
Perasaanku masih terus berdebar kencang, seolah ada getaran listrik yang mengalir di pembuluh nadi ku. Untuk seketika tatapanku bertemu dengan Ustad Fariz dan lagi kami berdua menundukkan pandangan mata kami. Lidahku serasa keluh untuk bertutur, karena begitu terkejutnya diriku mendengar akan niat yang Ustad Fariz sampaikan.
Dalam keheningan yang membelenggu diriku. Ustad Fariz kembali bertutur kepadaku.
"Dek Rani, saya sangat menantikan jawaban dari Dek Rani. Kesungguhan saya untuk mempersunting Dek Rani menjadi istri saya adalah fitrah akan diri saya yang Allah Ta'ala hadirkan dalam menerima Dek Rani sebagai jodoh saya. Besar sekali pengharapan akan niat saya ini dapat disambut dan mendapatkan penerimaan dihati Dek Rani, untuk itu saya memberikan Dek Rani kesempatan waktu untuk berpikir akan lamaran yang saya ajukan. Adapun akan niat saya ingin saya tunaikan dengan menikahi Dek Rani secepatnya, setelah Dek Rani memberikan jawaban atas lamaran saya, " ucap Ustad Fariz dengan serius.
Aku masih terdiam memikirkan ucapan Ustad Fariz.
Ummah yang melihat diriku masih seakan tidak percaya tentang lamaran Ustad Fariz terus mengusap kepalaku dengan lembut.
"Sayang, Ummah minta Rani segera menjawab lamaran dari Fariz yah. Jika hari ini Rani menerima lamaran dari Fariz, maka hari ini pula kalian langsung menikah, " ujar Ummah.
Mendengar ucapan Ummah aku pun langsung menoleh dengan tatapan mata yang terbelalak sangat kaget.
Ummah tersenyum melihat ekspresi wajahku. Yah, Ummah seakan tahu hal apa yang sedang kupikirkan.
"Ummah tahu semua mungkin terkesan sangat mendadak sayang. Tetapi setelah apa yang terjadi kepada Rani. Ummah pikir ini adalah hal penting yang harus segera dilakukan, demi menghindari semua prasangka buruk terhadap kalian dan juga orang-orang jahat yang hendak mencelakai dirimu sayang. Rani butuh mahram dalam wujud suami yang dapat menjaga, melindunginya dan membimbing Rani. Dan semua itu ada di dalam diri putra Ummah yaitu Fariz. Tolong saya segera kamu pikirkan dengan seksama akan niat baik Fariz dan harapan kami semua untuk kehidupan mu ya Nak, " tutur Ummah serius.
Aku pun mengangguk dengan pelan.
Ummah, Ustad Fariz, Abi ,Enjid dan Pak Budi menunggu di sofa tunggu pasien. Sementara Bik Siti menemaniku dengan duduk di samping ranjang pasien tempat ku duduk setengah bersandar.
"Nak Rani apa masih binggung untuk menjawab lamaran Nak Fariz?, " tanya Bik Siti sambil mengenggam jemariku.
Aku mengangguk pelan.
"Nak Rani berdo'a dan mohon petunjuk kepada Allah ya nak, semoga Allah memberikan Nak Rani kemudahan atas pengambilan keputusan yang akan Nak Rani putuskan," ucap Bik Siti pelan kepadaku.
Di atas ranjang pasien tempat ku duduk bersandar,kulayangkan pandangan mataku kearah Ummah,Abi,Enjid,Pak Budi dan Ustad Fariz.Mereka semua terlihat tegang menunggu jawaban dariku, walaupun sesekali kudengar mereka saling berbincang dengan obrolan ringan dan santai. Tetapi entah kenapa banyak hal yang mulai berseliweran di kepalaku. Aku terus beristighfar seraya memanjatkan do'a kepada Allah Ta'ala atas lamaran yang Ustad Fariz sudah nyatakan kepada diriku. Dengan dibantu Oleh Bik Siti aku bertayamum dan melakukan salat istikharah meminta petunjuk kepada Sang Maha Kuasa akan pilihan terbaik yang berisi kebenaranNya.
