Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menjauh


__ADS_3

"Kenapa Mbak Riska hanya diam,"tanyaku pelan.


"Akhh...emmm...emmm,"jawab Mbak Riska gagu.


"Rani tahu mbak permintaan Rani mungkin berat dan sulit untuk Mbak Riska kabulkan.Tetapi Rani ingin Mbak Riska mencoba memahami posisi Rani saat ini.Rani hanya membutuhkan waktu untuk memahami setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Rani.Semua terasa begitu cepat dan berubah mbak.Terkadang Rani berpikir apakah ini nyata atau hanya sekedar mimpi buruk semata.Namun saat semua bayang yang samar menjadi nyata rasanya begitu pahit dan sakit.Sesak rasanya dada walaupun sekedar hanya untuk menghela napas sesaat,"ucapku sambil menarik napas perlahan.


Mbak Riska dan Wirda hanya diam menatapku tanpa berkata.Aku pun mulai bangkit dari tidurku,mengupayakan daya juang tubuhku yang lemah untuk duduk.Wirda yang melihatku begitu memaksakan diri pun mendekati dengan rasa khawatir dan cemas,


"Ran,jangan dipaksakan.Dibuat tiduran dulu saja supaya tubuh Rani segera pulih seperti sedia kala,"ucap Wirda berusaha membujukku.


Namun aku tetap keras kepala dengan tidak memperdulikan saran Wirda,


"Nggak Wir, In syaAllah aku nggak apa-apa,"ucapku meyakinkan Wirda.


Dengan perlahan aku mulai duduk dengan tubuhku yang terasa masih lemas,bahkan bantuan dari Mbak Riska dan Wirda pun juga kutolak.Aku lelah jika harus bergantung kepada orang lain.Aku ingin kuat menata dan menjalani kehidupanku.Dan sekali lagi aku tidak ingin kehidupanku menjadi uji coba rekayasa dari sebuah penipuan lagi.Sudah cukup penderitaan ini,sudah cukup rasa sakit dan air mata ini.Karena sudah waktunya aku bangkit menjadi diriku yang baru.Diriku yang kuat dan tidak lemah untuk dimanfaatkan oleh siapa pun juga.


Mbak Riska hanya diam membisu tanpa berani menatapku.Kulihat kegetiran yang tergambar jelas dalam raut wajahnya.Sebenarnya hatiku tersentuh melihat Mbak Riska,namun sekali lagi aku mencoba berpaling dari rasa iba yang menggelayuti hatiku.Perlahan kucabut selang infus yang menancap di tanganku.Wirda yang sedari tadi melihatku pun berteriak histeris,


"Ya Allah Rani,apa yang kamu lakukan.Badanmu masih lemah Ran,"ucapnya sambil memegangiku.


Mbak Riska yang diam tertunduk pun dengan cepat menoleh kearahku.Dan betapa terkejutnya Mbak Riska melihat tindakanku.

__ADS_1


Aku tetap tidak peduli.Perlahan dengan sisa tenaga yang kumiliki aku turun dari ranjang tempat tidur.Mbak Riska dan Wirda yang mencoba untuk menghentikan ku pun tidak kupedulikan.Aku terus berjalan dengan tertatih meskipun suara Wirda dan Mbak Riska memanggilku.Sekali lagi aku tetap tidak peduli.Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisi bunda.Yah hanya bunda salah satu alasan terbesarku untuk mampu bertahan.


Perlahan kubuka pintu ruang ICU.Beberapa suster menghentikan langkahku.Tetapi aku tidak menggubrisnya.Kulangkahkan kakiku perlahan.Kedua mataku menatap langsung tepat pada pandangan sosok yang tidak ingin kulihat.Kak Reno memandangku terkejut.Ia pun segera menghampiriku dengan panik,


"Ran..kamu mau kemana?kamu kan belum membaik betul,"ucapnya penuh perhatian.


Tetapi aku acuh tak acuh.Kak Reno berusaha memegang tanganku.Namun Mbak Riska memberikan isyarat berupa gelengan kepalanya untuk tidak memegang tanganku.Namun Kak Reno tidak peduli ia tetap memegang tanganku.


"Kamu mau kemana Ran?biar kakak antar ya,"ucap Kak Reno pelan.


Aku melotot ke arah Kak Reno.Seharusnya ia paham jika aku tidak suka melihat dirinya dihadapan ku.Terlebih sikapnya yang penuh dengan kepura-puraan.Sungguh aku sudah sangat muak dengannya.


"Tolong pergi menjauh dariku!,"ucapku ketus.


"Aku bilang menjauh dariku.Apa kamu nggak dengar!,"bentakku.


