
Malam semakin larut.
Menyelimuti alam sekitar dengan selimut hitam pekat bernoktah kerlip-kerlip bintang.
Breemmmmm...
Kak Reno menyetir mobil dengan sangat kencang dalam keadaan sangat merah.
Lebam dan bengkak pada wajahnya tidak ia hiraukan.
Dia seolah mati rasa akan rasa nyeri pada wajah dan tubuhnya setelah beradu jotos dengan Kak Roy.
Emosi akan rasa haus balas dendam menguasai dirinya.
Akhhh.....
Sesekali ia berteriak sangat kencang meluapkan rasa kesal dan kemarahan yang menyelimuti dirinya.
DUk... DUk.. DUk....
Tangannya mengepal memukul-mukul setor mobil.
"Awas saja dia nanti jika bertemu denganku, tidak akan ku lepaskan, " ucapnya sambil berteriak.
"Akhhhhh.....! KURANG AJAR! ", teriak Kak Reno semakin kencang.
Karena di penuhi api amarah, ia seolah terbakar dalam nyala bara kebencian. Dengan ugal-ugalan Kak Reno menyetir mobil yang ia kendarai.
Hingga ia tidak menyadari sesuatu telah ia tabrak dengan keras.
Buuukkkk.....
Terdengar suara hantaman keras.
Dengan cepat ia menginjak rem dan sedikit terkejut.
Matanya melihat disekitarnya untuk mengetahui apa yang ia tabrak.
Sepi...
Hanya beberapa mobil yang melintas.
Dia pun enggan untuk turun dan melihat keluar apa yang terjadi sebenarnya.
Masih dengan rasa kesal di hatinya ia melajukan mobilnya dengan cepat dan kencang kembali.
Sampai di perempatan lampu lalu lintas menyala merah tetap ia terobos saja.
Pikirannya kacau.
Membuat dirinya tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya.
Ia hanya ingin cepat sampai di kediaman rumah Rere menjemput keluarganya yang telah ia tinggalkan karena mengejar Rani dan Roy.
" Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah dariku, Ran,"ucapnya kesal dengan mengertkakkan giginya.
Tidak lama kemudian Kak Reno tiba di kediaman rumah Rere.
BRAKKK......
Kak Reno membanting pintu mobil dengan keras dan sangat kencang,hingga suaranya terdengar oleh semua orang yang berada didalam.
"Nah,itu pasti Reno,mah,"ucap Mbak Riska memberitahu Bu Sri.
"Dari mana saja anak itu?,"tanya kakek kesal.
"Iya,Rani dan Roy juga belum kembali.Kemana mereka bertiga pergi?,"sahut Pak Sugeng.
"Entahlah pah,mama juga tidak tahu.Nanti kita tanyakan saja pada Reno saat dia masuk kemari.Pak Budi juga tidak bisa di hubungi dari tadi? sebenarnya apa yang terjadi?mama punya firasat tidak enak,"ucap Bu Sri khawatir.
"Telepon seluler Kak Roy juga tidak bisa di hubungi juga Tante Sri,"sahut Rere yang cemas sambil melihat ke arah layar telepon genggam miliknya.
"Iya mereka sungguh keterlaluan.Pergi tanpa permisi dan bilang mau kemana.Terlebih-lebih dengan Rani.Perempuan keluar malam-malam seperti ini,tidak jelas,membuat malu saja,dasar anak kampung!,"gerutu Bu Sri.
"Sudahlah Bu Sri yang tenang.Nanti setelah mereka kembali kita tanyakan apa yang terjadi pada mereka sebenarnya,"ucap mamanya Rere menenangkan Bu Sri sambil mengusap bahunya lembut.
"He'em iya jeng,"balas Bu Sri.
Beberapa saat kemudian,dengan pakaian kotor dan wajah yang babak belur Kak Reno masuk ke dalam rumah Rere.
tampak dari kejauahn seluruh keluarga Suprapto menunggu dirinya dengan wajah yang kesal dan penuh dengan tanya.
"Nah,itu dia Reno datang,"ucap Mbak Riska sambil menunjuk ke arah Kak Reno.
Bu Sri dan semua orang lainnya melihat ke arah kedatangan Kak Reno.
