
Malam ini hatiku begitu gelisah dan tidak tenang. Pertemuanku dengan Kak Reno sore ini, sungguh membuatku gusar. Mataku sulit untuk terpejam, perkataannya menyita semua ruang di pikiranku untuk terus memikirkan dirinya. Meskipun, aku ingin menolaknya. Tetapi tetap saja pikiran dan hatiku, terus bekerja sama memaksaku mengingat dirinya.
Aku pun langsung bangun berdiri dari tempat tidurku, dan segera mengambil air wudhu, untuk melaksanakan salat Tahajud agar mendapatkan ketenangan hati.
Karena saat hati sedang dalam keadaan gundah, shalat adalah penyembuhnya.
Malam semakin larut di mana semua orang sudah terlelap dalam tidurnya dan berbagai aktivitas hidup telah berhenti. Suasana begitu hening, sunyi, dan tenang.
Sehingga menunjang konsentrasi diriku, yang ingin semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dalam situasi seperti inilah,aku bisa dengan mudah mendapatkan ketenangan yang dirasakan oleh psikis atau batinku, yaitu dengan melakukan shalat Tahajud.
Dimana dalam shalat Tahajud terdapat dimensi dzikrullah untuk ku mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Aku hanyut dalam lantunan do'a ku, kepada Sang Maha Pencipta untuk memberikan ketenangan di dalam hatiku.
"A'udzu bi kalimatillahit tammati min ghadhabihi, wa'iqabihi, wa syarri'ibadihi, wa min hamazatis syayathini wa an yahdhurun.
Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, keburukan hamba-Nya, gangguan setan, dan setan yang hadir," ucap ku lirih.
Keesokan harinya, selepas sarapan pagi. Aku meminta kepada Ummah, agar kami semua lekas pulang ke rumah. Ummah melihat kegelisahan pada diriku.
"Mengapa kamu ingin buru-buru pulang sayang?padahal liburan kita masih lama di sini. Apakah kamu jenuh disini nak?, " tanya Ummah padaku.
"Tidak Ummah. Rani hanya ingin berada di rumah saja, " jawab ku.
Ummah memandang wajahku dalam.
"Benarkah itu sayang? Tidak ada alasan lain ?, " tanya Ummah ragu padaku.
Aku mengangguk pelan, namun Ummah masih terus menatap ke arahku.
"Tetapi Ummah lihat, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ummah nak. "
__ADS_1
Aku mengelengkan kepalaku, "Tidak Ummah, " kataku pelan.
"Baiklah jika Rani berkata seperti itu, tapi Ummah minta agar Rani tidak memendam segala sesuatunya sendirian. Bagilah dengan Ummah, agar pikiran dan hatimu menjadi lebih tenang, " pinta Ummah sambil mengusap kepala ku pelan.
Aku mengangguk dan memeluk Ummah, dimana perasaanku jauh lebih tenang.
Ummah masih menginginkan kami masih berada di sini ,dalam beberapa hari lagi.
Perasaan ku semakin tidak menentu, setelah mendengarkan perkataan Ummah.
Hatiku menjadi takut dan semakin resah, teringat akan perkataan Kak Reno. Yang begitu sangat menganggu diriku.
Aku sangat berharap, ia tidak benar-benar merealisasikan perkataannya itu.
Dari atas rooftop dengan atap terbuka, pada hotel tempatku berada dengan Ummah dan yang lainnya. Kami semua duduk menikmati panorama sunrise di titik paling tertinggi,di tempat hotel kami menginap.Pandangan kami menikmati hangatnya matahari terbit ,pada sisi kanan di pagi hari,dan melihat warna jingga di langit saat sang surya mulai ingin menampakkan sinarnya.
Abi, Enjid dan Pak Budi memanfaatkan fasilitas olahraga seperti kolam renang dan gym yang terdapat di rooftop. Sementara, aku bersama Ummah, Wirda dan Bik Inah duduk menikmati pemandangan dari panorama alam yang masih asri dan begitu memukau mata.
Langkah kaki ku yang pelan, terus membawa diriku pada keinginan hatiku yang menuntunnya. Sesekali ku arahkan pandangan ku ke sekitar, untuk memastikan jika dirinya tidak berada di dekatku.
Dan setelah ku amati sekitarku yang telah aman dari kehadiran dirinya.Aku pun merasa cukup lega, dan terus berjalan menggendong Fariz dalam dekapanku.
