
"Raniiii!,"teriak Wirda sambil memegang tubuhku yang lunglai.
"Ran,kamu nggak apa-apa kan,"ucap Wirda Khawatir.
Bu Sri,Pak Sugeng dan Lainnya melihat ke arahku dengan rasa khawatir.Dengan bersusah payah aku coba bangkit agar dapat berdiri menopang tubuhku.Terlihat Kak Roy masih terdiam.Paras wajahnya begitu tampak sangat terkejut akan hal yang baru saja ia dengar.
"Aku nggak apa-apa Wir,"ucapku pada Wirda.
Dengan sedikit tertatih dalam bantuan Wirda, aku berjalan menuju ranjang tempat bunda berbaring.Kulihat raut wajah bunda yang tegang dan begitu kesal.Ada kemarahan dan kesedihan dalam tatapannya.Sebelumnya aku pun tidak pernah melihat bunda terlihat tegang seperti itu.Tapi entah hari ini bunda begitu marah dan kecewa padaku.Kakek dan Mbak Riska hanya melihatku namun tidak mampu mengatakan sesuatu padaku.
Kuhela napas panjang mencoba untuk merileksasikan hati dan pikiranku.
"Bisakah hanya Rani dan bunda saja berdua dalam ruangan ini?,"tanyaku pada semua.
Kakek pun menjawab,"Iya Ran silahkan bicara dengan bundamu.Kakek dan yang lain akan keluar,"ucap Kakek memegang bahuku lembut.
Semua mulai keluar dari ruangan dengan wajah penuh tanya dan diam dalam kebisuan.Namun sebelum semua orang benar-benar keluar ucapan bunda menghentikan langkah semua.
"Tidak ada yang keluar dari ruangan ini,"ucap bunda tegas.
Semua terkejut mendengar ucapan bunda dan menghentikan langkah mereka.
"Saya mohon kalian semua tetap berada disini,"ucap bunda.
Kakek,Bu Sri dan Pak Sugeng terlihat begitu tegang.Berbeda dengan yang lainnya begitu tampak bertanya-tanya kebingungan.
"Mohon di tutup pintunya,"ucap bunda yang terlihat sedikit lebih tenang.
Perlahan semua orang mendekat ke ranjang bunda.Kakek dan Kak Reno duduk dan yang lainnya berdiri.
Aku menatap dalam ke wajah bunda.Perlahan ditariknya napas dalam.Sesekali terdengar lirih bibirnya beristighfar kepada Allah.Di pandanglah oleh bunda raut wajah kami satu persatu dengan pandangan bias yang tidak mampu kuartikan.
__ADS_1
"Terima kasih sebelumnya karena telah berada disini.Besar harapan saya untuk mengetahui semua yang terjadi pada putri saya Rani sehingga ia mampu melakukan perjanjian besar yang dapat menghancurkan kehidupannya sendiri,"ucap bunda pelan.
Semua mata tertuju pada bunda dalam kebisuan setiap orang.Bahkan diriku pun tidak berani untuk memotong pembicaraan bunda.
"Saya begitu sangat terkejut dan terpukul mengetahui bahwa putri saya Rani telah menikah siri dengan Reno dari keluarga Suprapto.Dan itu pun terjadi tanpa sepengetahuan dan belum mendapatkan izin dari saya selaku orang tua tunggalnya yang memiliki hak penuh akan tanggung jawab terhadap putri saya Rani,"ucap bunda dengan serius.
Namun dalam jeda ucapan bunda,Kak Reno yang semula diam berani memotong pembicaraan bunda,
"Akh...sebaiknya hentikan semua sandiwara ini,"ucap Kak Reno.
Lalu Bu Sri dan Pak Sugeng dengan cepat menghentikan Kak Reno meneruskan ucapannya,
"Ren,sudah diam.Jangan ikut campur ya nak,"ucap Bu Sri.
Kak Reno menolak,"Udahlah mah,mana mungkin Reno nggak ikut campur mah.Reno jadi korban disini.Korban dari persengkongkolan Rani dan bundanya kan mah,"ucap Kak Reno ketus.
"Reno cukup! lebih baik kamu diam karena kamu tidak tahu apapun,"ucap Pak Sugeng.
