. Untuk semua perbuatan jahat dan buruk yang telah mereka berdua lakukan kepada Rani dan suaminya. Saya benar-benar malu dan bingung harus mengatakan apa lagi.
Dan mungkin kematian dari almarhumah istri saya Ayu, menjadi ganjaran terbaik yang ia peroleh atas semua kesalahan yang telah ia perbuat, " ucap suami Bude Ayu dengan suaranya yang bergetar dan berlinang air mata.
Suami Bude Ayu terus menundukkan kepalanya, dengan kedua jemari tangan yang ia satukan di dekat kepala nya.
Tubuhnya setengah membungkuk dan hampir berlutut di hadapan Abi, Enjid dan Pak Budi. Ia benar-benar merasa sangat malu dan berdosa atas apa yang telah di lakukan oleh almarhumah istri dan keponakannya itu.
Namun, dengan cepat Abi segera mengangkat bahu suami Bude Ayu untuk berdiri.
"Sudah lah Pak semua sudah terjadi. Sesuai kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita,yang sangat tidak pernah kita duga, dan mungkin membuat kita menjadi shock juga sangat terpukul, setelah mengetahui akan kebenarannya. Tugas kita adalah meyakini bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini hanyalah atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang tak sengaja, apalagi sampai tidak diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Seperti dalam Al- Qur'an surat Al An'am ayat 59 yang di sebutkan,
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata yaitu Lauh Mahfudz.
Itu adalah penggambaran yang sempurna untuk kita. Karena di dunia ini ada banyak milyaran pohon. Yang mana tidak satu pun pohon yang daunnya gugur, tanpa diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Begitu pun tidak terkecuali dengan berbagai peristiwa yang melibatkan manusia. Seperti kejadian yang telah terjadi pada Rani, Reno, Roy dan melibatkan almarhumah istri bapak.
Meski manusia di karuniai akal, yang antara lain bisa di gunakan untuk merancang suatu kejadian. Namun,semuanya tidak mungkin bisa terlaksana, tanpa kehendak dan atas izin dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga bapak tidak perlu terus menerus meminta maaf dan merasa bersalah kepada kami, " jelas Abi dengan panjang lebar dan lembut.
Mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Abi. Suami Bude Ayu sedikit menunjukkan ekspresi wajah lega dan menyeka air matanya. Meskipun tidak sepenuhnya ia merasa lebih baik akan semua perbuatan yang telah di lakukan oleh almarhumah istri dan keponakannya.
"Masya Allah Pak Iwan. Bapak memang berhati sangat baik. Dan saya sungguh menjadi sangat malu karena kelakuan juga tindakan almarhumah istri dan keponakan saya. Saya rasa permintaan maaf pun, tidak akan dapat mewakili semua kesalahan yang telah mereka lakukan pada putri bapak Rani dan suaminya. Hiks.. Hiks.. Hiks, " ucap suami Bude Ayu sambil menangis lagi.
Enjid lalu mengajak suami Bude Ayu untuk duduk di dekatnya, dan menepuk pundak suami almarhumah Bude Ayu pelan.
Enjid pun berusaha untuk memenangkan nya.
"Sudahlah pak.Bapak tidak perlu terus merasa bersalah seperti ini. Bukankah putra saya Iwan sudah mengatakan kepada bapak. Bahwa semua yang telah terjadi di dalam keluarga kita ini. Semua berasal dari ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang merupakan Sang Pemilik Kehidupan. Dimana sebelum adanya proses kehidupan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah terlebih dahulu. Sudah menuliskan apa saja yang akan terjadi. Baik itu tentang kebaikan, keburukan dan juga tentang hidup atau kematian.
__ADS_1
Dan satu hal yang pasti adalah skenario dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah terjadi dan harus kita terima. Meskipun terasa sangat pahit dan menyakitkan juga menyedihkan.
Sehingga kita meyakini saja, jika skenario dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah rencananya yang terbaik. Kita memang akan langsung merespon situasi yang kita hadapi ini.Dengan penuh gejolak kesedihan dan keputusasaan. Namun, kita haruslah berusaha untuk mengambil hikmah dari peristiwa ini. Untuk menjadikan kita sebagai insan yang lebih beriman dan bertawakal kepada Nya. Dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah memerintahkan hambanya untuk percaya pada QadaNya. Yang tertuang dalam Al -Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 210.
Dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Hal yanzuruna illa ay ya'tiyahumullahu fi zulalim minal-gamami wal-mala'ikatu wa qudiyal-amr, wa ilallahi turja'ul-umur
Artinya: Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya (azab) Allah bersama malaikat dalam naungan awan, sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan. Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan.
Dalam ayat tersebut telah di jelaskan bahwa semua perkara-perkara,merupakan ketetapan yang terjadi sudah di putuskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Untuk itu bapak jangan larut dalam kesedihan. Dan lebih baik sekarang bapak fokus untuk pemakaman almarhumah istri bapak dan putri Roy. Serta fokus pada kesembuhan Roy, "tutur Enjid dengan penuh kharismatik dan ketegasan nya.
