Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Keinginan yang terbelenggu.


__ADS_3

"Apakah Dek Rani sudah mengantuk?, " tanya Ustad Fariz berbisik kepadaku.


"Tidak Ustad, " ucapku sambil melepaskan dekapannya dari tubuhku.


Ustad Fariz kembali tersenyum lembut ke arah diriku dan pandangan mataku pun menatap ke matanya yang begitu langsung menembus relung jiwaku. Sungguh, pandangan ku begitu terkesima menatap dirinya begitu pun dirinya yang memandang diriku lekat.


Sambil mengusap kepalaku lembut, ia pun berkata, "Jika Dek Rani belum mengantuk kita mengobrol dulu. Bagaimana? Apakah Dek Rani bersedia?. "


Ustad Fariz memandang diriku sembari menunggu jawaban dariku.


Aku menggaguk pelan, "Iya Ustad. Boleh. "


Ustad Fariz pun tersenyum mendengarkan jawaban dariku.


"Jika tidak keberatan saya ingin Dek Rani memanggil saya dengan panggilan Mas, supaya kita berdua lebih enak dan nyaman saat mengobrol serta tidak berjarak karena lebih dekat, " pinta Ustad Fariz kepadaku.


"Tetapi apakah Ustad tidak apa-apa jika Rani memanggil Ustad dengan panggilan Mas?, " tanyaku memandang Ustad Fariz.


Ustad Fariz tersenyum sembari menyipitkan kedua matanya saat menjawab pertanyaan dariku, "Tentu tidak Dek Rani. Karena itu adalah permintaan saya kepada Dek Rani."


Lalu, jemari tangan Ustad Fariz mengenggam lembut jemariku, "Saya ingin lebih dekat dan tidak berjarak terhadap istri saya yang sangat saya cintai yaitu Dek


Rani. "


Mata kami berdua pun kembali bertumpu dalam tatapan yang dalam dan hangat. Dimana dalam diam bibirnya, dapat kurasakan perasaannya yang tulus mencintaiku meskipun bibirnya tertutup rapat. Dan tiba-tiba dalam lembutnya tatapan matanya Ustad Fariz pun meyenandungkan syair, "Dalam diam pandangan mataku menatap elok parasmu yang indah, dan diantara deretan kata cintaku untukmu.Daku selipkan do'a yang tulus dari lubuk hatiku terdalam kepadamu wahai kekasih hatiku. Sungguh begitu indah, karena dengan kasih sayang yang berlandaskan cinta karena Allah akan memperkuat tali iman kita berdua. Yang menjadikan hati ini semakin lebih sejuk saat bersamamu.Maka seperti bulan dan bintang yang bertemu dalam selimut malam yang membalut nya. Ragaku ingin terus dekat bersama dirimu menikmati malam panjang nan penuh kehangatan."


Ustad Fariz lalu mencium jemari tanganku dengan lembut. Dimana sentuhan jemarinya membuat bulu romaku berdiri.


"Rani tidak tahu jika Ustad Fariz adalah orang yang puitis, " ucapku memecah ketegangan dalam diriku.


Ustad Fariz hanya tersenyum, lalu ia berdiri menuju tirai di hadapan kami melaksanakan salat. Dengan perlahan-lahan Ustad Fariz membuka tirai tersebut.


MasyaAllah, langit malam terlihat begitu indah dengan taburan kerlap-kerlip bintang. Pemandangan yang menyejukkan mata bagiku. Lalu Ustad Fariz membuka sedikit kaca jendela, supaya udara malam yang sejuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, beliau mematikan AC dan melipat sajadah. Selanjutnya Ustad Fariz mengambil minuman dan makanan kecil yang sudah di siapkan oleh Bik Siti pada nampan besar di atas meja. Aku hanya memandangi apa yang dilakukan oleh Ustad Fariz, sembari melepaskan mukenah dari tubuhku lalu melihatnya rapi dan meletakkannya di atas tumpukan sajadah pada rak kecil yang berada di dekat sofa bed berwarna dark grey. Setelah itu aku membetulkan jilbab ku.


Ustad Fariz lalu meletakkan nampan besar itu di atas permadani lembut sebagai alas kami duduk secara lesehan.


"Ayo Dek diminum susunya selagi hangat, " ucap Ustad Fariz kepadaku.