Perlahan Bik Siti menutup tirai pembatas tempatku duduk bersandar di atas ranjang pasien dengan sofa tungggu pasien, secara lembut dan hati-hati Bik Siti membantu diriku memakai mukenah. Dan dalam posisi duduk aku pun mulai melakukan salat istikharah karena belum mampunya aku berdiri menahan rasa sakit di kepalaku.
Selama diriku melaksanakan salat istikharah. Bik Siti dengan tenang dan sabar menunggui diriku, ia begitu tidak ingin aku terganggu dalam beribadah.
Tidak lama setelah selesai menunaikan salat istikharah. Aku pun berdo'a kepada Sang Khalik untuk membantu diriku dalam menguatkan pilihan yang belum mantap untuk kupilih.
"Allahumma innii astakhiiruka bi'ilmika was taqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadlikal 'adhiim, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta'lamu wa laa a'lamu wa anta 'allamul ghuyuub. Allahumma in konta ta'lamu anna hadzal amra khairun lii fii diini wa ma'aasyii wa 'aaqibati amrii.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk-Mu, dengan pengetahuan-Mu, aku memohon kepastian dengan ketetapan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang agung, Engkau Maha menetapkan dan aku tiada kekuasaan, Engkau Maha Mengetahui, aku tidak mampu mengetahui dan Engkau Maha mengetahui perkara yang tak tampak. Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui sungguh perkara ini baik bagiku, agamaku, kehidupanku, dan setelahnya, " ucapku lirih.
Dan dalam rasa kebimbangan yang masih menyelimuti diriku. Aku pun terus berdo'a kepada Allah, supaya hatiku ditunjukkan pada kebaikan setelah lantunan permintaan do'aku.
"Aa'jili amrii wa 'aajilihi fashrifhu 'annii faqdurliyal khaira haitsu kaana tsumma radlia nii bih .Segerakanlah, segerakanlah urusanku dan permudahkanlah untukku, dan tetapkanlah kebaikan untukku keadaannya, kemudian anugerahkanlah keridhaan-Mu, " do'a ku kembali dengan pelan.
Setelah aku selesai berdo'a. Bik Siti menghampiri diriku dan kembali mengusap kepalaku. Dimana tindakan yang Bik Siti lakukan sedikit lebih membuat hatiku tenang.
"Nak Rani,Bibi tahu Nak Rani sedang bimbang kan?," tanya Bik Siti kepadaku.
__ADS_1
Aku pun menganggukkan kepalaku pelan.
Bik Siti pun lalu tersenyum dan duduk di sampingku sembari mengenggam jemari tanganku.
"Bibi tahu Nak di dalam agama Islam tidak ada yang namanya pacaran. Tetapi apa yang ingin bibi katakan ini hanya sebagai contoh rujukan bagi Nak Rani dalam menentukan jawaban akan lamaran yang Nak Fariz ajukan untuk Nak Rani. Dan bibi mohon, Nak Rani berkenan untuk mendengarkannya, " pinta Bik Siti pelan.
Aku tersenyum kepada Bik Siti.
"Iya Bik katakan saja. InsyaAllah Rani akan siap mendengarkan apa yang akan bibi katakan, " jawabku.
Bik Siti tersenyum lebar, "Terima kasih Nak Rani. "
Bik Siti kembali menatap diriku dan memulai perakataanya lagi.
"Banyak diluar aan sana.Sepasang kekasih yang sudah berpacaran bertahun-tahun lamanya, yang tentunya mereka pasti berharap untuk melaju ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Namun, jika bukan jodohnya, hubungan tersebut akan kandas di tengah jalan meski sudah lama bersama bahkan sampai 10 tahun atau bahkan lebih dari 10 tahun hubungan mereka terjalin. Yah, jadi intinya dari maksud perkataan Bibi adalah keseriusan seseorang laki-laki tifak bisa diukur hanya dari lamanya waktu berpacaran atau lamanya saling mengenal. Pasalnya ada pasangan yang baru mengenal beberapa minggu atau beberapa bulan tetapi sudah mantap untuk menikah.Hal itu karena Allah sudah menakdirkan bagi mereka, dimana
jika memang jodoh maka akan datang di waktu yang tepat dan tidak terduga sama sekali. "
Bik Siti terdiam sebentar, lalu berusaha mengatur kembali kata-katanya, sedangkan
diriku menyimak narasi wejangan dari Bik Siti dengan serius sambil menantikan lisan Bik Siti bertutur kembali padaku.
