Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
pertolongan.


__ADS_3

Setelah mendapatkan pengobatan dan jahitan di keningnya Bik Siti kembali ke kantor kepolisian untuk memberikan kesaksiannya ditemani Wirda yang menyetir mobil. Raut wajah ketakutan dan syok masih terlukis jelas di paras Bik Siti yang terlihat sayu. Pikirannya masih melayang tertuju kepada diriku. Dalam keterangannya memberikan kesaksian, terlihat berulang kali Bik Siti terus menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir. Apalagi ketika namaku terus disebut oleh pihak kepolisian, dengan bibirnya yang bergetar dan suara terbata Bik Siti terus berusaha memberikan keterangannya. Wirda pun dengan setia terus menemani Bik Siti, dan mengusap lembut punggung Bik Siti untuk menenangkannya. Hingga sampai akhir memberikan pernyataannya Bik Siti terus menangis tanpa henti.


Huhuhu.. Huhuhu... Huhuhu...


Suara isak tangis Bik Siti terus terdengar keras saat dirinya dan Wirda sudah berada di dalam mobil. Wirda berusaha untuk menghentikan tangis Bik Siti, tetapi usahanya sia-sia. Bik Siti seakan-akan terus larut dalam kesedihannya dalam memikirkan diriku.


"Ya Allah, bagaimana keadaan Nak Rani sekarang. Jagalah Nak Rani Ya Allah, lindungi dirinya dari marabahaya dan segala niat buruk orang-orang yang ingin mencelakainya, hiks... hiks... hiks, " ucap Bik Siti lirih.


Wirda belum menjalankan mobilnya, dengan perlahan jemari tangannya memegang pundak Bik Siti, "Bik, sudah ya. Wirda mohon bibi jagan seperti ini. Wirda tahu bagaimana perasaan Bik Siti, karena Wirda pun juga sangat sedih dan cemas memikirkan Rani Bik. Tetapi sekarang kita harus berdo'a dimana Kak Fariz dan Kak Rafa sedang berikhtiar menemukan keberadaan Rani. Untuk itu, Wirda minta Bik Siti bersikap tenang ya Bik. "


Bik Siti pun memandang lekat wajah Wirda pun sebaliknya Wirda juga memandang wajah Bik Siti, "Bisa kita pulang sekarang Bik, " tanya Wirda.


Bik Siti menyeka air matanya dengan tisu yang diberikan oleh Wirda, lalu ia menganggukkan kepalanya pelan, "Iya Nak Wirda kita bisa pulang, maafkan bibi yang tidak dapat menahan perasaan bibi, sehingga bibi bersikap sangat emosional itu karena bibi sangat menyayangi dan mengkhawatirkan Nak Rani. "


Wirda tersenyum kecil, lalu mengusap pundak Bik Siti lagi.


Wirda lalu menyalakan mesin mobilnya dan bersiap kembali menuju kediaman rumah keluarga Imandar.


Sesampainya di kediaman keluarga Imandar. Kedatangan Wirda dan Bik Siti segera di sambut oleh Abi dan Enjid yang ingin mengetahui akan kejadian peristiwa yang menimpa diriku. Dengan perlahan Wirda menggandeng Bik Siti yang masih dalam keadaan trauma dan syok menuju ruang keluarga. Asisten rumah tangga lainnya dengan sigap mengambilkan air minum untuk Bik Siti, Wirda, Abi dan Enjid.


Bik Siti yang duduk di samping Wirda dengan masih menangis menceritakan setiap kejadian yang menimpa diriku secara detail. Abi dan Enjid pun semakin cemas dan khawatir akan kondisiku. Sementara itu, Ummah masih beristirahat di kamarnya, setelah meminum obat akibat jatuh pingsan mendengar berita penculikan diriku.


Enjid mengambil telepon genggam miliknya dan berusaha menghubungi Kak Rafa dan Mas Fariz. Namun, berulang kali panggilan telepon Enjid tidak terhubung. Wajah Enjid juga menunjukkan kegusaran dan kegundahan nya. Apalagi saat Enjid melihat video kiriman penculikan yang direkam oleh Bik Siti dari telepon genggam milikku, kecemasan dan kegelisahan Enjid semakin menjadi-jadi. Napasnya terlihat naik turun dengan mata yang berkaca-kaca,"Siapa yang tega melakukan hal ini kepada Rani?. "


Enjid menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya.