Fariz begitu senang saat ku perlihatkan padanya hamparan pantai dengan sapuan debur ombak, di hiasi kicaua Burung-burung yang memperindah suasana pagi ini.
Hangat dan terasa tenang, itu yang ku rasakan. Sambil sesekali ku cium pipi gembul Fariz , yang terus berceloteh dari bibir mungilnya, hingga membuatku gemas padanya.
Aku begitu fokus pada pesona imut Fariz, hingga diriku tidak menyadari. Jika sedari kapan Kak Reno sudah berada di sampingku.
"MasyaAllah, kamu sudah sangat piawai mengasuh anak Rani. InsyaAllah, anak-anak kita kelak akan senang memiliki ibu seperti dirimu, begitu pula aku yang akan tenang menyaksikan anak-anak kita kelak tumbuh dalam kasih sayang seorang wanita penyayang seperti dirimu, " ucap Kak Reno sambil tersenyum padaku.
Kehadirannya sungguh membuat diriku terkejut dan terbelalak. Apalagi mendengar kata-kata dari bibirnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Bukankah aku sudah mengatakan padamu Kak Reno, untuk tidak mengikuti dan mendekatiku lagi?, " ucapku kesal.
__ADS_1
Kak Reno tersenyum memandang diriku, dimana tatapannya membuat jantung ku berdegup kencang.
Perasaan aneh yang terus meletup dalam dadaku, setiap aku melihat dirinya berada di dekatku.
"Aku ingin memenuhi permintaan mu itu Rani, yaitu untuk menjauhi mu. Tetapi apa dayaku, jika pikiran, hati dan ragaku terus menuntunku untuk mencari keberadaan mu. Maka jangan salahkan diriku Rani, karena Allah juga turut berperan dalam setiap pertemuan kita, " ucapnya dalam.
"Itu hanya bualanmu saja Kak Reno, " sahut ku.
Kak Reno menatap lurus ke depan, memandangi pantai yang berkilau indah.
Entah kenapa pandangan mataku, tidak ingin beranjak darinya. Tanpa kusadari , mataku terus mengamati dirinya, dengan menelisik setiap sudut parasnya yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Dia begitu tenang dalam keteduhan dirinya.
"Tuhan lebih paham bahwa kita adalah sepasang insan yang merajut kisah namun belum bisa terselesaikan Ran,dan untuk itu raga kita dipertemukan kembali. Dimana sinar Sang Surya dan belaian Sang bayu tak lagi saling menggoda kita, maka takdir langit akan ikut lelah melihat jarak diantara kita, dan ingin menyaksikan penyatuan antara dirimu dan diriku, " tutur Kak Reno.
Aku terdiam mendengar perkataannya, dan mengalihkan pandangan ku darinya.
Untuk beberapa saat, diriku hanyut dalam lamunanku sendiri. Dimana setiap perkataannya terus bermunculan di dalam benakku. Hatiku terus mencoba untuk menerka, apa tujuan dirinya melakukan semua ini dan terus menerus berada di dekatku, yang ku rasa bukan hal kebetulan akan pertemuan kami.
Perlahan aku menoleh lagi ke samping, untuk melihat dirinya. Namun, tiba-tiba ia tidak ada di sampingku. Aku terkejut dan gusar, mencari keberadaan dirinya yang mendadak menghilang dari jangkauan pandangan mataku. Aku melihat ke sekitar untuk menemukan dirinya.
Dan berapa terkejutnya diriku, saat ku lihat dari kejauhan tempatku berdiri saat ini.
Kak Reno tengah duduk bergabung dengan Ummah, BiK inah, Wirda, Abi, Enjid dan Pak Budi. Dari kejauhan kulihat Kak Reno seperti membicarakan sesuatu. Aku semakin tegang dan panik, dimana debar jantungku menjadi semakin kuat dan tidak menentu.
Aku berharap semoga Kak Reno tidak mengutarakan apa yang menjadi hasratnya, pintaku dalam hati.
Aku ingin berjalan mendekati nya, namun aku takut dan tidak siap mendengar hal yang tidak ingin ku dengar.
Diriku pun terdiam memandanginya dari kejauhan yang sudah begitu tampak akrab dengan semuanya.
Saat mataku menatap dirinya, ia pun tiba-tiba menoleh dan tersenyum lebar padaku. Tubuhku lemas dan terasa rapuh.
Permainan apa lagi yang kali ini ia mainkan, gumamku.
__ADS_1