Dan betapa terkejutnya mereka semua melihat kondisi dan keadaan Kak Reno yang berantakan dan terluka seperti itu.
"RENO!,"teriak Bu Sri dengan sangat histeris sambil berlari mendekati putra kesayangannya itu.
"Kamu kenapa nak?apa yang terjadi denganmu?ada apa sebenarnya?,"tanya Bu Sri dengan menangis dan memegang wajah dan pakaian anaknya.
Namun,Kak Reno hanya diam sambil menatap wajah Bu Sri.
Ia begitu dingin dan terlihat sangat angker.
"Ren?Ren?Reno?kamu kenapa nak?apa yang terjadi padamu?katakan kepada mama siapa orang yang telah melakukan ini padamu?,"tanya Bu Sri sambil menepuk-nepuk wajah Kak Reno.
Namun,Kak Reno tetap membatu.
"Pah,ayo kita bawa Reno ke rumah sakit pah! Mama takut melihat kondisi dan keadaan Reno seperti ini,"pinta Bu Sri kepada suaminya dengan menangis tersedu-sedu.
"Sudah mama jangan terus menangis sebaiknya Reno diajak duduk dulu,"ucap Pak Sugeng kepada Bu Sri.
"Iy....iya pah,"sahut Bu Sri terbata sambil menangis.
Dengan perlahan Bu Sri menarik lengan Kak Reno perlahan dan menyuruhnya duduk di samping Pak Sugeng.
Kak Reno hanya menurut saja, ia mengikuti kemauan Bu Sri untuk menyuruhnya duduk.
Sementara Kak Reno sendiri seperti orang linglung dengan wajah yang lebam dan pikirannya seperti orang kalut dan kosong.
"Riska cepat tolong ambilkan air putih untuk adikmu," ucap kakek menyuruh mbak Riska.
"Baik Kek," jawab Mbak Riska.
Mbak Riska dengan cepat mengambil gelas kosong yang ada di atas meja makan milik keluarga Rere. Lalu menuangkannya dengan air putih di dalam gelas.
"Ini mah air putihnya," ucap mbak Riska sambil memberikan gelas yang berisi air putih kepada Bu Sri.
Dengan cepat Bu Sri mengambil gelas yang diberikan oleh mbak Riska, lalu Bu Sri berusaha untuk membuat Kak Reno meminum air putih dari gelas tersebut.
Secara perlahan Bu Sri meletakkan gelas di dekat bibirnya Kak Reno.
__ADS_1
Namun, dengan spontannya Kak Reno merebut gelas dari tangan Bu Sri ,lalu menekan gelas tersebut dengan kerasnya.
Duarrrr.....
Gelas tersebut pecah seketika dan air di dalam gelasnya tumpah membasahi pakaian Kak Reno. Sementara itu, darah segar terus mengalir dari pecahan kaca yang menancap di tangan Kak Reno.
"Akhhhh....,"teriak Kak Reno dengan suara sangat kencang dan kesal.
"Ya Ampun,"ucap Rere dan mamahnya dengan ekspresi wajah ngeri dan ketakutan melihat darah yang mengalir dari tangan Kak Reno.
"Ya Ampun,nak,"ucap Bu Sri sangat terkejut melihat tindakan yang dilakukan oleh kak Reno.
Bu Sri semakin menjadi-jadi menangis. Air matanya terus mengalir sambil meletakkan kedua jari tangannya di mulutnya.
Ia seakan tidak percaya melihat apa yang telah dilakukan putra kesayangannya Kak Reno dengan melukai dirinya sendiri.
"Kamu kenapa nak? sebenarnya apa yang terjadi denganmu? katakanlah ada apa nak. Kenapa kamu seperti ini? Mama sangat mengkhawatirkanmu, tolong jawab mama Reno,"pinta Bu Sri dan terus memohon kepada Reno agar mau berbicara mengatakan apa yang terjadi.
Namun, sekali lagi karena tetap diam membatu dan membisu.
Hingga papanya yaitu Pak Sugeng dengan perasaan geram melihat sikap Kak Reno yang hanya diam lalu mendekati putranya itu.
Pak Sugeng dengan sifat kebapak'annya dia berusaha untuk membuat anaknya itu berbicara dan meresponnya.