Tidak lama kemudian asisten rumah tangga datang dengan membawa nampan berisi empat cangkir teh hangat, "Silahkan di minum dulu tuan minumannya. "


"Iya,terima kasih Bik, " sahut Abi.


Kemudian, Abi memberikan satu cangkir teh hangat kepada Enjid untuk segera meminumnya dan meminta Wirda juga memberikan teh hangat kepada Bik Siti.

__ADS_1


Setelah itu, Wirda meminta asisten rumah tangga yang membawa minuman untuk mengantarkan Bik Siti ke kamar agar dapat beristirahat, sementara Wirda lalu permisi kepada Abi dan Enjid untuk melihat keadaan Ummah di dalam kamarnya.


***


Begitu lama dan jauh, kawanan penculik ini membawa diriku. Dimana dapat kurasakan jalan tidak rata dan bergelombang membuat tubuhku semakin terguncang yang menambah nyeri dan sakit di kepalaku terasa menyebar. Penat dan rasa sesak menyergap diriku, dimana kurasakan secara perlahan tubuhku terasa kaku karena ikatan yang melilit dan mengikat diriku sudah cukup lama juga begitu kencang. Dalam Samar-samar pandangan mataku yang terhalangi oleh penutup kepala seperti karung berwarna hitam sesekali dapat kulihat seberkas cahaya terang menembusnya.Hatiku sungguh berkecamuk dalam rasa takut yang telah kupasrahkan sepenuhnya kepada Sang Maha Kuasa , untuk mendapatkan perlindungan-Nya.


Dalam rasa keemasan yang menghampiri diriku, terdengar suara laki-laki bertubuh besar itu kembali melakukan sambungan telepon dengan seseorang, "Iya Bos, sebentar lagi kami sudah akan tiba ke tempat kami akan menahannya. Bos tenang saja, karena semuanya aman terkendali dan yang penting transferan uangnya lancar bos. "


Indra pendengaranku terus menyimak percakapan laki-laki itu dengan orang yang dia panggil bos, siapa tahu dari percakapan mereka dapat kudapati pelaku yang meminta orang-orang ini untuk menculik diriku. Tetapi persangkaan ku salah, laki-laki itu tidak menyebutkan nama atau petunjuk tentang orang yang dia panggil bos.


"Pastikan tangan, kaki dan mulutnya tetap terikat supaya tidak membuat masalah bagi kita, " ucap suara laki-laki besar yang sedang menyetir kepada ketiga temannya.


"Tenang saja Bro! Semua aman, " sahut perempuan di samping kananku.


Suara mereka memecah lamunan ku.


Apa yang mereka inginkan sebenarnya dariku, batinku dalam hati.


"Segera bawa perempuan ini masuk ke dalam, dan jangan di buka penutup kepalanya sampai dia benar-benar masuk ke dalam ruangan dimana kita akan menyekapnya sementara waktu.Sampai bos memerintah kan kepada kita, apa yang akan kita lakukan selanjutnya kepada perempuan ini," ucap laki-laki yang membuka gerbang.


Ketiga temannya tampak setuju.


Dengan mata yang masih ditutupi, kedua perempuan yang menyamar menjadi petugas sipir lapas membawa diriku keluar dari dalam mobil dengan kasar, yang membuat ku harus menahan rasa sakit dari setiap cengkraman dan tarikan jemari tangan mereka dengan kuku-kuku yang tajam menusuk kulit epidermisku.


Air mataku mengalir perlahan, dengan wajah meringgis menahan sakit tanpa suara sedikit pun dimana kain dan plester menutup mulut ku. Hanya Istighfar dan terus menyebut asma Allah yang dapat kulakukan untuk menguatkan diriku, supaya dapat terus bertahan menopang ragaku yang semakin rapuh dan tidak berdaya.


Bruuuk....