Kak Reno hanya tersenyum simpul,"Aku tidak akan menjauh meskipun hingga berjuta kali Rani memintanya,"ucap Kak Reno pelan.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?," tanyaku.


"Maaf darimu,"jawab Kak Reno.

__ADS_1


"Oh maaf,berarti jika aku memaafkanmu maka kamu akan menjauh dari hidupku selamanya bukan?,"ucapku kesal.


"Tetapi aku tidak ingin menjauh darimu Ran,"ucap Kak Reno pelan.


Tidak lama kemudian Kak Roy datang.Ia panik dan terkejut melihatku berada diluar.Dengan bergegas ia menghampiriku dengan cepat dan berkata,"Rani,kenapa kamu ada diluar.Rani belum sehat betul Ran.Dan jika terjadi sesuatu pada Rani bagaimana?,"ucap Kak Roy panik.


Aku menoleh ke arah Kak Roy,"Rani baik-baik saja kak.Kak Roy tidak usah khawatir.Rani ingin ke tempat bunda.Apa Kak Roy bisa mengantarkan Rani kesana? jika tidak bisa Rani bisa kesana sendiri saja,"ucapku.


Melihat sikapku yang keras kepala Kak Roy akhirnya luluh.Meskipun rasa khawatir terpancar jelas dari raut wajahnya.Namun sekeras apapun ia berusaha menjelaskan kepadaku.Tampaknya Kak Roy paham betul jika saat ini aku tidak akan mendengarkan siapapun.Dan dengan berat hati Kak Roy mengabulkan permintaanku.


Setelah ia meminjam kursi roda dari suster perlahan dengan hati-hati Kak Roy dan Wirda membantuku duduk.Mulanya Kak Reno tetap memaksa untuk membantuku juga namun Kak Roy segera menghalangi niatnya.Aku lega bisa menjauh dari Kak Reno setelah Kak Roy membawa kursi rodaku menjauh darinya.


Sesampainya di depan ruangan bunda.Kakek,Pak Sugeng dan Bu Sri terlihat kaget melihat kondisiku.Mereka ingin segera menghampiriku.Namun Kak Roy rupanya memahami diriku yang sedang tidak ingin berdialog dengan mereka.Akhirnya Kak Roy menghampiri mereka dan menjelaskan semua kejadian yang terjadi padaku.Mendengar cerita dari Kak Roy terlihat raut wajah mereka begitu terkejut dan bertambah sedih.Namun kakek tetap menemuiku,"Nak kamu nggak apa-apa kan?,"tanyanya penuh kepanikan.


Aku pun menatap kakek dengan wajah sayu.Raut wajahnya begitu sangat penuh dengan penyesalan dan kesedihan menatapku.Aku sungguh tidak tega melihatnya,bagaimanapun juga kakek sudah sangat baik kepadaku.Kasih sayangnya begitu tulus aku rasakan.Dengan pelan kugenggam jemari rentanya dan memberikan senyum kecilku untuk mengobati kesedihannya,"Rani nggak apa-apa kek.Kakek nggak usah cemas,"ucapku berusaha meyakinkannya.


Namun ucapanku membuat air matanya tumpah dalam derai isak tangisnya.Tangannya mengenggam jemariku kuat seolah-olah penyesalan besar dalam hidupnya untuk memperoleh pengampunan dariku.Hatiku iba dan tidak tega melihat keadaannya seperti itu.Aku mungkin memang kesal dan marah.Tetapi hatiku tidak sekejam itu untuk tidak memperdulikan pria renta seperti dirinya.


Kubalas genggamannya dengan lembut dan berucap lirih padanya,"Kek,jangan menangis ya kek.Nanti Rani juga ikut sedih jika kakek terus menangis seperti ini."


Kakek yang mendengar ucapanku pun melayangkan pandangannya padaku.Matanya semakin berkaca-kaca dan semakin bertambah kesedihannya,"Maafkan kakek nak...maafkan atas semua yang telah terjadi,"ucapnya dalam isak tangis.

__ADS_1


"Kakek nggak salah kek.Dan nggak seharusnya kakek meminta maaf seperti ini untuk kesalahan yang tidak pernah kakek lakukan,"ucapku lirih.


Namun kakek tetap menangis.Pak Sugeng,Bu Sri,Kak Roy,Wirda dan Mbak Riska serta Kak Reno yang baru tiba pun menyaksikan pemandangan yang begitu menguras emosi.Semua larut dalam keheningan dalam melodi kesedihan air mata kakek.Dan tanpa terasa air mataku pun menetes perlahan.Basah berderai mencoba untuk menguraikan rasa sakit yang terus membayangiku.Aku dan semua orang larut dalam kesedihan yang terhubung dalam benang merah ikatan permainan takdir kehidupan.


__ADS_2