Dengan lembut diletakkan tangannya di atas kepala Kak Reno lalu mengusapnya pelan.
"Nak katakan kepada papa apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Mengapa kamu tiba-tiba menjadi seperti ini ?katakan jangan takut siapa yang sudah melukaimu seperti ini,"ucap pak Sugeng dengan lembut lalu memegang bahu Kak Reno.
Tetapi Kak Reno yang belum bisa
mengontrol emosinya atas peristiwa yang terjadi sebelumnya antara dirinya, Kak Roy,diriku dan ustad Fariz. Tanpa dia sadari dengan refleks secepatnya ia menghempaskan tangan Pak Sugeng dengan kerasnya, lalu mendorong tubuh Pak Sugeng ke belakang dengan kuat dan hampir terjatuh sempoyongan.
Melihat sikap Kak Reno wajah Pak Sugeng berubah menjadi marah dan kesal.
Dan dengan cepat pula tangan Pak Sugeng secara refleks menampar pipi kanan Kak Reno dengan kerasnya.
"Dasar! Kamu kurang ajar dengan papa ya! Kamu sudah berani berbuat kasar dengan papa!,"ucap pak Sugeng dengan nada sedikit berteriak kepada Kak Reno.
Semua orang yang melihat tindakan Pak Sugeng terkejut dan tercengang bahkan tidak dapat berkata-kata.
Sementara Bu Sri semakin tidak dapat menahan derai air matanya melihat suaminya menampar putra kesayangannya seperti itu di hadapan orang banyak.
Dengan rasa sayang yang begitu besar terhadap Kak Reno ,ia memeluk anaknya dengan erat agar suaminya yaitu Pak Sugeng berhenti untuk memukul atau melakukan tindakan kekerasan lainnya kepada putranya itu.
"Sudah pah.... cukup! sudah! kasihan Reno?mengapa papa malah marah kepada Reno?
Apa papa tidak kasihan melihat keadaan dan kondisinya seperti ini, hah?,"ucap Bu Sri dengan nada sedikit marah dan kecewa atas tindakan suaminya kepada Kak Reno.
"Cukup mah!.... cukup! Kamu bela terus saja putra kesayanganmu ini. Dan lihat sekarang hasilnya bahkan saat dirimu berbicara saja dia tidak menggubris bahkan merespon perkataanmu. Apalagi aku sebagai papanya sendiri, ia bahkan berani mendorong dan berbuat kasar kepada papa. Sikap seperti apa itu. Apakah papa harus diam saja melihat tindakannya yang kurang ajar seperti itu?,"ucap pak Sugeng dengan kesal dan sangat marah.
"Tetapi Reno tidak sengaja melakukan itu pah. Dan papa bisa melihat sendiri bukan keadaannya.Reno linglung dan tidak seperti biasanya, huhuhhuhu,"ucap Bu Sri yang membela anaknya sambil menangis.
Melihat Pak Sugeng dan Bu Sri saling beradu argumen maka ia dengan cepat melerai mereka agar tidak semakin bertengkar.
"Sudahlah kok kalian ini malah bertengkar. Apa tidak malu dilihat semua orang?,"ucap kakek sambil melihat ke arah Pak Sugeng dan Bu Sri."Riska coba kamu ambil kotak P3K di dalam mobil,"ucap kakek kepada mbak Riska.
"Baik kek," jawab Mbak Riska.
Mbak Riska dengan cepat mengambil kunci mobil yang masih dipegang Kak Reno di tangan kirinya.
Lalu dengan cepat mbak Riska mengambil kotak P3K.
"Ini kek,"ucap mbak Riska memberikan kotak P3K kepada kakeknya.
"Kok malah kamu berikan kepada kakek. Yah kamu dan mamamu obati dulu adikmu Reno. Sebagai pertolongan pertama agar lukanya tidak bertambah parah,"ucap kakek menyuruh mbak Riska melakukan pengobatan terhadap luka-luka Kak Reno.
"Kamu itu kok malah bercanda Ris,"sahut kakek.
Lalu Bu Sri dan mbak Riska dengan perlahan dan hati-hati serta dibantu oleh Rere membersihkan luka-luka yang ada di tubuhnya Kak Reno.