Kedua perempuan itu melemparkan tubuhku ke lantai, lalu membuka penutup kepala dan wajahku. Parasku yang basah dengan peluh terasa sedikit lega, saat kedua perempuan itu melepaskan karung yang menutupi wajahku. Rasa sesak dan pengap yang masih terasa menekan rongga dadaku, jauh terasa lebih baik meskipun tidak berkurang sama sekali. Mataku memandang ke sekitarku, tempat yang gelap dan hanya ada pencahayaan lampu yang redup dengan banyak barang-barang tidak terpakai juga terlihat sangat kotor. Dimana banyak sarang laba-laba di atas langit-langit dengan plafon yang sudah rapuh dan cat terkelupas.


"Biarkan dia disini saja, sementara itu mari kita beristirahat dulu setelah perjalanan jauh yang cukup melelahkan, " kata salah satu perempuan.

__ADS_1


"Apakah perempuan ini perlu kita buka penyumpal mulutnya dan memberikannya minum?, " tanya perempuan satunya.


"Tidak perlu biarkan saja dia seperti itu, apa peduli kita terhadapnya, yang penting tugas kita telah selesai dengan membawa perempuan ini kemari dan jauh dari keluarga Ustad Fariz, sesuai dengan permintaan bos yang menyuruh kita, " jawab perempuan pertama sambil berjalan melangkah menjauh darimu dan temannya.


Perempuan yang bertanya itu pun terlihat diam sambil memandang diriku yang terlihat lemas dengan terbaring meringkuk di atas lantai, "Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada perempuan ini? Nanti kita juga yang di salahkan, apa tidak sebaiknya kita memberinya minum?. "


Perempuan pertama yang sedang berjalan menjauh itu pun berbalik menoleh ke belakang, "Biarkan saja, mengapa kamu begitu mengkhawatirkan dirinya?. "


"Bukan begitu, tetapi lihatlah dia terlihat sangat lemas. Bagaimana jika perempuan ini merenggang nyawanya? Kita juga nanti yang repot dan disalahkan, " ucap perempuan kedua dengan wajah ketakutan dan sedikit cemas.


Perempuan pertama yang sudah berada di dekat pintu keluar seakan tidak peduli, "Terserah kamu, aku ingin tidur. Badanku sudah lelah, " ucapnya lalu pergi menghilang dari pandangan mataku yang mulai sayup.


Sementara itu, perempuan kedua yang masih berada di dekat diriku terus menatap ku, lalu melangkah keluar dari ruangan tempatku di sekap.


Pandangan mataku terasa buram dan sayup, rasanya sekujur tubuhku terasa sangat lemas tak berdaya. Perlahan kedua mataku mulai tertutup dalam keadaan ragaku yang sangat sulit untuk digerakkan.


***


"Bapak segeralah meminta bantuan dengan menelpon pihak berwajib, sementara itu saya akan masuk ke dalam rumah itu, " ucap Kak Reno kepada Pak Sipir.


Pak Sipir memandang serius ke arah Kak Reno, "Kamu hati-hati Nak Reno, mereka bersenjata. Segeralah beri tanda kepada bapak jika dirimu mendapatkan masalah. "


Kak Reno mengangguk, "Baik Pak, jika dalam waktu tiga puluh menit saya belum keluar dari rumah itu, bapak segeralah bertindak. "


"Baik nak, kamu hati-hati, " ucap Pak Sipir sambil memegangi pundak Kak Reno.


Kak Reno mengangguk lalu segera melangkah menjauh dari Pak Sipir yang sedang menelpon pihak berwajib.


Kak Reno mencari celah untuk dapat memanjat dinding tinggi yang terdapat jaring-jaring besi dan pecaha kaca di atasnya. "Sepertinya hanya pagar itu saja yang menjadi salah satu tempat, agar aku dapat masuk ke dalam, " ucap Kak Reno lirih sambil melihat ke sekitar.


Dengan cepat Kak Reno memanjat pagar besi itu dan berusaha tanpa mengeluarkan suara yang dapat memantik kecurigaan orang-orang yang sedang menculik diriku.

__ADS_1


"Tunggu diriku Dek Rani! Aku akan datang menyelamatkan dirimu!, " ucap Kak Reno pelan sambil terus berjalan mengamati keadaan sekitar.


__ADS_2