Kak Reno semakin tidak terkendali,
"Reno hentikan!,"teriak kakek marah.
"Kenapa kakek harus marah kek.Harusnya Reno yang marah disini.Karena rencana busuk mereka Reno harus terpaksa menikah dengan Rani anak miskin itu.Hidup Reno yang hancur kek! bukan dia! bukan mereka,"teriak Kak Reno.
Bunda hanya mendengar ucapan Kak Reno dan diam.Sementara Bu Sri,Pak Sugeng dan kakek meminta maaf kepada bunda atas ucapan kasar Kak Reno.
"Mohon maafkan anak kami Reno,Bu Tari,"ucap Pak Sugeng sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Reno,ayo minta maaf kepada Bu Tari,"ucap Bu Sri.
Lalu bunda berkata,"Biarkan putra anda Reno berbicara Bu, karena saya ingin mendengar semua yang ingin ia katakan.Maka biarkan saja,"ucap bunda.
__ADS_1
Kak Reno tertawa sinis.
"Loh,tentu saja dia menyuruh Reno berbicara kek,pah,mah.Karena kedok kebusukannya sudah terlihat.Ia tidak mampu membela dirinya,"ucap Kak Reno dengan senyum kecut.
Kakek yang sedari tadi mendengar ucapan Kak Reno menjadi marah,
"Reno!jangan semakin kurang ajar kamu.Tidaj sepantasnya kamu berbicara kepada Bu Tari dan Rani seperti itu.Kakek kecewa padamu Ren.Selama ini kakek berpikir jika kamu anak yang baik dan santun tetapi hari ini kamu membuktikan bagaimana watak aslimu nak,"ucap kakek.
"Oh,jadi kakek lebih membela Rani dan bundanya itu.Harusnya kakek bersyukur kepada Reno karena hari ini kita semua tahu kebusukkan mereka Apalagi putrinya Rani yang hanya ingin memanfaatkan kakek,mama,papa dan Mbak Riska.Untuk apa coba?demi kehidupan mewah dan menjadi orang kaya.Dan kalian semua terperdaya hanya dengan melihat tampilannya yang berhijab.Itu semua hanya kebohongan karena aslinya dia itu penipu,"ucap Kak Reno marah.
Bunda yang sejak tadi diam kini berbicara,
"Cukup nak Reno.Jangan menghina Rani seperti itu.Karena saya tahu betul seperti apa putri saya Rani sesungguhnya.Dan jika nak Reno mengatakan kami sebagai pembohong.Maka sesungguhnya nak Renolah yang berbohong dengan berpura-pura berperilaku baik kepada Rani di hadapan keluarga nak Reno.Tetapi kenyataannya nak Reno tidak pernah memperlakukan putri saya Rani dengan baik selayaknya seorang manusia,"ucap Bunda.
"Itu pantas yang di dapatkan oleh putrimu,"ucap Kak Reno kasar.
"Reno,sudah hentikan.Sebelum kamu malu dan menyesal terhadap semua yang sudah kamu katakan,"ucap kakek kesal.
"Menyesal!,"ucap Kak Reno sambil tertawa mengejek,"Mereka yang harusnya malu dan menyesal kek.Karena sudah mempermainkan keluarga kita kek,"ucap Kak Reno sombong.
Mbak Riska pun berusaha membungkam mulut Reno untuk segera diam namun tidak juga berhasil usahanya.
Bunda sekali lagi diam dan terus menatap Kak Reno tajam.Sementara kakek sudah terlihat sangat kesal dan geram akan ucapan Kak Reno,
"Diamlah Reno.Jika tidak pada hari ini kamu akan mengetahui kebenaran yang akan membuatmu malu dan hancur,"ucap kakek.
Bu Sri dan Pak Sugeng berjalan ke arah Kakek dan meminta kakek untuk tidak mengungkapkan kebenarannya.Akan tetapi kakek menolak,
"Sudah saatnya kebenaran ini terungkap,"ucap kakek.
Kebenaran apa tanyaku dalam hati.
__ADS_1
Semua bertanya-tanya dan terlihat tegang.
Membisu dalam putaran roda waktu yang akan mengubah segalanya.