"Tante sebaiknya Kak Reno segera dibawa ke rumah sakit saja. Melihat luka-lukanya dan darah di tangannya tidak berhenti mengalir,"saran Rere kepada Bu Sri.
"Iya Tante juga berpikir demikian,"sahut Bu Sri.
Mendengar percakapan antara Bu Sri dan Rere Kakek pun mendekat untuk memastikan keadaan Kak Reno.
"Baiklah sepertinya yang dikatakan Rere benar.Kita berangkat ke rumah sakit sekarang,"ucap kakek mengajak anggota keluarganya yang lain.
"Baiklah kek, Riska yang menyetir,"ucap Mbak Riska.
"Rere,ikut ya mbak.Nanti biar sopir Rere saja yang menyetir mbak,"sahut Riska kepada mbak Riska.
"Baik tidak masalah. Lebih baik kakek dan papa tinggal di sini saja biar Riska, Mama, Rere dan sopirnya Rere yang ke rumah sakit,"ucap mbak Riska untuk ada kakek dan Pak Sugeng.
" Iya kakek setuju dengan mu Ris, lebih baik papamu tinggal di sini bersama kakek.Sebab emosinya masih belum stabil, kakek takut nanti jika ikut ke rumah sakit papa mau malah bertengkar dengan adikmu Reno. Ya sudah kalian berangkat dan hati-hati sebab ini sudah malam. Nanti jika sudah sampai di rumah sakit cepat hubungin kakek ya,"ucap kakek kepada mbak Riska.
"Ayo mah," ajak Mbak Riska kepada Bu Sri.
Bu Sri mengangguk perlahan, ia kemudian dibantu kakek menggandeng Kak Reno masuk ke dalam mobil.
"Riska sekalian nanti kamu coba hubungi Pak Budi sampai sekarang dia belum kembali. Dan hubungi juga Rani, entah mereka pergi ke mana sampai sekarang belum kembali juga. Ya sudah kalian hati-hati ya,"ucap kakek sambil menutup pintu mobil.
Dari kejauhan kakek melambaikan tangan dan menatap mobil yang dikendarai sopir Rere.
Bremmmm...
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman rumah Rere menuju rumah sakit terdekat untuk membawa Kak Reno agar mendapat pertolongan secepatnya.
Tidak lama kemudian, Kak Reno dan yang lainnya telah tiba di rumah sakit.
Kak Reno segera dibawa ke ruang UGD untuk mendapat pertolongan yang lebih lanjut dan cepat terhadap luka-lukanya agar tidak infeksi.
Sementara mbak Riska mengurusi prosedur pendaftaran dan berkas pasien.
Di sisi lain Bu Sri tidak bisa lepas dan jauh dari putranya Reno. Ia selalu mendampingi Reno saat perawat dan dokter yang sedang berjaga mengobati dan membalut luka Kak Reno.
"Bagaimana dok keadaan putra saya? apakah kondisinya berbahaya? apakah lukanya sangat berat?,"tanya Bu Sri dengan wajah paniknya dan sambil menangis.
"Alhamdulillah tidak Bu, lukanya tidak nberbahaya.Namun harus berhati-hati agar tidak terjadi infeksi setelah ini. Dan untuk luka di tangan pasien perlu kami jahit sebab robeknya cukup dalam,"ucap dokter.
"Ya ampun,huhuhu.. tetapi benar kan dok putra saya Reno tidak dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Sebab sejak dari tadi dia hanya diam dan tidak seperti biasanya,"ucap Bu Sri sambil menangis menanyakan kondisi Kak Reno kepada dokter.
"Kemungkinan putra ibu mengalami syok atau tertekan karena sesuatu. Untuk saat ini kami belum bisa menyimpulkan.Sebaiknya ibu tunggu di luar dulu.Sebab kami akan melakukan tindakan medis untuk mengobati luka putra ibu,"ucap dokter menerangkan keadaan Kak Reno kepada Bu Sri.
Sebenarnya Bu Sri sangat berat hati meninggalkan putranya. Ia ingin selalu menemani dan berada di samping Kak Reno. Namun, karena prosedur dari rumah sakit tidak mengizinkan Bu Sri berada di dalam Ia pun harus mematuhi aturan yang berlaku di rumah sakit.