Suami almarhumah Bude Ayu menyeka air matanya dan langsung memeluk Enjid, Abi dan Pak Budi secara bergantian. Sekaligus mengucapkan terima kasih atas perkataan yang di sampaikan oleh Abi dan Enjid. Yang sedikit banyak telah membuat hatinya menjadi jauh lebih baik dan tidak tertekan.
Tidak lama setelah itu pun suami almarhumah Bude Ayu dan putrinya. Segera izin pamit kepada Abi, Enjid dan Pak Budi. Untuk segera mengurus proses pemakaman Bude Ayu dan putri Kak Roy.
Abi dan Enjid pun berpesan kepada suami Bude Ayu. Untuk mengatakan kepada mereka, jika suami Bude Ayu dan keluarga membutuhkan bantuan. Maka seluruh anggota keluarga Imandar akan siap untuk memberikan bantuan.
Mendengar perkataan Abi dan Enjid yang seperti itu, sungguh membuat suami almarhumah Bude Ayu hanya dapat menundukkan kepalanya. Sambil meneteskan air matanya.
Sementara itu, Enjid masuk ke dalam ruang IGD untuk melihat kondisi ku dan Kak Reno.
Sesampainya di ruang IGD.
Air mata Enjid terus mengalir melihat kondisi ku dan juga Kak Reno.
Perlahan Enjid duduk di kursi di dekat ranjang pasien tempat ku berbaring.
Di tatapnya dalam dan lekat diri ku.
"Allahummasyfi Rani. As'alullahal azhima rabbal'arsyil'azhimi an yassfiyaka.
Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu.Aamiin ya rabbal'alamiin, " ucap Enjid pelan sambil menyeka air matanya. "
Tidak lama setelah itu dokter datang menemui Enjid dan mengatakan jika Kak Reno membutuhkan transfusi darah dengan segera. Jika tidak maka nyawa nya tidak akan tertolong.
Enjid menjadi semakin bersedih dan panik karena golongan darah Kak Reno sulit di dapatkan dan stok di palang merah Indonesia sedang kosong.
__ADS_1
Enjid terdiam sambil terus berdo'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Supaya di berikan jalan keluar untuk masalah ini.
Dan tiba-tiba aku pun tersadar dan memanggil nama Kak Reno.
Enjid tersenyum melihat diri ku yang sudah tersadar, dan langsung meminta dokter untuk memeriksa diri ku.
Saat aku tertidur dan tidak sadar kan diri, indra pendengaran ku seakan mendengarkan percakapan antara Enjid dan dokter.
"Enjid, dokter. Saya akan mendonorkan darah saya pada Kak Reno. Karena golongan darah kami sama, " kata ku dengan pelan dan masih lemas.
Enjid terlihat syok mendengarkan perkataan ku
"Tidak sayang. Keadaan mu masih lemas dan tidak memungkinkan untuk mendonorkan darah pada Reno, " ucap Enjid dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran memandang diri ku.
"Tidak Enjid. InsyaAllah Rani tidak apa-apa. Kak Reno saat ini sangat membutuhkan donor darah secepatnya, " bantah ku.
Namun, Enjid tidak serta merta langsung mengizinkan diri ku untuk mendonorkan darah ku pada Kak Reno.
Setelah Enjid berkonsultasi dengan dokter, akan pertimbangan efek kesehatan ku.
Dan dokter juga telah memeriksa keadaan ku yang tidak akan berdampak buruk. Jika aku mendonorkan darah pada Kak Reno. Maka Enjid pun menyetujui permintaan ku, setelah dokter mengizinkannya.
Tidak lama kemudian beberapa perawat membawa ku, untuk menuju ke ruangan tempat Kak Reno berada.
Enjid segera keluar untuk memberitahu kan semua nya kepada Abu, dan juga menelepon Ummah.
Mendengarkan perkataan dari Enjid.
Pak Budi pun tersenyum kecil.
Abi dan Enjid melihat heran pada ekspresi yang di tunjukkan oleh Pak Budi.
"Mengapa Pak Budi tersenyum?, " tanya Abi heran.
Pak Budi menghela napas nya, lalu memandang Abi dan Enjid secara bergantian.
"Dulu Nak Reno yang pernah mendonorkan darah nya pada Nak Rani. Saat keadaan Nak Rani sangat kritis. Dan sekarang Nak Rani yang bergantian mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan nyawa Nak Reno. Sungguh rencana dan takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang tidak dapat kita duga. Tanpa kita sadari mereka berdua memang telah di takdirkan, untuk menjadi pasangan yang saling melindungi dan menjaga satu sama lain. Setelah proses kehidupan panjang penuh liku dan ujian, yang harus mereka berdua hadapi. Semoga setelah ini kebahagiaan mewarnai kehidupan mereka berdua, " ucap Pak Budi sambil menyeka air matanya.
Abi dan Enjid pun tersenyum sambil menepuk pundak Pak Budi.
__ADS_1