"Tidak perlu butuh waktu lama untuk memantapkan hati Nak .Definisi ‘sat set sat set’, seperti yang dilakukan oleh Nak Fariz untuk segera tancap gas melamar Nak Rani untuk menjadi istrinya.Itu karena Nak Fariz sudah sangat yakin akan Nak Rani dan perkenalan selanjutnya bisa dilakukan setelah menikah dengan istilahnya pacaran setelah menikah. Laki-laki yang baik tentulah dengan segera menjaga dan melindungi gadis pujaan hatinya dalam wujud cinta yang nyata dan mulia yaitu pernikahan. Dan untuk itu Bibi mengacungkan dia ibu jari akan keberanian dan niat baik Nak Fariz terhadap Nak Rani.
At-tayyibuna lit-tayyibat, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Dan Bibi yakin sepenuhnya Nak Fariz adalah laki-laki yang baik dan pantas untuk menjadi imam Nak Rani yang baik pula, " tutur Bik Siti.
Jodoh menurut Islam adalah misteri kehidupan selain maut, nasib, dan rezeki. Tidak ada seorang pun yang tahu siapa jodohnya kelak begitu pun dengan diriku. Hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang mengetahui dan berhak menentukannya, dan aku pun hanya dapat meminta petunjuk akan jodoh yang Allah Ta'ala tetapkan padaku. Aku tahu bahwa jodoh bukanlah pilihan, melainkan takdir yang telah tercatat dengan jelas dan tegas di Lauhul Mahfudz. Dimana hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam salah satu riwayatnya. Beliau bersabda:
“Allah telah mencatat ketentuan-ketentuan ciptaan-Nya 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). "
Meskipun jodoh setiap orang memang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Meski begitu, seorang Muslim juga dituntut berikhtiar untuk menjemput jodohnya. Mungkin seperti itulah yang dilakukan oleh Ustad Fariz saat ini, pikirku di dalam hati.
Perlahan keyakinan dengan ketetapan akan pemikiran tersebut, membuat diriku percaya dan mantap bahwa jodoh yang disiapkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk diriku dalam wujud Ustad Fariz adalah sosok terbaik yang bisa menuntun diriku menuju kebenaran-Nya.
Aku menghela nafas panjang dan dalam, seraya melafazkan basmalah.
"Bik Siti silahkan buka tirainya, dan Bibi bisakah memanggilkan semua orang kemari. InsyaAllah Rani sudah siap memberikan jawaban atas lamaran yang Ustad Fariz ajukan kepada Rani, " kataku.
Bik Siti tersenyum lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Benarkah Nak Rani?, " tanya Bik Siti lagi untuk meyakinkan hatinya.
"Iya Bik, " jawabku dengan mengganggukkan kepala pelan.
"Baik Nak Rani. Bibi akan panggil semua orang kemari, " sahut Bik Siti.
JReeetttt.....
__ADS_1
Bik Siti membuka tirai hordeng.
Semua orang pun melihat ke arah Bik Siti yang tersenyum lebar.
Wakah-wajah tegang semua orang terlihat jelas.
Bik Siti berjalan perlahan mendekati Ummah.
"Bu Putri, silahkan ajak Nak Fariz dan yang lainnya kemari. Nak Rani insyaallah sudah siap untuk memberikan jawabannya. "
"Benarkah Bik?, " tanya Ummah.
"Iya Bu Putri, mari Bu, " ajak Bik Siti.
Semua orang pun berjalan mendekat ke arah diriku, begitu pula Ustad Fariz yang terlihat begitu sangat tegang.
Ummah mendekat kepadaku dan aku pun tersenyum kecil kepada Ummah.