Bu Sri dan Rere menunggu di luar ruang UGD dan tidak berapa lama kemudian Mbak Riska datang.
"Bagaimana mah keadaan Reno? apa yang dikatakan dokter?,"tanya Mbak Riska kepada Bu Sri yang sedang berdiri mondar-mandir di depan ruang UGD.
"Adikmu sedang mendapat perawatan dari dokter. Dokter bilang mungkin adikmu mengalami syok dan tertekan karena sesuatu. Tetapi Apa yang membuatnya sampai bisa tertekan seperti itu. Mama masih tidak habis pikir. Kamu itu kan tahu bagaimana adikm. Dia bukan tipe orang yang mudah dipengaruhi atau terdoktrin oleh sikap dan kata-kata seseorang. Mama penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Reno,"ucap Bu Sri sambil berpikir dengan wajahnya yang sembab.
"Iya mah Riska juga berpikir seperti itu atau jangan-jangan semua ini ada kaitannya dengan Rani dan Roy,mah,"ucap mbak Riska memberikan opininya kepada Bu Sri.
__ADS_1
"Iya kemungkinan bisa seperti itu nak. Tetapi jika ini benar gara-gara anak kampung itu .Mama tidak akan melepaskannya dan tinggal diam saja. Mama akan buat perhitungan kepada Rani juga termasuk Roy,"ucap Bu Sri dengan wajah kesal dan kejamnya.
Rere yang dari tadi duduk di kursi di depan ruang UGD sambil memainkan telepon genggamnya dan berusaha untuk menghubungi Kak Roy namun tidak bisa.
Rere pun bangun dari duduknya mendengar nama Kak Roy disebut oleh Bu Sri dan mbak Riska.
"Kenapa dengan Kak Roy tante? kenapa Tante dan mbak Riska menyebut-nyebut nama suami saya Kak Roy? ada apa sebenarnya?,"tanya Riska dengan sedikit wajah tidak senang.
"Mungkin kamu salah dengar kali .Saya dan mama tidak ada yang membicarakan Roy suamimu ,"ucap mbak Riska berbohong.
"Tidak mungkin saya salah dengar ,telinga saya tidak tuli .Jelas-jelas tadi tante dan mbak Riska menyebut nama Kak Roy bahkan nama Rani juga,"bantah Rere dengan berani.
"Kalau kamu keras kepala. Ya sudah terserah kamu,"ucap mbak Riska dengan entengnya.
Kemudian dokter keluar dari ruang UGD dan menyuruh Bu Sri dan mbak Riska masuk diikuti dengan Rere di belakangnya.
Kak Reno sudah duduk di atas ranjang pasien tangannya telah diperban dan luka-luka di wajahnya telah diobati oleh dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya sekarang dok?," tanya Bu Sri sangat cemas.
"Keadaan putra ibu baik-baik saja setelah beberapa jam jika tidak ada gejala atau indikasi lain maka ibu boleh membawa putra ibu pulang.Dan ini resep obat yang ibu harus ambil di apotek,"kepada Bu Sri sambil memberikan kertas berusia resep obat.
"Syukur kalau begitu terima kasih dok," sahut Bu Sri sambil mengambil resep obat dari dokter.
Lalu Bu Sri berjalan mendekati Kak Reno,ia mencium kepala dan kening putranya.
"Mama bersyukur kamu baik-baik saja, nak,"kata Bu Sri.
"Ya sudah mah.Ayo kita tebus obatnya sekalian membayar administrasi pengobatan Reno agar kita lekas pulang ke rumah. Riska udah capek soalnya mah,"ucap mbak Riska dengan wajah tidak semangat.
"Lalu Reno siapa yang menjaga," tanya Bu Sri kepada Mbak Riska.
Kan ada Rere mah,biarkan Rere menemani Reno sebentar.Lagi pula di sini juga ada perawat dan dokte yang sedang bertugas dan masih memantau perkembangan Reno.Dan Reno juga bukan anak kecil kan mah, yang akan hilang dengan sendirinya. Jadi Mama tidak usah khawatir terlalu berlebihan.Toh, kita juga mengambil obat dan membayar administrasinya hanya di depan situ saja,"ucap mbak Riska dengan sedikit ketus.