Aku pun mengangguk dan menerima gelas panjang putih berisi susu hangat dari tangan Ustad Fariz. Dengan mengucapkan basmalah aku dan Ustad Fariz pun menyeruput susu tersebut sedikit demi sedikit, lalu meletakkannya lagi di atas nampan.


Ustad Fariz kembali menatap ku dengan serius, dimana hal ini semakin membuat diriku tegang akan tatapan matanya itu.


"Ada apa Ustad? Eh.. Mas, " ucapku tegang.


Ustad Fariz kembali tersenyum melihat sikapku yang kaku dan takut dengan tatapan nya.


" Dek Rani, "panggil Ustad Fariz lembut sambil mengusap kepala ku lagi.


" Iya mas, "jawabku dengan hati yang berdebar-debar.


Mata kami pun kembali bertemu.


" Mas tidak akan memaksa dirimu untuk menyerahkan dirimu baik raga dan jiwamu, agar dapat melebur menjadi satu dengan tubuh mas. "


Aku menyimak ucapan Ustad Fariz dengan perasaan DAG... DIG.. DUG...


"Mas mencintaimu bukan karena nafsu Dek. Maka biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya sampai Dek Rani benar-benar siap menunaikan kewajiban sebagai seorang istri, begitu pula sebaliknya dengan mas. Saat ini kita nikmati kebersamaan kita pasca menikah untuk dapat terus semakin dekat dan sangat dekat hingga jarak di antara kita berdua hilang. "


"Iya mas, " ucapku pelan.

__ADS_1


Ustad Fariz tersenyum kembali dan membuat wajahnya semakin terlihat mempesona dalam pandangan mataku.


"Dek Rani bolehkah mas terus mengenggam jemari tanganmu?, " tanya Ustad Fariz menatap ku.


Aku tersenyum lebar, "Bukankah sejak tadi, Mas Fariz sudah melakukan nya. "


Ustad Fariz tersipu malu, "Oh ya mas lupa Dek. "


Senyum kami berdua pun bertemu.


"Apa yang sedang mas pikirkan?, " tanyaku dengan perasaan berdebar.


Ustad Fariz mendekat dirinya kembali kepada diriku, lalu ia menatap lagi wajahku dengan lekat dan dalam. Hal ini semakin membuatku salah tingkah menahan aliran aneh yang menjalar hebat di sekujur tubuhku.


Dalam tatapannya, jemari tangan Mas Fariz mengenggam jemariku lalu meletakkan di dekat bibirnya dan mencium nya. Sentuhan lembutnya membuat diriku semakin terasa sesak dan begitu berdebar .


"Mas memikirkan dirimu Dek, dimana pandangan mata mas tidak mampu untuk melepaskan sorot mata ini, yang hanya ingin terus memandangi parasmu dan terus mengikat indra penglihatan Mas menariknya kuat untuk terus dekat dengan dirimu Dek, " ucap Ustad Fariz sambil mengusap lembut pipiku.


Aku pun semakin tegang dan diam dengan sedikit menundukkan pandangan mataku dari Mas Fariz yang begitu membuat diriku semakin merasakan gelora yang membakar perasaan ku.


Dengan pelan Ustad Fariz mengangkat wajahku dan menatap lekat kedua mataku.


Hingga tanpa kusadari Mas Fariz mengecup lembut bibirku berulang.


***


Sementara itu, Kak Reno semakin merasa gelisah dan tidak tenang sama sekali. Dadanya terasa sakit dan ngilu, kerongkongan nya terasa tercekik dan sesak. Berulang kali ia bangun dari tidurnya dari duduk, berdiri lalu berbaring lagi. Namun, juga tidak membuat dirinya merasa tenang dari raa kegelisahan yang semakin menjalar hebat di sanubari nya.


Ia pun kembali bersandar pada dinding sel penjara sembari membawa buku catatannya dan terus beristighfar berusaha membuat hatinya tenang.


Terdengar beberapa kali ia terus menghembuskan napasnya, supaya rasa sesak yang menahan di kerongkongan hingga dadanya hilang. Tetapi usahanya sia-sia dan tidak berpengaruh terhadap dirinya.