"Silahkan Rani menyampaikan apa keputusan akan jawaban dari lamaran yang di ajukan oleh Fariz, nak, " ucap Enjid.
"Iya Enjid. Sebelumnya Rani mengucapkan terima kasih atas niat baik Ustad Fariz terhadap saya. "
Ucapku terputus seketika untuk mengatur napasku dan perasaan ku yang tegang.
Semua orang terus melihat ke arah ku.
"Bismillahirrahmanirrahim.Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya Nur'aini azzahra dengan mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima lamaran akan niat baik dari Ustad Fariz Syarfan Imandar, untuk menjadikan diriku sebagai calon istrinya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempermudah jalan kita untuk menuju halal, " ucapku pelan.
Semua orang menunjukkan ekspresi wajah penuh bahagia sambil mengucapkan hamdalah, untuk penerimaan lamaran dari Ustad Fariz.
Dan dengan cepat dan segera Abi pun langsung berdo'a setelah lamaran Ustad Fariz kuterima.
"Alloohumma kamaa an’amta ‘alainaa bi qobuuli khitbathinaa wa tashdiiqi aqwaalinaa wa tajhiizi ash-haarinaa, nas-aluka bi jaahi nabiyyikal wasiim sayyidinaa muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallam ar-rosuulil ‘amiimil ma’shuum minasy syaithoonir rojiim, an taqbala imlaakanaa wa tuballigho maroomanaa wa tutsabbita aqdaamanaa wa tanshuro ‘alaa a’daa-inaa wa tasturo ‘uyuubanaa wa taghfiro dzunuubanaa wa tajma’a ikhwaananaa haitsu da’aunaaka. Innaka ‘alaa maa tasyaa-u qodiir wa bil ijaabati jadiir. Alloohumma yaa faatihal barokaat wa yaa qoodhiyal haajaat wa yaa mujiibad da’awaat wa yaa badii’al ardhi was samaawaat. Sub-haana robbika robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun wa salaamun ‘alal mursaliin wal hamdu lillaahi robbil ‘aalamiin.
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kepada kami kenikmatan peminangan kami yang diterima, ucapan-ucapan kami yang dipercaya, dan mertua/menantu kami yang dipersiapkan, kami memohon kepada-Mu dengan kedudukan Nabi-Mu yang bagus, pemimpin kami Muhammad SAW, sebagai rasul untuk seluruh umat manusia yang terjaga dari setan yang terkutuk, hendaklah Engkau menerima walimah imlak (walimah untuk akad nikah) kami, hendaklah Engkau menyampaikan harapan tujuan kami, hendaklah Engkau memantapkan langkah-langkah kami, hendaklah Engkau mengampuni dosa-dosa kami, dan hendaklah Engkau menghimpun saudara-saudara kami, sebagaimana kami berdoa. Sungguh Engkau Mahakuasa terhadap sesuatu yang Engkau kehendaki, dan terhadap pengabulan segala doa, wahai Tuhan penutup segala kebutuhan, wahai Tuhan pengabul segala doa, wahai Tuhan pencipta bumi dan langit. Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaluhur dari apa yang mereka tuduhkan. Kesejahteraan atas semua rasul dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ummah dan Bik Siti langsung memelukku secara erat.
Aku melihat wajah-wajah penuh kebahagiaan yang tergambar jelas dari raut semua orang.
"Baiklah kalau begitu Abi bersama Pak Budi akan menyiapkan semua dokumen-dokumen untuk pernikahan Fariz dan Rani, " ucap Abi.
Ustad Fariz melihat kearah ku dengan wajah sumringah dan tidak terlihat tegang, dengan tersipu malu dan suara pelan ia pun berkata kepadaku.
"Syukron Dek Rani, atas kepercayaan dan keputusan yang telah Dek Rani berikan kepada saya. InsyaAllah kita akan bersama-sama menuju jannahNya dalam meraih keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta'ala."
Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
__ADS_1
Sementara Abi dan Pak Budi segera bergegas menuju mengurus dokumen dan berkas-berkas surat untuk persiapan pernikahan diriku dan Ustad Fariz.