"Ya sudah jika begitu,"ucap Bu Sri dengan berat hati."Re,Tante titip Reno sebentar ya,"sambung Bu Sri kepada Rere.
Rere yang sejak tadi sibuk menelpon sedikit terkejut.
"Iy....iya...Tante,"jawab Rere terbata.
Bu Sri pun dan mbak Riska keluar dari ruang UGD.
Sementara Rere masih sibuk memijat telepon genggamnya untuk menghubungi Kak Roy.
"Percuma mau beribu kali pun engkau menghubunginya ia tidak akan membalas teleponmu bahkan untuk mengangkat telepon darimu,"ucapkan Reno dengan tiba-tiba.
Mendengar Kak Reno yang tiba-tiba berbicara,Rere terlihat terkejut kembali.
"Oh,Kamu sudah kembali ke dunia nyata,"ledek Rere kepada Kak Reno.
"Seberapa besarkah cintamu kepada Roy?,"tanya Kak Reno dengan ekspresi wajah sinis.
"Apa maksud pertanyaan mu?,"tanya Rere tidak senang.
"Aku tahu sejak tadi kamu berusaha menghubungi Roy bukan. Dan Roy tidak menjawab telepon atau pesan darimu. Kamu tahu kenapa?,"tanya Kak Reno dengan senyum licik.
"Kamu tahu di mana keberadaan Kak Roy sekarang?,"Rere balik bertanya sambil meletakkan telepon genggamnya ke dalam tas kecil yang ia bawa.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tetapi kamu malah balik bertanya. Ternyata kamu itu sungguh egois,"tutur Kak Roy sambil menyeringai.
"Terserah apa katamu, mengatakan aku egois tetapi yang aku tahu sifat dan perilakumu itu lebih buruk dan sangat buruk dari sifat egois ku,"sahut Rere.
"Heh, kamu punya nyali juga untuk mencela diriku,"kata Kak Reno.
"Apa yang harus aku takutkan padamu. Oh ya, satu hal lagi yang sangat menganjal di pikiranku bagaimana bisa sahabatku Rani mau menikah dengan pemuda yang kasar dan buruk perilakunya seperti dirimu,"ucap Rere sambil Menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Sahabat ?apa aku tidak salah dengar kau menyebut Rani sebagai sahabat. Sahabat itu tentu tidak akan menggoda atau bahkan merebut suami dari sahabatnya bukan,"ucap Kak Reno berusaha menanamkan benih kebencian pada Rere terhadap diriku.
"Apa maksudmu dengan menggoda dan merebut? Rani bukan perempuan seperti itu,"bela Rere terhadap diriku.
"Itu hanya pemikiranmu saja ,tetapi kenyataannya saat ini Roy sedang bersama Rani."
"Kamu jangan sembarangan berbicara,"ucap Rere yang berjalan maju ke arah Kak Reno sambil menuju ke arah Kak Reno dengan jari telunjuknya.
"Asal kamu tahu saja Roy itu menikah denganmu itu karena terpaksa bukan karena dia mencintaimu. Dia menikah denganmu untuk melindungi Rani dari keluargaku. Bagi Roy dunianya, obsesinya, tujuan hidupnya hanyalah Rani seorang bukan dirimu. Sungguh aku merasa iba dan sangat kasihan melihat dirimu yang hanya sebagai mainan saja bagi Roy. Itu berarti kamu tidak memiliki tempat apa-apa di dalam hati dan kehidupannya Roy,"ucap Kak Rena dengan senyumnya yang sinis dan tatapan matanya yang tajam.
"Aku tidak percaya terhadap kata-katamu,"sahut Rere yang terlihat agak kesal tetapi ucapan Kak Reno secara tidak langsung mempengaruhi pikirannya sedikit demi sedikit.
Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi aku sudah berbaik hati memberitahu kebenarannya kepadamu. Sekarang adalah tugasmu untuk menjauhkan Roy dari Rani. Jika kamu ingin mendapatkan cinta Roy dan memiliki Roy seutuhnya bahkan selama-lamanya. Dan jika perlu kamu harus menyingkirkan Rani dalam kehidupanmu dan Roy agar tidak ada yang dapat mengganggu hubungan kalian. Itu saranku,"ucap Kak Reno senang.
Rere mulai terdiam mendengar ucapan dari Kak Reno.