Sambil memyandarkan tubuhnya ke dinding, ia berusaha memejamkan kedua matanya. Tetapi bukan rasa tenang yang ia lihat, justru bayang -bayang akan wajahku terus terlintas jelas dalam benaknya. Dengn cepat Kak Reno membuka matanya dan terlihat semakin gusar.


"Ada apa dengan Dek Rani? Mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkan dirinya walaupun hanya sedetik saja? Ya Allah beri tahu diriku akan apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dan apa hubungannya den6 Rani, " ucap Kak Reno sambil meletakkan kedua tangan nya di kepala memegang rambutnya.


Mata Kak Reno melihat pada buku catatan nya yang terjatuh di lantai saat ia memegang kepala nya dan dengan cepat ia mengambil buku tersebut dan membukanya.


Sambil bersandar dan menatap pada lembar kertas kosong. Kak Reno pun menuangkan kembali perasaan nya ke dalam goresan tintanya.


Malam semakin sunyi.


Dimana keheningan tiba menyelimuti malam ini.


Begitu pula hatiku yang sepi.


Penuh dengan kegelisahan akan rasa yang mati.


Dia pujaan hatiku bernama Rani.


Yang selalu hadir memenuhi ilusi.


Membuat hati dan jiwaku yang merindu semakin menjadi.


Apa gerangan yang sedang engkau lakukan Rani.


Diriku terasa sesak dan nyeri.


Apakah rasa cemas ini berhubungan dengan engakau Rani?.

__ADS_1


Entalah, aku tidak mengerti.


Tetapi semakin malam mendatangi.


Kegelisahan hatiku semakin meninggi.


Pikiran ku terus memikirkan Rani.


Hatiku pun juga terus menyebut nama Rani.


Bahkan dalam setiap helaan nafasku hanya ada Rani.


Semua hanya tentang Rani.


Karena begitu sulit untuk tidak memikirkan Rani.


Rani... Rani... Rani...


Kapan ragamu benar-benar hadir mengobati kerinduan hati ini.


Aku membutuhkan Rani.


Seperti seorang musafir yang kelelahan membutuhkan air yang membasahi.


Begitu pula diriku.


Yang tidak mampu untuk hidup tanpa Rani disisi.


Yang selalu mencintai Rani...


Reno.


***


Malam ini Kak Roy mengingau dan terus memanggil namaku pelan dan semakin lama bertambah kencang. Sontak hal ini membuat Tante Desi terbangun dari tidurnya yang tertidur di kursi di samping ranjang pasien Kak Roy berbaring.


Tante Desi semakin panik dan menepuk lembut wajah Kak Roy agar terbangun.


Dan benar saja Kak Roy pun membuka matanya sambil berteriak memanggil namaku.


"Nak ada apa?, " tanya Tante Desi menatap wajah sayu Kak Roy.


Namun, Kak Roy hanya menatap wajah Tante Desi sambil terus memanggil namaku lirih.


"Kamu ingin bertemu dengan Rani, nak?, " tanya Tante Desi sambil mengusap lembut kepala Kak Roy.


Kak Roy pun mengangguk dengan air matanya yang berkaca-kaca.


Kak Roy seakan merasakan kesedihan, terapi lidahnya tidak mampu berkata. Hanya Rani.. Rani.. Rani.. yaitu namaku saja yang terus ia panggil.


Tante Desi yang tidak kuasa pun segera menghubungi nomorku tetapi tidak di jawab, lalu Tante Desi pun menghubungi Ummah dan Mas Fariz dan juga tidak terangkat.


Ini kan sudah malam, mereka semua pasti sedang tidur. Akh lebih baik aku kirim pesan saja kepada mereka untuk datang kesini esok hari, gumam Tante Desi di dalam hati.


Lalu Tante Desi menatap Kak Roy yang terpaku menatap langit-langit ruangan tempatnya di rawat saat ini.


"Nak sebentar ya mama kirim pesan dulu untuk Rani, supaya besok ia dapat kemari untuk menemui dirimu, " ucap Tante Desi.


Kak Roy pun mengangguk dan larut dalam pikirannya sendiri. Sementara Tante Desi tengah sibuk dengan telepon genggam miliknya untuk mengirim pesan kepada diriku, Ummah, dan Mas Fariz.

__ADS_1


__ADS_2