"Roy itu adalah sahabatku. Dan aku sangat mengenal dengan baik bagaimana sifatnya. Dia akan melakukan apapun untuk seseorang yang sangat ia cintai yaitu Rani. Kau tahu aku dan keluargaku sudah dengan sangat bersusah payah menjauhkan Roy dari Rani. Tetapi kau lihat saja sendiri Roy tetap terus mengejar Rani meskipun Rani sudah menjadi istriku. Kau tahu kenapa itu? Itu karena cintanya Roy terhadap Rani sangatlah besar,"ucap Kak Reno.
"Aku juga tahu kenapa kau mengatakan semua ini kepadaku. Itu karena sebenarnya kau cemburu melihat Roy terus mendekati Rani,"sahut Rere dengan tersenyum sinis.
"Apa katamu aku cemburu? Apa kau tidak waras mengatakan itu? Aku tidak cemburu, aku itu sangat membenci Rani,"Kak Reno berusaha membantah pernyataan Rere.
"Terserah apa katamu. Tetapi seperti pepatah benci lama-lama akan menjadi cinta. Dan perbedaan kebencian dan cinta itu sangatlah tipis sekali. Meskipun engkau menyangkalnya tetapi dapat ku simpulkan engkau menutupi rasa cintamu kepada Rani dengan rasa kebencian yang engkau munculkan dan perlihatkan kepadanya. Itulah kenapa engkau bersusah payah menjauhkan Rani dari Roy. Karena sesungguhnya kau tidak rela kehilangan dan mungkin saja kau tidak gentle untuk mengutarakan isi hatimu yang sebenarnya,"ucap Rere panjang lebar.
"Akh,diam kau! Semua itu tidaklah benar,"ucap Kak Reno dengan marah.
"Hahahaha.... Kamu itu konyol sekali dan munafik. Jika memang kamu tidak menyukai Rani kenapa kamu harus marah seperti itu. Sungguh aneh dirimu itu Kak Reno,"ledek Rere.
Kak Reno dengan kesal bangkit dari duduknya di atas ranjang pasien.
Lalu ia berjalan mendekati Rere.
Kau tidak perlu mencampuri urusanku dengan Rani. Harusnya kau fokus bagaimana cara menjaga suamimu agar tidak mengejar istri orang lain. Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat. Selama masih ada Rani, maka tidak ada namamu di i hati Roy dan tidak ada cinta Roy untukmu. Maka saranku segeralah berpikir untuk membuat rencana. Bagaimana caranya memisahkan Roy dan Rani? Bagaimana caranya menjauhkan mereka berdua untuk selamanya? Bagaimana cara untuk memiliki Roy dalam kehidupan mu? Itu adalah pekerjaan rumahmu sebelum semua terlambat dan sebelum engkau patah hati,"ucap Kak Reno.
Rere kemudian terdiam dan tidak dapat membalas ucapan Kak Reno.
Lama kemudian Bu Sri dan mbak Riska masuk ke dalam ruang UGD.
"Ren kamu sudah membaik nak," tanya Bu Sri dengan wajah sumringah bahagia.
"Iya mah," jawab Kak Reno.
"Mama senang mendengarnya. Ayo kita pulang ,dokter sudah mengizinkan kamu untuk pulang sekarang,"ajak Bu Sri sambil menggandeng tangan Kak Reno keluar dari ruang UGD.
Kak Reno melirik ke arah Rere sambil mengisyaratkan kepada Rere untuk berpikir.
Tidak lama kemudian mereka semua sudah berada di dalam mobil.
Rere membisu tanpa kata, iya benar-benar terpengaruh oleh ucapan Kak Reno.
Sementara Kak Reno tersenyum menyeringai dengan tatapan liciknya.
Ia tertawa senang sambil sesekali memejamkan kedua matanya.
Perlahan ia memincingkan matanya untuk melihat ekspresi Rere dari pantulan kaca spion di dalam mobil.
Wajah Kak Reno terlihat berseri dengan senyum simpulnya.
__ADS_1
Entah kali ini rencana apa lagi yang akan dia buat selanjutnya.
Mobil pun melaju menembus pekatnya malam bersama rasa kegelisahan yang menyelimuti hati Rere.